Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Perasaan Adrian



"Maafkan aku Ve, aku tidak bermaksud ingin menyakiti atau menyinggungmu" Adrian berucap berulang kali.


Seorang Adrian meminta maaf? Sungguh kejadian yang sangat langka. Apa lagi dia meminta maaf pada seorang wanita. Benar-benar langka. Adrian benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Ve yang terus saja mendiamkan dirinya sejak tadi.


Ada yang hilang ketika Adrian tidak lagi bisa mendengar kepolosan Ve atau pun celotehan manja gadis itu.


"Oh God, kenapa jadi begini sih. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?" Batin Adrian.


Adrian pusing tujuh keliling membujuk Ve agar tidak lagi marah padanya. Namun, buntu semua hal yang dia lakukan seolah tidak mampu membuat gadis itu membuka suara untuknya.


"Baik. Katakan apa yang kau inginkan?" Tanya Adrian frustrasi. Dia menghentikan mobilnya disebuah restoran yang masih cukup ramai.


"Ve...katakan sesuatu" Tanya Adrian dengan suara melunak.


"Antar Ve pulang" Balas Ve akhirnya.


"Tidak! Sebelum kita menyelesaikan masalah kita" Jawab Adrian tegas.


Satu hal lagi yang Lyn ajarkan. Jadilah tegas. Jangan mau dimanfaatkan tanpa memiliki hubungan yang jelas. Bahkan ketika kalian sudah memiliki hubungan yang jelas pun. Kalian harus tahu batasannya. Batasannya adalah menikah. Kalian boleh melakukan apapun saat kalian sudah menikah.


Lyn benar-benar menegaskan pada Ve. Batas jelas yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan saat berhubungan dengan seorang pria. Dengan kepolosan Vè dan kebiasaan Adrian. Lyn sungguh tidak ingin Ve hanya dijadikan mainan oleh Adrian. Lantas ditinggal begitu saja.


Ve menghembuskan nafasnya pelan. Pusing dengan rengekan Adrian sejak. Dia sebenarnya hanya marah. Karena Adrian selalu memaksanya. Memerintahnya. Dia lari dari istana untuk melupakan soal perintah ini dan itu. Soal peraturan yang mengharuskannya begini dan begitu.


Tapi disini dia malah bertemu Adrian. Pria yang setipe dengan peraturan dan protokol istana. Tukang maksa dan tukang perintah. Meski dia sebenarnya nyaman dengan kehadiran Adrian. Mengingat selama ini sang kakak begitu otoriter soal pergaulan dan pertemanannya.


"Antar Ve pulang" Ulang Ve.


"Tunggu dulu. Aku tidak akan mengantarkan kamu pulang jika kita belum menyelesaikan masalah kita" jawab Adrian tegas.


Di satu sisi, Adrian adalah tipe orang yang tidak suka membiarkan satu masalah berlarut-larut tanpa penyelesaian. Baik pekerjaan maupun perasaan.


"Masalah? Kita ada masalah?" Tanya Ve.


"Tentu saja ada. Kau marah padaku. Kau tidak mau memaafkanku. Kau mendiamkanku" Jabar Adrian. Dia tahu dengan kepolosan Ve dia harus ekstra keras dalam menjelaskan sesuatu.


"Bukankah hal seperti itu biasa terjadi dalam pertemanan. Nanti juga baik sendiri" Sahut Ve.


"Teman? Dia hanya menganggapku teman? Bahkan setelah aku menciumnya kemarin?" Batin Adrian melongo.


Baru kali ini ada seorang wanita yang hanya menganggapnya teman bahkan setelah dia menciumnya. Tiga kali Adrian menciumnya. Karena apa? Adrian tidak pernah menyentuh wanita yang sama lebih dari satu kali. Wanita yang diklaim Adrian sebagai pacar resminya memang tidak ada. Tapi yang mengaku pacar Adrian di Prancis bejibun saking banyaknya.


Entah kenapa Adrian begitu kecewa ketika Ve hanya menganggapnya sebagai teman. Ada rasa tidak terima di hatinya.


"Teman? Kau hanya menganggapku teman?" Tanya Adrian pada akhirnya.


"Iyalah. Kita teman. Memangnya kakak mau aku menganggap kakak apa? Kakakku? Tidak mau! Kakakku satu saja otoriternya minta ampun. Ini nggak boleh. Itu nggak boleh. Menyebalkan"


"Ya jangan teman kali. Lagian aku juga nggak mau punya adik sepolos kamu. Susah ngajarinnya" Tolak Adrian.


"Ha? Ngajarin apa?" Kepo Ve.


"Ngajarin yang tidak diperbolehkan oleh kakakmu Lyn" Celetuk Adrian.


Ve langsung melipat tangannya di depan dada. Menatapa tajam pada Adrian.


"Kalau begitu Kak Hans bukan teman yang baik. Tidak ada teman yang mengajak kita pada keburukan" Sahut Ve.


"Yang bilang mau jadi temannya Ve siapa? Aku tidak mau jadi temanmu. Rugi" Balas Adrian.


"Terus kak Hans maunya jadi apa? Teman nggak mau. Kakak nggak mau" Kesal Ve, akhirnya muncul juga tanduk di kepala gadis itu mendengar ucapan Adrian yang muter-muter nggak jelas.


"Aku mau jadi pacarmu" Jawab Adrian dengan seringai penuh makna.


"Tidak mau punya pacar Kak Hans" Tolak Ve langsung.


"What!!? Are you rejecting me?" Tanya Adrian tidak percaya.


"Iya memang kenapa?" Tanya Ve balik.


"Alasannya?" Desak Adrian.


"Pacar tidak boleh ini. Tidak boleh itu. Ada batasnya"


"Ayo menikah kalau begitu" Ajak Adrian asal.


"Hanss!!!!" Fao kembali berteriak di seberang sana.


"Yah budeg deh kupingku" Keluh Ve dalam hati.


Mendengar ajakan nikah Adrian. Ve tidak terkejut sama sekali. Justru sebaliknya. Gadis itu malah menatap curiga pada pria tampan itu.


"Apa alasanmu ingin menikah denganku?" Kepo Ve.


"Apa menikah perlu alasan?" Tanya Adrian balik.


"Tentu saja. Setidaknya ada cinta diantara kita. Apa kamu punya itu? Apa kamu pikir aku menikah untuk main-main. Untuk sekedar having ****? Tidak" Tegas Ve.


Adrian terdiam mendengar jawaban Ve.


"Busyet dah. Apa saja yang sudah Lyn ajarkan. Sampai-sampai bisa mengubah gadis polos ini berubah jadi begitu pandai dalam hal cinta dalam waktu satu malam" Batin Adrian heran.


"Punya jawaban tidak?" Tantang Ve.


Adrian terdiam. Tujuannya memang itu mengajak Ve menikah. Having **** dan having fun.


"Kalau tidak ada cinta di antara kita. Jangan berpikir untuk mengajakku menikah" Tegas Ve menatap tajam pada Adrian.


"Apa kau tidak menyukaiku?" Tanya Adrian.


Sejenak Ve terdiam. Mengingat dia pernah mengaku pada Lyn kalau dia menyukai Adrian.


"Tidak. Antarkan aku pulang. Atau aku pulang sendiri" Jawab Ve mantap.


Adrian benar-benar melongo mendengar jawaban Ve yang mengatakan tidak menyukainya. Ada ya yang tidak mempan dengan pesona seorang Adrian.


"Kak Hans, aku pulang sendiri saja kalau begitu" Ve meraih handle pintu mobil Adrian.


"Aku akan mengantarmu" Adrian menahan tangan Ve yang lain.


Pelan Adrian mulai menyalakan mesin mobilnya. Membawanya melandas di jalanan yang langitnya sudah berubah menjadi malam. Keduanya hanya diam dalam perjalanan kali ini.


Adrian merasa tertantang untuk menakhlukkan putri udik tukang makan ini. Dia begitu penasaran dengan sebab Ve bisa berubah begitu drastis. Sedang Ve sibuk dengan ucapan Adrian yang mengajaknya menikah.


"Dia pasti hanya bermain-main. Tidak serius dengan ucapannya" Batin Ve.


"Akan kubuat kau jadi milikku tuan putri. Tidak peduli siapa lawanku" Batin Adrian.


Sejak awal Adrian memang sudah tertarik dengan Ve. Semakin ke sini rasa tertarik itu semakin besar. Ada satu hal yang Adrian suka dari Ve. Sifat terbuka dan tanpa pura-pura dari Ve membuat Adrian berpikir kalau Ve berbeda dengan semua wanita yang pernah dia temui.


"Tunggu dulu" Tahan Adrian ketika Ve akan turun dari mobil Adrian. Mereka sudah sampai di depan rumah Ve.


Pria itu meraih kresek buah yang ada di jok belakang.


"Milikmu" Kata Adrian singkat.


Ve terdiam.


"Aku tidak mau memakannya" Tambah Adrian lagi.


"Bawa pulang atau aku buang" Ancam Adrian.


"Jangan mengancamku"


"Maka menurutlah"


Ve mencebik kesal. Mengambil alih kresek itj dari tangan Adrian. Lantas keluar dari mobil Adrian.


"Tunggu Ve. Soal aku ingin menikah denganmu. Aku serius"


"Aku tidak mencintai Kak Hans"


"Akan kubuat kau jatuh cinta padaku" Sahut Adrian. Menatap dalam pada wajah Ve. Tatapan Adrian membuat jantung Ve seketika bermaraton ria. Haruskah dia merasa bahagia. Atau sebaliknya.


Pada akhirnya Ve masuk ke rumah dengan perasaan berkecamuk didadanya. Entah apa yang dia rasakan saat ini. Dia sendiri bingung.


Sementara itu tanpa mereka sadari. Lyn mengawasi mereka dari balkon kamar mereka. Ada senyum tipis terukir di wajah cantiknya.


"Kita akan lihat Hans, seberapa besar usahamu untuk meyakinkan Ve soal perasaanmu juga kesungguhanmu" Batin Lyn.


***