
"DIMOHON UNTUK SELURUH SISWA DAN SISWI SMA GARUDA AGAR BERKUMPUL DI LAPANGAN SEKARANG!!"
Sebuah pengumuman dari audio central membuat seluruh siswa kebingungan. Kalo dikumpulin kayak gini, pasti ada bau-bau kegiatan yang tidak diinginkan. Kai, Noval, Vero, Satya, dan Boy berjalan dengan ogah-ogahan ke tengah lapangan. Ini udah siang, mereka baru saja mau bolos ke Kantin, tapi terpaksa harus dipending karena pengumuman dari Pak Rasul.
Semua siswa sudah berbaris rapi. Urutannya kelas IPA di sebelah kanan, lalu diikuti kelas IPS di sisi kirinya. Siswa laki-laki berdiri di barisan belakang, sedangkan siswa perempuan di depan. Alasannya simpel, laki-laki kebanyakan lebih tinggi dari perempuan.
Kai dkk berdiri di barisan paling belakang, sengaja mencari tempat yang lebih teduh. Apalagi di belakang ada pohon yang lumayan rindang, cukup untuk menghindarkan mereka dari panasnya matahari siang.
"Selamat siang semuanya!!" Pak Rasul mulai menyapa menggunakan mikrofon di tangannya.
"SIANG PAKKK"
"Baik, tidak usah bertele-tele. Bapak tau kalian kepanasan"
"Kalo udah tau ngapain dia ngumpulin anak orang di siang bolong. Gak bener kadang ni orang" Gabriel mendumel kesal. Suang ini beneran panas. Matahari tepat berada di tengah. Apalagi dia gak pake sunblock, gimana kalo dia item.
"Diem dulu aja napa si, maklumin aja sekarang lagi durasinya Pak Rasul cosplay jadi Malaikat Izrail" sahut Elsa dengan nada berbisik.
"Berhubung sekarang sudah mau masuk akhir semester, sekolah kita sepakat akan mengadakan camping di salah satu hutan pinus di Kota C yang akan diadakan hari Sabtu-Selasa. Semua diharapkan mengumpulkan surat izin dari orang tua, jangan lupa jaga kesehatan dan persiapkan semua kebutuhan kalian mengingat 3 hari lagi acara kita dimulai"
"YESSSS" semua siswa bersorak senang. Akhirnya, mereka bisa refresing di alam.
"TENANG GAESS, NANTI SAMA CEBONG DI BAWAIN JET PRIBADI BUAT KITA BERANGKAT KESANA!!" Vero berseru lantang. Sontak saja Kai menendang pantatnya dengan kencang. Mau ditaruh dimana mukanya sekarang, apalagi sekaranh semua siswa menatap kearah mereka.
"Vero, jaga sikap!!. Jangan ngaco, Rai mana punya jet pribadi!!" peringat Pak Rasul agak kesal. Kai berdecak dalam hati. Pengen rasanya dia ngecabut bulu kumis Pak Rasul yang udah putih, seenaknya aja kalo ngomong.
"Jangan ngeremehin saya Pak, gini-gini Papa saya sultan, punya Sorum Jet Pribadi. Tinggal nunjuk aja Jet saya udah bisa ngaterin Bapak ke Bulan" gumamnya dalam hati.
Setelah membahas beberapa peraturan dan susunan acara, seluruh siswa dibubarkan dan diminta untuk kembali ke kelas. Kai langsung merangkul bahu Kimy tanpa permisi. Gadis itu berdecak, tangannya berusaha menjauhkan tangan Kai tapi percuma. Cowok itu malah tersenyum tanpa dosa, membuat dia menahan diri untuk tidak mencakar wajah songong itu sekarang juga.
"Pas camping entar setenda sama gue ya, Kim!" ucap Kai sambil tersenyum jahil. Kimy mencubit pinggangnya, membuat cowok itu meringis kesakitan sembari mengusap bekas cubitan Kimy yang terasa perih.
"Gue tampol muke lu pake granat mau?!" ancam Kimy sembari menodongkan jari telunjuknya.
Kai menepis pelan jari telunjuk itu, tak lupa senyuman khas yanng selalu terpatri di wajahnya.
"Kalo pake cinta, boleh ga?"
Tatapan mereka mengunci satu sama lain. Menelisik ke dalam iris mata masing-masing. Kimy terpaku dengan jantung yang berdebar. Sekuat apapun dia mengelak, hatinya tidak bisa menyangkal bahwa dia menyukai Kai, lebih dari sekedar sahabat. Dia tau ini salah, tidak seharusnya dia mencintai sahabatnya sendiri yang mungkin bisa berdampak pada hubungan pertemanan mereka. Tapi sikap manis dan konyol cowok di depannya ini tanpa sadar menjadi karakter kesukaan Kimy, dan Kai berhasil masuk dan menempati tempat khusus di relung hatinya. Tempat yang belum pernah ada seorang pun yang singgah, dia yang pertama dan semoga kisah ini dapat berlabuh sesuai dengan angan yang bermimpi mempunyai kisah cinta indah seperti negeri peri.
"Ehmmm" deheman itu membuyarkan lamunan Kai dan Kimy yang berkelana entah kemana. Mereka sama-sama menoleh kearah Satya yang menjadi pelaku perusak suasana. Cowok itu menatap mereka dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Minggir, gue mau lewat!!" ucap Satya dengan nada dingin. Tanpa menunggu jawaban dari yang lainnya, dia melangkah cepat dan lewat tepat di antara Kai dan Kimy seolah menjadi pemisah.
"Lo sih, gatel banget jadi lakik!!" tukas Noval seraya menoyor kepala Kai agak kencang.
"Kok gue sih?!"
"LO KAN TAU SENDIRI PERASAANNYA SI SATYA, NGAPAIN LO DEKET-DEKETIN SI KOKOM OGEB?!" Vero berseru kencang, dia geregetan asliii. Punya temen kok gini amat sih. Satu aja kok gak ada yang waras.
"Gue kan cuma bercanda, dia aja yang baperan" jawab Kai dengan acuh.
Gabriel nahan dongkol dalam hati. Bercanda katanya?, emang ya cowok hobinya nyakitin. Percuma dibikin salting sampek melting kalo ujung-ujungnya cuma dighosting.
"Udah deh, mendingan lo gak usah deket-deketin Kimy lagi. Pikirin juga tuh si Satya. Lagian fakboy kayak lo palingan juga cuma main-main kan sama temen gue. Lo mah enak tinggal ngomong bercanda bercanda, kalo dia baper beneran gimana!!" cerocos Gabriel panjang lebar. Rasa kesalnya sudah meluap sampai ke ubun-ubun. Apalagi melihat wajah Kai yang nampak santai-santai saja saat membuat perasaan sebagai mainan.
"Enteng banget ya mulut lo ngomong gitu" Elsa ikut menimpali. Dia kemudian menoleh kearah Rachel yang dari tadi diam saja, hanya menyimak semuanya.
"Lo liat sendiri kan?. Lain kali jangan mau dideketin buaya cap kodok kayak dia!!" ucapnya pada Rachel.
"Kok semuanya pada maki gue sih?" ucap Kai seolah tak terima. Harga kegantengannya terasa tercoreng saat dicibir para betina di depan mukanya sendiri.
"DIEM LO ANAK KODOK!!"
************
Satya berdiri di pembatas Rooftop sekolah sendirian. Tatapannya menjurus ke bawah, tepat kearah para sisea yang sibuk melakukan kegiatan masing-masing di bawah sana. Angin berhembus kencang membuat rambut cokelat cowok itu bergerak dengan teratur.
"Sendirian aja?" sebuah tepukan di bahu membuat Satya menoleh. Boy datang sembari menyodorkan sekaleng soda yang dia beli di kantin. Satya menerimanya kemudian mengucapkan terimakasih.
"Ngapain lo disini?, kagak kepanasan?. Di Rooftop jam segini mah lagi panas-panasnya" ucap Boy mencoba memecah keheningan.
"Lebih panas di kelas daripada disini" sahut Satya tanpa minat. Boy mengangguk beberapa kali. Dia membuka kaleng sodanya, menyesap sedikit demi sedikit untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering.
"Gue liat-liat si Kimy sama Rai makin deket ya. Tapi mereka serasi sih, cocok kalo jadian" kelakar Boy tanpa dosa.
Satya menahan kesal. Telapak tangannya meremas kaleng kosong bekas soda hingga kaleng itu sedikit pesok.
"Cocok dari mananya?!. Gak cocok sama sekali" sinisnya dengan raut wajah mengejek.
Alis cowok itu mengerut, mencoba membaca situasi yang bisa membawa keuntungan untuk dirinya.
"Lo suka sama Kimy?" tanya Boy yang langsung membuat Satya terdiam. Dan keterdiaman cowok itu sudah cukup menjawab pertanyaan Boy bahwa yang dia ucapkan itu benar.
"Iya" sesuai dugaannya, Satya menjawab iya. Itu berarti satu peluanya terbuka.
"Si Rai tau?" tanya Boy lagi yang dijawab anggukan kepala oleh Satya.
"Gila sih, maruk banget tuh anak. Padahal dia ngedeketin Rachel, sekarang gebetan sodara sendiri juga mau diembat" Boy berucap dengan nada bercanda, tapi berhasil memancing emosi Satya yang sebelumnya belum reda. Terlihat dari wajah cowok itu yang memerah dengan rahang yang mengeras menahan kesal.
"Si Rai kan buaya, kasian banget kalo Kimy beneran sama dia. Yang ada tiap hari makan hati" ucap Boy lagi.
"Kalo lo beneran suka sama Kimy, gue dukung lo!!. Dia lebih baik sama lo yang tulus daripada sama si Rai yang cuma mainain. Yaa, gue tau Rai temen kita juga. Tapi kalo dia begitu gue juga gak mungkin dukung dia, nyesek di Kimy nya entar. Tuh anak kalo mainin cewek kan lo sendiri kek gimana"
Satya tak menyahut. Dia membuang nafasnya kasar. Bayangan bagaimana tatapan
dalam yang dipancarkan Kimy untuk Kai terus terngiang di otaknya. Dia marah, dia cemburu, dia kesal, bukan pada Kimy, tapi pada Kai yang sudah berani mengusik orang yang dia mau.
"Kali ini, gue gak mau kalah dari lo"
Kai or Rai
Kimy