Our Love Story

Our Love Story
One Day With Kairen



~Kai lo dimana?


3 kata dari chat Kimy yang menanyakan dimana dia sekarang. Kai membacanya dalam hati. Jari cowok itu kemudian mengetik balasan pesan.


^^^~Gw di basecamp^^^


Kim


~Oh yaudah, tadinya gw mau minta anter ke Cafe tapi kalo lo sibuk gausah deh


^^^~Siap-siap, gw jemput skrang^^^


Setelah mengetik chat itu, Kairen kembali meletakkan ponselnya ke dalam saku. Pandangan cowok itu kemudian beralih pada Rachel yang sedang asik makan ice cream sambil menatap kearahnya.


"Hel, gue cabut duluan gapapa kan?" pamit Kairen dengan nada sungkan. Bagaimana pun dia yang mengajak Rachel ke taman ini, pasti gak enak kalau dia harus membiarkan cewek itu disini sendirian.


Dia bohong?. Iya. Dia memang tidak lagi di Basecamp. Tadi Rachel mengiriminya pesan kalau dia sedang badmood di rumah karena ditinggal keluar kota sendirian. Dan saat itulah dia berinisiatif mengajak cewek itu jalan-jalan keluar.


"Kimy ya?" tebak cewek itu dan tepat sasaran, sekarang Kai jadi berpikir kalau dia punya ilmu baca pikiran.


"Iya. Sorry nih gue gak bisa nganter lo balik. Tapi gue udah pesenin taksi kok, bentar lagi pasti dateng" sahutnya sembari memakai jaket denim yang tadi dia sampirkan di sandaran kursi.


"Kamu kayaknya sekarang lebih sering sama Kimy ya?. Bahkan dulu tiap minggu kamu selalu main ke rumah, tapi akhir-akhir ini udah gak pernah lagi" ucap Rachel, terselip nada tidak suka dari kalimat yang dia ucapkan.


Dia berubah jalur. Rachel bingung dengan hatinya. Satu sisi dia suka Satya, tapi di sisi lain dia tidak mau Kai menjauh darinya. Egois memang, tapi Rachel tidak bisa menyangkal bahwa dia mau Kai terus ada untuknya.


Apalagi saat Satya terus menolaknya, Kai yang selalu ada untuk menghibur. Perhatian dan candaan cowok itu menimbulkan rasa nyaman dalam hatinya, dan membuat dia enggan untuk melepas Kai pergi.


"Lo ngomong apa sih. Gue gak ke rumah lo gara-gara gue sibuk, bukan karna Kimy. Janji deh malem minggu gue main ke rumah lo terus kita liat pasar malem bareng-bareng" ucap Kai menenangkan.


Perlahan senyum Rachel kembali terbit. Cewek itu mengangguk antusias. Tanpa sadar tangannya menggenggam telapak tangan Kai yang ada di atas paha, membuat cowok itu spontan menoleh kearahnya.


"Janji ya?. Pokoknya kamu gak boleh bohong. Terus nanti aku mau naik wahana yang banyak buat ngabisin uang kamu"


"Gampang, warisan Abi masih banyak, gak bakal habis cuma buat bayarin lo naik wahana" Kai berseloroh. Cowok beranjak dari duduknya.


"Gue tinggal beneran loh, taksi lo palingan bentar lagi nyampe. Kalo belum sampe entar telfon gue aja biar gue jemput" pesan Kai dan Rachel hanya mengangguk.


"Hati-hati"


Setelah itu Kai benar-benar pergi, meninggalkan Rachel yang menatap penuh arti kearahnya.


"Aku tau ini egois, tapi aku gak mau kamu pergi. I want you, Rai"


**********


Sore hari mobil Kai terparkir di depan kos Kimy, ternyata cewek itu sudah menunggu di depan pagar. Saat melihat mobil Kai sudah tiba, Kimy tersenyum lebar. Segera dia menghamppiri mobil Kai lalu masuk tanpa disuruh.


"Jalanan macet gak?" cewek itu mendudukkan dirinya di kursi samping kursi kemudi. Dia meraih seatbelt lalu mengikatnya dari bahu kiri menjulur ke bawah. Sedangkan Kai mulai menjalankan mobilnya.


"Nggak, jam segini mah masih sepi" sahutnya , Dia kemudian menoleh kearah Kimy sekilas. "Kita ke Cafe mana?"


Gadis itu nampak menimang, sebelum akhirnya dia menggeleng, "Gak jadi ke Cafe"


"Lah, terus?" sahut Kai kaget.


"Gue mau jalan-jalan"


**************


Tau definisi jagain bayi besar?, itu yang Kai rasakan sekarang. Sejak tadi dia cuma mengekori Kimy yang menjadi hiperaktif mencoba satu persatu wahana di Taman Bermain ini.


Anehnya dia gak mengeluh, padahal kakinya serasa hampir copot karena sepertinya Kimy gak akan selesai sebelum tempat ini tutup. Seperti sekarang, cewek itu kekeuh minta masuk rumah hantu padahal dia paling takut dengan segela macam dedemit terutama setan angka delapan.


Tapi emang dasarnya Kimy keras kepala, sekeras apapun dia melarang ujung-ujungnya dia cuma bisa pasrah dan menuruti permintaan Kimy.


Dan sesuai dugaannya, dia harus kerepotan lagi!. Bagaimana tidak, Kimy gak mau jalan sendiri di dalam sana dan minta gendong. Kai kurang sabar gimana coba?!


"GUE KECEKEK GEBLEKK!!" desis sambil berlari menuju pintu keluar.


"HUS, TUYUL GENDENG. MINGGAT SANA LO JAN NGIKUTIN GUE, GUE KAGAK PUNYA DUITTTT" Kimy mencak-mencak saat kakinya ditarik sebelah oleh tuyul itu. Bocil dengan muka full bedak dan eyeshadow hitam yang melingkari matanya tertawa jahat kepada Kimy, membuat gadis itu jengkel.


"Dih malah ketawa, gak lucu tau!!!" desis Kimy. Kai sudah ngos-ngosan, lari sambil gendong Kimy yang gak bisa diem ternyata lebih berat ketimbang ngangkat barbel 50kg.


"Oii bocil, lo itu masih bocah kelakuannya kek anj banget yee. Pulang sono ke tempat mak lo, tidurr besok cekulah""Kai ikut menimpali.


"Emak saya juga disini Kak, jadi kunti" tuyul itu menjawab tiba-tiba.


"Widihhh, ternyata ini bisnis keluarga ya. Udah turun-temurun"


*************


Setelah berhasil keluar dari wahana Rumah Hantu yang membuat punggungnya nyaris lepas, Kai mengajak Kimy makan di salah satu kedai ayam geprek yang ada disana. Asli, dia masih mengkis-mengkis. Hidungnya kembang kempis dengan keringat yang membasahi dahinya. Malam ini Kimy benar-benar menyiksanya.


"Gila lo, ogah gue masuk kesana lagi!!" akhirnya cowok itu mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi dia tahan. Bukan masalah main wahananya, tapi ngegendongnya yang bikin hati sepet.


"Iya deh maaf, lagian lo sih mau-mauan nganterin gue masuk ke dalem"


What the hell


Kimy tadi nyalahin dia gitu?. Sabar Kai sabar. Dia harus banyak-banyak istighfar saat menghadapi Kimy yang kadang kejamnya ngalah-ngalahin emak tiri.


Seolah gak punya rasa bersalah karena udah bikin anak orang nyaris jompo sebelum waktunya, Kimy malah santai-santai aja menikmati makanan yang dipesan Kai.


Mau tidak mau Kai cuma bisa kembali menghela nafas. Dia ikut makan, sumpah demi apa perutnya udah laper daritadi.


"Lo tadi di basecamp ngomongin apa?" tanya Kimy membuka obrolan, Kai sontak terdiam.


"Bukan apa-apa, cuma ngomongin touring bulan depan aja. Anak-anak pada usul buat refresing sehabis ujian" sahutnya berbohong.


"Wihh asik dong, gue boleh ikut ya?" cewek itu terdengar sangat antusias menanggapi.


"Gak bisa Kim, lo kan gak boleh cape. Entar kalo ada apa-apa gue yang ngerasa bersalah"


Kai mencoba memberi pengertian, dan Kimy mendadak lesu. Dia kecewa, jelas.Terlihat dari cara makannya yang sudah tidak berselera. Melihat itu Kai spontan menyentuh telapak tangan Kimy yang ada di atas meja, cewek itu menoleh.


"Kim, gue cuma gak mau lo kenapa-napa. Gue mau lo sembuh, lo mau ya kemo?"


Nafas Kimy tercekat di tenggorokan, dia memalingkan wajahnya. "Buat apa?. Toh gue udah gak bisa sembuh" dia menunduk dalam.


Kai meraih wajah Kimy, menarik wajah manis itu untuk menatapnya dengan tatapan sendu. Cewek itu menahan tangisannya, "Percaya sama gue, lo pastii bisa sembuh"


Kimy menatap sorot mata Kai dengan penuh perasaan. Kalau pun dia mau kemo untuk sembuh, itupun dia lakukan untuk Kai. Supaya dia bisa melihat cowok itu lebih lama lagi di dunia.


Sampai akhirnya jawaban yang ditunggu Kai tiba. Kimy mengangguk setuju. "Tapi gue mau lo terus nemenin gue pas gue ke kemo. Gue gak mau ditinggal sendirian. Lo mau kan?" Kimy beralih bertanya.


Kai sontak terdiam. Ditatapnya Kimy dalam-dalam. Bola mata cokelat gelap itu memancarkan ribuan harapan, dan dia tidak mungkin menolak. Kai mengangguk setuju.


"Gue bakal terus nemenin lo, janji".


Kimy tersenyum senang, setidaknya dia punya Kai yang masih selalu ada untuknya. Mereka kemudian melanjutkan makan. Mengisi perut setelah seharian beraktifitas. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke ponsel Kimy, cewek itu membukanya.


Rachel


~Kim, Rai lagi sama kamu ya?. Soalnya tadi dia pas lagi sama aku pamit mau nemuin kamu. Cuma mau minta tolong sampein ke dia ya, jaketnya yang masih di aku aku balikin besok. Hp dia ga aktif mkanya aku pesen ke kamu, maaf klo ngerepotin.


Dada Kimy bergemuruh membacanya, jadi Kai bohong?. Mana yang katanya di Basecamp, nyatanya dia tadi asik jalan sama Rachel. Tapi dia cukup sadar diri untuk tidak marah, memangnya dia siapa?. Cewek itu tersenyum miris.


•Gue emang bisa bersaing sama orang yang suka sama lo, tapi gue gak akan bisa bersaing sama orang yang lo suka•


~Kimyora