
"Kamu beneran mau naik bus, Ve?" Tanya Lyn ketika mereka benar-benar telah berada di halte bus City Square.
"Tentu saja. Ve belum pernah naik bus sebelumnya" Jawab Ve sumringah.
Bukan soal Ve yang mau naik bus yang membuat Lyn heran. Tapi Adrian.....masak sih dia mau mengikuti Ve naik bus.
"Kak Lyn tidak pulang bareng Ve?" Ve bertanya dan langsung mendapat senggolan dari Adrian.
"Cuma nanya, Kak. Salah lagi?" Protes Ve.
Kembali Lyn hanya bisa tersenyum. Bisa Lyn rasakan kalau Ve bisa menjadi dirinya sendiri kala bersama Adrian. Plus pria itu begitu sabar menghadapi tingkah Ve yang cenderung kekanakan meski usia sudah masuk kategori dewasa.
"Kakak masih ada urusan sama Mas Fadly" Jawab Lyn membuat Fadly yang berdiri disamping Lyn mengembangkan senyumnya. Lyn masih ingin bersama dirinya.
"Oke deh kalau begitu. Oh ya kak, bisa tidak Kak Lyn belikan Ve roti di toko Season yang itu. Kak Hans tidak memberi izin Ve buat beli makanan lagi" Gerutu Ve. Ucapan Ve sontak membuat Adrian membulatkan matanya.
"Ve, kau ini benar-benar ya" Protes Adrian.
"Tidak apa-apa Mr Lee. Saya juga kebetulan mau ke sana. Lagipula busnya juga sudah datang" Jawab Lyn.
Menunjuk bus berwarna kuning dengan logo Causeaway Link.
"Bilang saja turun di Air Biru, halte yang kemarin Ve, ingat?" Tanya Lyn.
"Ingat Kak" Jawab Ve bersemangat.
"Hati-hati. Tetap waspada" Ucap Lyn yang sepertinya lebih ditujukan pada Adrian.
Ve mengangguk. Lantas mengikuti langkah Adrian, berjalan ke arah bus yang mulai dipenuhi orang yang mengantri untuk masuk ke dalam bus.
"Pria itu sedikit sombong ya?" Komen Fadly.
"Bukan sombong. Tapi dia jenis yang tidak banyak bicara pada orang lain. Dia sombong? Itu wajar. Dia CEO di tempatku. Asalnya dari Prancis. Pasti orang kaya kan. Tapi aku salut dia masih mau naik bus menemani Ve pulang" Jawab Lyn panjang lebar.
"Pakai ini" Pinta Adrian ketika mereka mengantri untuk naik ke bus.
Sebuah mantel di pakaikannya ke tubuh Ve. Meski blus Ve berlengan panjang namun di beberapa bagian tampak menerawang. Dan Adrian tahu di dalam bus ada kemungkinan mereka tidak akan dapat tempat duduk. Jadi Adrian berpikir untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Lebih baik menutup rapat tubuh Ve. Yang kalau dilihat betul-betul memang terlihat seksi, meski samar.
"Kapan Kak Hans beli?" Tanya Ve merapatkan mantelnya.
"Waktu kamu menyelam di toilet" Desis Adrian kesal. Membuat Ve nyengir sekaligus malu. Teringat apa yang dilakukannya dalam toilet.
Ve masuk lebih dulu. Diikuti Adrian.
"Air biru, 2" Ucap Ve.
"Kau yang bayar?" Tanya Adrian.
"Sekali-sekali. Dari kemarin kan Ve nebeng mobilnya Kak Hans terus" Bisik Ve. Setelah menerima tiket. Keduanya beringsut mundur. Mulai masuk berdesakan dengan penumpang lain.
"Tetap berada di depanku" Bisik Adrian. Memasukkan gadis itu dalam kungkungan dua lengannya. Memberikan batas samar pada penumpang lain.
Ve melambaikan tangan pada Lyn ketika bus mulai bergerak menjauh. Lyn tersenyum sambil membalas lambaian tangan Ve.
Untuk beberapa waktu, Ve benar-benar menikmati pengalamannya naik bus untuk pertama kalinya. Sunģguh menyenangkan sekali. Hanya Adrian saja yang tidak menikmati perjalanan itu. Pria itu lebih kepada sikap waspada terhadap sekelilingnya.
"Kak Hans, arah jam sembilan" Bisik Ve tiba-tiba.
Adrian langsung menatap ke sebelah kirinya. Di mana seorang pria tampak bersikap aneh sejak tadi. Adrian menatap tajam pria itu. Mengintimidasinya. Adrian punya wajah tampan diatas rata-rata. Tapi dia akan tetap terlihat seram jika mode mafia-nya sudah keluar.
Melihat wajah Adrian yang tampak waspada dengannya. Pria itu memalingkan wajahnya. Lantas menjauh. Di halte berikutnya, pria itu turun.
"Memangnya orang tadi kenapa? Pick pocket kan dilarang disini" Tanya Adrian.
"Dilarang kalau ketahuan. Kalau tidak ya jalan terus. Minggu kemarin Kak Bina kehilangan ponsel sama duitnya waktu naik bus mau ke Carrefour" Cerita Ve.
Adrian sedikit bernafas lega. Ve akhirnya mendapat tempat duduk. Setelah sebelumnya membiarkan seorang lansia untuk duduk di tempat yang kosong. Satu sikap Ve yang membuat Adrian tersenyum.
"Masih punya hati nurani dan sopan santun juga ni putri udik" Batin Adrian.
Ohh, wait seorang Adrian bicara soal hati nurani? Situ sehat bang 🤣🤣🤣
Setelah beberapa waktu, akhirnya Adrian bisa duduk juga disamping Ve. Gadis itu seolah tidak peduli terus saja memandangi pemandangan di sepanjang perjalanan mereka.
"Kak Hans..." Seolah tahu Adrian sudah duduk di sampingnya.
"Hemm"
"Nggak Ve sudah capek. Sudah malam juga. Besok kamu kerja nggak. Sudah nyeterika baju belum?" Tolak Adrian.
Ve mendesah lesu.
"Ve memang belum seterika baju. Tapi masih pengen main" Jawab gadis itu lesu.
"Besok lagi. OT saja sampai jam 7 nanti tak anter ke Carrefour atau kemana sajalah" Jawab Adrian asal sambil memainkan ponselnya.
"Naik bus?"
"Ya nggaklah. Bus itu cuma sampai jam berapa. Kamu kan kalau main nggak ingat waktu" Jawab Adrian.
"Iya sih. Eh terus mobil Kak Hans yang di basement gimana?"
"Nanti ada yang ambil"
"Abang Iz?"
"Bukan, Iz nanti jemput aku"
Hening, Adrian masih berkutat dengan ponselnya.
"Kak Hans..
"Ya?"
"Kenapa Kak Hans baik sama Ve?" Tanya Ve tiba-tiba.
Otak Ve mulai bekerja. Mereka baru berkenalan satu minggu yang lalu. Aneh kan. Jika pria ini tiba-tiba sudah seperti bodyguard untuknya. Bedanya Adrian tidak sekaku Richard yang memang bodyguard betulan.
"Kenapa? Apa kamu tidak suka?" Adrian balik bertanya. Kali ini pria itu sudah menatap wajah Ve.
"Bukan seperti itu. Ve suka. Sangat suka Kak Hans baik pada Ve. Mau nganterin Ve kemana-mana. Beliin Ve banyak makanan" Jawab Ve ceria.
"Makanan lagi. Kenapa sih di sini ini, isinya makanan melulu" Ketus Adrian sambil menyentuh pelan kening Ve.
"Ha? Emang isinya harus apa? Masalah? Ogah! Masalah Ve sudah banyak. Jangan ditambahin lagi" Keluh Ve.
"Memang apa masalahmu?" Pancing Adrian.
"Aaaa masalah kerjaan. Kan Ve harus belajar banyak lagi sama Abang Mas" Ve gelagapan.
Masak iya dia harus cerita kalau dia melarikan diri dari kakaknya. Menolak perjodohan. Dan memaksa tinggal di negara ini. Ve tahu, jika identitas sebenarnya dirinya terungkap akan mengancam hubungan baik kedua negara.
Meski Ve juga tahu, kakaknya berteman dengan putra mahkota negara ini. Pangeran Abdullah. Tapi itu bukan suatu jaminan kalau ulahnya itu bisa dimaafkan. Tetap ada konsekuensi yang harus Ve tanggung jika dia ketahuan.
Karena itulah Fao memberi batas waktu tiga bulan kepadanya. Tiga bulan atau sampai kakaknya menemukan dirinya. Tiga bulan dan Ve akan keluar baik-baik dari negara ini tanpa masalah. Dan semua akan aman-aman saja. Begitu rencana yang Fao susun.
"Tapi Ve bagaimana jika aku melakukan semua ini karena aku suka padamu" Tanya Adrian tiba-tiba. Entah kenapa juga kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Adrian.
"Suka? Are you sure Adrian" Tanya Adrian pada dirinya sendiri.
"Suka? Kak Hans suka dengan Ve?" Beo Ve.
"Mungkin. Aku masih harus memastikannya dulu" Jawab Adrian menatap dalam bola mata cantik milik Ve
"Jika iya, aku harus bersiap menghadapi kakakmu, dua asistennya. Juga Fao" Batin Adrian setengah bergidik ngeri.
Lawannya bukan orang sembarangan. Raja, penasehat utama, juga pemimpin tertinggi angkatan perang milik negara M.
Sementara di ujung sana. Fao menarik ujung bibirnya.
"Kita lihat seberapa besar nyalimu untuk mendapatkan Ve" Gumam Fao dengan seringai di wajahnya.
***
Cari vitamin dulu lah pagi-pagi, kata mbah hana buat nambah iman juga imun 🤣🤣🤣
Kredit Instagram.com
****