
Semua orang melongo melihat Mark datang bersama dengan Ve juga seorang wanita cantik berpenutup kepala yang sekarang disebut hijab.
Oke mereka semua tahu yang bernama Lyn akan datang hari ini. Tapi mereka tidak menyangka jika wanita itu akan secantik itu di mata mereka. Semua melongo kecuali Fao.
"Jaga mata kalian!" Mark memperingatkan. Semua orang langsung mengalihkan pandangan matanya dari Lyn. Begitu mendengar sang pangeran bertitah.
Sesaat Lyn hanya bisa diam mendapat tatapan penuh kekaguman dari lawan jenisnya.
"Oke aku akan perkenalkan mereka. Yang itu Albert. Yang itu Sebastian. Dan yang itu Fao" Semua yang disebutkan namanya langsung melambaikan tangannya.
"Sudah perkenalannya. Mari kita mulai sarapannya" Ucap Mark tegas. Dia tidak suka kalau ada yang memandang miliknya terlalu lama.
"Cie...cie sudah main klaim aja. Pangeran kita yang satu ini" Ledek Sebastian. Ucapan Sebastian membuat yang lain langsung mengulum senyumnya. Sedang Lyn hanya diam tidak tahu maksud mereka semua.
"Jangan terlalu sungkan, Kak" Ucap Ve setelah Lyn duduk di sampingnya.
Lyn mengangguk. Lantas memulai sarapannya. Jika biasanya tidak ada nasi di menu sarapan mereka. Namun kali ini Mark secara khusus meminta koki istana untuk menyediakannya. Mark tahu orang Asia suka sarapan dengan yang berat-berat.
"Ada yang kamu inginkan?" Mark bersuara. Satu hal langka yang pernah terjadi pada Mark. Sang Pangeran bicara pada lawan jenisnya.
"Ehem" Albert berdehem mengusir rasa tidak percaya pada yang didengarnya.
Kali ini Mark langsung melayangkan tatapan tajamnya.
"Astaga, Prince aku cuma berdehem. Lyn saja tidak terganģgu. Betul tidak?" Tanya Albert.
"Ha?" Lyn melongo mendengar pertanyaan Albert. Lalu buru-buru mengangguk.
"Kau lihat itu"
Berikutnya sarapan berlangsung senyap. Setelah sarapan rupanya mereka tidak langsung pergi. Pergi ke mana? Karena memang kantor mereka di sebelah kediaman Mark. Jadi santai saja mereka.
"Kau libur Ve?" Tanya Fao akhirnya buka suara.
"Aku libur. Mau jalan-jalan sama Kak Lyn" Seru gadis itu heboh.
"Bawa Richard dan Serena" Mark berucap.
"Tidak ucap. Mereka terlalu mencolok. Cukup "mereka" saja" Jawab Ve.
"Tapi Ve..."
"Ini kan dirumahku sendiri Kak" Rengek Lyn.
Mark menarik nafasnya berat. Melepas dua wanita yang sangat ia sayangi keluar tanpa pengawalan membuat Mark khawatir.
"Kau jangan terlalu khawatir. Bukankah dia hanya minta dikawal oleh pengawal bayangan. Bukan tanpa pengawalan sama sekali" Ucap Fao.
Mereka masih berada di ruang tengah kediaman Mark yang super besar. Setelah membiarkan Ve dan Lyn pergi menikmati jalan-jalannya.
"Tapi Fao..kau tahu sendiri kan resikonya. Apalagi kau bilang "King" tengah berada di sini" Jawab Mark khawatir.
"King? Dia ada disini?" Tanya Sebastian.
Fao mengangguk.
"Ayo aku tunjukkan sesuatu" Ajak Fao. Dan keempatnya berjalan menuju ke ruang kerja Mark. Di sayap kiri kediaman pria itu.
"Apa ini?" Tanya Albert.
"Seorang anak buah dari "King" yang melarikan diri dari kelompok mafia itu memberitahukan kalau "King" memiliki tato inisial "K" di tengkuknya" Info Fao.
"Hanya itu?" Sebastian bertanya.
"Satu lagi. Dia orang Asia. Lebih jelasnya mengarah ke oriental" Tambah Fao.
"Oh my. Orang Asia seabrek banyaknya. Bagaimana kita memindai mereka satu persatu" Kembali Sebastian bersuara.
"Aku sebenarnya tidak terlalu peduli dengan urusan mafia ini. Tapi sejak dia ikut andil menjadi pemasok senjata untuk para penjahat di wilayah selatan. Mau tidak mau aku harus mulai memikirkan bagaimana cara membatasi ruang gerak mereka" Mark akhirnya bersuara.
"Dan satu lagi. Mereka kemungkinan ada hubungannya dengan kematian Raja dan Ratu sebelumnya. Juga kali ini mungkin The Problem menjalin kerjasama dengan mereka. Oh, kita harus segera menemukan cara untuk membasmi mereka" Geram Fao. Yang merasa gagal membersihkan mafia ini.
"Tenanglah. Kita masih bisa menghandlenya kan" Sebastian menenangkan Fao.
"Tapi tetap saja mereka tidak bisa di biarkan begitu saja" Kekeuh Fao.
"Lah yang membiarkan mereka itu siapa? Kau jelas mati-matian melawan mereka" Tambah Albert.
"Aku heran orang Asia bisa memimpin klan mafia Eropa. Berarti dia benar-benar hebat" Puji Sebastian.
"Benar-benar hebat" Tambah Albert.
"Jadi penasaran" Gumam Fao ikut menambahi.
Di sisi lain, Lyn melongo ketika Ve mengajaknya jalan-jalan di tempat wisata yang ada di negara Ve. Karena hari itu ada perlombaan F1 jadi mereka datang ke sana untuk menonton.
"Waaaahhhh" Lyn berteriak antusias.
"Belum pernah pergi?" Tanya Ve sambil tersenyum.
"Kamu meledekku? Ya belumlah" Jawab Lyn.
"Di Malaysia kan ada di Sepang" Ve berkata sambil mendudukkan diri di tempat duduk kelas 1 bukan VIP. Berbaur dengan para penonton yang lain. Meski Ve tahu penonton di sekelilingnya adalah pengawal bayangan yang menyamar.
"Duitnya eman-eman. Mending tak kumpulin buat modal usaha besok kalau pulang ke Indonesia" Jawab Lyn terus menatap ke depan. Dimana pada pembalap sudah mulai bersiap untuk memulai start mereka.
"Kak Lyn mau usaha apa di sana?" Ve berubah serius.
"Kakak suka bunga. Jadi pengen buka florist gitu. Kan orang nikahan banyak yang pakai bunga segar sekarang" Jawab Lyn dengan wajah terus menatap ke arena balapan.
"Serius? Berarti sudah mulai dong persiapan tokonya?" Ve bertanya kembali.
"Sudah. Kak Hanif sudah mulai mencarikan tokonya. Ini aku juga mulai cari supplier bunganya. Juga aku belajar teori merangkai bunganya" Jelas Lyn.
"Seperti Ikebana (seni merangkai bunga dari Jepang)" Ve bertanya lagi.
"Ya nggak cuma Ikebana thok. Aku harus menguasai aliran lain juga" Tambah Lyn.
Detik berikutnya. Suara mereka tenggelam dalam deru suara para pembalap atau riders yang mulai melajukan kendaraannya. Dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam waktu 2,1 detik. Mobil F1 dengan bahan bakar konvensional bisa melaju sampai kecepatan maksimal 379 km/jam.
All kredit Google.com
Ve dan Lyn ikut bersorak bersama penonton yang lain. Ketika para riders itu melajukan mobilnya bak kecepatan cahaya.
Semua begitu menikmati perlombaan itu. Kecuali seorang pria tampan dengan kacamata bertengger manis di hidung mancungnya. Wajah Asianya juga tampak mencolok diantara wajah bule yang mendominasi penonton perlombaan itu.
Bukannya menonton pertandingan, pria itu malah sibuk menatap wajah seorang wanita yang jelas berbeda dengan penampilan para penonton di sekelilingnya. Sejenak dia mengarahkan teropongnya ke sebelah kirinya. Satu sudut bibirnya terangkat.
"Look at that point (Lihatlah di titik itu)" Suara baritone pria itu terdengar di telinga pria di sebelahnya.
Pria berwajah bule itu langsung melihat dari teropong yang koordinatnya sudah dikunci sebelumnya.
"Princess Veronika?" Desis pria itu.
"Yes, she's here" (Ya, dia di sini)
"Wanna meet her?" (Ingin bertemu dengannya)
"Not her, but the other one (Bukan dia, tapi yang satunya lagi)" Jawab pria itu sambil mengulas senyum smirknya.
"Interesting?" (Menarik)
Lyn jelas kebingungan arah. Tidak tahu harus pergi kemana. Dia dan Ve terpisah ketika mereka berdesakkan akan keluar dari tribun penonton. Panik jelas melandanya. Dia berdiri di sebuah emper toko. Diam disana berharap Ve akan menemukannya.
"Are you lost, baby (Apa kamu tersesat)" Tanya sebuah suara.
Lyn langsung menatap lawan bicaranya. Waspada langsung terlihat diwajahnya.
"No, I'm waiting my friend to pick me up" Jawab Lyn memundurkan langkahnya.
(Tidak, aku sedang menunggu teman untuk menjemputku)
Pria berparas Asia itu tersenyum. Terlihat manis di mata Lyn.
"Kalau begitu aku akan menemanimu sampai dia datang menjemputmu" Sahut pria itu.
"Kamu bisa..."
"Bisa..aku punya kerabat di Jakarta. So, I can speak Indonesian (Jadi aku bisa bicara bahasa Indonesia)" Jawab pria itu.
Lyn tersenyum lega mendengar ucapan pria itu. Bertemu orang serumpun di tanah asing membuatmu memiliki teman meski tidak mengenal sebelumnya"
"Your name?" (Namamu)
"Azlyn..panggil aku Lyn" jawab Lyn sambil tersenyum.
Senyum yang membuat pria itu terpana. Untuk pertama kalinya dia tertarik pada senyuman seorang gadis.
***
Ve yang lagi nonton F1,
Kredit Instagram @ zeunique
Abang Hans yang masih ditahan di Paris sama papanya,
Kredit Instagram @ jk_ko.3291
Oke sudah bisa up. Kak editor kemarin kemana? Kondangan ya? Secara musim nikah sudah datang...🤭🤭🤭
***