Our Love Story

Our Love Story
chapter 8 Mading



Siang itu matahari telah meninggi. Suhu udara terasa lebih panas dari hari-hari sebelumnya. Padahal sejak kemarin, Alan telah menduga hal itu. Alan melakukan gerakan dunk pada bola basketnya. 9 detik kemudian bola basket itu jatuh menggelinding setelah melewati ring.


Ia meraih handuk kecil yang berada di tepi lapangan basket beserta air minumnya. Dalam hitungan detik, air minum miliknya telah habis tak tersisa. Rupanya, olahraga nya siang itu terlalu menguras tenaga.


"Yo!" Zen menyapanya sambil melangkah mendekat.


"Ada apa?" Alan bertanya tanpa mengalihkan tatapannya dari lapangan basket.


"Tidak apa-apa. Hanya penasaran. Kamu kan jarang melakukan hal ini." Zen men-dribble bola basket yang semula berada di tengah-tengah lapangan kemudian melemparnya pada Alan yang tengah duduk mengamati setiap gerakannya.


Alan mendecih. "Memangnya kenapa?"


Kali ini Zen menatapnya dengan alis berkerut samar. "Kebiasaan mu belum berubah ya?" Zen kembali men-dribble setelah mengambil bola basket dalam kotak besar—tempat khusus untuk meletakkan bola basket.


"Ada masalah?" Zen kembali bertanya tepat ketika melakukan shoot hingga bola basketnya masuk ke dalam ring sebelum kemudian menggelinding mendekat ke arah Alan.


Alan memalingkan wajah. "Padahal kita kan teman se-SMP. Tapi kenapa dia justru lebih dekat dengan lelaki yang baru dikenalnya dalam waktu singkat?"


Zen mengerutkan kening. "Siapa?"


Kali ini Alan berdiri, melangkah menjauh dari lapangan. "Bukan apa-apa. Sampai nanti!"


#


"Kenapa kamu ada disini?" Alfi melirik Zen yang berada tak jauh darinya.


"Memangnya kenapa? Ini kan tempat umum. Aku juga boleh kan membaca di perpustakaan umum. Dasar aneh!" Zen berlalu melewati Alfi setelah menemukan buku sejarah yang menurutnya lengkap.


Alfi menghela napas. Tak habis pikir, dalam kota yang memiliki banyak penduduk, kenapa dia bisa bertemu dengan Zen? Ayolah, masih banyak orang selain dia. Kenapa bukan Risa saja yang ada disini?


Alfi menggaruk kepalanya kasar. Padahal tidak ada apa-apa disana. Tapi dia merasa emosinya mendadak berubah drastis siang itu. Setelah membawa dua buku bacaan terkait atom dan molekul, Alfi menjatuhkan diri diatas kursi kayu tepat disamping jendela hingga kursi kayu itu berderit.


Lelaki itu tak peduli beberapa pasang mata menatapnya karena terganggu. Alfi memang sengaja memilih tempat duduk yang berada lumayan jauh dari tempat duduk Zen. Alih-alih membaca buku, Alfi justru mengeluarkan smartphone dari saku hoodie nya lalu membuka aplikasi chat. Ia menyambungkan ujung earphone miliknya dengan salah satu lubang pada smartphone nya lalu mendengar pesan suara dari Risa. Sesaat setelah itu, Alfi tertawa kecil mendengar suara Risa.


Tepat pada saat yang sama, Zen menepuk kedua bahunya beberapa kali. "Perpustakaan adalah tempat yang nyaman untuk membaca dan belajar. Jangan menggunakan wifi disini untuk kepentingan tidak perlu. Oke?" Zen menatap Alfi tajam.


Spontan Alfi menatap sekelilingnya. Hampir seluruh orang yang berada dalam perpustakaan itu menatapnya seolah memintanya untuk diam.


"Aku tahu! Sana pergi," Alfi melepaskan earphone dari lubang telinga lalu meletakkannya diatas meja. Lelaki itu membuka buku yang tadi diambilnya dari rak kemudian membacanya.


#


Melvin sedikit menurunkan resleting jaketnya hingga sebatas dada. Untungnya, ia telah menggunakan kaos hitam polos didalam jaket jeans miliknya. Jadi dia tidak perlu khawatir sedikit bagian tubuhnya terekspos ketika sedang berlari mengelilingi lapangan bola. Keringatnya mengalir melewati pelipis sementara dibalik jaketnya, baju hitam itu hampir basah karena keringat.


Dia memutuskan untuk beristirahat dibawah pohon trembesi besar setelah menyelesaikan 6 putaran mengelilingi lapangan. Dengan sedikit terengah-engah, Melvin meraih botol plastik berisi air mineral kemudian menyisakan airnya setengah bagian botol. Melvin melepas sepatu sport hitam putih  lalu meletakkannya begitu saja diatas rerumputan.


"Wah, wah. Aku tidak menyangka kamu ada disini," seseorang melangkah mendekatinya.


"Aku tidak punya waktu untuk bertengkar atau adu mulut denganmu, Alan." Melvin berucap dingin tanpa mau repot-repot menatap wajah lawan bicaranya. Lelaki itu cukup hafal dengan suara Alan.


"He? Sayangnya, aku juga tidak mau membuang waktuku untuk hal yang sia-sia, Vin." Alan berucap sambil terkekeh pelan.


"Aku hanya mau mengatakan, jangan pernah mendekati Aira lagi." Alan kembali berucap.


Kali ini Melvin mendongak, menatap Alan yang berdiri 1 meter darinya. "Maaf. Bagiku, perkataanmu tak lebih penting dari sekedar gonggongan seekor anjing,"


Setelah mengatakan hal itu, Melvin beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah pergi begitu saja. Bahunya sengaja menyinggung bahu Alan hingga lelaki itu sedikit mundur.


"Faktanya Aira lebih dekat denganku daripada dirimu yang bernotabene teman masa kecil sekaligus teman SMP."


#


Alfi merasa bosan membaca buku itu selama sejam. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar dari perpustakaan. Alfi berjalan-jalan hingga sampai di sebuah lapangan. Dari kejauhan dia melihat ada pertengkaran di dekat pohon trembesi. Alfi sontak menghampiri dia orang itu.


" Woi! Jangan bertengkar! " Teriak Alfi sembari berjalan mendekati mereka. Alfi segera memisahkan mereka berdua. " Yo Alfi! Kamu sedang apa disini? " Alan masih bisa menyapa Alfi dengan santai walaupun mukannya penuh luka.


" Itu harusnya kata-kata ku, apa yang kau lakukan? Kenapa berkelahi? "


Tanya Alfi. Sekilas dia melihat Melvin sedang terengah-engah dengan wajahnya yang terluka. " Lain kali aku akan bermain dengan mu lagi, sampai jumpa Melvin " Alan pergi dengan santai meninggalkan Alfi dan Melvin. " Kau Melvin kan? Kenapa bisa bertengkar dengan Alan? "Alfi menanyai Melvin sembari berjalan di sebelahnya. " Bukan urusanmu" Melvin semakin mempercepat langkah kakinya.


" Jangan ikuti aku! Pulang sana! " Bentak Melvin  karena Alfi mengikutinya terus. " Aku tidak mengikuti kamu kok, aku hanya searah denganmu" Alfi malah mengajak becanda. Akhirnya Melvin menyerah dan memilih duduk dibangku yang dekat dengan tempat itu. " Kalian memperebutkan makhluk astral itu ya? " .


"Uhhmmm..... Makhluk astral? " Melvin tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Alfi. " Maksudku Aira" Melvin hanya terdiam. " Yah kau gak seru! " Alfi pergi meninggalkan Melvin. " Ada apa dengan lelaki itu? Dasar Aneh! " Melvin segera berjalan pulang.


Sampai di rumah pun Melvin di pukuli lagi oleh ibunya, Melvin hanya terdiam di perlakukan dengan begitu kejam. " Sekarang masuk kamarmu!" Bentak ayah dan ibunya. Luka Melvin menjadi semakin banyak.


#


Pagi harinya Melvin berangkat ke sekolah dengan tubuh yang penuh luka, tapi tidak terlihat karena Melvin memakai Masker dan jas almamater. Nafas Melvin terengah-engah karena harus menahan rasa sakit dari lukannya, jalannya sedikit sempoyongan.


Lelaki itu hampir terjauh tapi tak disangka- sangka  Alfi datang membantu Memapahnya berjalan. "Masih kuat masuk sekolah ternyata" Ledek Alfi. " Tidak usah membantuku! " Bentak Melvin.


"Nggak usah sok kuatlah," Alfi berujar tanpa mengubah posisi tangannya.


Akhirnya, meski enggan, Melvin membiarkan Alfi memapahnya hingga benar-benar berdiri di depan kelas 10 IPS.


"Terima kasihnya?" Alfi tersenyum manis.


"Ash ... Makasih." Melvin berucap dengan malas.


Mendengar hal itu, Alfi tertawa lebar sambil menepuk-nepuk bahu Melvin berulang kali. Sebelum kemudian pergi melangkah menjauh masih dengan tawanya.


#


"Vin!" Seruan itu berhasil mengalihkan atensi Melvin dari halaman perpustakaan.


Melvin membiarkan Alfi berjalan mendekat ke arahnya setelah melambaikan tangan bermaksud memberitahu bahwa dialah yang memanggil lelaki itu.


"Ada apa?" Pertanyaan Melvin itu adalah satu-satunya kalimat pembuka percakapan diantara mereka.


Alfi terkekeh geli ketika mengetahui respon Melvin. "Barusan Aira ngajak kamu lo."


Melvin mengerutkan kening. "Maksudmu?"


"Karena kamu selalu menghindar dari makhluk astral itu, jadinya dia ngasih tahu ke aku. Makhluk astral itu ngajak kita ikut lomba mading. Kamu mau ikut apa nggak?" Alfi menaik turunkan alisnya sambil tersenyum miring.


"Namanya Aira. Bukan makhluk astral," Melvin mendengus sambil memalingkan wajahnya.


Kali ini Alfi tertawa lebar. "iya. Aku tahu. Aku tahu."


"Aku ikut. Informasi tentang lombanya gimana?" Melvin menatap Alfi yang mendudukan diri disebelahnya.


"Hm ... Mungkin si makhluk astral atau Risa yang technical meeting. Nanti informasi nya disampaikan ke grup chat. Grup chat nya nanti biar aku yang buat,"


" Hmm" Angguk Melvin.


Melvin berjalan menuju perpustakaan. Dengan Alfi yang selalu mengoceg disampingnya. " Kamu gk seru ah, Vin diem terus dari tadi. Aku balik dulu ya" Alfi berlari sembari melambaikan tangan ke arah Melvin.


" Dasar berisik"


Ketika di perpustakaan Melvin mengambil buku pengunjung dan mengisinya. Dia akan mengembalikan buku yang dia pinjam. " Vin! " Seseorang memanggilnya lagi. " Ternyata kau Zen. Ada apa? " Tanya Melvin. Ternyata Zen juga memiliki maksud yang sama seperti Alfi tadi. " Iya aku ikut " Jawabnya santai.


#


Zen bejalan menuju ke ruang kelasnya dan tanpa sengaja melihat Aira, Risa, dan Alan. " Yo Zen! " Akan melambaikan tangan ke Zen dengan senyuman. " Kau tahu tidak Aira tidak mau memasukkanku ke kelompoknya " Rengek Alan kepada Zen. " Jadi.. Kenapa tidak ra? " Tanya Zen. " Baik baik akan ku masukkan kelompok, puas? " Lagi-lagi Alan tersenyum. " Kalau gitu sampai jumpa kalian bertiga" Akan pergi dengan Melambaikan tangan. " Astaga.. Dia sama menyebalkannya seperti makhluk fantasi itu! " Ucap Aira sembari menepuk dahinya.


Bel pelajaran berikutnya berbunyi. Semua siswa masuk ke kelasnya masing-masing. Pembelajaran pun dimulai. Pikiran Alfi sedang tidak berada di kelas " Kayaknya habis ini bakalan seru".


" ALFI! KENAPA KAMU CENGAR-CENGIR?! PEMBELAJARAN SAYA APA ADA YANG LUCU?! " Bentak guru yang sedang mengajar pelajaran.


#


Bek tanda pelajaran berakhir berbunyi. Alfi berjalan keluar sekolah, dia melihat ada Zen yang akan menyebrang jalan. " Wah itu Zen! Aku ganggu ah" Alfi mendekati Zen.


" Dor! "


Zen terkejut dan Alfi tertawa terbahak-bahak. " Kau ini kenapa?! Mau membunuhku? " Bentak Zen. Alfi masih tertawa,Zen tidak mempedulikan nya dan segera menyebrang jalan. Alfi melihat Melvin  sedang duduk di bangku depan sekolah menunggu jemputan, dia ingin melakukan hal yang sama yaitu mengagetkannya.


" Ada apa ,Fi?"


Belum sempat Alfi mengagetkan Melvin. Melvin sudah menyadari hal itu. " Yah, kau gak seru ah" Ledek Alfi dan Melvin tak mempedulikan nya. Mobil jemputan tiba dan Melvin segera masuk ke mobil kemudian pulang.


" Sepertinya aku juga harus pulang"


Gumam Alfi sembari mengendarai sepeda nya. Sesampainya dirumah dia memarkikan sepedanya di garasi bersebelahan dengan tiga mobil milik orang tuanya. " Bagaimana sekolahmu? " Tanya seseorang di ruang tamu ketika Alfi masuk kerumah. Dia sangat terkejut karena ibunya telah pulang kerumah setelah sekian lamanya. " Kenapa ibu pulang? Mana ayah? " Ibunya berusaha mengalihkan topik pembicaraan. " Apa ibu akan tinggal disini? " Tanya Alfi dengan penuh harapan. " Maaf sayang, ibu harus kembali nanti malam " Ucap ibunya. Alfi sudah tahu itu yang pasti akan di ucapkan oleh ibunya. Dia segera pergi ke kamar dengan kesal. " Harapanku terlalu tinggi ternyata" Ucapnya sembari berbaring di kasur.


Tring!


Sebuah pesan terkirim ke hpnya.


AIRA


Kamu sudah membuat grup chat madingnya belum? Kalau belum cepat buat ya! Makhluk fantasi!.


Alfi sedikit terhibur dengan pesan yang dikirimkan oleh Aira.


ALFI


Sedang kubuat! Kamu tunggu saja dasar Makhluk astral!


Alfi membalas pesan dari Aira. Dia mematikan hpnya lalu turun ke lantai bawah. Alfi pergi ke dapur untuk mengambil beberapa camilan dan minuman.


Setelah itu, ia kembali ke kamarnya sembari membawa camilan dan minuman. Sepulang sekolah ini, Alfi memutuskan untuk menghabiskan waktunya bermain game. Alfi menyalakan komputer di depannya lalu mulai membuka sebuah website yang menghubungkan nya ke sebuah laman game. Ketika berniat mengambil camilan dari toples, lelaki itu menyadari hp nya berdering sedari tadi.


Alfi pun segera menolak panggilan Aira lalu membuka aplikasi chat. Ada banyak panggilan tak terjawab dari Aira.


ALFI


apaan sih?


AIRA


mana grupnya?


Alfi mengusap wajahnya kesal. Aktivitas nya bermain game terganggu karena makhluk astral itu. Ia segera membuat grup berisikan Zen, Melvin, Alan, Risa, Aira, Icha, Alya, dan dirinya sendiri. Icha dan Alya adalah teman Risa yang beberapa waktu yang lalu menerima ajakan Aira untuk bergabung. Meski begitu, mereka berbeda kelas dengan Risa dan Aira.


ALFI


udah, tuh! Jangan ganggu lagi!


Centang pada chat terakhir yang dikirim Alfi berwarna biru yang artinya Aira telah melihat pesan itu. Alfi pun kembali melanjutkan aktivitas nya bermain game. Meski ada belasan notifikasi dari smartphone milik Alfi, lelaki itu mengabaikannya tanpa mau repot-repot membuka aplikasi chat lagi. Alfi tak mau aktivitas bermain game nya terganggu lagi.


Setelah bermain game cukup lama. Alfi mengambil ponselnya dan melihat beberapa notifikasi yang di abaikannya tadi. Ternyata notifikasi itu dari grup chat yang baru saja dibuatnya.mereka bingung membahas tentang dimana mereka akan mengerjakan mading itu. Alfi berpikir sejenak.


AIRA


Bagaimana kalau di rumah makhluk fantasi saja!


Aira mengusulkan agar mengerjakan madingnya di rumah Alfi.


RISA


Bagaimana kalau nanti merepotkan orang tuannya?


Alfi berpikir sejenak. " Mungkin tidak papa toh, nanti malam ibu kembali kerja" Batin Alfi. Dia segera mengetik pesan chat.


ALFI


Boleh saja, tidak masalah toh orang tua ku tidak dirumah besok.


Setelah sedikit berdebat akhirnya mereka bertujuh sepakat untuk mengerjakan mading di rumah Alfi. Risa dan Aira meminta setiap orang membawa bahan-bahan untuk mengerjakan mading.


#


Esoknya usai sekolah mereka bertujuh pergi ke rumah Alfi untuk mengerjakan mading.


" Wah.... Rumahmu besar sekali, keren! "


Ucap Icha dengan penuh kekaguman karena memang rumah Alfi memang besar dan luas. " Yah Terima kasih, kalau begitu ayo masuk! " Ajak Alfi. Mereka masuk dan Alfi mengantarkan mereka ke kamaranya.


" Wah... Gila! Kamarmu gak kalah besar" Ucap Icha dan Alya secara bersamaan. " Ternyata makhluk fantasi ini menata kamarnya lumayan rapi ku kira bakal seperti kandang sapi" Ucap Aira. " Jangan samakan kamarku dengan kamarmu yang mirip di dunia lain,makhluk astral! "


Jawab Alfi. Mereka mulai mengerjakan tugas, Aira membagi tugas yang masing-masing di kerjakan dua orang.


Alfi dan Risa bertugas mencari informasi tentang tema yang mereka gunakan di internet, Aira dan Melvin bertugas memotong kertas dan aksesoris yang akan di gunakan 'tentu saja Alan mengganggu', Icha dan Zen bertugas mengukur kertas yang akan di gunakan, dan Alya serta Alan menempel bahan yang sudah jadi.


" Ngomong-ngomong mana sifat dinginmu yang biasanya Ris? " Tanya Alfi sembari meng scroll beranda di browser. Risa hanya tersenyum malu mengingat dirinya yang dulu. " Kamu ingat tidak saat pertama kali mengajakku bicara, kau tahu kesan pertama mu sangat buruk" Ledek Alfi. " I-i-ituka dulu.. Jangan diingat lagi! " Ucap Risa sembari memukul pelan pundak Alfi. Alfi tertawa melihat tingkah Risa.


" Um.... Permisi tolong jangan bermesraan disini, madingnya belum selesai lo"


Ucap Icha. Risa merona merah sekali " Buka begitu Cha! ".mereka semua tertawa bersama melihat tingkah laku Risa.


Dua jam berlalu mereka masih mengerjakan mading. " Oi makhluk fantasi bikinin kita minuman dong" Pinta Aira. " Kalau dipikir-pikir iya juga aku lumayan haus" Jawab Alfi. "Kalau begitu buatkan dong! Masak kamu mau membiarkan tamu mu mati kehausan! " Ucap Aira. " Kalau sampai mati itu agar gimana deh Ra.. "  Jawab Risa dengan setengah tersenyum. " Ini rumah ku ok? Makhluk astral kamu jangan seenaknya! " Dan mereka berdua bertengkar untuk beberapa lama sampai Alfi mengalah. " Kamu juga bantu dia ya Ris! Nanti kalau nggak dia pasti lama" Pinta Aira. Alfi dan Risa turun ke bawah untuk membuatkan minuman.


Aira mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Alan dan Zen sibuk bermain dengan ponselnya. Alya dan Icha mendapat bagian menggunting kertas karton lalu Melvin membantu Aira menempelkan potongan kertas kecil berisi artikel yang telah dikutip dari situs internet. Beberapa saat setelah Aira menegur Alan dan Zen sambil melotot, lelaki itu meletakan ponselnya lalu pura-pura sibuk dengan kertas lipat. Nyatanya, baru 4 menit melipat kertas dengan beragam bentuk, keduanya mengeluh karena lelah padahal sejak 2 jam yang lalu mereka memainkan game sambil mengumpat.


Sementara itu, di dapur, Alfi tengah duduk pada salah satu kursi. Risa menawarkan diri agar membuat minuman-minuman itu sendiri. Melihat Risa yang begitu antusias, akhirnya mau tak mau Alfi hanya duduk mengamati Risa dan mengatakan pada gadis itu agar meminta bantuannya jika dibutuhkan. Risa berkutat dengan buah-buahan untuk membuat panacotta stroberi. Kebetulan, keluarga Alfi memiliki banyak buah-buahan. Alfi sendiri tidak keberatan jika Risa membuat itu dengan bahan-bahan yang memang tersedia di rumahnya.


Alfi mengamati Risa yang dengan teliti menyiapkan bahan-bahan. Diam-diam Alfi tersenyum tipis ketika Risa bersorak riang setelah seluruh bahan benar-benar lengkap.


"Alfi," Risa memanggilnya. Alfi segera berdiri lalu melangkah mendekat.


"Tolong masak susu cair dan gulanya. Tunggu sampai mendidih ya. Nanti angkat saja kalau gulanya udah larut." Risa memberi instruksi. Alfi mengangguk mengiyakan. Terdengar cukup mudah, jadi lelaki itu memutuskan untuk membantu Risa.


"Oke."


Beberapa menit kemudian, Risa kembali sibuk memasukkan gelatin, krim kental, dan vanili ke dalam adonan susu. Setelah menghabiskan waktu 20 menit lamanya di dapur, Risa tersenyum senang setelah melihat delapan gelas kaki telah penuh berisi minuman buatannya.


"Enak. Kamu lumayan hebat, ya." Alfi tersenyum. Lelaki itu mengambil nampan dari rak lalu mulai menyusun minuman-minuman itu diatas nampan bersama Risa.


"Nah, sudah selesai. Aku akan membawanya ke atas. Ayo, kita jalan bersama." Alfi membawa satu nampan itu sementara Risa berjalan beriringan dengan Alfi menuju kamar tempat mereka membuat mading.


"Wah! Minuman!" Aira bergerak lebih dulu mengambil alih nampan yang dibawa Alfi. Gadis itu membawa nampan ke tengah-tengah anak-anak yang lain.


"Enak," Alya berkomentar setelah satu sendok lapisan stroberi masuk ke dalam mulutnya.


"Minumannya manis. Siapa yang buat?" Melvin bertanya. Minumannya telah habis dalam waktu kurang dari semenit.


Risa menatap Melvin sambil tersenyum. "Aku dan Alfi."


"Cieee ..." Seluruh anak-anak bersorak ketika Risa salah tingkah sementara Alfi membuang muka karena malu.


"Kalian diam-diam pacaran ya?" Aira mengerling. Aira tersenyum penuh makna ke arah Alfi dan Risa.


"Apaan, sih, makhluk astral?" Alfi terlihat salah tingkah ketika Zen menyenggol bahu Alfi.


"Jangan pacaran sama makhluk fantasi, Ris. Dia itu menyebalkan." Aira berbisik pada Risa sambil mengerling ke arah Alfi.