
Hari berganti. Minggu berganti. Sebulan berlalu. Lyn semakin ke sini, semakin insecure dengan dirinya. Kehamilannya hanya Lawrence yang tahu dan Andreas. Dia meminta Lawrence untuk tidak memberi tahu Mark, sang suami. Dengan alasan dia sendiri yang akan memberitahu pada Mark.
Lyn semakin merasa kalau dirinya tidak pantas untuk sang suami. Merasa kotor. Lyn sering menangis kala sendiri. Sering dia hanya bisa melamun dengan tatapan kosong.
Lyn benar-benar membenci K. Pria yang menurutnya benar-benar gila. Rasa tertekan mulai melanda Lyn. Mark sendiri menyadari perubahan sikap Lyn. Tubuh Lyn juga semakin kurus.
"Apa yang kamu pikirkan, Ummi?" Tanya Mark seringkali.
Namun Lyn hanya menjawab. Dia mungkin kelelahan. Akan hilang setelah istrirahat sebentar. Mark jelas pusing dengan sikap Lyn. Meski hubungan keduanya masih harmonis. Baik di ranjang maupun di luar kamar.
Sebab Lyn tidak menampik kalau sejak hamil, libidonya semakin naik. Padahal dia baru mengandung dua bulan. Tapi dia suka sekali dengan sentuhan Mark, sang suami. Namun setiap kali selesai bercinta. Lyn akan diam-diam menangis.
Semakin hari, pikiran Lyn semakin kacau. Hingga puncaknya ketika dia meminta pada Richard untuk membiarkannya berjalan-jalan sendiri. Sedikit merengek pada Richard dan Rose. Akhirnya dua bodyguard Lyn itu membiarkan sang ratu menikmati waktunya sendiri.
Lyn memacu mobilnya seperti orang gila begitu keluar dari gerbang kediaman Emmanuel. Entah apa yang merasuki pikiran Lyn. Dia ingin bertemu dengan K. Ingin bertanya pada K, apa dan kenapa dia melakukan hal itu padanya.
Lyn tidak tahu dimana pria itu tinggal. Tapi feelingnya mengatakan kalau pria itu selalu mengawasinya.
"Keluar kau! Aku ingin bertemu!" Teriak Lyn di sebuah tepi danau.
Kredit Pinterest.com
Hening,
"Aku tahu kau disini. Keluar!" Teriak Lyn lagi. Nafasnya sedikit tersengal karena dia berteriak terlalu keras.
Hening lagi,
Lyn sejenak menatap pemandangan di depan matanya. Cantik...sungguh cantik. Tapi kecantikan danau itu sungguh tidak bisa mengurangi beban dihatinya. Pelan Lyn menjongkokkan dirinya. Memeluk lutut sambil menangis.
"Jadi itu kebiasaanmu kalau sedang menangis?" Tanya sebuah suara dari sisi kirinya. Lyn langsung menatap ke arah sumber suara.
Dilihatnya K yang tengah berdiri disana. Memakai kemeja hitam. Kaos turtle neck berwarna hitam. Dan coat berwarna coklat. Menatap dirinya.
Kredit Pinterest.com
"Kau brengsek!" Maki Lyn. Merangsek maju ke arah K. Memukul dada dan perut pria itu.
Satu, dua kali K menerima serangan Lyn. Tapi selanjutnya K menahan kedua tangan Lyn.
"Lepaskan aku, brengsek!" Lyn kembali berteriak. Namun K hanya diam. Menahan tangan Lyn agar tidak menyerangnya lagi. Lyn terus saja berontak hingga tiba-tiba saja K melabuhkan bibirnya ke bibir Lyn. Menciumnya lembut. Lyn jelas terkejut dengan tindakan K yang dinilainya sangat kurang ajar itu.
Dan "plak" satu tamparan mendarat di pipi K. Pria itu hanya berdeming. Detik berikutnya Lyn menepis kasar cekalan tangan K.
"Jangan marah-marah terus. Kasihan bayimu" Bisik K pelan.
Lyn seketika tercengang.
"Kau...bagaimana kau tahu aku...
"Hamil?"
K tersenyum tipis. Menghadapi keterkejutan Lyn. Lyn langsung memundurkan dirinya.
"Bahkan suamimu saja tidak tahu kalau kau sedang hamil. Kau menyembunyikannya. Karena kau takut kalau bayi itu adalah milikku. Benar tidak?"
Lyn langsung menutup mulut terkejutnya.
"Ini bukan anakmu!" Sangkal Lyn.
"Kita belum tahu sampai dia lahir" Jawab K santai.
"Kau? Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?!"
"Memiliki anak darimu. Dan kalau bisa memiliki dirimu" K menjawab sambil menyeringai.
Lyn mendengus kesal.
Sementara K diam tidak menjawab. Cukup terkejut karena Lyn tahu siapa dirinya.
"Karena aku hanya ingin dirimu" Ucap K sambil mencondongkan badannya ke arah Lyn.
Lyn tidak terkejut. Satu gerakan Lyn berhasil mengambil pistol dari pinggang K. Lantas mengacungkan moncongnya pada kening K. Dan pria itu hanya tersenyum.
"Kau benar-benar kandidat istri yang sempurna untukku" Ucap K tenang.
"Tutup mulutmu!" Bentak Lyn.
"Apa reaksi Mark jika dia tahu kalau aku ikut menanam benih di rahim istrinya" K berucap sambil tiba-tiba menyentuh perut Lyn.
Lyn sontak terkejut. Menjadikan dirinya tidak fokus pada senjata yang ada ditangannya. Melihat hal itu. K sontak meraih tangan Lyn lantas menghentakkannya lembut. Tapi cukup untuk membuat pistol itu bisa terlepas dari tangan Lyn. Detik berikutnya. K memutar tubuh Lyn. Membuat wanita berada dalam pelukannya dari arah belakang.
Lyn kembali berontak. Posisi mereka cukup intim. Bisa Lyn rasakan dada K yang menempel dipunggungnya. Juga wajah pria itu yang menciumi lehernya yang tertutup hijab.
"Kau tahu aku selalu penasaran dengan apa yang kau sembunyikan dalam dirimu. Dalam pakaianmu. Dalam hatimu" Bisik K di telinga Lyn.
"Lepaskan aku. Suamiku akan marah jika dia tahu kau menyentuhku" Desis Lyn.
"Kalau dia marah. Datanglah padaku. Jika tidak mau menerimamu. Datanglah padaku. Aku akan menjadikanmu ratuku" Ucap K.
"Kau jangan bermimpi! Jika suamiku tidak menerimaku apalagi jika karena anak ini. Maka hanya ada satu jalan untukku. Mati!" Pekik Lyn frustrasi.
"Sstttt kau tidak boleh mati!"
Jengah dengan sikap K. Lyn kembali berulah. Satu sikutan menyerang ulu hati K. Membuat pria itu meringis. Pelukan K mengendur. Membuat Lyn dengan cepat melepaskan diri.
"Kau kurang ajar! Berani menyentuhku!"
"Kau calon istriku!"
"Aku sudah bersuami!"
"Dia akan meninggalkanmu begitu tahu kau mengandung anakku"
"Dia tidak akan meninggalkanku. Tapi aku yang akan pergi. Karena aku tidak pantas untuknya"
"Jadi datanglah padaku saat itu"
"Tidak akan. Aku akan memilih mati daripada harus bersama dirimu!"
"Jangan bicara soal kematianmu dihadapanku. Aku tidak suka!" Bentak K.
"Lihat...dia sudah keluar watak aslinya" Ledek Lyn.
K langsung mendekat ke arah Lyn. Kembali mencekal tangan Lyn. Tapi Lyn dengan cepat menggigit tangan K. Dan berlari begitu K melepaskan tangannya.
"Jangan ke sana itu berbahaya!" Teriak K cemas ketika melihat Lyn yang berlari ke arah tebing danau yang curam.
Lyn tidak mempedulikan ucapan K. Terus berlari dengan K yang mengejarnya. Benar saja. Semakin lama. Dinding danau itu semakin tinggi juga curam. Kerikil tajam, besar, kecil kini terhampar di depan Lyn. Membuat kakinya sulit diajak cepat saat berlari.
"Aarrgghhhh"
Lyn berteriak ketika tubuhnya hampir oleng karena tergelincir batu besar yang dia injak. Tubuhnya oleng ke arah danau. Dan hampir tercebur jika K tidak menahan pinggangnya.
Jantungnya berdebar kencang. Melihat tingginya jurang yang berada diatas danau itu.
"Ha...kau punya rasa takut juga" Ledek K masih menahan pinggang Lyn. Posisi mereka kembali intim. Dengan tubuh keduanya yang saling menempel.
"Maafkan aku" Batin Lyn.
Sejurus kemudian Lyn melepaskan diri dari posisi yang benar-benar membuatnya kembali merasa bersalah pada sang suami. Berjalan menjauh. Menuju mobilnya. Hingga satu waktu. Tubuhnya ambruk seketika. Membuat K panik saat itu juga.
"Lyn...Lyn...bangun" Panggil pria itu sambil menepuk lembut pipi Lyn.
Namun wanita itu tidak bergeming.
***