Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB- Kami Datang



"Aaaarrggghhhh"


Teriak seorang pria dengan badan dan wajahnya yang sudah babak belur. Dihajar oleh anak buah Max.


"Masih tidak mau mengatakannya?" Tanya K sambil menginjak pergelangan tangan pria itu. Raungannya terdengar pilu. Karena di tangan itu juga terdapat luka tembak. Yang terus saja mengeluarkan darah. Saat K menginjaknya dengan ujung pantofelnya.


"Bunuh saja aku!" Teriaknya hampir tidak terdengar.


"Ciihh tidak semudah itu bagimu untuk mati. Kau membuatku sibuk hampir seminggu. Hanya untuk melayani tikus-tikus got seperti kalian. Benar-benar tidak berguna!"


"Aaaarrgghhhh"


Kembali pria itu berteriak. Ketika K menginjak jari-jari tangannya.


"Siksa dia! Tapi jangan sampai mati!" Perintah K berlalu dari pria itu setelah menambah satu tembakan lagi di kaki pria itu.


"Kau tidak membunuhku. Jangan salahkan aku jika aku membalasmu seratus kali lipat dari yang kau lakukan padaku! Aku akan lolos dari tempat ini. Kau dengar aku K?" Pria itu masih bisa mengancam K.


"Sudah seperti itu saja masih banyak bicara!" Teriak K. Lantas membuka masker dan kacamatanya. Membuangnya ke sembarang arah.


"Menyebalkan. Membuat moodku tambah buruk saja" Gerutu K berjalan menuju mobilnya. Dimana Matt sudah menunggunya. Juga Max.


"Kembali ke apartement" Perintah K singkat.


Membuat Matt dan Max saling pandang.


***


Suasana pagi itu begitu heboh. Ve bahkan sudah menggedor pintu kamar sang kakak sejak mentari belum menampakkan sinarnya lagi.


"Woi pasangan teruwu abad ini. Bangun!! Enak-enaknya bersambung nanti malam lagi!" Teriak Ve dari mic yang ada di pintu kamar.


Teriakan Ve sontak membuat dua orang yang masih berada di bawah selimut yang sama itu pelan membuka mata mereka. Namun Lyn kembali menutup matanya. Terlalu enggan untuk peduli.


"Jam berapa sih?" Guman Mark pelan.


Melihat jam diatas nakasnya.


"Astaga, Veronika kurang kerjaan! Masih juga jam 4 pagi" Gerutu Mark lagi.


"Apa sih?!" Tanya Mark membuka pintu sedikit. Memperlihatkan kepalanya saja.


"Bangun! Nanti kalian kesiangan!" Teriak Ve menatap penuh selidik ke arah sang kakak.


"Acaranya memang siang Nona!" Jawab Mark sambil mengeratkan rahangnya.


"Tapi nanti kalian terlambat!"


"Tidak akan! Sudah balik kamar sana. Nanti dicariin Hans. Masih cukup buat satu ronde lagi" Goda Mark.


Ve langsung berpikir.


"Sudah balik kamar sana!" Usir Mark yang melihat Ve masih berdiri di depan kamarnya. Sambil menutup pintu. Mark menggerutu. Tapi gerutuannya hilang. Ketika melihat bahu polos milik Lyn.


Dirinya tersenyum. Mengingat hampir setiap malam mereka bercinta. Pakaian mereka tampak bertebaran di mana-mana. Pelan pria itu menarik selimut Lyn. Matanya berbinar melihat sang istri yang tidur tengkurap dengan kaki sedikit terbuka.


"Kau memberiku akses, sayang" Ucapnya pelan. Seraya naik ke tempat tidur super besar dan mewah itu. Setelah melepas kembali celana piyamanya.


Pelan dikecupinya tubuh bagian belakang sang istri. Mulai dari bawah ke atas. Berusaha mengobarkan hasrat Lyn. Padahal mereka baru tertidur saat tengah malam datang.


"Sayang..." Bisik Mark parau. Di telinga Lyn. Membuat Lyn menggeliat pelan. Ketika lidah hangat Mark bermain di tengkuknya.


"Abiiiii....." Guman Lyn serak. Namun terdengar begitu seksi di telinga Mark. Pria itu tersenyum. Lantas memposisikan dirinya. Untuk memasuki sang istri dari belakang.


Lyn langsung membuka matanya ketika sang suami sukses memasukinya.


"Abi...." Rengek Lyn lagi. Posisi wajah Mark persis di samping wajah Lyn.


"Ssssttt diamlah. Kamu tinggal menikmatinya saja" Bisik pria itu mulai bergerak. Dan benar saja. Tak lama keduanya sudah mendes*** penuh kenikmatan. Memulai pagi mereka dengan hasrat yang membara.


***


"Sudah siap?" Tanya Albert pada Mark yang keluar dari walk in closetnya. Setelah Lyn membantunya bersiap untuk acara penobatannya. Dibawah bimbingan seorang staf pria istana. Karena pakaian hari ini berbeda. Pakaian kebesaran resmi kerajaan M.


Pakaian bernuansa navy itu tampak gagah melekat di tubuh atletis Mark.



Kredit Pinterst.com


Anggap saja pakaiannya Mark kayak gini ya guys...


Mark mengangguk pelan.


"Sebentar lagi" Potong Mark cepat. Dia pun tidak sabar melihat tampilan sang istri. Tak lama, suara hells terdengar begitu teratur keluar dari walk in closet milik Mark.


Seketika, dua pasang mata itu langsung menatap penuh kekaguman pada sosok yang baru keluar dari sana.


"Tidakkah dia terlihat begitu sempurna" Goda Albert.


"Diam kau! Kau beruntung jadi yang pertama melihat Ratumu!" Desis Mark tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Lyn.



Kredit Pinterest.com


Anggap saja bajunya Lyn seperti ini ya guys....


"Apa ini terlalu ketat?" Tanya Lyn.


Dia merasa bajunya longgar. Karena dia memang meminta mereka menjahitya agak besar.


"Tidak. Ini tidak terlalu ketat" Jawab Mark mengelilingi Lyn. Ini adalah pakaian baru yang sengaja dijahit karena Lyn yang berhijab tidak bisa memakai pakaian yang terbuka. Sedang pakaian resmi kerajaan Mark. Sedikit terbuka menampilkan bagian dada yang setengah diekspos.


Mendengar jawaban sang suami, Lyn tersenyum lega. Meski dia agak tidak suka dengan model hijabnya. Tapi bolehlah. Untuk hari ini saja.


"Sudah siap, My Queen?"


Lyn menggeleng.Menjadi ratu bukanlah hal yang dia inginkan dalam hidupnya. Namun karena dia menerima lamaran Mark yang adalah seorang raja. Maka mau tidak mau dia harus ikut menyandang gelar ratu.


"Maafkan aku" Bisik Mark lirih. Inilah ketakutan terbesar Mark. Menyeret sang istri tercinta untuk masuk ke kehidupannya yang tentu saja penuh dengan masalah.


Mendengar permintaan maaf Mark. Lyn tersenyum. Ada rasa tidak mau ketika dia harus menjadi ratu. Tapi dia juga tidak bisa berpisah dari suami tercintanya.


"Berjanjilah untuk selalu percaya padaku" Ucap Lyn menangkup kedua sisi wajah Mark. Ditatapnya mata biru sebiru samudera itu untuk beberapa saat.


"Aku akan mempercayaimu seperti saat pertama kali kita bertemu. Aku tidak tahu kamu akan membawaku kemana. Tapi aku tahu kamu tidak akan membawaku ke tempat yang salah" Jawab Mark.


Lyn mengerutkan dahinya.


"Memang sebelum di JW Marriot kita pernah bertemu?" Tanya Lyn.


Mark tersenyum.


"Kau tidak ingat pria bule yang kau tarik, lalu kau ajak berlari kesana kesini?" Tanya Mark.


Lyn sedikit berpikir. Hingga dua bola matanya membulat saking terkejutnya.


"Itu kamu Bi...." Pekik Lyn tidak percaya.


Mark mengangguk.


"Astagfirullahal'adzim" Bisik Lyn.


"Tidak ingat?" Tanya Mark. Kembali Lyn menggeleng.


"Astaga, bahkan kita berciuman saat itu. Dan kamu tidak ingat sama sekali?"


Lyn lagi-lagi menggeleng.


"Kamu tahu aku hampir gila mencarimu. Hampir putus asa mencarimu" Ucap Mark.


"Abi mencariku?"


"Tentu saja. Kamu wanita yang mencuri hatiku juga ciumanku. Bagaimana aku tidak mencarimu untuk menghukummu" Ucap Mark lagi.


Dan jawaban Mark membuat Lyn tersenyum. Ternyata jodohnya sudah dia temukan bahkan jauh sebelum perjodohannya dengan Fadly.


"Aku begitu bersyukur melihatmu di JB saat itu. Seolah itu adalah hadiah karena aku sudah memilih jalanku" Ucap Mark lagi.


"Karena itu tetaplah istiqomah untuk selalu berada di jalannya. Aku akan selalu bersamamu sampai maut memisahkan. Insyaallah...."


"Amin...Insyaallah..."


"Oke, My King, My Queen. Mari bersiap. Semua sudah siap. Aaahhh beruntungnya aku menjadi yang pertama melihat Raja dan Ratu negara M. Setelah sekian lama" Ucap Albert sambil panjang lebar tersenyum. Meski ada ada sendu dalam ucapan Albert.


Keduanya mengangguk lantas mengikuti Albert keluar dari kamar mereka.


"We're on our way"


(Kami datang)


Ucap Albert melalui ear piece-nya.


***