Our Love Story

Our Love Story
Because I Like You



"Jadi apa alesan lo gak mau jujur sama gue?"


Saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Kai, tidak ada yang bisa Kimy jelaskan untuk menjadi jawaban dari apa yang ditanyakan cowok itu. Bahkan untuk menatap Kai pun Kimy tidak berani, dia memalingkan wajahnya.


"Jawab gue Kim!!" seru Kai


"KARNA GUE GAK MAU JADI BEBAN SEMUA ORANG, GUE GAK MAU DIKASIHANI" sahut Kimy kencang.


Kai menggelengkan kepalanya, merasa tidak habis pikir dengan apa yang gadis itu ucapkan. Memangnya kapan dia mengeluh karena merasa dibebani Kimy?.


"Lo ngomong apa sih?!. Kapan gue ngerasa dibebanin sama lo?!. Gak pernah Kim!!"


Kai mendekat kearah Kimy, duduk di samping ranjang gadis itu sembari menatapnya dalam. Kimy menghela nafas panjang. Kai tidak akan pernah mengerti ketakutan yang dia rasakan. Dia terlalu takut untuk bercerita pada orang lain yang ujung-ujungnya hanya akan memberikan dia harapan palsu untuk sembuh. Dia tidak mau berharap lebih pada apapun untuk saat ini, karena dia tau, pada akhirnya dia hanya akan bertemu pada sisi semu. Kecewa.


"Gue cuma takut lo ngejauhin gue gara-gara tau gue penyakitan, gue cuma takut kalo lo mau disamping gue cuma gara-gara kasian. Gue cuma gak mau lo berubah, udah itu aja!!" Kimy menangis lagi. Entahlah, akhir-akhir ini dia menjadi sangat lemah. Jiwanya merasa tidak bebas, hatinya selalu dilanda kegundahan tidak beralasan setial saat.


"Gue gak mungkin ninggalin lo. Kita bahkan udah sama-sama sejak kecil. Mana mungkin gue ngebiarin lo ngelaluin ini sendirian. Gue bakal terus ada buat lo, bukannya itu gunanya sahabat?" ucap Kai dengan tatapan teduhnya. Tatapan yang belum pernah dia tunjukkan kepada siapapun. Baru Kimy, dan hanya Kimy yang bisa melihatnya.


"Tapi gue sayang lo Kai, gue sayang sama lo lebih dari sekedar sahabat!!. Kenapa lo gak pernah ngerti?!" seru Kimy. Kai kaget, tentu saja. Dia menatap Kimy sangat dalam. Sorot mata gadis itu menunjukkan sebuah luka yang sangat dalam diiringi air matanya yang mengalir. Kai benci air mata itu.


"Bercandaan lo gak lucu!!" sahutnya.


Kimy terkekeh miris. Kapan dia bercanda tentang perasaan?. Justru bercandaan Kai lah yang memunculkan perasaan dalam hatinya. Perasaan yang tumbuh berlandaskan kedekatan seorang sahabat.


"Terserah, terserah lo mau nganggep omongan gue ini apa. Gue tau gak sepantesnya gue punya rasa sama lo setelah sekian lamanya kita sahabatan. Tapi gue gak bisa bohongin hati gue Kai!!. Cinta itu pilihan kan?, dan gue berhak mencintai pilihan gue"


Kai terdiam. Dia tidak bisa menjawab, pikirannya berputar kemana-mana. Dia sendiri juga bingung, rasa simpatinya pada Kimy ini berlandaskan unsur persahabatan atau tidak?. Cowok itu lantas mengacak rambutnya frustasi. Dia berdecak keras, kenapa semuanya menjadi sangat rumit.


Tanpa bicara apapun lagi Kai bangkit kemudian pergi meninggalkan ruang rawat Kimy. Gadis itu menatap kepergiannya dengan tatapan penuh luka. Inilah yang ditakutkan Kimy kalau Kai mengetahui semuanya. Kai meninggalkannya, itulah yang selalu menjadi ketakutan Kimy selama ini.


"Jadi sebenernya apa yang salah?. Aku, rasaku, atau kamu yang memang bukan untukku?"


**********


Seorang remaja laki-laki dengan jaket denim yang melekat di tubuh tegapnya duduk seorang diri di taman Rumah Sakit sembari menendang-nendang kecil kerikil di tanah tempatnya berpijak. Kai tidak benar-benar pergi dari tempat itu. Dia hanya butuh ketenangan untuk merenungkan semuanya, merenungkan rasanya, dan merenungkan keadaan yang ada.


Semuanya menjadi rumit, seperti benang kusut yang hinggap di pikirannya. Kai tidak bisa berpikir jernih. Hingga seseorang menepuk bahunya ringan. Kai menoleh, dia mendapati Rai dudukdi sampingnya sembari meminum satu cup kopi. Cowok itu memberikan satu cup lagi untuknya.


"Hidup tuh emang rumit. Bawa santai aja sama ngopi, jangan terlalu diambil pusing"


Dua cowok dengan paras 99% mirip itu duduk berdua di taman sembari menikmati bintang yang bersinar di langit bentala. Melihat bagaimana langit yang gelap dapat mendapatkan kekasih secantik bintang untuk menghiasi dirinya setiap malam. Sama halnya seperti awan yang bahagia bertemu pelangi setelah diterpa hujan.


Rai meliriknya sekilas kemudian menjawab, "Sebulan yang lalu pas gue ketemu dia". Cowok itu meminum kopinya lagi lalu kembali berbicara, "Satu sisi gue kasian sama dia gara-gara masalah orang tuanya. Dia sempet cerita sekilas sama gue soal bokap nyokapnya yang cerai. Tapi di sisi lain gue salut sama tu cewek. Dia kuat, banget malah. Ngadepin semua sendiri coy, dia bahkan gak pernah ngeluh sakit apapun kecuali sakit hati wkwk"


Kai tersenyum simpul menanggapi. Memang benar, Kimy memang cewek paling kuat yang pernah dia temui. Cewek itu tahan banting, bahkan saat satu dunia mencelanya pun dia masih tetap tertawa. Kimy selalu mencoba menghibur orang lain meskipun dia sendiri juga butuh dukungan.


"Cewek kayak gitu sayang bro kalo lo sia-siain!!" Kai sontak menoleh, menatap Raiyang sedang menyengir lebar menatapnya.


"Lo tau?"


"Gue tau semuanya. Tentang lo sama Kimy, tentang perasaan dia buat lo. Gue gak nyalahin Kimy tentang perasaan dia, itu wajar kan?. Kayak yang orang-orang bilang, gak ada persahabatan yang murni antara cewek sama cowok. Pasti salah satunya ada yang punya perasaan. Entah dia, lo, atau kalian yang sama-sama suka" Raizel kemudian menatap Kairen yang juga sedang menatapnya. Raut kebingungan jelas tercetak di wajah cowok itu. Raizel tau, Kai sendiri juga bingung dengan perasaannya.


"Lo gak perlu pusing-pusing mikirin dunia. Tugas lo sekarang cuma tanya sama hati lo, perasaan lo gimana. Sebelum semuanya terlambat Kai. Satu yang perlu lo inget, penyesalan itu selalu dateng telat dan seseorang itu gak semuanya ada. Ada saatnya mereka pergi dan lo gak bisa nyegah itu semua"


Malam ini, Raizel benar-benar membuatnya berpikir keras. Memikirkan jawaban yang sebenarnya hanya dia dan hatinya yang tau.


"Gak usah terlalu dipikirin. Jalanin aja apa yang ada. Jangan egois, Kimy butuh lo sekarang"


Setelah memberikan tepukan di bahu dan seringaian penuh arti, Raizel pergi meninggalkan Kairen sendirian. Memberikan ruang kepada cowok itu untuk memikirkan semuanya.


Kai menghela nafas panjang. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sembari menatap lurus kedepan. Pikirannya berkecamuk, memori tentang semua kejadian yang terjadi antara dirinya dan Kimy terus berputar seperti kaset rusak. Memang benar, Kai bingung dengan perasaannya sendiri. Semuanya abu-abu, dia mencoba mencari titik terang tapi bayangan kegelapan terus menghalanginya. Dia bimbang.


**********


Dini hari tepat pukul 02.00, disaat semua orang sudah mengistirahatkan dirinya untuk menyiapkan diri di esok hari, Kai masuk ke dalam kamar rawat Kimy sembari mengedap-endap. Takut kalau pergerakannya membuat seorang gadis yang sedang tidur diatas ranjang itu terbangun.


Kai duduk di kursi samping ranjang Kimy. Matanya menatap dalam ke wajah gadis itu. Tampak sangat tenang padahal beban yang dipikulnya sangat berat. Tanpa sadar tangan Kai menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu agar dia bisa leluasa melihat wajahnya. Kai mengusap rambut Kimy pelan.


"Gue gak tau kita ini apa. Tapi yang jelas gue gak akan ngebiarin lo ngelawan dunia ini sendirian. Gue, bakal selalu ada buat lo. Kalo dunia jahat sama lo ngadu ke gue ya Kim, biar gue sentil mereka pake ketapel"


**Pesan buat Kai?


Buat Kimy?


Buat othor cantik?


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN YA SAHABATTTTTT


THENKYUUU**:)