
Lyn terus saja berlari mengikuti ke mana K membawanya. Satu tangannya berada dalam genggaman tangan K. Sementara satu tangannya sibuk mengangkat gaun panjangnya. Sedang di belakang mereka anak buah Carlos terus mengejar. Beberapa kali terdengar bunyi peluru yang ditembakkan ke arah mereka berdua.
"Arrgghhh"
Lyn berteriak ketika dia merasa satu tembakan terasa melewati telinganya. Meleset. Sesekali K menoleh ke belakang. Sambil melepaskan tembakan. K benar-benar ahli dalam menembak. Banyak dari tembakannya yang berhasil mengenai anak buah Carlos. Meski pria itu hanya sekilas melihat lawannya.
Tubuh Lyn jatuh terduduk seketika. Ketika K melepaskan genggaman tangannya.
"Istirahatlah dulu sebentar. Mereka akan memerlukan waktu untuk mencari bantuan dan sampai kesini" Pria itu berucap. Lantas ikut mendudukkan diri di depan Lyn. Sedikit menahan sakit.
"Mereka...mereka...bagaimana dengan Ve dan Rose?" Tanya Lyn panik. Dia teringat bagaimana kedua wanita itu bertarung mati-matian agar dirinya bisa lari dari rumah itu.
"Bantuan untuk mereka akan segera datang" K perlahan meraih ponselnya. Melihatnya sekilas lalu mengumpat kesal.
"Sial! Tidak ada signal di sini" Gerutunya.
Sementara Lyn hanya diam. Lelah jelas menghantam tubuhnya. Wanita itu berusaha mengatur nafasnya kembali. Sembari menatap berkeliling. Mereka berada dalam hutan yang cukup lebat. Pantas jika tidak ada signal di sana.
Dalam keadaan itu, K bisa melihat wajah cantik Lyn. Lengkap tanpa hijab yang menutupi kepalanya. Sungguh mempesona. Meski tampilan Lyn cukup berantakan. Tapi tidak mengurangi kadar kecantikan wanita itu di mata K.
"Apa kau sudah bisa berjalan lagi. Kita harus segera keluar dari hutan ini"
Ucap K sambil berdiri kembali setelah mengisi amunisi senjatanya. Mendengar ucapan K, Lyn hanya menatapnya. Lantas berdiri. Memilih mengabaikan uluran tangan K. Lyn berjalan pelan mendahului K.
"Apa kau marah padaku?"
"Aku membencimu. Asal kau tahu!" Untuk pertama kalinya Lyn menyuarakan isi hatinya.
"Lyn...
"Apa? Kau membuatku merasa tidak pantas untuk bersanding dengan suamiku. Gara-gara kau aku harus ikut terlibat dengan si Carlos mesum itu. Kau ini memang biang kerok!" Maki Lyn.
"Aku ini mafia. Mana ada mafia yang kalem sayang" Jawab K tidak marah,
meski Lyn memakinya habis-habisan.
"Jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu. Dan asal kau tahu...anak ini milik suamiku. Bukan milikmu" Tegas Lyn.
K jelas terkejut mendengar ucapan Lyn. Lyn sendiri mendengarnya tanpa sengaja ketika ingin bicara pada Mark. Lalu menyusul ke ruang kerja sang suami. Dan disanalah dia mendengar satu kebenaran yang membuatnya tersenyum bahagia. Perkataan Lawrence benar-benar angin segar bagi Lyn. Bahagia? Jelas. Dia tidak sekotor yang ia bayangkan selama ini.
"Kau bohong! Anak itu milikku!" K bersikeras mengklaim kalau anak itu miliknya.
"Aku sudah hamil tiga minggu ketika kau melakukan hal itu padaku"
K terkejut bukan kepalang.
"Kau bohong!"
"Aku tidak bohong! Lawrence yang mengatakan. Jika kau tidak percaya. Aku bisa melakukan tes DNA jika dia lahir nanti. Agar kau tidak penasaran!" Tegas Lyn.
Wanita itu berjalan menjauh dari K. Meninggalkan pria itu berdiri mematung. Seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Inseminasi buatannya tidak berhasil. Dan Lyn hamil anak Mark"
K masih berusaha mencerna semua ucapan Lyn.
"Oh sh***!" Detik berikutnya K mengumpat kesal. Berlari menyusul Lyn. K mencekal tangan Lyn. Tapi wanita itu dengan cepat menepiskannya kembali. Kali ini dia harus menjaga dirinya lebih baik. Dia tidak ingin berakhir pingsan seperti tiap kali dia bertemu K.
"Jangan coba-coba menyentuhku!"
"Lyn...
"Apalagi? Aku sudah menikah. Dan aku sangat mencintai suamiku. Jadi jangan pernah berpikir untuk mendekatiku atau melakukan hal-hal konyol lagi" Lyn tegas memperingatkan K.
K kembali terdiam. Pikirannya buntu. Tidak dapat berpikir dengan baik. Sementara Lyn dengan cepat berbalik. Melangkah menjauh. Meninggalkan K yang mematung.
"Lyn..jangan ke sana. Hati-hati. Itu berbahaya!" Teriak K tiba-tiba.
Di depan mereka adalah area perbukitan yang curam. Dan selalu dipenuhi kabut. Jarak pandang hanya sekelumit. Hal itu akan sangat berbahaya. K dengan cepat menyusul Lyn. Apapun perkataan Lyn. Yang jelas K, tidak bisa mengubah perasaannya pada wanita itu dengan cepat.
"Sudah kubilang hati-hati!" Pekik pria itu ketika dilihatnya Lyn yang tengah terduduk sambil memegangi kakinya.
K segera menarik tangan Lyn. Tidak peduli pada protes wanita itu.
"Lepaskan aku!"
"Diamlah!" Balas K tidak kalah keras.
Pada akhirnya Lyn hanya bisa diam. Membiarkan pria itu kembali menggenggam tangannya kembali. Membimbing langkahnya. Diantara temaran cahaya hutan itu.
"Berapa lama lagi kita akan keluar?" Tanya Lyn setelah sekian lama terdiam.
"Diamlah!" Desis K.
Mata pria itu memicing. Menatap lurus ke depan. Memindai apa yang menunggu mereka di tengah kabut yang semakin lama semakin tebal. Malam semakin larut.
"Apa?" K menjawab sebab untuk pertama kalinya Lyn memanggil namanya.
"Berikan aku senjata. Aku rasa ada sesuatu di depan sana" Pinta Lyn.
K sejenak menatap wajah serius Lyn. Namun detik berikutnya pria itu mengulurkan sebuah Glock yang dia ambil dari pinggangnya. Lyn langsung mengokangnya.
"Dia memang berbeda"
Selanjutnya keduanya kembali berjalan beriringan. Dengan sikap waspada. Hingga kemudian terdengar sayup-sayup suara di depan mereka. K sigap menarik Lyn ke arah pepohonan rindang. Bersembunyi dari anak buah Carlos yang mungkin sudah menunggu mereka.
"Suamimu ini bagaimana? Apa tidak mengirimkan pasukan untuk menjemputmu" Gerutu K. Disamping Lyn.
"Diamlah!" Bisik Lyn. Mereka mengamati ada lebih dari sepuluh orang yang menunggu di tepi bukit.
"Ada berapa pistolmu?" Tanya Lyn.
"Tiga dengan milikmu"
"Tidak cukup untuk menghabisi mereka"
"Tapi kita tetap harus keluar dari sini"
"Yang mau disini denganmu semalaman juga siapa?"
"Aku" Jawab K cepat.
"Tapi aku tidak mau. Ayo keluar"
"Hei..hei...kau ini benar-benar tanpa perhitungan" K berucap. Namun tak ayal mengikuti ke mana Lyn melangkah. Pria itu mulai mempersiapkan senjatanya. Pun dengan Lyn.
Mereka masih bersembunyi di balik pohon ketika keduanya melihat anak buah Carlos tengah berjaga.
Door
Satu tembakan Lyn lesatkan. Tepat mengenai jantung orang itu. Sejenak K terkejut dengan kemampuan Lyn.
"Kau benar-benar kandidat ratu mafia yang tepat" Ucap K pelan ikut melesatkan tembakannya ke arah anak buah Carlos.
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan jabatan ratu mafia. Terlalu sadis" Jawab Lyn asal yang mampu membuat K tertawa.
"Kau ini benar-benar...
Perkataan K selanjutnya tidak Lyn dengar karena keduanya mulai terlibat adu tembak dengan anak buah Carlos yang sudah tahu keberadaan mereka.
"Sial!" Umpat K ketika satu tembakan nyaris mengenai kepalanya.
"Makanya jangan meleng....aaargghhh"
K tertawa terbahak-bahak melihat Lyn juga mengalami hal yang sama. Mereka mulai bergerak mendekati tepi hutan. Dimana suara tembakan semakin sering terdengar. Menandakan semakin banyak yang terlibat didalamnya.
"Ohh sial!"
"Kau mengumpat..
"Uupppsss, peluruku habis" Keluh Lyn.
"Berjalanlah dulu. Aku akan melindungimu. Kita sudah dekat dengan tepi hutannya" Ucap K
Lyn hanya terdiam. Sejenak berpikir. Itu terlalu berbahaya.
"Jangan berpikir lagi. Cepatlah" Mendorong punggung Lyn dengan ujung jarinya.
"Jangan menyentuhku!"
"Tidak" Jawab K kalem. Heran, mereka masih bersikap santai di tengah terjangan peluru yang diarahkan pada mereka.
"Sedikit lagi" Ucap K ketika dia melihat sekilas pandangan jalan beraspal dari sela-sela pohon ek.
Lyn terus berlari menuju jalan raya. Dengan K terus melindunginya. Bersamaan dengan serombongan mobil yang tampak datang mendekat. Lyn hampir berteriak karena tahu itu mobil sang suami.
"Abi....."Teriak Lyn ketika melihat Mark turun dari mobil paling depan. Bermaksud ingin berlari ke arah Lyn namun kedua orang itu langsung berhenti begitu satu tembakan dilesakkan tepat di depan kaki Lyn.
"Tidak semudah itu untuk kalian bisa bersama. Karena aku tidak akan membiarkannya" Ucap Carlos dengan satu pistol yang langsung ditembakkan pelurunya oleh pria bule itu.
Mengarah ke tubuh Lyn. Sontak hal itu membuat Mark dan K panik seketika.
"Lyn....." Mark berteriak. Berlari ke arah sang istri. Lyn sendiri malah terbengong ketika peluru itu semakin dekat ke arahnya. Hingga satu ringisan juga pelukan mengembalikan kesadarannya.
"No..no..no....aku mohon jangan pergi....."
"Bahkan jika hari ini adalah akhir dari hidupku. Aku rela asalkan kamu bahagia"
****