Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Chicken Katsu?



Hampir 10 menit Lyn membiarkan air matanya turun di pipinya. Dia pikir, oke dia akan menangis sepuasnya kali ini. Tapi besok dia akan berusaha mengubah nasibnya. Jika itu masih gagal. Dia akan menerimanya sambil tersenyum.


Dia masih berjongkok. Menatap ke arah tetesan air hujan yang mengalir menuju drainase (saluran pembuangan air). Hingga tiba-tiba dilihatnya sepasang sepatu sudah berada tepat di hadapannya.


"Perlu teman lagi?" Tanya sebuah suara yang terdengar tidak asing di telinganya.


Seketika Lyn mendongakkan wajahnya. Menatap seraut wajah yang sekelebat terlintas di benaknya.


"Kamu....


"Senang bertemu denganmu lagi, Lyn."


"Ingin makan sesuatu?" tanya pria itu lagi.


"Aahhh...aku pikir tidak perlu...aku baru saja...kruuuukkkk...


"Baru saja makan...itu yang mau kamu katakan? Kamu tidak pandai berbohong." Ucap pria itu lagi.


"Itu..itu..


"Sup tomyan disini enak. Itu bagus untuk menghangatkan badanmu." Lagi pria itu berucap.


"Ya?"


Belum sempat membantah, pria itu sudah memanggil pelayan untuk memesan.


"Suka teh tarik?"


"Ahh..."


Lyn mengangguk pelan. Membuat pria itu tersenyum. Senyum yang membuat wajah pria itu terlihat semakin tampan.


Keduanya sudah duduk di sebuah restoran Thailand. Di kawasan Kampung Pasir Putih. Entah kenapa Lyn mau saja ketika pria itu mengajaknya untuk masuk ke dalam mobilnya. Lantas membawanya ke tempat ini.


"Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya pria itu.


"Menunggu hujan turun."


"Sambil menangis?"


"Aku tidak menangis." Sangkal Lyn.


"Oke-oke kamu tidak menangis."


Lyn mendengus kesal mendengar ucapan pria itu. Hening, Lyn nampak melihat sekelilingnya. Dia bukannya belum pernah pergi ke tempat ini. Sedang pria di depannya sibuk menatap ponselnya dan sesekali menatap wajah sembab Lyn.


"Perempuan memang ratunya bohong." Batin pria itu.


"Kenapa kamu ada disini?" Tanya Lyn tiba-tiba.


"Mencarimu." Jawabnya singkat.


"Ya?" Lyn jelas tidak percaya dengan ucapan pria itu.


"Jangan bercanda. Kita bertemu di sana dan dalam satu bulan kita bertemu lagi di sini. Tidakkah ini aneh." Tanya Lyn, yang mulai berpikir kalau pria ini punya maksud terselubung.


"Apanya yang aneh. Aku kesini ada bisnis yang harus aku selesaikan. Dan ketika aku lewat daerah sini aku melihatmu..menangis..


"Aku tidak menangis!"


"Iya tidak menangis tapi sedang memandangi hujan. Betul tidak?" Pria itu bertanya.


Lyn sejenak menatap tajam pada lawan bicaranya itu. Diujung sana. Seorang pria tampak mengulum senyumnya, melihat tingkah atasannya itu.


"Kau mulai menunjukkan sisi lemahmu Bos."


"Siapa kau?" Tanya Lyn tiba-tiba.


"Aku? Apa itu penting?"


"Tidak juga." Lirih Lyn.


"Kalau begitu tetaplah seperti ini. Cukup aku yang tahu soal dirimu. Lain tidak penting." Jawab pria itu ambigu.


Lyn sendiri bingung. Baru kali ini dia mengenal seorang pria yang tidak ingin diketahui identitasnya.


Pada akhirnya, Lyn menikmati sup tomyannya. Sedang pria itu tampak hanya sesekali menyendok makanannya. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan menatap wajah Lyn.


"Apa yang aku lakukan? Aku bahkan seperti orang gila mengejarmu sampai kesini."


"Mereka masih mengikuti kita, Tuan."


"Mengganggu saja."


Lyn baru saja masuk ke rumahnya, ketika pria itu meninggalkan rumah Lyn dengan dua mobil yang mengikutinya.


"Jangan biarkan mereka lolos." Perintahnya kembali mendapat anggukan dari sang supir. Sedang pria itu langsung mengambil laptopnya. Menguliknya lalu tersenyum penuh arti.


Dua mobil di belakangnya langsung terlihat oleng. Tak lama terdengar suara rem yang diinjak mendadak.


"Sekarang!"


Mobil yang membawa pria itu, ikut mengerem mendadak. Hingga dalam sekejap posisinya sudah berhadapan dengan dua mobil yang mengikutinya.


Dia menurunkan kaca mobilnya sedikit.


"Say goodbye to your boss." Ucapnya tanpa suara.


(Ucapkan selamat tinggal pada bosmu)


Dua tembakan sekaligus dilepaskan oleh sang supir. Tepat ke arah tempat bahan bakar mobil itu berada. Dan "boooooom", dua mobil itu meledak bersamaan. Dengan suara dentuman yang cukup keras. Meninggalkan asap tebal membumbung tinggi.


Sedang penumpangnya tidak ada satupun yang bisa melarikan diri. Karena pria itu telah meretas sistem komputer mobil itu. Membuat penumpangnya terkunci di dalam mobil. Sebab dikunci otomatis dari sistem komputernya.


"Berani sekali dia main-main denganku." Geram pria itu.


***


"Kita tunggu sebentar. Pesawat take off setengah jam lagi" Iz berkata sambil mendudukkan dirinya di kursi tunggu VIP, Senai Airport.


"Betul ke kalau Ve itu putri?" Mas bertanya untuk yang ke sekian kalinya.


"Hei berapa kali aku harus menjawab. Iya...tidak percaya? Kau tanya padanya. Dia tahun baruan di istana mereka." Jawab Iz sambil menunjuk Lyn dengan dagunya.


"Benarkah?"


Lyn mengangguk. Kali ini mereka berangkat tanpa pengawalan Richard. Pria itu akan menjemput di bandara Cote D' Azur kota Nice.


Mas melongo mendengar jawaban Iz dan Lyn. Berapa kali dia bertanya. Jawabannya tetap sama. Dia tidak percaya, partnernya dua bulan ini seorang putri dari kerajaan M. Dan akan menikah dengan CEO tempatnya bekerja.


Ditambah lagi ketika Lyn memberikan undangan via online yang Ve kirimkan. Meminta dirinya menghadiri pernikahannya dan Adrian. Terkejut jelas. Bahagia jangan ditanya.


Tepat setengah jam kemudian ketiganya sudah duduk di kursi first class dalam penerbangan mereka ke negara M.


"Enjoy your flight." Ucap Iz.


(Nikmati penerbanganmu)


Iz lantas mengubah posisi kursinya jadi setengah rebahan. Menarik selimutnya. Lantas mulai memejamkan matanya. Ngantuk sekali rasanya. Dia dan Adrian mati-matian lembur menyelesaikan semua pekerjaannya. Sebab Adrian akan cuti satu minggu untuk pernikahannya. Dan Iz akan cuti tiga hari.


"Berapa lama kita akan sampai?" Tanya Mas.


"Sekitar 18 sampai 19 jam. Ditambah perjalanan darat lebih kurang tiga jam." Jelas Lyn.


"Alamak." Seru Mas heboh.


"Maka kalau bisa tidur, tidur saja. Tu Iz sudah ngorok." Seloroh Lyn.


"Belum Lyn. Jangan main fitnah aja." Sangkal Iz yang ternyata masih mendengar ocehan Lyn dan Mas.


"Kirain sudah ngorok e kamu Iz." Cengir Lyn.


Dari balik selimutnya terdengar Iz mendengus kesal.


Setelah menempuh perjalanan hampir sehari semalam. Akhirnya ketiganya sampai ketika malam menjelang di Negara M.


"Richard ada tukang pijat nggak ya di sini." Keluh Lyn ketika mereka turun dari mobil. Mas dan Iz jelas masih sempoyongan karena bangun tidur.


"Adanya spa, Nona." Jawab Richard yang membuat Mas melongo mendengar interaksi ketiga orang itu yang seperti sudah kenal lama.


"Boleh deh spa. Badanku aduuuhhh rasanya mau rontok. Ya guys, kita spa dulu besok siang. Acaranya besok sore kan Rich." Tanya Lyn. Dan Richard mengangguk.


"Daripada spa, mending kita molor sehari semalam. Bangun besok sore." seloroh Iz.


Yang lain saling pandang. Ada benarnya juga perkataan Iz.


"Rich jangan bangunkan mereka ya." Pinta Lyn dengan mata hampir terpejam kembali. Berjalan gontai ke sana ke sini.


"Princess memang sudah masuk kamar. Tapi Prince tidak tahu lagi. Biasanya dia selalu tidur malam. Jam segini masih di ruang kerjanya, Nona." Jawab Richard.


"Yang penting Ve sudah tidur. Kalau tidak aku harus melayannya. Aku ngantuk sekali. Chicken katsu tidak mungkin kan ngajakin aku ngobrol." Seloroh Lyn.


"Chicken katsu siapa?" Mas bertanya. Wajahnya masih sibuk menatap ke sana ke sini mengangumi keindahan kediaman Emmnuel. Begitu mewah dan megah. Tidak bisa dibayangkan bagaimana dulu Ve bisa tidur di kasur mes mereka.


Mereka berempat baru saja memasuki pintu besar kediaman Emmanuel. Dengan mata hampir tertutup kembali.


Hingga satu suara membuat mata ketiga orang itu terbuka kembali.


"Kenapa baru sampai?" Suara itu terdengar dingin dan juga kejam.


"Chicken katsu." Gumam Lyn lirih. Yang langsung disenggol oleh Richard.


"Uupppsss..keceplosan."


***