Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Dijemput Richard



Adrian menatap hampa pada kamarnya. Sebulan dia terkurung di kamarnya tanpa melakukan apa-apa. Tubuhnya sudah sembuh sejak lama. Tapi sang mama begitu enggan melepaskan dirinya untuk keluar rumah.



Kredit Goole.com


"Oh my God, Adrian nggak mungkin masuk kesana lagi Ma" Adrian menjawab kecemasan sang Mama soal dirinya yang akan masuk klub. Lantas kembali ke kebiasaan lamanya.


"Manalah tahu. Itu sudah jadi kebiasanmu. Siapa tahu kumat lagi" Kekeuh sang Mama.


Walhasil selama sebulan ini. Adrian menjadi teman setia sang mama untuk bergosip atau sekedar mendengar ceramah dari mamanya.


"Aduh bisa gila lama-lama jika aku seperti ini terus" Gerutu Adrian membuka tirai kamar tidurnya. Menatap penuh harap agar bisa keluar dari tempat itu padahal itu rumahnya sendiri.


"Ma, boleh tidak jika aku ketemu Ve?" Tanya Adrian suatu pagi.


Kedua orang tuanya langsung menatap pada sang putra.


"Mau apa ketemu tuan putri?" Papa Adrian bertanya sambil meminum kopinya.


"Mau melepas rindulah. Kangen" Adrian berucap dengan wajah berbinar. Membayangkan wajah Ve ada dihadapannya.


"Boleh Papa memberi saran?" Papa Adrian berubah serius.


"Apa?"


"Jika kau memang serius dengannya. Lamar dia, nikahi dia" Saran papa Adrian tegas.


Adrian terdiam. Dia memang berniat untuk menagih jawaban pada gadis itu. Meski sebelumnya dia harus berhadapan dengan Mark. Kakak Ve.


"Adrian memang berniat seperti itu" Gumam Adrian.


Hening sejenak.


"Apa Papa dan Mama setuju jika Adrian menikah dengan Ve?" Tanya Adrian.


Pria itu pikir perlu minta pendapat kedua orang tuanya. Meski pernikahan tetap dia yang menjalani. Tapi restu orang tua juga penting.


"Sebenarnya Mama tidak masalah siapa yang akan jadi menantu Mama. Sebab apa? Mama pikir siapa yang akan menerima pria bekas wanita lain"


"Adrian masih perjaka Ma!" Potong Adrian langsung.


"Tetap saja kamu tu dah ngemek-ngemek tubuh wanita lain"


"Mama..sudah deh jangan diungkit-ungkit lagi. Adrian kan sudah tobat. Jadi setuju tidak kalau Adrian menikahi Veronika?" Tegas Adrian.


"Setujulah. Siapa juga yang menolak mantu seorang putri. Yang jadi pertanyaan mau nggak si tuan putri sama kamu yang somplak juga mesum ini"


"Somplak di mananya to? Wong Adrian ganteng paripurna gini kok" Narsis Adrian.


"La itu apa kalau nggak somplak namanya"


"Ini narsis Pa...bukan somplak!" Protes Adrian.


"Sama aja tuh buat Papa" Kekeuh papa Adrian santai.


"Astaga..." Adrian memijat pelipisnya yang pening. Mendengar ucapan absurd sang Papa pagi-pagi.


"Yang somplak dia bukan aku" Tolak Adrian dalam hati.


"Yang penting kamu berubah Adrian. Jangan sampai kamu kembali ke kebiasaan lamamu jika kamu sudah menikah" Saran Mama Adrian sambil menikmati sarapannya.


"Siapa juga yang mau mukbang nikmat kalau ada yang premium depan mata siap untuk dinikmati" Jawab Adrian santai.


"Isshh ngomongnya itu lho" Sang Papa merasa gatal telinganya mendengar omongan sang putra.


"Kenapa? Kan benar omongan Adrian. Beuuuhh Adrian belum nemu yang seperti itu selama ini" Pikiran Adrian menerawang membayangkan tubuh seksi Ve yang bergerak liar dibawah tubuhnya.


Pletak!


"Aduuuhhhh...sakit Pa!"


"Pagi-pagi sudah omesh aja. Nikahin dia dulu. Baru kamu bisa mikir yang aneh-aneh" Galak sang Papa.


"Iya-iya. Jadi boleh nih Adrian ke sebelah?" Tanya Adrian lagi.


"Selesaikan dulu pekerjaan kantormu" Sang Papa memberi keputusan.


"Yeesssss!" Adrian memekik saking gembiranya.


"Veronika I'm coming" Batin Adrian sambil tersenyum.


***


Liburan akhir tahun tiba. Kilang Lyn biasanya akan memberikan libur 5 hari kepada seluruh pekerjanya. Dan waktu inilah mereka akan menggunakannya untuk pulang kampung.


Seperti saat ini, Lyn menghembuskan nafasnya setelah melambaikan tangannya pada Ira dan Ina yang akan pulang ke kampung halaman mereka di Kelantan. Menyusul Siti yang pulang ke Pahang. Suzy pulang ke Segamat.


Tinggal dirinya, sebab Ika dan Ratih kompak mengambil cuti pulang ke Indonesia. Mereka bahkan sudah berangkat sejak seminggu lalu.


Dia teringat ucapan gadis itu, untuk meminta dirinya menghabiskan liburan akhir tahun di rumah Ve yang di Jepang. Namun Lyn tidak menganggap serius hal itu. Dia sedikit demi sedikit akan membiasakan diri untuk "melupakan" gadis itu.


Toh memang pada akhirnya dia juga akan kembali ke Yogyakarta dua bulan lagi. Lyn menarik nafasnya dalam. Memikirkan takdir apa yang akan dia jalani saat kembali nanti.


Setelah kepulangan Ve dan Adrian. Lyn jadi tidak bersemangat bekerja. Sama dengan Mas. Apalagi keduanya menjadi partner sekarang. Bekerja mencapai target sudah. OT kalau mau. Kalau tidak ya pulang.


Lyn hanya sesekali terhubung dengan Iz. Mengobrol dengan Iz yang juga mengaku kesepian karena tidak ada bosnya yang tengil itu. Ditambah semua pekerjaan sekarang dia yang handle. Meski Adrian sesekali membantunya tapi itu jelas beda.


Lyn baru saja membalikkan badannya. Berniat masuk ke dalam rumahnya. Ketika satu suara memanggilnya.


"Nona...."


Lyn langsung berbalik. Menatap waspada pada pria bertubuh tinggi besar yang memanggilnya dari luar pagar rumahnya. Tampilannya begitu menyeramkan dengan kacamata hitam yang menempel di hidung mancungnya.


"Anda mencari siapa?" Lyn bertanya dengan wajah waspadanya.


"Ini aku Nona...apa Anda lupa padaku?" Richard membuka kacamatanya.


Lyn sejenak berpikir. Hingga dia teringat siapa pria bule itu.


"Richard?" Lyn masih mencoba mengingat.


"Iya, ini saya Richard"


"Ada apa ya?"


"Mau menjemput Anda"


"Kakak Ve ada di sini?" Tanya Lyn. Lyn pikir Richard adalah asisten Mark yang lain.


"Ah tidak. Your...eh dia tidak ada disini" Jawab Richard hampir keceplosan menyebut nama Mark.


"Lalu?"


"Ah Anda tinggal ikut saja. Pesawatnya take off dua jam lagi" Richard bersuara.


"Mau kemana?"


"Bukankah Anda berjanji kan menghabiskan liburan di rumah Prin...eh Nona Veronika" Richard merutuki mulutnya sendiri yang bolak balik keserimpet menyebut atasannya.


Lah bagaimana lagi. Mark melarang Richard membuka identitas dia dan Ve sebelum gadis itu sampai di istana mereka. Dan mulut Richard sudah biasa menyebut Your Highness juga Princess dalam banyak kesempatan kepada atasannya itu.


"Tapi aku belum berkemas" Kilah Lyn.


"Tidak perlu membawa apa-apa. Semua sudah disiapkan di sana. Anda tinggal berangkat saja" Richard memberi tahu.


"Tapi saya tidak membawa pasport saya" Lagi Lyn beralasan.


"Semua sudah beres Anda tinggal berangkat saja. Mari" Richard berkata.


Lyn berpikir sejenak.


"Mari Nona. Waktunya mepet" Ajak Richard lagi.


"Oh iya. Sebentar saya akan mengganti pakaian juga mengambil ponsel" Gadis itu berlari masuk kembali. Sepuluh menit kemudian dia sudah keluar lagi sambil mengunci pintu.


"Jepang? Dia akan ke Jepang? Mimpi apa dia semalam?" Batin Lyn tidak percaya.


Akhirnya keduanya hanya diam selama perjalanan mereka ke Senai Airport. Begitu sampai, Lyn hanya mengekor Richard untuk masuk ke airport tersebut. Membiarkan pria bule itu yang mengurus dokumen perjalanannya. Tanpa kesulitan apapun.


"Kita akan transit di KLIA" Richard memberitahu saat mereka sudah masuk ke pesawat. First class. Membuat Lyn melongo.



Kredit Google.com


"Semoga Anda nyaman dengan kelas ini" Ucap Richard ketika keduanya sudah duduk di kursi masing-masing.


"Ini sudah cukup" Jawab Ve.


Dia pikir ini sangat nyaman sekali. Apalagi kalau hanya ke Jepang yang mungkin hanya dua atau tiga jam.


Mereka terpaksa menggunakan penerbangan komersial untuk menuju negara M. Menghindari kecurigaan banyak pihak. Richard sendiri sudah melapor kalau pesawat sudah berangkat hingga Fao bisa mulai bekerja. Mengawasi keduanya hingga tiba di negara M dengan selamat.


***


Cari vitamin lagi yooookk...biar melek matanya....🤭🤭🤭



Kredit Instagram @ jk_ko.3291


Abaikan yang tidak suka ye bang...apapun itu aku tetap padamu 😍😍😍..


***