
Hari berganti,
Hari ini Lyn begitu bersemangat. Untuk pertama kalinya dia akan melakukan kegiatan yang cukup berbeda.
"Senang sekali kelihatannya?" Tanya Mark ketika wanita itu tengah merapikan pakaian yang sudah dikenakan oleh sang suami.
"Hari baru, semangat baru" Jawab Lyn sembari tersenyum.
"Jangan terlalu mengumbar senyummu sayang. Nanti aku bisa cemburu" Cebik Mark kesal.
"Cemburu pada siapa? Hans? Albert? Sebastian? Fao?...Hmmmpphh
"Jangan menyebut nama mereka aku tidak suka" Ucap Mark manja setelah melepaskan ciumannya pada sang istri karena menyebut nama asisten dan adik iparnya.
"Mereka itu sahabatmu juga adik iparmu" Protes Lyn.
"Tidak boleh!"
"Astaga!! Aku baru tahu kalau Abi cerewetnya melebihi mak-mak di kampung"
"Kamu bilang aku cerewet?"
"Iya? Ada masalah? Mau protes?" Tanya Lyn.
"Ummi....." Rengek Mark. Mengekor di belakang Lyn. Mengikuti wanita itu mengambil kain hijabnya lantas memakainya.
"Aku tidak mungkin jatuh pada pria lain. Aku cuma cinta sama Abi sekarang, hari ini dan selamanya" Ucap Lyn setelah memakai hijabnya. Menangkup wajah sang suami. Lantas memberanikan diri untuk menciumnya. Dan Mark jelas tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pria itu menahan tengkuk Lyn hingga ciuman mereka semakin dalam.
"Boleh tidak jika aku minta lagi" Tanya Mark manja.
"Abi ..baru juga tadi pagi di kamar mandi penuh drama. Sakit...itunya" Giliran Lyn yang merengek.
Dan Mark langsung tersenyum. Tadi pagi dia memang sedikit lepas kendali. Hingga bermain sedikit kasar di bawah shower kamar mandi mereka. Bagaimana Mark tidak lepas kendali. Melihat tubuh seksi Lyn plus naked yang basah membuat hormon oksitoksin Mark melonjak tinggi.
"Maafkan aku. Habisnya kamu begitu hot juga seksi. Aku sampai lepas kontrol" Ucap Mark sambil memeluk Lyn.
Lyn mencebik kesal.
"Tapi suka kan?" Goda Mark. Mengingat Lyn sama sekali tidak berhenti mendes*** ketika dirinya menghentak tubuh Lyn dibawah guyuran shower.
Wajah Lyn langsung bersemu merah. Perlahan menganggukkan kepalanya dalam pelukan Mark. Lyn akui memang menikmatinya. Meski terasa agak sakit.
"Bisakah kita batalkan latihannya. Aku benar-benar ingin memakanmu sekarang, Sayang" Mark berucap melihat sikap malu-malu Lyn yang membuatnya semakin menggemaskan di mata Mark.
"No...Abi...aku ingin membanting mereka di matras" Ucap Lyn.
"Memang kamu bisa?" Tanya Mark tidak percaya.
"Tidak percaya? Ayo kita buktikan. Abi juga mau coba juga?" Tantang Lyn.
Mark jelas ternganga dengan ucapan Lyn. Dia sudah meneriama laporan kalau Lyn sepertinya sedikit bisa membela diri. Juga tingkat kewaspadaannya selalu tinggi.
Serena tengah menyiapkan beberapa keperluan yang mungkin atasannya perlukan nanti. Dia begitu fokus hingga tidak menyadari jika Albert sudah berada di ruang latihan yang berada di bagian belakang kediaman Emmanuel.
Albert menyandarkan tubuhnya di tembok sembari melipat tangannya. Menatap intens pada Serena. Seulas senyum terukir di wajah tampannya. Dia mengingat percintaan mereka waktu itu.
"Santai saja" Ucap Albert memeluk Serena dari belakang. Terkejut. Lagi wanita itu reflek akan membanting Albert. Tapi Albert sudah waspada. Hingga tubuhnya sama sekali tidak bergeming ketika Serena berusaha membantingnya.
"Oh sh****! Lepaskan! Nanti ada melihat!" Pekik Serena.
"Memangnya kenapa? Aku malah senang"
"Lepaskan aku bilang!" Ucap Serena sambil terus melepaskan diri dari pelukan Albert yang sebenarnya terasa sangat nyaman untuknya.
"Cium aku, baru aku lepas" Ucap Albert modus.
"Never!" Detik berikutnya Serena menginjak kaki Albert lantas menyikut perut berotot Albert.
"Oh sayang..." Keluh Albert sambil meringis.
Sementara Serena terlihat puas. Wanita itu berdiri dengan senyum terukir di bibirnya. Seraya menaikkan satu alisnya.
Kredit Pinterest.com
Kenalkan Serena...
Tak berapa lama dari pintu masuk secara bersamaan Mark yang menggandeng Lyn. Juga Hans bersama Ve. Di belakangnya menyusul Fao yang secara mengejutkan membawa Rose sang kekasih. Dan paling belakang dengan wajah paling manyun abad ini. Sebastian Hugo.
Yang sejak sarapan tadi hanya bisa mendengus kesal melihat couple lain yang pamer kemesraan padanya. Mereka semua hari ini kompak memakai pakaian kasual mereka.
Kredit Pinterest.com
"Haisshh kalian ini menyebalkan sekali!" Umpat Sebastian. Dia yang merasa paling merana di sini. Karena tidak punya kekasih.
"Makanya tampang jangan seram-seram amat" Ledek Fao.
"Aku iki tampan. Seram pada penjahat saja" Sangkal Sebastian.
"Eh kalian ngapain?" Tiba-tiba pertanyaan Lyn mengalihkan perhatian mereka dari Sebastian yang jomblo. Melihat Albert yang tampak mengusap perutnya sambil meringis.
"Kami mencicil latihan, Your Higness" Jawab Serena santai.
"Rena, sudah kubilang kan. Jangan terlalu formal padaku jika hanya kalangan sendiri. Geli tahu kupingku kamu panggil Your..your apa itu" Potong Lyn cepat.
"Tapi kan...
"Turuti saja. Dia kan nggak punya teman. Teman dia ya cuma kalian" Mark berucap.
"Kamu juga Rose...jangan panggil seperti itu jika di luar acara formal. Okey?"
Rose dan Serena saling pandang. Hingga akhirnya mereka berdua mengangguk.
"Oke. Semua beres. Mari pemanasan dulu" Ucap Fao melepas coatnya. Menampilkan kaos berwarna abu-abu yang membalut tubuhnya. Mengabaikan Albert dan juga Sebastian yang sama-sama kesal.
Pemanasan di mulai. Hampir setengah jam berlalu. Ketika mereka mulai bersiap di matras masing-masing.
Sebastian mendengus kesal ke arah Richard yang jadi partner latihannya.
"Hei, apa aku perlu latihan juga. Aku mahir dalam segala hal" Teriak Sebastian protes. Dia sebenarnya iri dengan yang lainnya. Mereka berlatih bersama pasangannya. Bahkan Albert dengan posesifnya langsung menarik Serena menjadi partnernya. Dia kalah cepat.
"Itu terserah padamu" Jawab Fao yang kini sedang berdiri di matras Mark dan Lyn. Sedang Hans sudah mulai bertarung dengan sang istri Ve.
"Tunjukkan apa yang kamu bisa lakukan" Ucap Fao pada Lyn.
Wanita itu tersenyum. Lantas memasang kuda-kuda. Bersiap untuk menyerang Mark yang juga sudah bersiap.
"Kuda-kudanya cukup kuat. Tapi aku tidak punya data kalau dia pernah ikut pelatihan bela diri" Batin Fao.
Dan serangan Lyn di mulai. Dia menyerang Mark dengan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Tanpa jeda dengan kekuatan penuh. Gerakannya juga terlihat begitu teratur dan terarah. Mark bahkan tidak percaya dengan kemampuan Lyn.
Mark terengah-engah di jeda latihan mereka. Menatap tidak percaya ke arah sang istri. Lantas melirik ke arah Fao yang hanya mengedikkan bahunya.
Perlahan Mark mulai bersiap menerima serangan Lyn. Karena dilihatnya, wanita itu sudah mulai bergerak. Dan benar saja. Detik berikutnya sebuah pukulan melayang ke arah Mark. Namun pria itu sigap menahannya. Tapi tingkat kewaspadaan Mark menurun hingga dengan mudah Lyn menjegal kaki sang suami. Membuat pria itu jatuh terlentang.
"Yeeyyyyyy, Abi kalah" Teriak Lyn. Semua orang menatap tidak percaya pada Lyn.
"Kau tidak sengaja mengalah padanya kan?" Tanya Fao.
Mark menggeleng. Sedikit ngilu dia rasakan di pinggangnya.
"Sakit?" Tanya Lyn. Mengulurkan tangannya pada sang suami. Untuk membantunya bangun.
"Sakitlah...
"Aku heran. Kau bisa menjegal suamimu sendiri. Padahal kau tidak punya basic beladiri" Tanya Fao.
"Aku pemegang sabuk hitam taekwondo" Jawab Lyn yang tentu saja membuat semua orang melongo.
"Tapi disini tidak ada datanya" Jawab Fao menunjuk matanya. Karena sebenarnya pria itu memakai kacamata transparan yang seperti laptop berjalan. Semua data bisa ditampilkan dengan perintah langsung dari otaknya.
"Bapakku guru taekwondo. Secara pribadi dia mengajariku tapi tidak pernah diformalkan. Jadi aku cukup mahir. Dan levelku sama dengan pemegang sabuk hitam" Jelas Lyn.
"Pantas saja..." Semua orang berguman bersamaan.
"Aku bahkan lupa untuk menyelidiki bapakmu" Seloroh Fao menirukan Lyn mengucap kata "bapakmu".
"Kau lalai Fao" Ledek Albert. Yang juga terlihat meringis karena pada akhirnya Rena sukses membanting Albert. Hal yang paling ingin dia lakukan beberapa hari terakhir ini.
"Baik. Bela diri kau punya basic yang cukup. Cukup dengan melatihnya terus. Lalu selanjutnya...
"Aku ingin belajar krav maga juga menembak. Dan memanah kalau ada" Sahut Lyn dengan mata berbinar.
Semua kembali melongo lantas saling pandang.
"Dia baik di dalam kamar maupun di luar kamar selalu penuh dengan kejutan" Batin Mark menatap kagum pada istrinya.
***