Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Rela Dibuat Repot



"Apa yang sebenarnya terjadi?" Lyn bertanya cemas.


"Ve, ternyata punya gangguan panic attack saat berada di ruang sempit dan gelap. Tadi lift-nya mendadak macet" Jelas Adrian singkat.


"Lalu sekarang dia bagaimana? Apa perlu dibawa ke rumah sakit?" Tanya Lyn panik.


"Kata Fao tidak perlu. Cukup temani dia saja. Nanti kalau oksigen itu habis. Sudah cukup" Tambah Adrian.


Jika Ve pernah menunjukkan Mark pada Lyn. Berarti gadis itu kemungkinan juga tahu soal Albert, Sebastian juga Fao.


"Dia harus di-oksigen?" Tanya Lyn lagi.


"Ve akan mengalamai sesak nafas jika panic attack-nya menyerang. Dan kebanyakan memang serangan panic atttack adalah susah bernafas" Jelas Adrian.


Lyn ber-oo ria. Lantas mendekat ke arah Ve. Perlahan digenggamnya erat jemari Ve yang terasa dingin.


"Kau temani dia. Aku akan naik membubarkan acara" Pamit Adrian.


Lyn mengangguk. Menatap punggung Adrian dan Iz yang menghilang di balik pintu.


Hening, Lyn hanya terdiam menatap wajah Ve yang mulai merona merah. Beberapa waktu berlalu. Ve mulai terlihat gelisah. Nafasnya kembali tersengal. Dengan peluh mulai bercucuran.


"Ve kamu kenapa?" Tanya Lyn.


"Ayah...ibu...maafkan Ve....maafkan Ve..." Guman Ve antara sadar dan tidak.


"Ve bangun...Ve...." Lyn berusaha membangunkan Ve. Sedetik kemudian dia menyentuh kening Ve. Tidak panas pikirnya. Ve tidak demam. Tapi kenapa mengingau.


Dan semakin lama, igauan Ve semakin menjadi. Bahkan gadis itu mulai menangis dalam igauannya.


"Ayah...ibu....aku rindu kaliann...bawa aku pergi....kakak....aku bersalah ....aku bersalah..." Igau Ve dengan keringat sebesar jagung keluar dari area dahinya.


"Ve...bangun ...buka matamu dulu...


"Ada apa?" Tanya Adrian yang tiba-tiba saja masuk. Sudah melepas jas merah menyalanya. Meninggalkan kemeja putihnya.


"Dia mengingau. Tapi tidak demam. Aku sudah mencoba membangunkannya. Tapi tidak bisa" Sahut Lyn panik.


Adrian dengan cepat bergerak mendekat. Bahkan ketika Lyn belum selesai menjawab.


"Ve....ini aku...Hans. Buka matamu" Adrian meraih tubuh Ve dalam pelukannya. Berucap tepat di telinga gadis itu.


"Aku yang melenyapkan ayah dan ibu....kakak aku bersalah...." Ve berucap semakin tidak karuan.


Igauan Ve jelas membuat Lyn dan Iz saling pandang.


"Bukan...bukan kamu yang melakukannya. Kamu dijebak...Ve buka matamu..ini aku Hans. Tenanglah" Bisik Adrian lagi.


Bukannya tenang. Ve malah semakin tidak karuan. Mengoceh tidak jelas. Berucap kesana kemari.


Hingga Hans semakin mengeratkan pelukannya. Sedikit mencium kening Ve yang wajahnya basah berurai air mata.


"Itu semua tidak benar. Kakakmu dan yang lainnya sudah mengatakannya berulang kali kan?" Bujuk Adrian lembut.


Ve masih terisak. Namun gerakan dan ucapannya sudah tidak seliar tadi.


"Dengarkan aku. Mereka sedang mencari buktinya. Buka matamu dan sadarlah" Pinta Adrian. Perlahan mengusap lembut punggung Ve.


Pada akhirnya Ve bisa membuka matanya. Menatap pada Adrian. Hingga air mata itu kembali mengalir.


"Sstttt tenanglah. Mimpi burukmu sudah berakhir" Adrian berucap lirih.


"Aku membunuhnya. Ayah dan Ibu meninggal karena aku. Jika aku tidak menyalakannya. Mereka tidak mungkin pergi" Ucap Ve diantara isak tangisnya di dada Adrian.


"Jangan menyalahkan dirimu. Kau tahu benar, kau tidak melakukannya. Mereka sengaja membuatmu merasa melakukan hal itu. Mereka ingin menghancurkan kakakmu melalui dirimu"


"Mereka belum menemukan buktinya sampai sekarang" Balas Ve.


"Mereka akan menemukannya. Cepat atau lambat. Kau harus percaya kepada kemampuan kakakmu juga yang lainnya" Bujuk Adrian.


Dan ucapan Ve tadi antara sadar dan tidak. Gadis itu masih dalam pengaruh mimpi buruknya. Setelah mendengar ucapan Adrian. Ve perlahan mulai tenang.


"Tidurlah lagi"


"Aku takut. Mimpinya datang lagi" Ucap Ve.


"Tidak akan. Aku ada disini. Ada Lyn juga Iz, kami akan menemanimu di sini"


Balas Adrian lembut. Mengusap pelan rambut hitam Ve.


"Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?" Tanya Lyn. Menatap tajam pada Adrian.


Lyn pikir Ve bukanlah orang biasa. Mengingat rumitnya igauan yang dia dengar tadi. Menandakan kalau kehidupannya tidaklah sebahagia yang dia lihat di permukaannya.


Mendengar pertanyaan Lyn. Adrian hanya bisa menghela nafasnya dalam. Mengungkap siapa Ve sebenarnya itu jelas tidak mungkin. Semakin banyak yang tahu. Akan semakin berbahaya bagi Ve.


Melihat Adrian yang enggan menjawab pertanyaannya. Lyn paham sulit untuk mengatakan keadaan Ve.


"Aku tidak bertanya soal siapa dia. Hanya saja aku khawatir pada keadaannya" Lyn berucap lagi.


"Siapa dia aku tidak bisa mengungkapkannya. Soal masalah Ve. Kau sendiri dengar kan?"


"Dia hanya pernah mengatakan kalau ayah dan ibunya sudah meninggal. Tentang bagaimana, dia tidak pernah bercerita"


Kembali Adrian terdiam. Adrian pikir, Lyn mungkin salah satu orang yang dekat dengan Ve saat ini.


"Dan Ve adalah orang yang menyalakan perapian itu?" Tebak Lyn.


"Kau benar. Dia merasa bersalah. Frustrasi bahkan depresi. Hampir enam bulan dia menjalani terapi untuk memulihkan diri. Dan menurut orang tadi hasil dari semua itu adalah panic attack juga mimpi buruk. Apakah selama ini dia tidak pernah mengalami mimpi buruk?"


"Tidak pernah" Jawab Lyn.


"Berarti keadaan emosinya benar-benar baik selama di sini" Batin Adrian.


Sebab Mark sempat bercerita kalau tidur Ve jarang nyenyak. Mimpi buruk sering datang dalam tidur Ve.


"Tadi itu yang bernama Fao?" Tanya Lyn.


"Kau tahu?" Tanya Adrian balik.


"Ve hanya pernah cerita sekilas. Kakaknya punya tiga asisten. Albert, Sebastian dan Fao" Jawab Lyn.


Hening lagi.


"Bisa kau rahasiakan semua ini. Soal apapun yang kau ketahui soal Ve. Rahasiakan pada semua orang" Pinta Adrian.


Lyn dan Adrian saling berpandangan. Hingga pelan Lyn mengangguk. Meski dia sendiri tidak tahu apa sebab dia menyetujui permintaan Adrian.


Hening sejenak.


"Apa kau mengenal Ve sebelumnya?" Lyn bertanya.


"Tidak. Aku bertemu dengannya baru disini. Kenapa?" Tanya Adrian balik.


"Kau tahu banyak soal Ve"


"Hanya kebetulan tahu sedikit soal dirinya"


"Dari Fao? Kau dan Fao berteman?" Desak Lyn.


"Berteman? Tidak. Hanya tahu saja"


"Kalau begitu kenapa dia bercerita banyak soal Ve padamu?" Lagi Lyn mendesak.


"Tentu saja dia cerita padaku. Aku ini bodyguard Ve dengan dua bos yang siap menghajarku, jika sampai Ve berada dalam masalah" Batin Adrian mengingat betapa sialnya dirinya.


Harus terlibat urusan dengan putri udik tukang makan. Yang diam-diam sudah mencuri hatinya. Mengalihkan dari kebiasannya mukbang nikmat. Menjadi keinginan untuk menikah.


Adrian pikir. Baru kali ini ada wanita yang benar-benar bisa menarik hatinya. Menarik bukan untuk diajak mukbang bersama. Tapi menarik dari manapun gadis itu dinilai.


"Bang, dia dah bangun" Teriak Iz yang sejak tadi hanya mendengar percakapan Adrian dan Lyn.


Ketiga orang itu bergerak mendekat ke arah ranjang.


"Aku dimana?" Satu kalimat yang keluar dari bibir Ve.


"Masih di hotel. Apa kamu baik-baik saja?"


Ve menatap ketiga orang itu yang kini menatap cemas pada dirinya.


"Apa panic attackku menyerangku lagi" Tanya Ve mengingat terakhir kali dia berada di lift yang macet dengan lampu lift yang padam.


"He e tapi cuma sebentar. Kamu baik-baik saja sekarang" Jawab Adrian.


Ve menunduk.


"Aku pasti merepotkan kalian" Bisik Ve lirih.


Membuat Lyn langsung memeluk gadis itu.


"Tidak merepotkan kok. Lagi pula kalau merepotkan. Kak Hans-mu rela kok kamu repotkan" Canda Lyn.


"Maksudmu apa?" Tanya Adrian membulatkan dua bola matanya.


"Ya itu tadi" jawab Lyn.


"Apa?!" Tegas Adrian.


"Kau rela dibuat repot oleh Ve. Betul tidak Iz"


"Jangan ikutan Iz!"


Ve pelan mulai menarik sudut bibirnya. Mendengar pertengkaran receh Lyn dan Adrian. Nyatanya hal itu bisa memperbaiki mood Ve yang masih tidak stabil.


"Mungkin yang Lyn katakan benar. Bahkan aku rela dibuat repot olehmu sejak awal kita bertemu" Batin Adrian.


***


Cari mood booster yuk,



Kredit Instagaram @ ksndr_22


Abang Hans yang rela dibuat repot sama mbak Veronika 🤭🤭🤭


***