
Miguel berjalan tergesa-gesa menuju ruang IT di kastilnya. Dia bahkan sampai harus meninggalkan partner ranjangnya. Padahal mereka lagi hot-hotnya. Lagi on fire. Eee....anak buahnya mengganggu.
Awalnya Miguel tidak menghiraukannya. Tapi begitu nama Veronika disebut. Pria itu langsung menyudahi penyatuannya. Memakai pakaiannya dengan tergesa-gesa.
"Ada dimana dia?" Tanya Miguel.
Miguel sudah membayar beberapa hacker handal untuk melacak keberadaan Ve.
"Ada kemajuan?" Miguel bertanya antusias.
"Ada jejak samar kalau dia menuju daratan Asia"
"Tepatnya?" Desak Miguel.
"Belum pasti"
Brakk!
Miguel menggebrak meja. Dia tahu akan susah melacak keberadaan Ve. Tapi masak iya dia tidak bisa menemukannya.
"Cari terus. Aku tidak peduli" Perintah Miguel.
"Sebenarnya ada tiga negara yang mungkin di singgahi oleh dia" Balas seorang hacker.
"Di mana saja itu?" Miguel bertanya.
"Indonesia, Malaysia dan Korea. Jejak samar itu mengarah ke tiga negara itu. Aku menduga kalau yang membackup-nya adalah Guardian From The West. Karena hanya dia yang belum bisa aku tembus firewallnya" Jelas pria itu lagi.
"Kalau begitu persempit pencarian kalian. Akses semua CCTV di negara itu. Gunakan scanner retina ganda. Dia bisa lolos pemeriksaan retina. Dia pasti memakai softlens untuk menutupi warna asli matanya. Juga dia pasti memalsukan chip identitasnya"
"Baik, Tuan" Jawab para hacker itu semangat. Sebab bonus yang sangat tinggi menanti jika mereka bisa menemukan wanita yang diincar oleh bosnya itu. Tanpa tahu siapa yang diinginkan oleh Miguel sebenarnya.
Miguel langsung kembali ke kamarnya. Rasa frustrasi menghantam kepalanya. Satu hal, karena Ve belum juga ditemukan. Dua lainnya, karena tadi hasratnya belum tuntas. Masuk ke kamarnya dia langsung disuguhi pemandangan yang begitu menggoda.
Dia pikir partner ranjangnya sudah pergi. Hingga dia harus memesan lagi. Tapi dugaannya salah. Begitu dia masuk. Dilihatnya wanita itu tampak tertidur dengan tubuh telan..jang.
Melihat hal itu. Milik Miguel langsung menegang seketika. Seringai terukir di bibir Miguel. Berjalan perlahan sambil melucuti pakaiannya sendiri. Tanpa basa basi. Miguel langsung menyatukan tubuh mereka.
Sontak wanita itu menjerit. Namun detik berikutnya jeritan itu berubah menjadi des**** ketika tahu siapa yang sudah merasukinya.
"Kau kembali?"
"Tentu saja aku kembali. Kau belum memuaskanku. Bagaimana bisa aku pergi"
"Kalau begitu mari bermain sampai pagi"
"Tentu saja"
Setelahnya, Miguel mulai memompa dan bergerak diatas tubuh wanita itu. Mencari kenikmatan dengan membayangkan tubuh Ve yang sedang berada di bawahnya.
****
"Asisten Iz" Panggil Lyn.
Iz yang merasa dipanggil langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Maaf, siapa ya?" Iz bertanya ragu. Dia sepertinya mengenal wanita ini tapi siapa. Sedang Lyn langsung tersenyum mendengar pertanyaan Iz.
"Azlyn. Roomate-nya Ve" Jawab Lyn.
"Ah iya, aku ingat. Ada masalah?" Iz bertanya.
"Bisa saya bertemu Mr Lee. Ada yang ingin saya bicarakan" Pinta Lyn.
Iz sedikit berpikir. Bosnya tidak sedang sibuk. Jadi mungkin mau bertemu Lyn.
"Boleh. Mari ikut saya" Ajak Iz.
"Abang, ada yang ingin jumpa. Katanya ada hal yang mau dibicarakan" Info Iz.
"Siapa?" Tanya Adrian. Pria itu masih asyik dengan laptopnya. Tampak serius.
"Pantas saja Ve bisa tidak sadar suka pada ni cowok. Dia memang tampan sih" Batin Lyn.
Terus menatap Adrian yang masih bergelut dengan pekerjaannya.
"Tadi siapa Iz yang ingin bicara denganku?" Tanya Adrian.
"Aku" Jawab Lyn langsung.
Mendengar suara wanita diruangannya. Membuat Adrian langsung mengangkat wajahnya.
"Kamu? Kamu Kak Lyn-nya Ve kan?" Adrian bertanya.
"Betul. Anda bisa panggil saya Lyn saja, Mr Lee" Lyn berucap tegas dan berani.
Adrian tersenyum. Lantas melepas kacamata anti radiasinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Adrian bertanya
"Oh ya satu lagi kamu bisa memanggilku Adrian. Aku rasa kita seumuran"
"Tapi Anda bos saya" Balas Lyn cepat
"Saya tidak gila jabatan" Potong Adrian cepat.
Lyn menarik nafasnya dalam.
"Hans...aku akan mengikuti Ve memanggilmu Hans"
"Bolehlah. Silahkan duduk. Dan katakan apa masalahmu"
"Ini berhubungan dengan Ve. Karena itu aku menemuimu"
"Ve...soal apa?"
"Ada masalah dengan hubungan kami?"
"Apa maksudmu mendekati Veronika?" Tanya Lyn to the point.
"Maksudmu?"
"Kamu mendekati Ve hanya untuk bermain-main?" Cecar Lyn.
"OMG kenapa dia peka sekali" Batin Adrian.
"Oke, aku akan berterus terang. Awalnya tidak ada niatan untukku mendekatinya. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan hatiku. Aku....merasa tertarik padanya"
Lyn mengepalkan tangannya. Merasa kesal dengan ucapan Adrian.
"Lalu sekarang bagaimana perasaanmu padanya?" Desak Lyn.
"Entahlah" Adrian menjawab mbigu.
Brakkkk!
Iz lansung terlonjak di meja kerjanya.
"Alamak! Perempuan tu kalau tengah marah sangat menyeramkan" Batin Iz menatap horor pada Lyn.
Meski bertubuh langsing tapi gebrakan meja Lyn cukup membuat jantungnya hampir melompat keluar.
"Aku peringatkan padamu Hans. Jika kau berani mempermainkan hati Ve apalagi menyakitinya. Aku tidak segan-segan untuk menghajarmu" Ancam Lyn.
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan?" Tantang Adrian berjalan mengitari mejanya. Menatap Lyn dengan senyum meremehkan.
Saat Adrian berada di samping Lyn. Dengan gesit Lyn berdiri. Meraih pergelangan tangan Adrian langsung memitingnya.
"Aaarrggghhhhh"
Adrian berteriak. Meringis menahan sakit.
"Kak, Kakak buat apa kat abang Adrian?" Tanya Iz panik melihat kesakitan yang Adrian rasa.
"Mau tau? Ini akibatnya kalau suka main perempuan!" Ketus Lyn. Membuat Iz bergidik ngeri melihat kemarahan Lyn.
"Lepas Lyn sakit!" Perintah Adrian.
"Janji dulu tidak akan menyakiti Ve" Pinta Lyn.
"Itu....itu....tidak janji! Aarrgghhh"
Lyn semakin menekan pitingannya. Membuat Adrian langsung berteriak lagi.
"Janji dulu tidak akan menyakiti Ve!" Ulang Lyn lagi.
Adrian terdiam menahan sakit. Membuat Lyn semakin mengeratkan pitingannya.
"Iya...iya....aku janji!" Pasrah Adrian pada akhirnya.
Lyn tersenyum. Detik berikutnya. Lyn menarik pergelangan tangan Adrian. Dalam sekali hentakan Lyn berhasil membanting tubuh Adrian yang notabene bisa dua kali berat tubuh Lyn.
"Astaga punggungku!" Teriak Adrian.
Pria itu terlentang di tengah ruang kantornya. Sedang Iz langsung menutup mulutnya. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuh langsing Lyn mampu membanting tubuh Adrian.
"Kau gila, Lyn!" Umpat Adrian.
"Anggap saja seperti itu!" Sahut Lyn santai. Melihat Adrian yang bangun dibantu Iz.
"Jika kau melanggar ucapanmu. Aku bisa membantingmu sepuluh kali" Ancam Lyn.
"Baik kau banting aku diranjang. Enak habis itu" Jawab Adrian asal.
Dan sebuah pena langsung melayang ke kepala Adrian.
"Sakit, Lyn!" Keluh Adrian.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Dasar mesum!" Maki Lyn.
"Aku tidak mesum ya" Sangkal Adrian.
"Tapi omesh" Tambah Lyn.
"Itu sama saja. Kau membantingku, apa kau tidak takut aku kirim balik ke Indonesia"
"Kirim saja. Aku tidak takut"
"Balik langsung nikah sama yang kemarin. Sudah siap?" Ledek Adrian.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" Tanya Lyn.
"Tahulah. Aduh pinggangku. Kamu harus tanģgungjawab jika pinggangku encok. Itu bisa mempengaruhi staminaku" Keluh Adrian.
"Seriously?" Lyn bertanya mengejek.
"Kau pikir aku berbohong"
"Apa sih yang bisa dilakukan tukang main perempuan selain berbohong"
"Azlyn Maiza Khairunnisa!"
Iz kembali melongo melihat Lyn yang berani melawan bosnya.
"Sepertinya ada yang bisa menghandle cik bos ni" Batin Iz.
"Ve benar-benar dikelilingi orang-orang yang begitu peduli padanya. Tidak digantung aku dapat bantingan telak" Batin Adrian.
****