
Ve nampak menatap hampa pada dua kue tart yang ada dihadapannya. Iz yang membelikannya sebelum dia ikut dengan Adrian ke Shanghai kemarin.
All kredit Instagram.com
"Kok cuma dilihatin doang. Biasanya langsung "hap" habis" Ledek Lyn.
Ve hanya menarik nafasnya pelan. Entah kenapa hatinya begitu hampa ketika Adrian tidak ada di sini.
"Aku ke Shanghai seminggu lebih kurang. Aku berharap akan mendengar jawaban darimu soal permintaanku. Setelah itu beritahu ke mana aku harus meminta izin untuk menikahimu. Aku jatuh cinta padamu, Veronika" Ucap Adrian sesaat setelah pria itu melepas pagutan bibirnya. Pagi sebelum dia bertolak ke Shanghai.
Ve kala itu hanya melongo. Sama sekali tidak merespon ucapan Adrian. Cinta? Adrian jatuh cinta padanya? Tiba-tiba saja jantung berdegup kencang. Wajahnya memerah. Bahkan ketika Adrian mencium keningnya lembut. Ve benar-benar tidak tahu.
"Kak Lyn..."
"Ya..."
"Kak Hans meminta Ve menikah dengannya" Ucap Ve lirih.
Lyn sejenak terdiam.
"Apa dia mengatakannya alasannya?"
"Dia bilang jatuh cinta pada Ve" Jawab gadis itu.
"Lalu Ve sendiri?"
"Tidak tahu"
Lyn menghela nafasnya.
"Apa kamu ingin melihat Hans?"
Ve mengangguk.
"Apa kamu sedih saat Hans tidak ada disini?"
Ve lagi-lagi mengangguk. Dan Lyn tersenyum.
"Menikahlah dengan Hans kalau begitu" Saran Lyn.
Ve langsung menatap Lyn.
"Karena kamupun mencintainya. Berbahagialah karena cinta kalian bersambut" Sambung Lyn.
"Tidak seperti diriku" Batin Lyn getir.
"Kamu bisa menghubungi Kakakmu. Kakakmu harus tahu soal Hans. Tahu soal ada pria yang ingin menikahimu. Itu penting"
"Tapi..."
"Apa hubunganmu dan kakakmu tidak baik?" Tanya Lyn.
"Tidak" Jawab Ve.
"Apa dia terlalu sibuk?"
Ve terdiam. Sangat sibuk. Tapi sesibuk apapun. Mark akan tetap mendengarkan keluh kesah Ve.
"Hubungi kakakmu. Dan mantapkan hatimu. Jika ada pria yang mengajakmu menikah karena cinta. Maka terimalah. Insyaallah itu akan baik untukmu"
Ve pelan mengangguk.
***
"Apa maksudmu adik Mark ada ditempatmu" Tanya Kai pada Adrian.
"Veronika melarikan diri dari istana. Ingin merasakan hidup bebas di luar istana. Dan Fao mengirimnya ke pabrikku. Mark membuatku jadi bodyguard untuk adiknya. Dan sekarang aku jatuh cinta padanya" Curhat Adrian.
Kredit Instagram @ ksndr_22
Pria itu memakai kemeja dengan jaket denimnya.
"What??!!! Kau serius?" Tanya Kai.
Kredit Instagram @ _iam_linyi_
(Kaizo Aditya dari novel You'll Always Be The One)
Pria itu tampak santai memakai kemeja navinya.
Adrian mengangguk lesu. Sedang Kai langsung terkekeh.
"Adrian Hanson Lee kena batunya" Ledek Kai.
"Ya iyalah aku kena batunya. Siapa juga yang bisa menolak pesona seorang putri. Dia cantik, seksi"
"Kau sudah memindainya?" Potong Kai cepat.
"Aku bahkan hampir menerobos miliknya kemarin" Jawab Adrian santai.
"Kau jangan coba-coba, Ad" Saran Kai.
"Aku tahu. Atau Mark akan...."
"....menggantungmu.."
Ucap keduanya bersamaan. Lantas tertawa.
"Sudah waktunya kau berubah Ad. Sudah cukup main-mainnya. Sekarang seriuslah. Apalagi yang kau inginkan Veronika. Seleramu benar-benar premium" Ledek Kai.
"Jangan menggodaku, Kai" Jawab Adrian.
"Kau tidak mungkin menikahinya jika dia tidak benar-benar unggul dalam segala hal"
"Aku tertarik padanya sejak pertama aku melihatnya" Jawab Adrian terus terang.
"Wah berarti Ve hebat dong. Tahu begitu kenapa tidak dari awal saja kau dengannya. Pasti Om dan Tante tidak akan pusing dengan kelakuanmu"
"Aiihh, kau ini benar-benar ya. Entah kenapa aku selalu bertemu Mark tapi tidak pernah dipertemukan dengan Ve" Gerutu Adrian. Kai terkekeh mendengar omelan Adrian.
"Apapun itu selamat untukmu. Kalau Ve mau menikah denganmu"
"Kalau dia menolak akan kutiduri dia. Biar dia tidak punya alasan untuk menolakku" Tekad Adrian.
"Ya setelahnya Mark akan menggantungmu...."
"....dan Fao akan menghancurkan bisnis keluarga Lee"
"Mati kau!" Maki Kai.
"Sialan kau!" Balas Adrian.
"Lalu Mark bagaimana?" Tanya Kai.
"Entahlah. Dia harus membawa calon ratunya tepat di hari penobatannya. Saat dia berusia 28 tahun. Itu yang aku tahu" Jawab Adrian.
"Dia sudah menemukannya?"
"Sejauh yang aku tahu, belum"
"Dia pasti pusing sekali sekarang. Adiknya akan menikah denganmu, mantan tukang mukbang nikmat. Dia masih harus mencari calon ratunya"
"Ooohh Ve benar-benar nikmat Kai" Teriak Adrian.
"Iishh jangan ngomporin aku. Annaku sedang di Jakarta. Aku tidak membawanya ke sini" Keluh Kai.
"Siapa suruh tidak membawanya"
"Aku kesini tidak lama. Hanya memeriksa laporan pabrik baru. Juga menandatangani kontrak denganmu. Lagipula dia sedang datang bulan waktu aku tinggal kemarin"
"Dah tu jangan nak mengeluh. Ada dia pun kau tak boleh menikmati surga dunia" Ledek Adrian.
Kaipun cemberut mendengar ucapan Adrian meski benar adanya.
***
"Mark...Mark...ini gawat" Fao menerobos masuk ke kediaman Mark.
Pukul 3 pagi waktu kerajaan M. Empat hari sejak kepergian Adrian ke Shanghai.
Mark masih berusaha membuka matanya. Fao benar-benar keterlaluan sekali. Maki Mark dalam hati.
Belum selesai mengumpat. Pintu kamarnya sudah didobrak paksa oleh Fao yang memang tahu password kamar Mark.
"Astaga, pakai bajumu dulu!" Bentak Fao.
"Kenapa? Milik kita sama kan. Atau kau tidak tertarik lagi pada milik Rose" Ledek Mark. Meraih celana piyamanya.
"Aku harap calon ratumu tidak terkejut dengan kebiasaanmu yang naked kalau tidur" Balas Fao.
"Memangnya kamu tidak?"
"Aku masih pakai bokser"
"Alah tidak bebas kalau dia bangun"
"Aku gampang. Dia bangun aku panggilkan Rose. La kau? Ratumu saja yang tahu di mana dia hanya aku...
Dan Ve juga Hans, mungkin" Batin Fao.
"Kau memang brengsek Fao!" Maki Mark memakai piyamanya.
Mark baru mau melanjutkan makiannya ketika dilihatnya Fao tengah mengangkat panggilan dari ponselnya.
"Ya...bagaimana?...Valid dia pergi ke sana? ...Baik aku akan menyusul" Ucap Fao cepat.
"Ada apa?" Tanya Mark.
"Hubungi Pangeran Abdullah. Aku akan menjemput Ve secepatnya" Balas Fao sambil menyerahkan sebuah dokumen.
Hening sesaat..
"Persiapkan semuanya. Perintah turun kita berangkat. Bawa Richard sekali" Perintah Fao lagi melalui ponselnya.
"Apa ini? Miguel ke Malaysia? Ve...dia menemukan Ve?" Tanya Mark.
Fao mengangguk.
"Aku perlu perintahmu untuk meminta kerjasama dengan Polis Diraja Malaysia. Bagaimanapun kita memerlukan bantuan mereka" Ucap Fao cepat.
Mark seketika menggeram marah.
"Kau yang mengirimnya kesana. Jadi kau juga yang harus membawanya kembali!" Ancam Mark. Kecemasan seketika melanda pria itu.
"Iya...iya" Jawab Fao pasrah.
"Miguel...dia begitu terobsesi pada Ve...dia..dia bisa melakukan apapun pada Ve...tidak..tidak boleh" Mark seketika hampir tumbang.
"Tenang dulu. Aku sudah meminta Hans pulang. Dia akan lebih cepat sampai di sana. Dan akan langsung membawa Ve ke airport"
"Hans...memang dia dimana?"
"Dia ada di Shanghai. Tapi sekarang dalam perjalanan pulang dengan private jet milik Liu Corp. Pesawat itu akan stay di sana sebab akan memakan waktu jika aku harus membawa sendiri. Karena itu mintalah izin pada Pangeran Abdullah untuk pendaratan private jet-nya juga"
Mark berpikir cepat. Lantas meraih pesawat teleponnya.
"Pergilah bersiap. Aku akan menghubunginya. Meminta evakuasi khusus anggota kerajaan di wilayah sipil"
"Aku sudah siap. Aku pergi memeriksa yang lain"
"Bawa pulang Ve dengan selamat. Aku mohon, juga jaga dirimu" Pinta Mark.
"Kau meragukanku?" Tanya Fao.
"Tidak" Jawab Mark sambil mengembangkan senyumnya.
"Percayalah aku akan membawa Ve pulang beserta kabar gembira untukmu" Sahut Fao lantas keluar dari kamar Mark.
Mark langsung menghubungi Pangeran Abdullah.
"Assalamu'alaikum Pangeran..maaf mengganggu waktu Anda. Bolehkah saya meminta bantuan Anda......."
Sementara itu.
"Hans pulanglah saat ini juga. Aku rasa sesuatu sedang mengancam keselamatan Ve"
"Maksudmu?"
"Pulang saja dulu. Aku akan menjelaskan selama dalam perjalanan"
"Gunakan pesawatku" Tawar Kai yang mendengar sekilas percakapan Adrian.
"Aku ke JB"
"Mark pasti sudah mengurus izin landingnya" Jawab Kai.
"Pergilah" Pinta Kai seolah tahu sesuatu yang buruk tengah terjadi.
"Semoga semua baik-baik saja" Doa Kai ketika menatap Adrian dan Iz masuk ke private jet miliknya.
Di sisi lain,
"We'll meet soon, Baby" Bisik Miguel yang ternyata sudah sampai di Senai Airport.
"Nice place. Pantas kau betah disini Baby" Batin Miguel
Senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Membayangkan wajah Ve yang sebentar lagi akan segera ditemuinya.
***