Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
KMB- Drama Di Pagi Hari



"Kira-kira mereka lagi ngapain ya?" Ve bertanya pada Hans, sang suami. Keduanya masih berpelukan setelah sesi panas mereka.


"Siapa? Chicken katsu?" Tanya Hans.


Sang istri mengangguk.


"Palingan juga lagi disidang sama bapaknya Lyn." Jawab Hans sesekali menciumi puncak kepala Ve.


"Kok tahu?" Tanya Ve kepo.


"Kan aku juga mengalaminya sebelum melamarmu." Jawab Hans santai.


"Memang iya?" Tanya Ve mengubah posisinya menghadap sang suami.


"Iya. Aku disidang sama chicken katsu sama trio asistennya itu. Sudah seperti terpidana mati saja waktu itu. Padahal mau melamar adiknya. Bukannya ngajakin perang." Gerutu Hans mengingat dia yang hampir kena pukul oleh Mark, karena keceplosan sudah mencium Ve duluan.


"Oohh ritualnya begitu to. Terus kans chicken katsu buat lolos sidang bagaimana?" Tanya Ve cukup ragu.


"Seharusnya dengan kemampuannya, dia bisa meluluhkan hati mak bapaknya Lyn. Meski Fadly lumayan kompeten juga." Hans menganalisa.


"Oh ya kemarin Fao bilang kalau memang Kak Lyn tidak seharusnya dapat pembohong seperti Kak Fadly. Tapi Ve tidak paham maksudnya." Ucap Ve.


"Mungkin Fao punya kejutan untuk Lyn dan keluarganya soal Fadly"


"Mungkin juga. Fao kan ahli mencari aib orang. Makanya jangan macam-macam. Atau aku suruh Fao mencari aibmu."


"Aku tidak punya aib, sayang. Aibku cuma suka mukbang nikmat dulu. Tapi itu dulu. Sebelum aku bertemu dengan agen properti yang memiliki aset yang benar-benar mengagumkan." Jawab Hans ambigu.


"Ha? Agen properti? Aset mengagumkan? Siapa itu. Kamu selingkuh ya." Ucap Ve sambil menggigit dada Hans.


"Astaga siapa yang selingkuh. Dan lagi jangan main gigit dong. Bikin nambah yang lain."


"Mesummm. Jawab dulu siapa agen properti itu?" Tanya Ve mendudukkan dirinya.


Hingga dia yang tidak sadar masih polos sudah mengekspose aset kembarnya yang semakin hari semakin semok. Hasil karya sang suami. Hans langsung menelan salivanya susah payah. Melihat sumber kenikmatannya tiap malam. Melambai-lambai untuk minta segera disesap.


"Jawab! Siapa agen properti itu?" Kesal Ve.


"Agen propertinya ya tentu kamu to, masak nggak tahu, yang asetnya bener-bener buat mabuk kepayang." Ucap Hans sambil mere*** dada Ve. Membuat wanita itu mende*** seketika. Apalagi ketika detik berikutnya Hans langsung menyesap puncak dada sang istri.


"Dasar tuti. Tukang tipu." Umpat Ve di tengah lenguhannya. Kala Hans tanpa aba-aba mendorong tubuhnya hingga terlentang di atas ranjangnya. Lantas mulai memasukinya.


***


K masih berusaha meretas data dari sebuah maskapai penerbangan negara Prancis. Yang ia yakini salah satunya dinaiki oleh Lyn. Dia heran. Begitu Lyn masuk airport Cote D Azur. Seluruh data dirinya menghilang. Baik manifest pesawat maupun kamera CCTV. Dia tidak bisa menemukan kemana gadis itu terbang. Juga tidak bisa menemukan wajah gadis itu di seluruh CCTV yang bisa dia retas.


Jika dugaannya benar. Pasti ada seseorang yang sedang menyembunyikan identitas gadis itu. Tapi siapa. Dan feelingnya mengarah pada si hacker paling top sàat ini. The Guardian from the West. Satu nama yang selalu jadi batu sandungannya jika berhubungan dengan cracking data.


Pria itu masih sibuk dengan laptopnya, lengkap dengan kacamata yang bertengger manis di hidung mancungnya. Ketika seulas senyum terukir di bibirnya.



Kredit Instagram.com


Intoducing K


"Gotcha"


"Kau menyembunyikannya dengan baik, Guys. Aku jadi penasaran seperti apa dirimu di dunia nyata. Guardian from the west, bagaimana jika kau bertemu denganku, Fighter from the east" Ucap K lirih sambil tersenyum smirk.


Sementara diujung sana. Fao tampak menyeringai penuh arti.


"Sayangnya aku tidak sepenasaran dirimu. Karena aku sudah tahu dirimu, K or Fighter from the East" Ucapnya sambil menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap langit malam. Menggunakan kedua tangannya sebagai bantal.



Kredit Instagram @ haominghao_neo


***


Pagi menjelang,


Bingung mau melakukan apa. Dia pikir akan jalan-jalan saja di kampung Lyn. Menghilangkan bosan.


Pria itu baru saja keluar dari kamarnya. Mengenakan celana pendek dan kaos rumahan berwarna putih. Baju yang dia temukan di dalam mobilnya. Dalam paperbag. Mungkin Richard yang meletakkannya.


Baru mau melangkah keluar ketika sayup-sayup didengarnya suara dari arah depan. Sedikit menimbulkan keributan.


"Keluar kau! Dasar pebinor!" Teriak suara itu.


"Tidak perlu diladeni. Biar bapak yang mengatasi." Ucap Rani dari arah belakang. Sebab Hanif sang suami pagi-pagi sudah pergi bekerja.


"Tapi saya yang menyebabkan semua ini. Jika saya tidak datang melamar. Semua tidak akan jadi kacau." Jawab Mark.


"Dan kami tidak bisa melihat senyum Lyn lagi." Balas Rani cepat.


"Karena itulah biarkan saya menjelaskan. Jika dia masih tidak terima. Terpaksa akan saya buka aibnya." Lagi Mark berucap yakin penuh arti.


Perlahan membuka pintu rumah Hanif. Dimana di depan rumah itu sudah banyak orang yang menonton. Biasa di kampung kan seperti itu. Tingkat kekepoan warganya sama dengan ibu-ibu komplek di kota. Dapat tontonan gratis siapa juga yang mau melewatkan. Bolehlah buat intermezo juga hiburan untuk menghilangkan stres gegara harga sembako yang semakin jadi sultan..muahalll poooollll 🤣


"Nah ini ni pasti biang keroknya. Kamu kan yang nikung Lyn dari saya!" Satu suara langsung menyambut Mark begitu ia keluar dari rumah Hanif. Seiring dengan sebuah cengkeraman terasa di sekitar kerah kaosnya.


"Sabar nak Fadly. Semua bisa di bicarakan baik-baik" Lerai pak Hendro.


"Tidak bisa begitu, Pak. Bulan depan saya dan Lyn akan menikah. Saya sudah mengeluarkan biaya yang banyak untuk persiapan pernikahan kami." Fadly meradang.


"Soal itu mari bicarakan baik-baik" Pak Hendro masih sabar melerai.


"Mas Fadly apa-apaan ini?!" Teriakan Lyn menarik perhatian dua pria itu. Dengan cepat Lyn mendekat. Lalu dengan kasar melepaskan cengkeraman tangan Fadly dari leher Mark.


"Lyn kenapa kamu membela dia? Aku ini calon suamimu" Fadly protes. Sedang Mark masih diam. Melihat drama live di depan mata.


"Maaf Mas.. ini semua salah Lyn. Tapi semalam, Lyn sudah menerima lamaran Mas Abi" Jawab Lyn langsung membuat Fadly marah. Sedang Mark langsung mengembangkan senyumnya. Mendengar Lyn memanggilnya Mas. Terdengar mesra di telinganya.


"Apa katamu? Jelas-jelas kamu dijodohkan denganku. Kenapa kamu malah menerima lamaran dari bule brengsek ini!" Kembali Fadly.


"Dia melamarku duluan Mas. Apa Mas pernah melamarku resmi ke rumah? Belum kan?"


Skat mat. Fadly terdiam. Ya, dia memang belum melamar Lyn secara resmi. Semua masih sebatas hubungan yang didasari perjodohan.


"Sial! Aku kalah langkah! Bisa gagal semua rencanaku selama ini" Batin Fadly geram.


"Aku tidak peduli. Pokoknya kamu harus menikah denganku. Jika perlu hari ini juga kita menikah!" Ucap Fadly sambil menarik tangan Lyn. Membuat Lyn terkejut karena Fadly menariknya paksa.


"Lepaskan tanganmu darinya!" Ucap Mark tegas.


Suara baritone itu seketika menghentikan keributan yang ada. Aura memimpin dan mendominasi jelas terasa ketika Mark berbicara.


"Aku bilang lepaskan!" Mark mengulangi perintahnya. Fadly jelas terkejut dengan aura yang Mark keluarkan.


Ada kesempatan, Lyn langsung melepaskan cekalan tangan Fadly. Berlari ke arah Rani yang berdiri di belakang Mark.


"Aku yang melamarnya semalam. Aku juga yang membuatnya menerima lamaranku. Jadi jika Anda ingin marah. Marahlah pada saya. Jangan melampiaskannya pada wanita" Ucap Mark penuh penekanan di tiap katanya.


"Kau! Siapa kau sampai berani berkata seperti itu?" Teriak Fadly.


Sikap Fadly membuat warga tercengang. Pasalnya Fadly terkenal sopan dan lemah lembut meski tengah marah sekalipun.


"Aku memang bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya aku tidak memancing keributan dengan kedatanganku" Jawab Mark tenang. Melirik ke arah Lyn yang tampak mengusap pergelangan tangannya yang nampak memerah. Ada rasa marah dalam diri Mark pada Fadly.


"Aku tidak terima kalian membatalkan perjodohan ini. Aku akan tetap menikah dengan Lyn bulan depan. Tidak peduli apapun yang terjadi!" Tekad Fadly.


"Dan menjadikannya yang ketiga? Jangan harap!" Jawab Mark sambil menatap penuh arti pada Fadly. Yang langsung memundurkan langkahnya begitu mendengar ucapan Mark.


"Ba...Bagaimana bisa?"


Semua penonton langsung berbisik-bisik mendengar ucapan Mark. Mereka dengan cepat menangkap maksud dari ucapan Mark.


"Ha??" Sesaat itulah yang terucap dari para penonton. Termasuk Lyn dan keluarganya. Semua menatap tidak percaya ke arah Fadly. Yang kini hanya bisa menatap gamang pada Mark juga semua orang yang menyaksikan kejadian itu.


***