
Kairen menunggu seseorang yang sedang berkutat dengan layar laptopnya dengan sabar. Hanya untuk mendapatkan sebuah Informasi, dia harus menunggu lebih dari dua jam lamanya.
"Udah belum sih?" tanya Kai yang mulai tidak sabaran. Dia rela bolos sekolah hanya untuk informasi ini, bahkan dia rela menolak ajakan Rachel untuk berangkat sekolah bersama tadi pagi.
Adnan, yang merupakan anak dari Hanzo, tangan kanan Kenzia, memutar layar laptopnya kearah Kairen agar pemuda itu dapat melihat hasil dari pembahakan identitas yang dia lakukan.
"Dari semua petunjuk yang ada, gue cuma bisa nemu ini. Umur dia 20 tahun. Namanya sangat sulit buat gue sadap, tapi di data diri dia cuma mencantumkan nama 'B' " jelas Adnan yang membuat Kairen tersentak.
Pemuda itu termenung dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. Menelisik setiap orang berinisial 'B' yang pernah dia temui.
"Tapi kan orang yang namanya B di dunia ini banyak Conk" desis Kairen jengkel.
Adnam mengendikkan bahunya, kemampuan hacker-nya cuma bisa mendapat informasi demikian.
"Gue cuma bisa dapet segitu. Sorry, gue nggak bisa bantu banyak"
Kairen menghela nafas panjang. Pemuda itu mengangguk sembari menepuk bahu Adnan beberapa kali.
"Gapapa, btw thanks ya lo udah mau bantuin gue"
Adnan tersenyum tulus. Keluarga Reyhan dan Kenzia sudah banyak membantu keluarganya. Mulai dari memberikan ayahnya pekerjaan, memberinya beasiswa, dan juga menyewakan apartemen untuk keluarganya tinggal setelah mengalami musibah pengeboman beberapa tahun yang lalu yang menewaskan Rina, ibunya.
"Ini nggak sebanding sama apa yang udah Keluarga lo lakuin buat gue. Selama gue masih hidup gue bakal terus berusaha bantu lo, sebisa gue"
************
Kairen menyusuri koridor Sekolah dengan wajah datar. Pikirannya sibuk memikirkan orang berinisial 'B' yang dimaksud Adnan tadi. Dia tidak bisa sembarang berspekulasi. Apalagi ada banyak orang berinisial 'B' yang dia temui. Hingga dia teringat sebuah nama. Mata pemuda itu melebar. Antara yakin dan tidak yakin, tapi dari semua peristiwa yang terjadi, orang itu pasti ada disana.
"Apa jangan-jangan?!"
"Nggak, nggak, nggak. Gue nggak boleh asal nuduh kalo belum ada bukti pasti"
Kai menggeleng keras, menolak pikiran dalam otaknya yang belum terbukti. Dengan bantyan Adnan, dia bertekad untuk menemukan orang itu, dimana pun dia berada.
Pemuda itu meneruskan langkahnya yang hendak menuju rooftop untuk menyegarkan pikiran. Hingga tidak sengaja matanya melihat sosok Kimy dan Bara yang sedang berdiri berhadapan di dekat mading sekolah. Kai menghentikan langkahnya. Berdiri dengan jarak sekitar 7 meter dari tempat mereka berdiri untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Harus malem ini banget ya?" tanya Kimy memastikan.
"Iya lah, lo mau kan nemenin gue beli kado buat adek gue?. Please lah Kim, kali iniiiii aja" pinta Bara dengan wajah memelas.
Kimy nampak berpikir. Dia ragu, tapi saat melihat wajah penuh harap yang Bara tunjukkan dia jadi tidak tega.
Kai memperhatikan interaksi mereka. Jarak yang tidak terlalu jauh membuatnya dapat mendengar apa yang dua orang itu katakan.
"Namanya sangat sulit buat gue sadap, tapi di data diri dia cuma mencantumkan nama 'B' "
Ucapan Adnan tadi pagi kembali terngiang di kepala Kai hingga membuat mata pemuda itu melotot kaget setelah menyadari satu hal.
"NGGAK BOLEH!!" Kai yang tiba-tiba datang sambil berseru kencang membuat atensi Kimy dan Bara teralihkan kepadanya. Pemuda itu berjalan mendekat, kemudian berdiri di samping Kimy dan merangkul bahu gadis itu posesif.
"Hak lo apa ngelarang-larang Kimy?!. Lo bapaknya?!" tukas Bara dengan nada tinggi. Berhadapan dengan Kai selalu saja mengundang emosinya. Jika tidak ada Kimy, mungkin saja dia sudah memukul wajah angkuh pemuda itu sekarang juga.
"Pokoknya Kimy nggak boleh pergi sama Lo!!"
Bara berdecih ringan. Dia kemudian mendekat, berdiri tepat dihadapan Kai sambil menatap nyalang kearah mata cokelat pemuda itu menantang.
"Gimana kalo kita balapan?" tawarnya sambil tersenyum licik.
"Kalo lo menang, gue bakal jauhin Kimy, sejauh mungkin. Tapi kalo gue yang menang..... lo yang harus jauhin dia. Gimana?"
"Gue bukan barang taruhan!!" potong Kimy dengan tegas seraya menatap tajam kearah Kai maupun Bara.
"Gue terima" ucapan Kai membuat Kimy menoleh tidak percaya. Bisa-bisanya dia dijadikan taruhan disini.
"Lo apa-apaan sih?!" bentaknya pada Kai dengan kesal.
Bara tersenyum miring dengan wajah puas.
"Oke, gue tunggu di jalan XX nanti malem. Semoga lo berhasil" ditepuknya bahu Kai beberapa kali sebelum akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Kai dan Kimy.
"Lo apa-apaan sih?!. Bisa-bisanya lo jadiin gue bahan taruhan!!, Lo pikir gue barang yang bisa lo giniin seenaknya?!" Kimy mendorong tubuh Kai dengan kesal. Rasa marahnya mencuat, dia dijadikan barang taruhan, oleh sahabatnya sendiri. Pemuda itu hanya diam sambil mrmpertahankan sikap biasanya. Dia tau dia salah, tapi dia juga memiliki alasan untuk melakukan ini semua.
"Gue cuma nggak mau lo deket-deket sama dia!!" sahut Kai tidak kalah kencang.
"Tapi kenapa?. Kenapa lo nyuruh gue supaya nggak deket sama dia?!. Hak lo apa?!"
Kai bungkam. Dia bingung akan berbicara apa karena tidak mungkin kalau dia berbicara pada Kimy tentang kecurigaannya pada pemuda itu. Apalagi dia tidak memiliki bukti, pasti Kimy akan lebih menganggap kalau dia hanya omong kosong.
"Karena dia itu nggak baik buat lo!!" akhirnya hanya itulah yang bisa Kai ucapkan. Karena hal itu memang benar adanya. Dia takut kalau Kimy menjadi korban disini.
Gadis itu tertawa sinis. Dia menatap Kai sambil menggangkat sebelah alisnya meledek.
"Lo pikir lo itu orang baik?" sinisnya. Kai hanya mampu diam. Dia sadar, dia bukan orang baik, tapi dia juga bukan orang yang jahat.
Melihat Kai yang terus bungkam membuat amarah Kimy semakin memuncak.
"Gue kecewa sama lo Kai!!"
Setelah mengucapkan itu, Kimy lebih memilih pergi. Pergi meninggalkan Kai yang sedang menatapnya penuh penyesalan. Pemuda itu mengusap rambutnya dengan kasar seraya menendang tanaman yang ada di depannya.
"Gue cuma nggak mau lo kenapa-napa Kim!!"
Kimyora