
Lyn tengah mengerjakan sebuah rangkaian bunga, yang rencananya sebentar lagi akan diambil untuk acara midodareni. Salah satu rangkaian acara yang ada dalam adat pernikahan Jawa. Acara malam hari sebelum hari H.
Juga sebuah rangkaian bunga yang dipakai untuk acara lamaran juga sudah siap untuk diambil. Lyn memberi nama tokonya Maiza Florist menggunakan nama tengahnya. Cukup bersyukur sejak pertama kali dibuka dua bulan lalu. Toko Lyn selalu banjir pesanan rangkaian bunga untuk berbagai acara. Kebanyakan acara pernikahan.
Dia cukup mahir merangkai bunga saat ini. Juga karena di kotanya jarang ada toko bunga yang melayani merangkai bunga. Tidak sia-sia dia mengikuti kelas merangkai bunga bersama Ve saat menghabiskan liburan akhir tahun mereka.
Lyn tersenyum mengingat Ve. Mereka selalu terhubung lewat chat. Tak jarang sering VC. Namun detik berikutnya senyum Lyn memudar mengingat bulan depan adalah batas waktu yang ia berikan pada Fadly.
Jika tidak ada seorang pria yang datang berarti bulan depan dia harus menikah dengan Fadly.
"Chicken katsu sialan...uupppsss." Lyn kelepasan mengumpat.
"Bilang cinta. Main cium tapi batang hidung saja tidak kelihatan. Pengecut!" Maki Lyn terus-terusan. Hingga satu rangkaian besar itu siap. Bibirnya tidak berhenti mengumpat si chicken katsu alias Mark.
Hingga suara Mira, sang asisten menghentikan ocehannya.
"Mbak, mbak Lyn...
"Apa sih?" Tanya Lyn sambil mencuci tangannya.
"Hp mbak Lyn dimana?" Tanya Mira.
"Mboh Ra. Nggak ingat." Jawab Lyn santai.
"Pantas diteleponin nggak diangkat."
"Memangnya siapa yang neleponin. Paling juga mas Hanif."
"Iya, mas Hanif neleponin mbak Lyn suruh pulang cepat. Di rumah lagi heboh. Ada cowok nangkring depan rumah mbak Lyn. Bule, cakep lagi." Cerocos Mira tanpa henti.
"Cowok bule? Siapa? Aku nggak punya kenalan cowok bule...kecuali...
"Ah tidak mungkin kan dia nyungsep ke sini. Atau mungkin itu malah Fadly. Fadly kan sekilas mirip bule. Bule timur tengah." Batin Lyn penuh tanda tanya.
"Katanya ngapain tu orang?" Tanya Lyn malah duduk lagi sambil meminum air putihnya.
"Lah malah duduk lagi. Kata mas Hanif mau nganterin barang. Tapi tidak nyebutin nama penerimanya. Cuma nyebutin alamat thok" Jelas Mira.
"Yo wis. Aku tak pulang. Itu tinggal nunggu yang ngambil." Ucap Lyn menunjuk dua rangkaian bunga di tengah ruangan.
"Siap bos. Pesanan si Lutfi sama Mbak Prita to."
"Yoi..aku balik dulu ya." Pamit Lyn.
"Dandan yang cantik. Siapa tahu tu bule nyantol sama mbak Lyn." Goda Mira sambil cengengesan.
"Yo....yooo. Beres." Jawab Lyn asal. Memakai helm. Lantas naik ke motor Vario yang ia beli sewaktu pulang dari Johor Bahru.
Lima belas menit, waktu tempuh rumah Lyn ke tokonya. Sengaja mengambil jalan pintas. Agar lebih cepat sampai. Cukup penasaran dengan omongan Mira, soal bule ganteng yang nongkrong di depan rumahnya.
Begitu ia sampai di depan rumahnya. Rumahnya sudah penuh dengan tetangganya yang kepo dengan kehadiran si bule masuk desa itu. Sekilas Lyn lihat. Seorang pria yang menyandarkan tubuh kekarnya di badan sebuah mobil mewah. Pria itu menunduk sambil memainkan ponselnya. Wajahnya masih tertutup masker dan memakai kacamata hitam. Terlihat tampan dan keren.
"Dia siapa Bu?" Tanya Lyn setelah melepas helmnya.
"Lah kita yang mau nanya kamu? Sopo kwi?"
"Lyn kayaknya nggak kenal tu."
Kembali memindai penampilan pria yang memakai kemeja hitam itu.
"Tapi dia menyebutkan alamat lengkap kita. Plus nomor telepon kamu. Tapi waktu dihubungi hapemu gak aktif."
"Habis batre Bu" Jawab Lyn nyengir.
"Yo wis ndang disamperin. Nanti kelamaan nggak enak sama Fadly"
Lyn langsung cemberut mendengar nama Fadly. Dengan wajah masam dia mendekat ke arah pria itu. Yang masih asyik dengan ponselnya.
"Excuse me, Mister...
Deg, jantung Mark berdebar dua puluh kali lipat dari biasanya. Mendengar suara yang hampir dua bulan ini dia rindukan.
Perlahan Mark mengangkat wajahnya. Senyum tipis terkembang di balik maskernya. Melihat siapa yang tengah berdiri di depannya. Dengan senyum manis terukir di bibir Lyn.
"Lyn....
"Kak Mark...
Bisik Lyn lirih. Senyum terkembang sempurna di bibir Mark mendengar Lyn menyebut namanya.
Dan sebaris salam terucap dari bibir Mark. Membuat Lyn gelagapan kala menjawabnya. Dia tidak tahu jika Mark mualaf.
Mark nampak menatap berkeliling ruang tamu rumah Lyn.
"Jangan diliatin." Desis Lyn yang duduk di samping sang ibu setelah menghidangkan teh di depan Mark. Mark langsung mengulum senyumnya. Merasa lucu dengan yang dialaminya sekarang.
"Jadi maksud Mister datang kemari apa ya?" Tanya Hanif sang kakak Lyn. Seorang pria seumuran Mark dengan ketampanan khas Jawa yang terukir di wajah tegasnya.
"Saya ingin menyampaikan titipan dari adik saya untuk...
Lyn langsung mengangkat wajahnya saat Mark menyinggung soal adiknya. Siapa lagi kalau bukan Ve.
"Untukku?" Potong Lyn cepat.
"Sayangnya bukan." Jawab Mark setengah meledek.
"Dasar chicken katsu pengecut!" maki Lyn dalam hati, sambil menatap tajam ke arah Mark.
"Jangan mengumpatku. Aku tahu kamu tengah mengumpatku." Batin Mark menatap Lyn dengan mata birunya.
"Lalu untuk siapa? Jika Mister kenalnya sama anak saya Lyn." Tanya bapak Lyn yang bernama Suhendro.
"Di sini tertulis untuk bapak." Jawab Mark ikut bingung.
"Lah apa maksudnya ini. Kenapa Ve malah mengirim barang buat bapaknya Lyn." Batin Mark sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seiring tangannya yang terulur memberikan paper bag itu.
Sesaat semuanya saling pandang. Terutama Lyn. Sorot matanya seolah bertanya apa isinya. Dan Mark langsung mengedikkan bahunya. Tanda tidak tahu.
Sehendro langsung membuka paper bag itu. Ada sebuah surat didalamnya. Suhendro langsung membukanya dan membacanya. Sedetik kemudian...mata Suhendro membelalak tidak percaya.
"Baca Nif." Perintah Suhendro pada Hanif sang putra. Tak lama ekspresi Hanif pun tak jauh berbeda. Setelah membaca surat dari adik Mark.
"Apa maksud dari surat ini?" Tanya Hanif pada Mark.
Baik Mark maupun Lyn saling pandang. Sedang Mark hanya terdiam. Karena dia memang tidak tahu apa-apa.
"Lyn apa dia pacar kamu? Yang selama ini membuatmu bersikeras menolak perjodohanmu dengan Fadly?"
"Ha?" Lyn langsung melongo mendengar pertanyaan sang ayah. Pun dengan Mark. Pria itu hampir tersedak teh yang dia minum.
"Dia bukan pacar Lyn, Pak." Sangkal Lyn. Memang begitulah kenyataannya. Mau bagaimana lagi. Berbeda dengan Mark yang langsung menatap tajam pada Lyn. Merasa tidak terima dengan ucapan Lyn.
"Berapa lama kalian kenal?" Cecar sang kakak Hanif.
Lyn sejenak berpikir.
"Mungkin sekitar lima bulanan. Memangnya kenapa sih Pak?" Todong Lyn.
"Kalau adiknya kamu kenal?" Tanya Suhendro.
"Dia ini kakaknya Veronika yang sering teleponan sama aku, Pak" Jelas Lyn.
Hanif dan sang ayah saling pandang.
"Kalian tidak pacaran. Kenal baru lima bulan. Kenal dekat hanya dengan adiknya. Lalu kenapa di sini tertulis kalau Veronika ingin melamarmu untuk kakaknya. Itu berarti dia? Atau Veronika punya kakak laki-laki lain" Tanya Suhendro.
Dua orang itu langsung saling pandang.
"Maksud bapak? Ve melamar Lyn untuk saya?" Tanya Mark.
"Ya!"
"Ha?" Keduanya melongo bersama.
"Jadi ini rencanamu Ve...mati-matian membujukku untuk kemari. Dasar adik kurang kerjaan!" Maki Mark dalam hati.
***