
Baik Ve maupun Adrian hanya diam, ketika keduanya sudah turun dari bus. Ada rasa canggung diantara keduanya. Setelah Adrian mengatakan kalau dirinya mungkin menyukai Ve.
"Ahh kenapa jadi aneh begini rasanya" Batin Adrian.
Menatap Ve yang berjalan di sebelahnya. Bahu keduanya saling bersenggolan juga tangan mereka saling bergesekan. Menciptakan desiran halus di dada masing-masing.
"Kak Hans tinggal di JB ya?" Tanya Ve. Sepertinya gadis itu sudah bisa mengatasi rasa canggungnya. Atau...malah tidak peka sama sekali.
"Haduuhh, ini ni resikonya suka sama gadis yang polosnya nggak ketulungan. Lihat live orang bercinta saja tidak tahu" Batin Adrian setengah menggerutu pada perasaannya sendiri.
"Kak Hans ...malah diam sih" Ve berucap lagi.
"Aku punya dua apartemen di sini. Satu yang kemarin itu. Satu lagi di Tebrau kalau pulang malam banget, Iz tidak perlu bawa mobil jauh-jauh" Jawab Adrian.
"Kak Hans tinggal sama Abang Iz?" Tanya Ve lagi.
"Beda unit" Jawab Adrian singkat.
Ve hanya ber-ooo ria. Hingga tiba-tiba Ve menghentikan langkahnya.
"Kak...." Ucap Ve pelan.
Menatap ke arah depan. Dimana tiba-tiba muncul segerombolan preman. Menghadang jalan mereka. Sigap, Adrian langsung menyembunyikan Ve di balik tubuhnya.
"Hai brother...happy nampak" Sapa seorang dari mereka. Mereka mulai mengelilingi Adrian dan Ve.
"Happylah, boleh bawa jalan perempuan cantik" Sambut lainnya.
Ve sedikit mengencangkan pegangannya pada jaket Adrian.
"Mau apa?" Tanya Adrian. Mulai menggenggam erat tangan Ve. Dia tahu Ve tidak takut. Tapi cukup terkejut melihat kedatangan para preman itu.
"Wahh berani juga dia bos" Sahut seorang lagi.
Berjumlah enam orang. Seharusnya tidak masalah bagi mereka berdua untuk menghajar para preman itu. Lagipula tempatnya juga mendukung. Cukup luas juga sepi. Memang ada area yang sangat sepi, yang harus dilalui oleh orang-orang yang naik bus untuk pulang ke area rumah Ve.
"Bagi duit kalian. Ponsel ....juga perempuan itu" Pinta mereka.
"Aku lagi. Tidak ada hal lain apa yang bisa diminta" Gerutu Ve.
Membuat Adrian tertawa mendengar gerutuan Ve. Padahal dia sudah membungkus rapat tubuh Ve dengan mantel. Agar kehadirannya tidak menarik perhatian para pria. Tapi entah mengapa kehadiran Ve selalu menarik perhatian pria -pria mesum di luar sana. Barang bagus memang seperti itu mungkin.
"Tak naklah aku ikut dengan kau orang" Tolak Ve tegas membuat Adrian tersenyum.
"That's what I looking for" Batin Adrian.
Gadis pemberani. Tidak suka caper. Meski untuk Ve harus ditambah manja, polos, kekanakan. Tapi okelah. Setidaknya Ve masih menurut padanya.
"Berani pula kau cakap macam tu" Geram mereka.
(Berani kau bicara seperti itu)
"Lah tak boleh cakap macam tu juga. Habis tu kena cakap, oke aku ikut dengan kau orang?" Tanya Ve.
(La tidak boleh bicara seperti itu. Lalu harus berkata oke aku ikut denganmu, begitu?)
"Nah macam tu lah yang kita orang nak" Sahut mereka bergantian.
(Seperti itu yang kita mau)
"Masalahnya aku tetap tak nak ikut kau orang. Nak pulang dengan abang aku yang handsome ni" Jawab Ve memprovokasi mereka.
(Masalahnya aku tidak mau ikut dengan kau orang. Mau pulang dengan abang tampan ini)
"Kita orang pun tak kalah handsome dari dia" Jawab mereka lagi.
(Kita juga tidak kalah tampan dari dia)
"Handsome kau cakap. Masih handsome abang aku kemana-mana" Jawab Ve lagi.
(Tampan kau bilang? Masih tampan abang aku)
"Haiissh mulut kau berani betullah. Bawa dia, cepat" Perintah bos mereka.
Dua orang maju untuk menangkap Ve. Namun belum sempat menyentuh Ve. Gadis itu sudah menendang perut keduanya. Tepat sasaran, full power membuat dua orang itu langsung terkapar tidak berdaya.
"Kurang ajar. Serang mereka!"
Ketiga preman itu langsung menyerang. Tapi kali Adrian yang melawan. Satu pukulan dilayangkan oleh preman itu ke arah Adrian. Namun dengan sigap Adrian menghindar lantas memukulnya. Teriakan langsung terdengar. Preman itu tersungkur sambil memegangi dadanya yang sesak akibat pukulan Adrian.
Dua orang menyusul menyerang Adrian. Kali ini dua lawan satu. Adrian menyeringai.
"Bolehlah untuk mengurangi lemak roti canai tadi" Batin Adrian.
Memilih untuk menunggu dua orang itu menyerang. Dua orang itu menyerang bersamaan. Adrian memundurkan badannya. Menghindari pukulan mereka. Ketika Adrian berhasil menghindar. Dengan cepat Adrian melayangkan pukulan. Mengenai perut seorang dari mereka. Raungan kembali terdengar. Tinggal satu orang. Adrian tersenyum menatap orang itu meremehkan.
Di lain sisi. Ve hanya diam menatap duel antara Adrian dan preman itu. Hingga satu tarikan tangan membuat Ve menoleh.
"Ikut denganku atau kau terluka" Ancam bos preman itu.
"Kalau aku tidak mau?" Tantang Ve.
Ve tersenyum mengejek.
"Belum pernah kena hajar ya?" Ucap Ve santai.
"Kau ni...
"Apa?"
Tidak menjawab, bos preman itu berusaha menangkap Ve. Ve menghindar mencari tempat yang lebih luas. Bersamaan dengan Adrian yang juga menepi. Ketika bertemu, keduanya tersenyum.
"Lambat sangat" Ledek Ve.
Ledekan Ve membuat Adrian kesal. Hingga detik berikutnya keduanya bersama-sama menghajar para preman itu. Meski satu dua kali keduanya terkena pukulan dan tendangan. Tapi keduanya malah tersenyum.
Hingga pada akhirnya keenam preman itu terkapar tidak bisa bangun lagi. Membuat Ve dan Adrian tersenyum puas.
"Kita bisa jadi partner in crime yang cocok ni Kak kayaknya" Seloroh Ve sambil beradu tos dengan Adrian.
"Aku tidak mau jadi partner in crime-mu. Aku lebih suka jadi partner in love-mu" Jawab Adrian.
"Ada ya yang seperti itu" Tanya Ve.
"Adalah. Mau bukti? Mari kita lakukan" Ajak Adrian.
"Kemana?" Jawab Ve polos.
Adrian langsung menggeram kesal. Ve benar-benar polos plus tidak peka.
"Ha? Kak Hans mau kemana?" Tanya Ve lagi.
"Beli minum. Haus" Jawab Adrian kesal.
Pergi ke sebuah toko. Membeli minuman untuk dirinya dan Ve. Lantas berjalan cepat ke arah rumah Ve. Dimana tampak sebuah mobil sudah berada di depan rumah Ve.
"Itu abang Iz?" Tanya Ve.
Adrian tidak menjawab. Hanya langsung mendekati mobil itu. Mengetuk pintunya. Membuat Iz terlonjak kaget.
"Isshh, Abang buat Iz jantungan saja" Gerutu Iz.
"Ayo pulang. Kau masuk!" Perintah Adrian.
Adrian menunggu Ve masuk kedalam rumah. Baru masuk ke mobil. Meminta Iz untuk membawanya pulang.
"Seronok dating?" Goda Iz.
"Senang dari mana. Sudahlah jangan tanya. Aku lelah. Habis gebukin preman diatas tadi" Jawab Adrian malas.
"Abang habis berkelahi? Terluka tak? Nak pergi klinik ke tak?" Cerocos Iz.
"Aku tidak apa-apa. Hanya capek pengen berendam terus tidur. Pokoknya lelah sekali aku layan putri udik tukang makam itu" Oceh Adrian. Membuat Iz melongo mendengar julukan Adrian untuk Ve.
"Abang tak silap cakap ke?" Tanya Iz meyakinkan.
(Abang tidak salah ngomong kan)
"Itu benar. Dia bisa makan hot plate sama mie Bandung sekali makan. Padahal tadi pagi dia sarapan nasi lemak komplit" Keluh Adrian.
Iz kembali melongo.
"Tapi badan dia maintain slim je. Gemuk pun tak" Jawab Iz heran.
(Tapi tubuhnya tetap langsing. Gemuk juga tidak)
Kali ini Adrian diam tidak menjawab.
"Mana aku tidak sengaja janji mau bawa dia ke Carrefour. Jusco. Hadeuuh" Gerutu Adrian.
"Salah Abang sendiri asal buat janji je"
Adrian hanya bisa menarik nafasnya pelan dan dalam. Iya juga ya. Kenapa mulutnya jadi mudah sekali mengiyakan permintaan Ve.
"Ada yang tidak beres denganku sepertinya" Batin Adrian.
Menatap apartemennya yang mulai terlihat. Badannya letih sekali dari semalam mengikuti kemauan tuan putri itu.
"Aku sudah seperti bodyguaed beneran buat putri Veronika" Gumam Adrian.
***
Hai semua, author mau promo karya author yang lain nih. Masih sama-sama on going tapi yang ini hampir end alias tamat...
Silahkan dikepoin juga ya salam dari Vi dan juga Lana...🤗🤗🤗🤗
Terus dukung author ya biar makin semangat berkarya. Terima kasih semua...Love you all 😘😘😘
***