Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Let's The Party Begin



Di tempat lain, Eduardo tampak tersenyum senang. Sang keponakan mulai memakan umpannya. Hilda mulai mendapat tempat di istana. Pria itu yakin sebentar lagi, Mark akan jatuh dalam perangkapnya. Membuatnya tidak bisa menghindar dari menikahi Hilda.


Sambil tersenyum. Eduardo terus meneguk cairan berwarna merah pekat itu dari gelas bertungkai panjang yang ia putar-putar sebelumnya. Dia sama sekali tidak terganggu dengan laporan Miguel. Yang mengatakan dia belum menemukan keberadaan Ve.


"Itu tidak penting. Yang penting Hilda bisa masuk istana. Terserah putri itu mau ketemu atau tidak" Balas Eduardo tidak peduli.


"Tapi itu penting bagiku, Pa"


"Kalau begitu teruslah mencari. Aku akan menikmati waktu sebelum melihat kehancuran Mark" Tambah Eduardo percaya diri.


Miguel mendengus geram. Melangkah cepat keluar dari ruangan kerja papanya. Saat keluar dia bertemu sekretaris papanya. Dan sudah menduga apa yang akan mereka berdua lakukan. Apalagi selain menikmati surga dunia, sebab mana ada sekretaris datang bekerja di pukul sembilan malam.


Mengingat itu, Miguel geram sendiri. Berjalan menuju sisi sebelah barat dimana kamarnya berada. Kamar Miguel memang terpisah dari kastil utama. Karena itulah dia begitu bebas melakukan apapun yang dia mau di kamarnya. Yang sudah seperti rumah tersendiri.


"Darling, kamu datang" Sapa seorang wanita seksi begitu Miguel masuk ke kamarnya.


Miguel memindai wajah di depannya. Cantik...tapi baginya Ve tetaplah yang tercantik. Ingat Ve, membuat Miguel geram seketika. Mengingat usahanya sebulan ini belum membuahkan hasil.


Dan seperti kebiasaannya. Bercin...ta adalah cara yang dipilih Miguel untuk mengalihkan kemarahan dan kekesalan hatinya. Tak perlu waktu lama. Dari ciuman panas yang mereka mulai. Kini keduanya sudah bergelut panas diatas ranjang mewah Miguel. Berpacu dan memompa. Menikmati setiap hentakan yang menimbulkan suara-suara yang memenuhi kamar luas Miguel.


Tak berbeda dengan yang terjadi di ruang kerja Eduardo. Pria itu sudah mendongakkan kepalanya. Menikmati setiap gerakan liar dari sekretaris seksinya.


Malam yang dingin di negara itu. Tapi tidak di dua ruang yang berbeda. Di mana penghuninya saling mendes*** nikmat. Mencari kenikmatan dunia yang sangat mereka sukai.


***


Mark mendesah kasar. Dia membuang sarung tangannya. Melepaskan dasinya. Juga melempar jasnya. Dia baru saja pulang dari menghadiri perjamuan makan malam yang diadakan oleh salah satu petinggi kerajaannya. Memakai sarung tangan berarti Hilda juga ikut. Hal yang membuat Mark kesal.


Apalagi ketika Hilda dengan sengaja. Mencari kesempatan untuk selalu menyentuh tubuhnya. Membuat Mark illfeel seketika.


"Aiihhh kesalnya" Teriak Mark.


"Kenapa dua bulan lama sekali" Gerutunya lagi.


"Kau kenapa? Apa Medusa itu menganggumu?" Ledek Sebastian.


"Kehadirannya saja sudah menggangguku. Tanpa dia perlu berbuat apa-apa. Kenapa dua bulan itu lama sekali, Tian" Keluh Mark lagi.


"Yah dia balik jadi anak kecil. Nunggu sebulan lagi tidak sabar" Goda Sebastian lagi.


"Isshhh kau ini kenapa begitu menyebalkan hari ini"


"Bukannya memang aku setiap hari menyebalkan?" Sebastian bertanya sambil menaikkan satu alisnya.


"Iya ya...kalian itu semakin hari memang semakin menyebalkan" Mark membenarkan.


Dan sebuah bantal sofa melayang ke kepala Mark seiring tawa yang terdengar di ruangan kerja Mark. Hening sesàat.


"Hans menghubungimu?" Tanya Sebastian.


"Aku menghubunginya kemarin" Mark melepaskan beberapa kancing kemejanya. Sedikit menampakkan dada bidangnya yang menggoda.


"Apa dia baik-baik saja?" Sebastian kepo.


"Ya dia baik. Setidaknya dia berada di tangan yang tepat. Meski aku sempat ragu soal Hans. Kau tahu kan track recordnya yang suka mukbang nikmat. Meski laporanku belum pernah dia bercinta dengan perempuan manapun. Tapi setidaknya dia menjaga Ve dengan baik" Jelas Mark. Membuat Sebastian menarik nafasnya lega.


Di sisi lain, kehebohan terjadi di rumah Ve. Setelah akhir minggu kemarin mereka heboh dengan membeli baju. Sekarang mereka heboh dengan make up mereka. Dinner diadakan malam nanti. Dan seperti biasanya semua pekerja akan mengambil cuti separuh hari. Untuk bersiap pergi ke hari yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh pekerja tempat Ve bekerja.


"Ve bisa pakaian eye shadow-ku" Pinta Ina.


"Ready" Ve berucap girang.


Ina melihat pantulan dirinya di cermin. Dia sangat puas dengan hasil kerja tangan Ve.


"Cantik gila. Pandai sangat kau ni" Puji Ina.


Ve hanya tersenyum. Mendengar pujian Ina. Ve lihat Kak Lyn juga tengah bersiap.


"Mau dibantu?" Tawar Ve.


"Bantulah dirimu sendiri. Busnya sudah hampir datang. Dan kamu sendiri yang belum bersiap" Lyn menjawab sambil merapikan hijabnya.


"Ve malas nak pergi" Gadis itu membalas ucapan Lyn.


"Kenapa? Karena kamu harus duduk satu meja dengan Hans?" Tanya Lyn.


"Iya. Ve kan mau senang-senang sama teman-teman yang lain. Kalau duduk dengan kak Hans. Ve bisa boring. Nggak bisa ngapa-ngapain" Keluh Ve.


"Biasanya acara tertib di awal saja. Setelah itu ya sakkarepe kita" Lyn menjawab keluhan Ve sambil tersenyum.


Dia tahu maksud Hans memilih Ve untuk duduk satu meja dengannya. Pria itu ingin dekat Ve. Tidak ingin Ve terlalu berinteraksi dengan banyak orang apalagi pria.


"Beneran Kak?" Ve bertanya tidak percaya.


"Iya. Cepat ganti baju sana. Kalau kamu nggak pergi bisa aku jamin kalau Hans sendiri yang akan menjemputmu. Mau? Naik mobil nggak naik bus?" Pancing Lyn.


"Aaa Ve mau naik bus. Bosen naik mobil" Seloroh gadis itu.


Melepas bajunya lantas masuk ke kamar sebelah. Mengganti bajunya.


"Memangnya dia biasa naik mobil ya?" Batin Lyn. Kembali memperbaiki tampilan hijabnya.


Sepuluh menit kemudian, Ve sudah siap. Gadis itu menenteng heels. Juga handbag-nya. Dress code dari dinner tahunan itu sebenarnya Prince and Princess. Tapi dua gadis itu enggan mengikutinya.


"Dibolehin masuk ya beneran. Tidak boleh ya kita langsung ngibrit ke Kulai" Begitulah rencana kedua gadis itu.


Seusai dinner itu. Ve dan Lyn berencana untuk langsung ke Kulai. Rumah Paman Lyn. Karena kakak sepupunya, Aini akan menikah. Jadi Lyn akan berada disana untuk menghadiri pernikahan saudaranya itu. Dan ketika Lyn mengajak Ve untuk pergi ke sana. Gadis itu dengan antusias tentu saja mau.


"Tidak usah bawa baju ganti. Kita bisa pakai baju Kak Aini. Size kita sama. Lagipula untuk hari H kita sudah menyiapkan seragam untuk keluarga. Dan kamu sekalian sudah dibuatkan" Ucap Lyn kala itu.


Bisa dibayangkan betapa excited-nya Ve. Bisa menyaksikan langsung prosesi pernikahan adat Melayu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.


Petang hari bus sudah datang menjemput mereka. Karena banyaknya pekerja yang memilih naik bus. Jadi kilang menyediakan dua bus. Untuk membawa ke venue acara dinner mereka. Jika biasanya dinner diadakan di Eden Garden Hotel, Danga Bay. Yang jaraknya lumayan jauh. Hampir satu jam perjalanan.


Kali ini sesuai permintaan Ve. Dinner akan dihelat di New York Hotel. Hotel bintang 4 yang berada di No 22 Taman Abdullah Tahir, Taman Abad, Johor Bahru. Bisa dikatakan ini separuh jalan ke Danga Bay.


Suara sorak sorai langsung menyambut mereka. Begitu mereka masuk ke dalam bus. Ve pikir lucu. Mereka berdandan heboh layaknya pangeran dan putri tapi naik bus. Gambaran Cinderela abad sekarang atau zaman now bahasa gaulnya.


Ve sendiri memilih duduk bersama Lyn. Meski banyak yang melambai agar dirinya duduk dengan mereka.


Sesaat Ve tersenyum. Menatap ke luar jendela bus. Merasakan euphoria di dadanya yang seakan ingin meledak. Dia begitu antusias untuk menikmati dinner ala pekerja. Seperti apa suasananya.


"Let's the party begin" Batin Ve sambil tersenyum. Mengabaikan tatapan kagum dari lawan jenisnya. Karena Ve tampil begitu cantik hari ini.


****