Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Putri Udik



"Itu darurat, emergency, Fao" Adrian mencari alasan.


"Tidak peduli apapun alasannya. Kau berani mencium Ve lagi. Akan kuhajar kau kalau kita bertemu" Ancam Fao.


"Astaga, sampai segitunya. Jadi kamu lebih suka Ve ngeliatin orang lagi ML, women on top lagi...iya begitu?"


Fao tidak menjawab.


"Tapi tidak harus dicium juga kali, Hans" Fao berucap setengah menangis.


Merasa keputusan Mark untuk menjadikan Adrian sebagai bodyguard Ve adalah sebuah kesalahan. Fao takut kalau Ve yang polos lama-lama tertarik pada Adrian yang notabene tukang main perempuan. Pacar sih tidak banyak. Tapi kemampuan Adrian merayu jangan ditanya. Dia salah satu ahlinya.


"Aku janji tidak akan melakukan hal lebih dari menciumnya. Itu tadi darurat Fao, sungguh"


"Apa janjimu bisa kupegang?" Tanya Fao memastikan.


"Tentu saja. Aku masih takut mati juga takut miskin" Kekeh Adrian.


"Baik kupegang kata-katamu. Ancamanku masih sama jika kau berani melanggar janjimu" Ulang Fao lagi.


"Siap Letnan!" Jawab Adrian.


Adrian tengah menunggu Ve yang pamit ke kamar mandi. Pamitnya sebentar. Tapi nyatanya Ve malah betah memandang cermin di toilet itu. Pikirannya melayang ke beberapa saat lalu.


Saat bibirnya dicium oleh Adrian. Ciuman pertama Ve, begitu anggapannya. Iyalah, ciuman pertama saat Ve masih melek matanya. Wajah Ve memerah mengingat ciuman Adrian. Lembut juga terasa manis. Aaaa, ingin rasa hati Ve berteriak.


Apalagi saat Adrian menggerakkan bibirnya, membuat gerakan menyesap bibirnya. Beeuuhh, rasanya sesuatu dalam diri Ve bergejolak. Rasanya susah untuk dijabarkan.


"Lama sekali tuan putri ini. Dia ngapain sih didalam. Berendam apa?" Gerutu Adrian.


Ve keluar dari toilet. Tidak mendapati Adrian yang menunggunya. Bukannya bingung, Ve malah girang.


"Bagus kalau kak Hans sudah pergi. Aku tidak perlu malu karena ciuman tadi" Batin Ve.


Berlalu dari tempat itu. Namun baru beberapa langkah. Adrian memanggilnya.


"Mau lari ke mana kau?" Tanya Adrian.


"Ya.... ketahuan" batin Ve.


Berbalik arah. Menatap Adrian sambil nyengir. Hilang sudah rasa malu yang tadi Ve rasa.


"Mau kemana?" Tanya Adrian.


"Makan" Jawab Ve reflek.


"Astaga, makan" Adrian berucap tidak percaya.


"Terus kamu mau makan dimana?" Tanya Adrian. Tak pelak pria tampan itu bertanya juga.


"Di food court ituuuu" Jawab Ve.


Sejurus kemudian Ve sudah duduk dengan wajah berseri-seri. Berbanding terbalik dengan Adrian, pria tampan itu langsung melongo melihat banyaknya makanan yang Ve beli.


"Ve yang bayar, Kak Hans jangan khawatir" Ucap Ve.


"Bukan masalah siapa yang bayar. Uang itu tidak berarti bagiku. Yang aku heran siapa yang mau makan ini semua" Tanya Adrian.


"Ya... kita berdualah" Jawab Ve enteng.


"Kita?" Tanya Adrian menatap horor pada makanan yang ada diatas meja.


Adrian pria, tapi porsi makannya terukur. Juga dia sedikit rewel soal makanan. Dia juga rajin ngegym. Sebab tahu masakan di depannya ini banyak santannya. Hingga dipastikan lemaknya juga tinggi.


"Mari makan" Ucap Ve santai meraih piring hot platenya lebih dulu.



Kredit Google.com


"Enak banget lo Kak. Mau?" Tawar Ve.


Adrian mundur teratur. Melihat cara Ve makan saja sudah membuat perut Adrian kenyang.


"Tidak mau? Jangan menyesal lo" Goda Ve.


Adrian menggeleng yakin.


"Ya sudah" Sahut Ve yang sudah mulai melahap mie Bandung-nya.



Kredit Google.com


"Kamu kan pernah makan itu Ve" Adrian tanpa sadar ikut mencomot roti canai di depannya.



Kredit Google.com


"Pernah waktu di Masai. Habisnya enak sekali, Kak" Jawab Ve.


Adrian manggut-manggut


"Wait, kenapa aku jadi ikut makan?" Kesal Adrian tapi dia tak menghentikan tindakannya.


Ve tertawa.


"Itu tandanya makanannya enak"


"Masa sih. Tapi memang iya sih" Batin Adrian.


Acara makan selesai. Tiba waktunya berjalan-jalan. Dan hal inilah yang paling dibenci Adrian. Layan perempuan pergi mall itu hal paling ribet dan memusingkan. Setidaknya itu yang dipikirkan Adrian.


"Mau beli apa? Semua barang sudah aku punya" Batin Ve.


"Kamu sebenarnya mau beli atau tidak sih?" Tanya Adrian mulai kesal.


Ve hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Nggak sih" Lirih Ve.


"Ayo pulang kalau begitu" Ajak Adrian.


"Kak Hans..." Rengek Ve.


Tepat saat itu. Ve melihat Azlyn yang juga kebetulan sedang berjalan-jalan di tempat yang sama.


"Kak Lyn..." Teriak Ve.


Azlyn langsung menoleh. Matanya langsung berbinar cerah. Melihat Ve disana.


"Kakak jalan ke sini juga?" Tanya Ve ceria.


"Ah iya, kakak pergi dengan...."


"Hai, kenalkan saya Fadly" Sapa pria di belakang Lyn.


"Hai juga, aku Ve. Teman sekamar kak Lyn" Balas Ve.


"Pacar Kakak ya?" Bisik Ve.


Lyn menggeleng lemah.


"Ve sama siapa ke sini?" Tanya Lyn berubah khawatir.


"Denganku" Jawab Adrian.


Mau tidak mau Adrian harus menunjukkan diri. Lagipula Adrian menilai kalau Lyn bukan jenis yang suka bergosip. Jadi tidak masalah jika Lyn tahu kalau dia dan Ve ada hubungan.


"Mr Lee" Ucap Lyn setengah tidak percaya. Berarti dugaannya benar kalau Ve dan Adrian ada hubungan.


"Aku pergi dengan Kak Hans. Kakak dengan Kak Fadly pacaran ya" Tanya Ve blak-blakan.


"Jaga ucapanmu, Ve" Desis Adrian.


Melihat kecanggungan di diri Lyn. Adrian menduga kalau perasaan keduanya dipaksakan. Atau salah satu terpaksa.


"Ve kan cuma nanya, Kak" Kilah Ve.


"Iya-iya. Maaf dia memang seperti itu" Ucap Adrian pada Fadly. Tumben ramah, biasanya juga keluar tanduk kalau kenal sama orang baru.


"Aku Adrian" Adrian memperkenalkan diri.


"Fadly. Tapi dia memanggilmu Hans dan Mr Lee" Tanya Fadly heran.


"Ooh, nama lengkapku Adrian Hanson Lee. Dia memang sakgeleme dhewe kalau manggil nama orang" Seloroh Adrian.


"Isshh, Kak Hans mah suka begitu. Kak Lyn...." Rengek Ve.


"Kumat deh manjanya" Gerutu Adrian memutar matanya jengah.


Lyn tersenyum melihat tingkah dua orang itu. Dan senyum itu membuat Fadly ikut tersenyum. Sejak tadi Lyn hanya diam saja. Tidak bicara kalau dirinya tidak mengajak bicara. Fadly tahu Lyn belum sepenuhnya bisa menerima dirinya dan perjodohannya.


Tapi dia tidak akan mundur. Sampai Lyn membawa seorang pria yang layak untuk dijadikan suami, ke hadapannya.


"Kak Lyn sudah makan?" Tanya Ve.


"Belum"


"Makan yuk" Ajak Ve.


"Veronika kamu mau makan lagi?" Tanya Adrian.


Ve hanya nyengir.


"Basa basi Kak Hans" Jawab Ve enteng.


"Tidak apa-apa. Kalau Ve banyak makan, toh dia juga nggak bakalan gemuk"


"Kak Hans dengar kan?" Balas Ve menang.


Dan kembali keempatnya makan. Tapi Ve hanya makan salad saja. Bilang masih kenyang.


"Ya iyalah, makan hot plate sama mie Bandung. Masak sudah lapar lagi" Seloroh Adrian.


Ve langsung manyun mendengar hal itu. Lagi interaksi Ve dan Adrian menarik perhatian Lyn. Ve yang polos tidak sadar, kalau CEO tempat mereka bekerja menaruh perhatian padanya.


Setelah makan mereka berjalan-jalan sebentar.


"Sudah yuk. Kamu mengganggu kencan mereka" Desis Adrian.


"Masak sih" Tanya Ve tidak percaya.


"Iya. Ayo kita pulang atau bilang pada kak Lyn-mu mau kemana gitu" Usul Adrian.


"Ke Angsana atau Holiday Plaza atau Jusco" Pekik Ve bahagia.


"Nggak kesana juga kali. Sudah mau gelap. Katanya mau naik bis" Bujuk Adrian.


"Iya naik bis. Ve mau naik bis" Lagi gadis itu berteriak senang. Membuat Lyn dan Fadly menoleh.


"Dasar putri udik tukang makan" Gerutu Adrian.


***