Princess's Handsome Bodyguard

Princess's Handsome Bodyguard
Keluarga Yang Hangat



Ve mengusap air matanya ketika melihat kakak sepupu Lyn mencium tangan sang suami setelah proses ijab qobul mereka. Kakak sepupu Lyn baru keluar menemui sang suami setelah suaminya selesai mengucapkan kalimat ijab qobulnya.


"Kenapa? Jadi baper gitu?" Ledek Adrian yang berdiri di samping Ve.


"Diamlah!" Desis Ve.


Lyn sendiri tampak menjadi bridemaids bagi kakak sepupunya. Adrian tadinya enggan ikut ke acara ijab qobul itu. Tapi setelah melihat betapa cantiknya Ve selepas memake-up wajahnya. Pria itu berubah pikiran.


Akhirnya setelah sedikit berdebat dengan Ve. Akhirnya Ve mau mengajak Adrian. Setelah pria itu memakai jas di luar kaos oblongnya. Tadinya pria itu ingin memakai jaketnya kembali. Ve jelas enggan mengajak Adrian jika tampilannya begitu. Tidak pantas. Itu menurut Ve.



Kredit Instagram @ kook_tan


(abaikan kembang dikepalanya JK 🤭)


"Selamat ya Kak" Ucap Ve ketika menyalami pengantin wanita. Keduanya jadi akrab dalam semalam.


"Iya terima kasih. Sudah ada calon. Cepatlah menyusul. Jangan lama-lama pacarannya" Balas Aini sambil tersenyum melirik Adrian yang berdiri di belakang Ve.


"Ahhh iya, iya" Jawab Ve salting.


"Doain aja semoga dia mau nikah sama aku" Seloroh Adrian sok kenal dengan pengantinnya.


"Oohh tentu saja. Bener kok kata Lyn. Kalian cocok" Jawab si pengantin pria.


"Ha? Beneran kak Lyn bicara seperti itu?" Tanya Ve memastikan.


"He e" Jawab pengantin baru itu bersamaan.


Adrian dan Ve saling pandang. Lantas bersamaan menatap ke arah Lyn. Yang sedang sibuk di ruang tengah. Sedang mereka masih berada di kamar pengantin. Sebelum disandingkan ke pelaminan. Tamu undangan boleh menemui pengantin perempuan di kamar. Meski biasanya hanya wanita saja yang diperbolehkan. Tapi ketika Adrian memaksa ikut masuk mereka tidak masalah. Toh dia masuk dengan Ve.


"Oh ya kak, ini ada hadiah kecil dari Ve. Semoga kakak suka" Kata Ve menyerahkan sebuah paperbag.


"Kamu kok repot-repot sih. Kamu mau datang saja aku seneng banget" Balas Aini berkaca-kaca.


"Nggak repot kok. Wong pas Ve jalan lihat "itu", lucu kayaknya kalau dikasih ke kak Aini" Terang Ve.


"Terima kasih ya Ve" Sahut suami Aini.


"Sama-sama"


"Nginap lagi kan disini? Biar ramai"


"Kami pulang sore nanti" Adrian yang menjawab.


"Aku belum mau pulang Kak" Rengek Ve setelah mereka masuk ke kamar lagi. Menunggu perjamuan pernikahan di mulai.


"Pulang Ve" Bujuk Adrian lembut.


"Besok aku kerja"


"Aku nggak"


"Ya kamu bisa tidur. Aku harus ke Shanghai. Mengurus kontrak dengan A&A Technology" Jawab Adrian melepas jasnya.


"Kak Hans mau ke Shanghai?" Kepo Ve.


"He e. Product yang kamu inspect kemarin lolos standar mereka. Kita akan jadi supplier utama untuk mereka. Kau tahu kan A&A Technology sangat luas jangkauan pasarnya" Jelas Adrian.


"Tapi Ve...


"Jangan membuatku cemas selama kepergianku ke Shanghai. Pulang bersamaku. Flight ku siang dari KLIA" Tambah Adrian.


Ve akhirnya mengalah. Keluar dari kamar itu. Berkata akan membantu pekerjaan di luar sana. Membiarkan Adrian yang mulai sibuk dengan laptopnya.


"Kenapa?" Tanya Lyn melihat wajah cemberut Ve.


"Bertengkar lagi?" Ulang Lyn ketika Ve tidak menjawab. Malah ikut menyusun bunga telur yang mereka rangkai semalam.




All Kredit Google.com


"Kak Hans ngajak pulang nanti sore" Jawab Ve kesal.


"Lo kan tinggal kamu gimana?" Balas Lyn.


"Dia maunya Ve ikut pulang" Keluh Ve.


"Dia ke sini kan memang mau jemput kamu?"


Ve mengedikkan bahunya.


"Dia mau ke Shanghai besok siang" Tambah Ve.


"Ya sudah sana pulang dulu. Kalau masih mau ke sini. Nanti libur akhir tahun kan lama tu. Kita bisa stay disini selama libur" Tawar Lyn.


"Memang boleh" Tanya Ve sumringah.


"Boleh banget" Jawab Balqis. Yang langsung mendapat ciuman hangat dari Ve. Senang sekali Ve dengan anak kecil itu.


"Iihh geli tahu kak Ve" Keluh Balqis.


Dan tawa mereka terdengar sampai ke dalam kamar. Membuat Adrian menghentikan pekerjaannya. Melihat keluar dari jendela kamar itu. Dilihatnya Ve yang tengah bercanda dengan Balqis.


Seulas senyum terkembang di bibir Adrian.


Suasana perjamuan pernikahan berlangsung meriah. Meski sederhana tapi sangat berkesan bagi Ve. Gadis itu tertawa sepanjang perjamuan. Sedang Adrian hanya sesekali mengulas senyumnya. Ve mencoba beberapa hidangan di jamuan itu. Nasi beriyani dan kari kambing. Makanan yang lazim di hidangkan dalam perjamuan pernikahan disana.


"Enak tahu Kak" Ucap Ve menggoda Adrian.


Dan tak lama keduanya kembali berdebat.


"Lihat mereka lucu ya" Seloroh Aini dari pelaminannya.



Kredit Google.com


"Mereka memang begitu tiap hari. Bertengkar, berdebat tidak jelas" Gerutu Lyn.


"Mereka cocok tu" Timpal suami Aini. Keduanya memakai pakaian pengantin bernuansa ungu.



Kredit Google.com


(anggap saja pengantinnya ya guy)


"Coba kalau kamu sama Fadly bisa sehangat mereka" Ucap Aini.


"Sayangnya aku tidak bisa Kak" Jawab Lyn sendu.


"Semoga ada jalan untukmu" Doa Aini.


"Sabar ya Lyn" Tambah suami Aini.


"Terima kasih doanya" Balas Lyn terharu.


"Dengan siapapun kamu menikah. Insyaallah kami akan datang. Kita akan menabung dari sekarang. Ya kan Bang?" Tanya Aini.


"Iya. Insyaallah kami datang. Semoga kami melihatmu bahagia jika kamu menikah nanti. Seperti kami" Jawab suami Aini.


"Terima kasih. Terima kasih" Kembali Lyn berucap. Ada haru dan harapan dalam doa kakak sepupunya.


***


"Jangan sungkan untuk datang kemari nak Ve, juga Mr Lee. Sungguh kehormatan bagi kami. Anda atasan Lyn bersedia datang kemari. Menjemput Ve, juga menghadiri perjamuan pernikahan putri kami" Ucap Paman Lyn, Suwardi.


"Kebetulan saya sedang free Pak Cik. Jadi bolehlah sambil berehat sekejap. Lagipula senang bisa melihat pernikahan daerah sini. Di tempat asal saya tidak ada yang seperti ini. Sangat menarik" Balas Adrian.


"Mr Lee tinggal di Korea. Tengok nama" Tanya Mak Cik Aisyah.


"Saya memang berdarah Korea. Tapi kami tinggal di Paris, Prancis. Disini menghandle kilang Kakek" Jelas Adrian.


"Alamak jauhnya" Seloroh Paman Lyn.


"Taklah jauh. Cuma kena duduk dalam pesawat paling 18 sampai 20 jam lah" Tambah Lyn yang baru saja keluar dari kamar bersama Ve.


"Jauhlah tu" Timpal Paman Lyn


Ve tampak menenteng satu paperbag besar. Yang langsung diambil alih Adrian.


"Terima kasih bajunya. Cantik" Ucap Ve pada Aini. Gadis itu masih mengenakan baju kurung tadi pagi.


"Iya sama-sama. Datang lagi tahu lain kali" Pinta Aini.


"Iya-iya. Tapi nanti kak Aini kan ikut Abang Kakak" Ucap Ve sendu.


"Aku hantar dia kesini kalau mu nak jumpa" Jawab suami Aini.


"Iyakah?" Ve memastikan.


"Haissh, takkan aku nak bohong pula" Kilah suami Aini.


Ve mengembangkan senyumnya. Setelah berpamitan. Ve dan Adrian naik ke mobil mereka. Setelah sedikit berdebat karena keluarga Paman Lyn memberikan oleh-oleh yang lumayan banyak.


"Boleh dimakan dengan teman masa berehat. Terima dan bawa" Pinta mak cik Aisyah.


"Terima kasih Aunty" Balas Ve memeluk Bibi Lyn.


"Sehat selalu nak. Bahagia selalu. Ingatlah semua akan berlalu dan akan ada bahagia untukmu. Percaya ucapan mak cik" Ucap mak cik Aisyah penuh makna.


Ve mengangguk. Lantas berjalan ke mobil yang pintunya sudah dibuka oleh Adrian.


"Oppa cium dulu" Teriak Balqis.


Dan gadis kecil itu langsung menghambur ke arah Adrian. Mencium pipi Adrian kiri dan kanan. Membuat semua orang menepuk pelan dahi masing-masing. Melihat kelakuan gadis delapan tahun itu.


"Kalau Oppa menikah dengan Kak Ve. Balqis tidak apa-apa. Tapi kalau dengan yang lain Balqis tidak suka"


"Kenapa?" Tanya Adrian.


"Kak Ve cantik"


"Kalau dengan kak Lyn-mu?" Tanya Adrian sambil mengedipkan matanya.


Membuat Ve dan Lyn mendelik bersamaan.


"No..kak Lyn punya abang yang hari itu datang" Jawab Balqis polos.


Wajah Lyn murung seketika. Hingga sentuhan Aini di lengannya membuat senyum Lyn kembali terkembang. Menatap ke arah Ve yang juga menatapnya.


"Semua akan baik-baik saja" Dua pasang mata itu seakan mengatakan hal yang sama.


Lambaian tangan keluarga Paman Lyn mengantar kepergian mobil Adrian. Semua tersenyum bahagia.


"Sebuah keluarga yang hangat bukan?" Tanya Adrian.


Dan Ve mengangguk. Mobil Adrian mulai melandas di jalanan. Perlahan keluar dari kampung Paman Lyn.


***