Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB-Calon Mantu Sultan



"Kakak tidak bercanda kan?" Lagi kalimat itu yang terucap dari bibir Lyn.


Mark hanya bisa menarik nafasnya pelan.


"Lyn aku benar-benar serius sekarang." Mark mendekat ke arah Lyn. Membuat Lyn memundurkan langkahnya.


"Oke kita bicara dulu"


***


Sama dengan Mark dan Lyn yang masih berdebat di luar.


Di dalam ruang keluarga. Pak Hendro dan Hanif jelas sudah berdebat.


"Lalu saiki piye?" Pak Hendro bertanya.


"Semua tergantung Lyn. Jika dia berkata ya apalagi pilihan kita. Selain menerima lamaran bule itu" Jawab Hanif. Hanif memang sejak pertama selalu mengutamakan kebahagiaan sang adik. Ketika tahu perjodohan Lyn dengan Fadly hanya membuat Lyn tertekan dan sedih. Hanif berupaya mencari cara agar sang adik bisa lepas dari jerat perjodohan yang terlanjur di setujui oleh ayahnya.


"Tapi bagaimana dengan Fadly? Dia sudah menunggu Lyn lama." Bu Tini, sang ibu memberi pertimbangan.


"Kan sejak pertama Lyn sudah bilang tidak to. Bapak saja yang ngeyel nerima." Ucap Hanif menatap tajam pada ayahnya. Membuat pak Hendro hanya bisa menunduk.


"Bapak tahu kan. Lyn bukan jenis yang bisa diatur. Dia memiliki jiwa bebas. Ingin mencapai semuanya dengan tangan dia sendiri. Termasuk jodoh." Hanif berucap.


Pak Hendro semakin menundukkan kepalanya. Seakan sadar jika dia tidak mengenali putrinya sendiri. Tidak mengetahui keinginan sang putri.


"Lalu sekarang bagaimana?" Bu Tini lagi-lagi bertanya.


"Apa kalian sreg dengan bule itu?" tanya Hanif. Kedua orang tua itu saling pandang.


"Dia sopan untuk ukuran bule. Tidak grasak grusuk. Tidak kelihatan bedigasan (liar). Tapi aku belum sreg soal keyakinan." Pak Hendro mengutarakan pendapatnya.


"Dia tadi mengucap salam. Ibu dengar. Sepertinya dia orang baik-baik. Juga berpendidikan. Dan sepertinya dia juga cinta sama Lyn. Ibu lihat dari matanya."


"Kalau begitu, kita dengar pendapat Lyn kali ini. Sebab dia datang langsung melamar. Bukan hanya menawarkan perjodohan. Tapi melamar lengkap dengan ubo rampenya."


Sebab setelah dibuka. Paperbag itu berisi sebuah cincin cantik bermata berlian. Yang membuat Lyn langsung membulatkan matanya. Pun dengan Mark. Bagaimana Ve bisa mengambil cincin itu dari brankasnya. Cincin yang ia pesan khusus untuk Lyn. Juga selembar cek senilai 300 juta. Membuat keluarga Lyn terbelalak. Yang lagi-lagi disertai sebuah surat permintaan maaf dari Ve. Karena tidak memberikan cash pada keluarga Lyn. Takut sang kakak tidak mau membawanya.


"Jika Lyn menerima. Aku sendiri yang akan menyeleksinya." Ucap Hanif.


"Bapak juga." Pak Hendro tersenyum penuh arti.


"Ehh kalian mau apain tu bule?"


"Ada deh." Jawab kompak bapak dan anak itu lengkap dengan senyum jahilnya.


***


Kembali mereka semua berkumpul di ruang tamu rumah Lyn.


"Jangan mengeluh."


"Aku gak ngeluh kok."


Lyn tahu Mark terbiasa duduk di kursi tinggi dengan bantalan super empuk. Sedang sofa di ruang tamunya hanya sofa jadul yang cukup keras ketika diduduki. Belum lagi Mark harus menekuk kaki panjangnya cukup lama, karena sofa itu rendah.


Lyn kini duduk di samping Mark. Membuat hati pria itu berbunga-bunga. Senyum tak lepas dari bibir tipisnya. Membuat ketiga orang itu saling pandang.


"Jadi apa keputusanmu?" Tanya Hanif pada Lyn.


Lyn diam. Lantas menatap wajah tampan Mark.


Ah, dia hanya menginginkan chicken katsu ini yang jadi pendampingnya.


"Apa kak Mark benar-benar mencintaiku?" Tanya Lyn.


Dia ingin Mark menyatakan perasaannya di depan keluarganya. Mark langsung mengembangkan senyumnya.


"Aku mencintaimu dengan seluruh hatiku. Jatuh cinta padamu untuk waktu yang cukup lama. Aku mencintaimu apa adanya. Tentu saja setelah cintaku pada-Nya. Aku harap kamu tidak keberatan dengan itu." Jawab Mark menatap dalam dua bola mata Lyn.


Bisa semua orang lihat bahwa Mark benar-benar mencintai Lyn. Cinta yang tulus tanpa kepura-puraan. Juga kejujuran yang jelas terselip di tiap jawaban Mark.


Ya, sejatinya kita tidak boleh mencintai sesuatu melebihi cinta kita pada sang penguasa alam. Pencipta alam semesta.


"Ehemm." Deheman pak Hendro memutuskan kontak mata antara Mark dan Lyn.


"Jaga pandanganmu Nak." Ucap pak Hendro mulai melembut.


"Maaf Pak." Jawab Mark kembali menundukkan kepalanya.


"Jadi apa kamu menerima lamarannya?" Tanya Hanif tegas. Mendengar pertanyaan Hanif, Mark seketika mengangkat wajahnya kembali. Menatap pada Lyn. Juga semua orang. Menatap pada gadis cantik itu.


"Lyn menerima lamaran kak Mark."


Kali ini senyum Mark mengembang sempurna.


"Alhamdulillah."


Bisik pria itu pelan dengan mata berkaca-kaca. Membuat ketiga itu tersenyum juga menarik nafas dalam. Karena di samping kebahagiaan yang mereka rasa. Juga akan ada masalah yang harus mereka hadapi.


Hening sejenak.


"Kalau begitu kita mulai interviewnya." Ucap Hanif.


"Ha? Maksudnya mas Hanif?" Tanya Lyn yang hanya dijawab kode dari sang ibu agar Lyn diam.


"Nama lengkap...


Mark mulai paham kemana arah pertanyaan kedua orang itu. Dia menegakkan duduknya. Lantas mulai menjawab


"Mark Victor Emmanuel"


"Usia?"


"28 tahun"


"Warga negara?"


"Negara M"


Kedua orang itu saling pandang. Jauhnya...mungkin itu yang terlintas di kepala ayah dan anak itu. Mereka menarik nafas lagi. Sedang Lyn tidak percaya jika ayah dan kakaknya memperlakukan Mark selayaknya orang yang sedang mencari pekerjaan.


Mereka tidak tahu saja. Negara M adalah miliknya. Sekali kebas keluarganya akan habis. Begitulah kira-kira isi kepala Lyn melihat interview cari mantu ala keluarganya.


"Kak...


"Tidak apa-apa. Mereka berhak melakukannya. Aku kan akan menikahi anak gadisnya. Jadi mereka perlu memastikan kamu jatuh ke tangan yang tepat. Dan aku tidak keberatan akan hal itu. Jadi tenang saja." Ucap Mark tenang.


"Oke..pekerjaan?"


Lyn langsung menatap Mark cemas. Apa iya kalau dia akan mengatakan kalau dia calon pemimpin negara M. Sedang yang ditatap hanya tersenyum.


"Aku punya showroom mobil. Namanya EM Otomotif & Co. Kamu bisa mengeceknya" Ucap Mark sambil menatap ke arah Hanif. Yang langsung meraih ponselnya.


"Memang kakak beneran punya showroom?" Tanya Lyn.


"Punya. Kamu pikir aku cuma duduk doang ngurusin negara. Nggak makan dong anak istriku." Bisik Mark.


Lyn hampir terkekeh.


"Iya, apalagi nanti kalau istrinya matre. Langsung deh pake semboyan ada uang abang disayang. Tidak ada uang abang ditendang." Lyn benar-benar tertawa kali ini. Membuat pak Hendro dan Bu Tini saling pandang. Baru kali ini melihat Lyn tertawa lepas.


"Memangnya kamu matre?" Tanya Mark.


"Iya. Aku matre banget. Makanya aku mau nikah sama kak Mark." Jawab Lyn.


"Benarkah? Akan kulihat seberapa matrenya kamu. Memang kamu mau beli apa kalau punya uang banyak." Tantang Mark.


"Ya biasa. Baju, sepatu. Tas yang mahal. Apa itu Mes...Mes....yang itulah pokoknya."


Mark mengulum senyumnya. Brand Hermes saja tidak tahu. Bagaimana mau matre.


"Iyalah tu.....


"Wooohhh showroommu untuk supercar?" Tanya Hanif memutus bisik-bisik antara Mark dan Lyn yang terlihat manis di mata ibu Lyn.


"Supercar ki opo?" Tanya pak Hendro.


"Mobil sing harganya selangit. Kita gak akan mampu beli." Jawab Hanif cepat.


"La kalau showroomnya cuma satu kamu mau ngasih makan Lyn apa kalau mobilnya mahal terus gak ada yang beli."


"Showroomnya segini jumlahnya." Ucap Hanif sambil menunjukkan layar ponselnya. Membuat pak Hendro langsung memicingkan matanya. Untuk menatap angka di sana.


"Astaga...bener-bener calon mantu sultan." Batin pak Hendro langsung menatap Mark yang hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Aku sanggup menghidupi Lyn dan anak-anak kami. Jangan khawatir soal materi." Mark berucap meyakinkan ayah Lyn dan keluarganya.


****