
"Bagaimana?" Tanya Mark setelah sang istri masuk ke ruang kerja.
"Aku sudah mencoba bicara dengan Serena. Masalahnya dia benar-benar sakit hati dengan kelakuan Albert. Apalagi sekarang dia hamil anak Albert" Jawab Lyn.
Hening sejenak.
"Apa kamu tahu. Serena mengajukan resign setelah penobatan kita. Tadinya aku tidak tahu alasannya. Aku pikir dia ingin kembali ke kota kelahirannya. Hidup bersama nenek dan kakeknya. Sekarang aku tahu alasannya"
"Dia ingin kabur dari Albert" Lyn menyimpulkan.
Mark mengangguk. Keduanya menarik nafas hampir bersamaan.
"Apa menurutmu Rena benar-benar tidak mau menerima Albert?"
"Entahlah. Rena tipe mandiri. Membesarkan anak bukan hal sulit bagi Rena. Tapi anaknya perlu status"
"Tanpa cinta. Rena lebih memilih membuat hidup anaknya tanpa status. Itu yang aku tebak"
"Egois itu namanya"
"Mau bagaimana lagi. Itu prinsip Rena. Kita bisa apa?"
Kembali keduanya menarik nafas bersamaan.
"Ayo sholat dulu" Ajak Lyn. Sang suamipun mengangguk. Sholat berjamaah menjadi kebiasaan baru bagi keduanya setelah menikah. Disambung dengan mengaji meski hanya beberapa ayat.
"Aku berharap Rena mau menerima Albert. Albert jelas menyukai Rena sejak lama...
"Rena pun sedikit memiliki perasaan pada Albert"
Hening..keduanya sudah berada ditempat tidur. Dengan Mark yang sudah bertelanjang dada. Kebiasaan yang mulai diterima oleh Lyn. Mau bagaimana lagi.
"Bagaimana dengan Paman Eduardo dan Hilda?" Tanya Lyn sambil memeluk tubuh Mark. Meletakkan lengannya yang terluka di atas dada suaminya.
"Fao sedang mengurusnya. Kali ini aku tidak akan membiarkan mereka lolos. Nanti mereka membuat masalah lagi" Jawab Mark.
"Kalau tuduhannya hanya penyerangan. Mereka paling dipenjara berapa tahun"
"Kejahatan mereka lebih dari yang kau bayangkan. Paman terlibat perdagangan senjata ilegal. Narkoba. Prostitusi....
"Ha?"
"Ini hanyalah kesempatan yang kita ciptakan tanpa melakukan penangkapan paksa. Perbuatannya kali ini akan membuatnya berakhir di penjara untuk waktu yang lama" Sejenak Mark terdiam. Satu lampu berkelip di sebelah kirinya.
"Tidurlah. Kamu sudah meminum obatmu?" ? Tanya Mark.
Lyn mengangguk. Rasa kantuk memang sudah menyerangnya dari tadi. Perlahan wanita itu memejamkan matanya. Sedang Mark terus membelai rambut panjang Lyn. Lima belas menit kemudian, dengkuran halus mulai terdengar. Mark mencium lembut kening juga bibir Lyn sekilas. Lantas dengan hati-hati turun dari ranjangnya. Memakai kembali piyamanya. Juga memakai jubah tidurnya.
"Katakan!" Perintah Mark. Didepannya sudah duduk Fao dengan wajah seriusnya.
"Isshhh jangan galak-galak napa? Kalian kan bisa lanjut nanti" ? Gerutu Fao.
"Aku sedang tidak bercinta asal kau tahu" Cebik Mark kesal.
"Lalu kenapa lama sekali?"
"Menunggunya tidur dulu.Aku tidak ingin membuatnya cemas. Hari ini cukup melelahkan untuknya. Ada yang penting?"
"Soal kematian ayah dan ibumu. Ini ada hubungannya dengan Black Chimaera" Ucap Fao pelan.
"Maksudmu mereka terlibat?"
"Dari data yang berhasil kudapatkan. Orang yang masuk ke dalam ruang tengah sebelum Ve adalah orang dari klan Black Chimaera" Jawab Fao.
Mark langsung mengepalkan tangannya. Dia sudah menduganya karena sang Paman memiliki koneksi dengan klan itu. Dan Pamannya secara samar telah mengakui ada andil dalam kematian kedua orang tuanya.
"Apa aku bisa bertemu dengannya?" Tanya Mark.
"Itu...entahlah. Tapi akan aku usahakan. Aku juga penasaran dengan orang itu"
Hening sejenak. Mark benar-benar tidak mengerti motif mereka. Tapi yang dia duga ini pasti berhubungan dengan sikap sang ayah yang begitu keras memerangi sepak terjang klan itu di negaranya.
***
"Bos dia ingin bertemu" Lapor Max.
"Benarkah?" Tanya K.
Max mengangguk.
"Kita ikuti permainan mereka"
Dan Max kembali mengangguk.
***
"Aku ada urusan dengan Fao sebentar. Kamu tidurlah dulu. Tidak perlu menungguku" Ucap Mark sambil mencium kening Lyn lama.
"Hati-hati. Apa Albert juga ikut?"
"Sebastian juga Richard. Albert sibuk mengejar Rena. Biarkan saja"
"Baiklah" Jawab Lyn.
"Ayo kita temui mereka" Ajak Mark.
***
Mark mendengus kesal sambil mendudukkan diri di kursinya.
"Apa dia berbohong?" Tanya Mark. Mereka baru saja kembali dari pertemuan dengan K yang diadakan di sebuah gedung milik Mark.
"Untuk kepemimpinan tidak. K baru merebut kekuasaan Black Chimaera dalam lebih kurang 1,5 tahun ini" Terang Fao sambil terus mengulik laptopnya.
"Tapi apa itu masuk akal. Aku menduga kalau dia berhubungan dengan kematian ayah dan ibuku" Mark mengungkapkan pemikirannya.
"Entahlah. Aku belum bisa memastikan. Wajah orang itu tidak jelas bahkan ketika aku sudah menggunakan teknologi terkini untuk memperjelasnya"
***
Sebulan berlalu. Lyn mulai sibuk dengan kegiatannya sebagai ratu. Jadualnya semua diatur oleh bagian humas istana. Lyn dengan cepat bisa membiasakan diri dengan kehidupan barunya.
Dalam kegiatannya dia selalu didampingi oleh Rose. Kadang ada Ve jika wanita itu sedang tidak sibuk. Baik kegiatannya sendiri. Atau membantu menghandle urusan kantor sang suami, Hans.
Dan akhirnya setelah berusaha mati-matian selama hampir satu bulan. Rena mau menerima cinta Albert. Mereka akhirnya menikah. Setelah Rena benar-benar mempercayai kalau Albert sungguh mencintainya. Bukan karena anak yang sedang dikandungnya.
"Akhirnya aku merasa lega. Rena mau menikah dengan Albert" Ucap Lyn pada Ve. Keduanya sedang menghadiri sebuah acara di gedung pariwisata.
"Aku juga merasa lega Kak" Jawab Ve sendu.
"Ada apa?" Tanya Lyn ketika mereka berada di sebuah ruangan VIP khusus untuk mereka berdua.
"Kak, kenapa aku belum juga hamil ya sampai sekarang" Keluh Ve.
"Apa ada masalah?" Tanya Lyn.
"Tidak ada. Hans juga tidak mempermasalahkannya. Hanya saja aku jadi tidak percaya diri" Jawab Ve.
"Sabar...kalian belum ada setahun menikah. Nikmati saja. Tapi terus berusaha" Kekeh Lyn.
"Isshh itu mah tiap hari" Seloroh Ve.
"Ssttt jangan buka kartu" Ucap Lyn sambil mengedipkan mata.
"Ha ha ketahuan dia juga begitu" Akhirnya Ve kembali tertawa.
"Aku heran sama mereka. Masuk kamar tengah malam. Tidur sebentar. Eh tahu-tahu sudah...."
"Ternyata pria itu sama saja. Rena juga bilang begitu. Apalagi sekarang. Kata Albert. Semakin besar perut Rena. Semakin seksi. Bikin ketagihan...
"Isshh Albert setelah nikah. Mulutnya kaya cewek. Asal ngomong"
"Iya. Rena sampai malu kadang kala" Tambah Rose.
Lyn tiba-tiba terdiam. Ada rasa tidak nyaman di perutnya. Yang ia rasa dalam beberapa hari ini. Tapi dia tidak punya masalah lambung. Juga alergi makanan. Juga makannya teratur. Rose benar-benar memperhatikan kesehatan Lyn. Setiap makanan untuk Lyn, Rose sendiri yang menjadi testernya.
"Kenapa?"
"Perutku tidak enak" Jawab Lyn singkat.
"Apa perlu saya panggilkan dokter Lawrence" Tanya Rose cemas.
"Nanti saja jika sudah pulang. Kau hubungi saja dia. Suruh menunggu di rumah"
Rose mengangguk paham.
"Ada apa?" Tanya Ve.
"Perutku tidak nyaman"
"Makanannya aman kan Rose"
"Aman Nona. Saya sendiri yang mencobanya tadi. Tapi dari kemarin Nona Lyn memang seperti itu" Lapor Rose.
"Sudah bilang pada Kakak?" Tanya Ve.
"Ini masalah sepele Ve. Jangan dibesar-besarkan. Kakakmu sibuk sekali akhir-akhir ini. Kamu tahu sendiri. Hans bahkan harus turun tangan membantu"
"Tapi kalau ini masalah serius bagaimana?"
"Aku menyuruh dokter Lawrence untuk datang ke rumah nanti"
"Baguslah kalau begitu" Kata Ve yang berlalu menuju kamar mandi. Entah kenapa dia jadi suka ke kamar mandi akhir-akhir ini. Padahal disana dia hanya memandangi cermin. Menatap dirinya yang menurutnya bertambah gemuk akhir-akhir ini.
"Ah aku harus banyak ngegym ini. Sudah hampir seperti telur mukaku" Batin Ve.
Dia masih asyik memandangi dirinya di cermin ketika terdengar bunyi "gedubrak" seperti barang jatuh. Ve langsung berlari keluar dari kamar mandi.
Matanya langsung membulat tidak percaya.Dilihatnya Rose dan Rena yang sudah tergeletak pingsan di lantai karpet.
"Kak Lyn...kak Lyn...."Panggil Ve panik.
"Tidak! Tidak!" Ve kembali berteriak panik. Wanita itu berlari keluar kamar. Tapi dia tidak melihat seorang pun. Kecuali para pengawal yang sudah tergeletak pingsan.
***