
Iz melongo ketika keesokan harinya. Dia menyaksikan sendiri, bagaimana seorang Ve yang mendapat julukan putri udik tukang makan. Menghabiskan satu porsi utuh kue tart yang dia minta.
"Kau baru percaya?" Tanya Adrian berbisik ke telinga Iz. Iz hanya mengangguk dengan mulut menganga.
Kredit Instagram @ nachi_k_sweets
"Habis Bang satu porsi utuh. Dan dia maintain slim je" Iz menyahut tidak percaya.
Sedang Lyn hanya bisa tersenyum melihat ulah Ve.
"Yang manis-manis kan bisa ngilangin sedih sama galau" Seloroh Ve.
"Mau yang manis, liatin aku juga manis" Balas Adrian.
"Kak Hans manisnya bikin diabetes" Timpal Ve.
"Kau mengumpatku?" Sungut Adrian.
"Kalau merasa ya sudah" Jawab Ve cuek.
"Kalian lihat kan. Dia kalau waras cuma buat aku darah tinggi saja" Dengus Adrian geram.
"Ya sudah aku pingsan saja terus"
"Ya jangan gitu juga kali. Itu merepotkan" Keluh Adrian.
"Terserahlah. Kak Hans mau bagaimana?" Balas Ve sambil berdiri.
"Ayo Kak, kita pergi sekarang" Ajak Ve lagi.
"Hei, hei kalian mau pulang sekarang?" Tanya Adrian yang masih duduk di sofanya.
"Iya. Ayo Kak Lyn" Sahut Ve menggandeng tangan Lyn. Melangkah keluar dari kamar itu.
Meninggalkan Adrian dan Iz yang masih terlihat santai.
"Abang tidak mengantarnya?" Iz bertanya kepo.
"Biarlah. Yang penting dia sudah tidak apa-apa. Kalau ingat semalam saja benar-benar buat jantungan saja. Kau tidak lihat wajahnya sudah biru ketika kita membuka pintu liftnya" Kenang Adrian.
"Kita bisa digantung jika dia sampai kenapa-kenapa" Sambung Iz.
Keduanya manggut-manggut mengingat kejadian tadi malam. Sungguh mereka tidak menyangka jika gadis yang baru saja menghabiskan satu porsi kue tart itu. Mempunyai gangguan panic attack.
"Ya..." Iz mengangkat panggilan ponselnya.
"Apa maksudmu mereka tidak pulang ke rumah?" Tanya Iz lagi.
Dan pertanyaan itu membuat Adrian langsung menatap Iz. Meninggalkan laptopnya.
"Ada apa?" Tanya Adrian.
"Abang coba hubungi Ve. Mereka tidak pulang ke rumah. Tapi pergi ke Larkin" Balas Iz.
Sedetik kemudian Adrian sudah sibuk dengan panggilannya yang tidak diangkat oleh Ve maupun Lyn. Pria itu kembali menggeram marah.
"Fao, kemana mereka pergi?" Adrian pada akhirnya menghubungi Fao.
"Ke Kulai. Ke tempat Pamannya Lyn" Fao menjawab santai.
"Aiishh, mereka ini sukanya buat orang jantungan saja" Gerutu Adrian.
Sedang Fao langsung terkekeh. Lantas mematikan sambungannya.
"Akan kuhubungi mereka sebentar lagi" Kata Adrian.
"Oh iya mereka ke sana ngapain?" Kepo Iz.
Adrian mengedikkan bahunya tidak tahu.
***
Sementara itu, Ve sangat menikmati perjalanannya. Memasuki felda tempat Paman Lyn tinggal. Suasana hijau khas pedesaan langsung menyambut mata Lyn.
"Wahhh ini indah sekali Kak" Gumam Ve takjub.
"Suka?"
"Banget"
Hening, Lyn membiarkan Ve menikmati pemandangan dari dalam taksi yang membawa keduanya menuju rumah sang Paman.
"Oh ya Kak, Kak Fadly apa juga datang?" Ve terlihat canggung saat bertanya.
"Tidak. Jangan khawatir. Aman kok" Jawab Lyn.
"Yang aman Kakaklah" Sindir Ve.
"Iisss, kok bener banget sih" Gelak Lyn yang disambut tawa Ve. Membuat Lyn bersyukur keadaan Ve membaik dengan cepat. Teringat bagaimana mereka bertiga begitu cemas melihat keadaan Ve semalam.
Tak berapa lama taksi yang mereka naiki berhenti di sebuah rumah panggung. Yang sudah dihias sedemikian rupa. Hingga menunjukkan kalau yang empunya rumah sedang memiliki hajat.
Kredit Google.com
"Kak Lyn...." Panggil seorang gadis kecil berambut panjang.
"Assalamu'alaikum, Balqis" Sapa Lyn.
Membuat gadis kecil itu langsung menjawab salam Lyn. Lantas meraih tangan Lyn. Menciumnya dengan sayang.
"Kakak cantik ini siapa?" Tanya Balqis.
"Oh ini teman Kakak. Namanya Kak Ve" Lyn sudah berjongkok di depan Balqis.
Hal itu membuat Ve ikut berjongkok menyamakan tingginya dengan Balqis.
"Halo cantik, kenalkan nama kakak Ve" Sapa Ve lembut.
Sapaan Ve langsung disambut senyum manis dari Balqis.
"Namaku Balqis. Senang bertemu kakak cantik" Balas Balqis.
"Ahh, mak cik Aisyah" Lyn berseru sambil mengucapkan salam.
Tak lama kemudian, Ve sudah dibawa masuk. Dikenalkan kepada seluruh anggota keluarga Paman Lyn. Semua menyambut kehadiran Ve dengan hangat. Ve merasa terharu dengan kehangatan dan keramahan keluarga Paman Lyn.
"Istirahat dulu saja" Saran mak cik Aisyah.
"Ve tidak capek, mak cik. Ve bisa bantu apa?" Ve sangat antusias. Melihat banyak orang yang berkumpul di serambi rumah juga didalam rumah.
"Ve mau menolong?" Tanya Lyn tidak percaya.
"Iyalah. Masak ke sini mau ongkang-ongkang kaki. Nggak sopan" Bisik Ve.
Lyn tersenyum.
"Ayo ikut ke dalam saja kalau mau bantu. Di sini bagian orang masak buat jamuan besok" Ajak Lyn.
Di dalam rumah banyak para anak perempuan. Mereka sedang merangkai bunga.
"Bantu ini saja. Ini namanya bunga telur. Souvenir pernikahan disini" Info Lyn.
Ve ber-ooo ria.
"Masih kurang berapa?" Tanya Lyn pada seorang anak perempuan disana.
"500 Kaka" Jawabnya.
"Oke ayo kita bantu" Ajak Lyn yang langsung disambut anggukan antusias Ve. Perlu beberapa kali untuk Ve belajar merangkainya.
"Lebih sulit ini dari merangkai bunga asli" Batin Ve.
Hingga beberapa kali mencoba, baru Ve bisa merangkai dengan sempurna.
Kredit Google.com
"Kamu cepat belajar" Puji Lyn. Yang disambut senyum mengembang milik Ve.
Lain Ve yang tersenyum. Lain pula Adrian yang memanyunkan bibirnya dari tadi. Kesal bukan kepalang. Dia sejak tadi menghubungi Ve dan Lyn tidak pernah tersambung.
"Haiishh..apa tempat Paman Lyn tinggal pelosok apa. Sampai sinyal aja susah" Gerutu Adrian.
"Mereka sibuk mungkin Bang. Kulai tidak susah sinyal meski ke pelosok sekalipun" Terang Iz.
Adrian terdiam mendengar ucapan Iz.
"Tunggu kejap lagi. Time dia nak tidur pasti di lihat ponsel dia" Saran Iz.
Ketika waktu menunjukkan pukul 9.30 malam, Adrian meraih ponselnya. Bersamaan dengan Ve dan Lyn yang masuk ke kamar mereka.
"Capek ya padahal cuma duduk" Ujar Ve.
Ucapan Ve membuat Lyn mengulum senyumya.Gadis itu meraih ponselnya.
"Yah mati" Gumamnya.
Mencari charger didalam tasnya. Mulai mengisi daya ponselnya. Begitu ponsel itu menyala. Puluhan panggilan dan pesan dari Adrian langsung memenuhi layar depan ponsel Ve.
"Astaga!" Seru Ve.
"Kenapa?" Tanya Lyn yang mau ke kamar mandi.
"Kak Hans..." Bisik Ve. Mendengar nama Adrian. Lyn cuek langsung masuk ke kamar mandi. Seolah tahu apa yang akan terjadi.
"Ya Kak...."
"Kau ini kemana saja sih. Punya ponsel tidak dipakai!" Maki Adrian langsung dari ujung sana.
Ve reflek menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Malah diam! Ayo jawab kamu dimana?" Tanya Adrian.
"Kulai. Tempat pamannya kak Lyn"
"Ngapain?"
"Mau kondangan. Resepsi"
"Lyn mau nikah?"
"Kakak sepupunya"
"Acara pukul berapa?"
"Ijab qobulnya jam 10. Jamuannya jam satu. Kenapa Kak Hans nanya?" Tanya Ve curiga.
"Nanya saja tidak boleh?" Adrian balik bertanya.
"Tidak boleh!" Balas Ve.
"Pelit!"
"Biarin!"
"Veronika...."
"Apa?"
"Aku rindu padamu"
Deg,
Jantung Ve langsung bermaraton ria mendengar ungkapan rindu dari Adrian. Ve ingat dengan jelas. Adrianlah yang menyelamatkannya dari lift yang macet. Tahu juga, jika pria itu yang melakukan CPR padanya.
Dia tahu jika pelukan Adrianlah yang berhasil menenangkannya dari mimpi buruknya semalam.
Tiba-tiba saja, hatinya berdesir lembut. Merasakan hal yang sama dengan apa yang Adrian ucapkan. Ve juga merindukan Adrian. Seketika satu pertanyaan terbersit di benak Ve.
"Jatuh cintakah aku?"
****