
"Rena...Rena please...dengarkan aku dulu!" Ucap Albert sambil menahan tangan Serena. Yang langsung mendapat tatapan maut dari Serena.
Albert langsung melepaskan tangannya dari tangan Serena dan mengangkatnya tangan sendiri. Seperti penjahat yang kena tangkap.
"Apalagi sekarang?!" Bentak Rena. Berurusan dengan Albert selalu membuat Rena darah tinggi.
"Menikahlah denganku" Lagi kata itu terucap dari bibir Albert. Rena hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Albert.
"Biarkan aku menebus kesalahanku Rena, aku mohon. Maafkan aku. Rena..tolong.." Albert hampir berlutut di depan Rena. Ketika wanita itu malah melenggang pergi. Lagi, Albert harus menghadapi penolakan yang sama. Pria itu hanya bisa menarik nafasnya pelan.
"Kalau kau menikahiku hanya karena rasa bersalah, untuk apa. Aku ingin menikah karena rasa cinta bukan rasa bersalah." Batin Rena melangkah menjauh dari depan Albert dengan cairan bening yang mulai turun di sudut matanya.
"Maafkan Mama nak, jika nanti kamu tidak mengenal papamu. Mama tidak ingin papa menerimamu karena rasa bersalah. Tapi Mama ingin dia menerimamu karena rasa cintanya."
Pelan Rena menyentuh lembut perutnya. Ya, Rena hamil karena kejadian itu. Dan tidak seorangpun tahu.
Sebab Rena pun tidak mengalami morning sickness seperti kebanyakan perempuan yang sedang hamil. Sesampainya di kamar mandi. Rena langsung masuk ke dalamnya. Menangis tertahan di sana.
Kenapa? Kenapa, harus aku. Ada ribuan perempuan di luar sana yang bisa kau tiduri. Tapi kenapa harus aku!. Rena memukuli dadanya sendiri yang terasa begitu sesak. Yatim piatu sejak kecil. Dan hanya hidup bersama nenek dan kakeknya. Hidup Serena tidaklah semulus wajah dan karirnya.
Dia hanya ingin membahagiakan kakek dan neneknya. Karena itu dia begitu bahagia ketika dirinya diterima menjadi bagian dari pengawal kerajaan. Bahkan secara khusus mengawal Veronika. Tuan Putri Kerajaan M. Posisi yang sangat diinginkan oleh banyak bodyguard di seantero negeri plus resiko taruhan nyawa yang dia tanggung. Tapi itu tidak masalah. Sebab pekerjaan ini adalah impiannya sejak kecil.
Apalagi ketika Ve ternyata adalah pribadi yang hangat. Hingga selama menjadi pengawal Ve, Rena terkadang seperti tengah menjaga adiknya. Hubungan keduanya juga harmonis. Keduanya terlihat formal di depan orang banyak. Namun seperti kakak adik jika di luar itu.
Tapi kejadian malam itu menghancurkan segalanya. Rena benar-benar merasa tidak punya masa depan lagi. Ditambah lagi, ketika dirinya tahu kalau ada bayi kecil yang tengah hidup di dalam rahimnya, satu bulan lalu.
Dunianya seakan runtuh ketika sang dokter mengatakan kalau dirinya mengandung hampir 4 minggu. Dan jelas itu anak Albert. Sebab Rena tidak pernah berhubungan badan selain dengan Albert.
Rasa putus asa sempat mendera. Pikiran bunuh diri dan menggugurkan kandungan sempat mampir ke otaknya. Namun semua hilang seketika, saat secara tidak sengaja dia menolong seorang wanita yang sedang melahirkan di dalam bus yang biasa ia naiki saat pergi dan pulang bekerja.
Ketika bayi mungil itu berada di tangannya. Seketika tangis Rena pecah. Tegakah dia menghilangkan kehidupan makhluk mungil yang sama sekali tidak bersalah itu. Bayi kecil itu tidak bersalah. Tapi sang Papalah yang melakukan kesalahan.
Hingga satu keputusan dia ambil. Dia akan melahirkan anaknya. Tidak peduli apakah Albert setuju atau tidak. Tidak peduli dia tahu atau tidak. Dia juga telah mengambil keputusan akan resign setelah upacara penobatan Prince Mark menjadi Raja dilakukan bulan depan.
Tuan putrinya sudah menikah. Bisa Rena lihat jika Hans sangat mencintai Ve. Jadi tidak masalah jika ia mengundurkan diri. Hans pasti bisa menjaga Ve.
Juga jika Prince Mark dinobatkan menjadi Raja, berarti dia sudah memiliki Ratu di sampingnya. Di tambah calon ratu sekarang adalah Hilda. Membuat Rena semakin yakin untuk mengundurkan diri. Rena jelas tidak menyukai Hilda. Dia akan kembali ke kota kelahirannya. Menghabiskan hidup bersama kakek dan neneknya. Dan merawat bayi kecilnya.
****
"Apa kau sudah gila Ve?" Tanya Mark melalui ponselnya.
"Gila apanya? Aku melakukan hal yang benar...chicken katsu".
"Benar apanya? Kamu melamarkan Lyn untukku apa itu benar?"
"Tentu saja benar. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya Kakak lakukan sejak lama. Sudahlah daripada sibuk berdebat denganku. Lebih baik Kakak yakinkan keluarga kak Lyn kalau kakak benar-benar serius ingin menikahinya. Sudah terlanjur sampai situ juga. Masak tidak bisa bawa kak Lyn pulang ke istana. Lagipula kami semua ogah ya punya ratu Medusa..no way!"
Oceh sang adik panjang kali lebar kali tinggi. Mark bahkan sampai harus memejamkan mata mendengar ocehan Ve.
"Dengar ya Kak. Aku sudah membukakan jalan untuk kakak. Sekarang terserah kakak mau bagaimana. Pilih bawa pulang kak Lyn ke sini atau kak Lyn jadi menikah dengan Kak Fadly. Nah pilih! Rela nggak tuh kak Lyn di nikahin sama kak Fadly." Kompor Ve lagi.
Mark jelas tidak rela lah Lyn jadi milik orang lain. Sejak dia menyatakan cinta dan mencium Lyn hari itu. Mark sudah bertekad untuk memiliki Lyn. Namun ketika Lyn berkata masih terikat perjodohan dengan seorang pria. Hati Mark kecewa seketika. Hingga sejenak dia benar-benar merasa akan kehilangan Lyn.
Terlebih ketika semua ini adalah rencana Ve sang adik untuk menyatukan dirinya dan Lyn. Dia mulai berpikir. Apa dia harus berjuang untuk mendapatkan hati Lyn.
"Bagaimana? Mau mundur? Sudah ketemu bapaknya Kak Lyn kan? Sudah tak lamarkan juga to. Tinggal gimana kakak meyakinkan keluarga kak Lyn agar mau menerima kakak."
Hening sejenak..
"Seminggu Mark..aku memberimu waktu seminggu plus minus dua hari. Akan kugantikan tugasmu di sini. Tapi pastikan kau bawa Lyn pulang ke sini. Kalau tidak kupingku auto budeg mendengar rengekan adikmu soal Lyn."
Itu suara Hans. Di sana Ve langsung memanyunkan bibirnya.
"Cepat putuskan...ahhhh"
Mark langsung mendelik. Mendengar suara Ve. Melirik jam tangannya. Ya ampun, jam tiga pagi di negaranya. Pantas saja Ve langsung menjawab teleponnya. Orang keduanya tidak tidur.
"Kalian ini keterlaluan ya...
"Yang keterlaluan tu kakak. Gangguin orang lagi otewe bikin ponakan aja." Gerutu Ve.
"Ampun dah Ve, tu mulut kalau ngomong." Ganti Mark yang menggerutu.
"Sudah-sudah. Aku tutup teleponnya. Pokoknya bawa kak Lyn pulang ke sini. Tidak mau tahu bagaimana caranya."
Tuuut,
Mark setengah mengumpat Ve dan Hans. Bisa-bisanya mengangkat telepon saat keduanya sedang bercinta. Sejenak dia memejamkan matanya. Benar kata Ve. Dia sudah sampai sejauh ini. Boleh dibilang kalau sekarang dia sedang melamar Lyn.
Mark membuka matanya. Aku akan mencobanya. Membawa pulang Lyn ke istananya. Menjadikannya ratunya. Ya, dia akan berusaha.
Dia langsung berbalik dan langsung terlonjak kaget melihat Lyn yang sudah berdiri di belakangnya. Menatapnya tajam. Sambil melipat tangan di depan dadanya.
"Ahh Lyn kamu mengagetkan saja. Apa-apaan sih?" Tanya Mark.
"Kak Mark yang apa-apaan. Meminta Ve melamarku. Maksudnya apa?" Lyn balik bertanya kesal.
"Masih bertanya maksudnya apa. Sudah jelas kan kalau aku ingin menikahimu." Jawab Mark tegas.
Deg,
Jantung Lyn seolah ingin berhenti berdetak. Mendengar ucapan Mark. Inikah jawaban dari doa-doanya di tiap malamnya.
"Kakak jangan bercanda ya."
"Aku sudah pernah bilang kan. Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku. Jadi maukah kamu menikah denganku. Menjadi ratuku juga menjadi ibu dari anak-anakku?" Mark berucap sambil menatap dalam wajah Lyn.
Sejenak Lyn terdiam. Hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan dari pria yang telah mengisi hatinya hampir lima bulan ini.
"Kakak melamarku?" Tanya Lyn tidak percaya.
"Tidak! Aku sedang menikungmu!" Jawab Mark.
****