
Kami duduk diatas bangku kayu taman yang sama. Namun, ada jarak setengah meter diantara kami. Sedari tadi, yang dilakukan Risa hanyalah menunduk hingga waktu kami terbuang sia-sia selama 12 menit lamanya. Gadis itu seolah-olah menungguku untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu.
Karena terlalu lama terjebak dalam suasana canggung, akhirnya aku membuka suara.
"Maaf ya untuk kejadian waktu malam itu," ucapku pada akhirnya.
Risa mengangkat pandangannya untuk menatapku lalu mengangguk dan lagi-lagi tak mengucapkan sepatah kata pun.
Aku berdehem. "Uh ... A-aku pergi ya?"
Kali ini Risa menarik tangan kananku ketika aku berdiri dari tempat dudukku lalu memberi kode dengan gelengan singkat. Akhirnya, mau tak mau, aku kembali menduduki bangku kayu itu dan menyilangkan sebelah kakiku.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Tidak apa-apa. Aku ... Aku hanya ingin kamu disini. Apa itu terlalu egois?" Balasnya masih sambil menunduk.
Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum kemudian bersuara dengan intonasi nada bertanya. "Huh?"
"Apa aku terlalu egois bagimu?" Gadis itu mengulang pertanyaan yang sama. Tapi, ada sedikit penekanan di setiap katanya.
"Tentu saja tidak. Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Tanyaku heran.
Risa menggeleng pelan. "Bukankah jika dipikir, aku terlalu egois?"
Aku menggeser tubuh ke samping hingga pundak kami saling bersinggungan. Lalu, aku memutar tubuhnya untuk menghadap tepat ke arahku sementara kedua tanganku lebih dulu menyentuh pundaknya. Tapi, Risa tidak memberikan respons apapun. Gadis itu masih menunduk, sampai kemudian aku meraih dagunya untuk membuatnya mau menatapku. Aku menyelipkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajahnya dibelakang daun telinga.
"Kau bukanlah orang seperti itu. Kamu orang yang baik dan pekerja keras. Aku tahu itu. Jadi, jangan pernah mengatakan jika kamu egois. Karena memang pada kenyataannya, kau lebih hebat dari penilaian orang terhadapmu. Bukankah begitu?"
Aku tersenyum.
Untuk sesaat, Risa menatapku dalam diam sampai kemudian gadis itu kembali bersuara dengan lirih.
"Apa bagimu aku seperti itu?"
Aku mengangguk cepat masih menunjukkan senyum lebar.
"Tentu saja!"
Pada detik yang sama, Risa ikut menarik lekuk garis bibirnya ke atas. Tersenyum manis hingga aku tanpa sadar menahan napas dan mengamati wajah cantiknya untuk sejenak.
#
Kami melewati trotoar di tepi jalan dengan langkah santai dan tidak terkesan tergesa-gesa. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru jalan yang tampak padat dan ramai seperti biasanya. Bergandengan tangan dengan Risa melewati area pertokoan dan penjual jajanan memiliki kebahagiaan tersendiri bagiku. Sudah satu jam lamanya kami mengelilingi pusat perbelanjaan dan membeli satu aksesori couple untuk kami berdua.
Panas matahari yang menyengat membuat kami memilih untuk beristirahat di bangku depan kios penjual bakpao sambil menikmati satu mangkuk soto ayam lengkap dengan segelas es teh manis.
"Wahh! Ternyata sotonya lumayan enak ya," komentar Risa setelah berhasil menelan kunyahan satu potong daging ayam berukuran kecil.
"Makanya, pembelinya banyak." Tambahku.
Setelah menghabiskan semangkuk soto ayam dan setengah gelas es teh, aku mengajak Risa pergi ke toko buku, makanan ringan, dan menonton film kartun populer di bioskop. Semua hal itu berlangsung selama empat jam. Hingga kemudian, kami memutuskan untuk mencari restoran terdekat yang tentunya menghidangkan makanan dan minuman yang pas dengan selera kami.
Karena tak kunjung menemukan, akhirnya kami melangkah melewati wilayah perumahan sambil mencicipi gelato yang sengaja ku beli pada kedai disebelah penjual donat.
"Risa!"
Panggilan yang disuarakan oleh seseorang di belakang kami membuat langkah kami terhenti. Suara itu terdengar berat yang berarti seseorang itu pasti seorang lelaki. Beberapa saat setelah mendengar suara langkah kaki cepat yang mendekat, Risa spontan membalikkan badan yang membuatku mau tak mau akhirnya ikut memutar tubuh menatap datar lelaki itu.
Lelaki itu memakai celana jeans panjang dengan kaos kelabu berkerah yang memamerkan sebuah gambar dan tulisan singkat dibawahnya. Laki-laki itu tersenyum hanya pada Risa seolah melupakan keberadaanku yang entah mengapa membuatku sedikit kesal.
"Eh, Zen?" Tanya Risa sambil tersenyum. Melihat Risa memberikan respons seperti itu membuatku semakin menatap lelaki bernama Zen itu tajam.
Zen melebarkan senyumnya. "Wahh, ternyata kau benar-benar Risa. Apa yang kau lakukan disini?"
Risa melirik ke arahku sejenak sebelum kemudian kembali bersuara. "Uh ... A-aku ba—"
"Ada urusan apa?" Potongku cepat. Hal itu membuat Zen mengangkat sebelah alis sambil menatapku.
"Aku tidak punya urusan denganmu. Aku bertanya pada Risa," balas Zen seraya melangkah untuk berdiri tepat di depanku.
"Apa kau tidak lihat Risa sedang pergi bersamaku?" Tanyaku sengit. Zen memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku jeans.
"Sudahlah. Ayo kita pergi bersama saja, ya?" Lanjut Risa sambil melirik kami berdua.
Dengan terpaksa, aku berjalan di samping Zen sementara Risa di tepi bagian kiri. Kami memutuskan untuk singgah di salah satu restoran ternama. Setelah menunggu beberapa saat, salah satu pelayan restoran membawa troli berisi tiga porsi steak daging diatas hotplate.
Aku meletakkan kain bersih terlebih dahulu diatas paha kemudian meraih garpu dan pisau untuk memotong daging steak yang masih mengepulkan uap berbau lezat. Sebelum mengunyahnya, aku meniup pelan dengan hati-hati sampai menurutku daging tersebut tak lagi panas.
Aku kemudian melirik sedikit kearah Risa. Tampak Zen sedang memotongkan daging steik milik Risa.
"Sekarang kau bisa makan dengan mudah"
Risa kemudian memakan potongan-potongan daging steik itu.
"Enak!"
Zen tampak senyum-senyum memperhatikan Risa menyantap daging steik nya.aku tambah geram saja melihat laki-laki ini!.
Risa makan steik sampai belepotan di pipinya.
"Belepotan tuh dipipi!"
Zen tampaknya ingin membersihkan saos steik yang ada dipipi Risa. Sontak tanganku langsung menangkap tangannya.
"Risa bisa memberishkannya sendiri"
Zen terdiam sejenak.
"Baiklah, bisa kau lepaskan tanganku?"
Aku segera melepaskan tangannya. Dia tampak tersenyum lagi, itu membuatku sangat kesal!!. Risa tampaknya tak sadar dengan pertikaian kami. Kulihat Gadis itu masih menyantap steiknya tanpa menyadari apapun. Seusai makan Zen membayar semuanya dikasir. Aku menunggu bersama dengan Risa diluar Restaurant.
"Kamu sebaiknya jangan dekat-dekat dengan Lelaki itu!"
Gadis netra ruby itu tampak kebingungan.
"Kenapa? Zen itukan temanku"
Polosnya...uh!. Zen menghampiri kami berdua. Uh! Senyumannya itu aku sangat tidak suka!. Zen kemudian menggandeng tangan Risa dan mulai pergi meninggalkan restaurant. Seharusnya aku yang menggandengnya!!. Aku tambah tidak suka dengan lelaki ini.orang itu menggandeng Risa sepanjang perjalanan. Sangat memuakkan!.
Aku kemudian berjalan lebih cepat.
"Ayo kita lari!"
Sialan! Zen malah berlari dengan menggandeng Risa. Aku pun sontak ikut berlari juga.aku menambah kecepatanku. Kami bertiga berlari cukup jauh. Sampai di kompleks dekat rumah ku kami berhenti di pos ronda dekat situ. Nafas kami tersengal-sengal karena berlari-lari.
"Kamu lelah Risa? Mau mampir kerumahku dulu untuk meminum sesuatu?"
Risa mengangguk, tampaknya gadis ini sudah sangat kelelahan karena berlari dengan Zen. Kami bertiga berjalan ke rumahku yang tak jauh dari situ.
"Apakah kamu suka kue?"
Tanya Zen ketika sedang berjalan. Aku segera mendesal di tengah-tengah mereka berdua.
Aku segera menjawab sebelum Risa.
Kemudian kami bertiga tiba dirumahku.
"Wah... Rumah mu besar sekali Alfi!"
Risa sangat terpukau dengan rumahku itu. Aku hanya tersenyum dan menpersilahkan Risa masuk. Seusai Risa masuk aku segera menutup pintu.
"Kenapa ditutup?!!"
Aku hanya tertawa kecil. Mana mungkin aku membiarkan orang ini masuk.
"Maaf saja aku tidak menerima tamu laki-laki"
Aku segera berbalik untuk menyiapkan minuman untuku dan Risa.
"Alfi!"
Panggil gadis ber netra ruby itu. Dia menggembungkan pipinya. Sial! sangat lucu.aku tidak mau membukakan pintu untuk orang itu. Tapi tampaknya Risa akan marah padaku jika aku tidak membukakan pintu untuk Zen. Alhasil aku membukakan pintu untuk Zen.
"Baik kau menang!"
Tampak senyuman terlihat di wajah Zen. Aku ingin memukul orang ini!.jika bukan karena Risa aku pasti tidak akan membiarkan orang ini masuk kedalam Rumahku. Aku pergi kedapur untuk menyiapkan minuman untuk kami bertiga.
Sebelum itu aku menatap tajam ke arah Zen.
"Baik-baik aku mengerti"
Ucapnya sambil tersenyum lagi. Aku rasa kejiwaan orang ini perlu diperhatikan.
Aku menyiapkan minuman dengan kesal sekali. Terlintas dipikiranku untuk menjahili nya. Aku memasukkan garam kedalam Es jeruk milik Zen.
Aku mengaduk minuman sambil sesekali melirik kearah ruang tengah dengan was-was seandainya Zen mendadak masuk sementara aku memasukkan garam kedalam minumannya. Aku menghela napas lega ketika mendapati Risa dan Zen duduk berhadapan. Mereka dipisahkan oleh satu meja pergi panjang dan sebuah sofa bermodel vintage warna krem.
Aku melangkah mendekati mereka tepat ketika Zen hendak mengubah posisinya mendekati Risa. Aku berdehem keras yang membuat pemuda itu mau tak mau akhirnya sedikit bergeser ke samping. Setelah meletakkan gelas pada tempat seharusnya, aku mengambil posisi tepat disebelah Risa hingga bahu kami bersinggungan. Melihat Zen yang canggung, aku buru-buru menjangkau gelas berisi perasan air jeruk yang telah terlarut bersama garam lantas memberikannya pada Zen.
"Ini untukmu,"
Tanpa menaruh kecurigaan, pemuda itu menarik gelas dari tanganku lalu meminumnya dalam satu kali teguk. Aku berusaha menahan tawa seraya mengambil gelas yang tersisa diatas nampan dan memberikan salah satu gelas pada Risa.
"Ini untukmu. Aku membuatnya agar menjadi lebih pas rasanya. Minumlah," ucapku.
Sejurus kemudian, Zen terbatuk-batuk kecil sambil menepuk dadanya. Alisnya berkerut sementara matanya sedikit berkedut samar. Karena telah menduga hal ini, aku telah mempersiapkan diri. Dengan langkah yang seolah sigap, aku mengambil air mineral dan memberikannya pada Zen yang masih terbatuk. Risa yang menyadari hal itu langsung berdiri hendak menanyakan keadaan pemuda itu. Namun, aku buru-buru mencegahnya dengan berdiri tepat didepan Zen hingga membuatku menutupi tubuhnya.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanyaku berusaha terdengar simpati.
Zen mengangguk samar meski matanya menyorot tajam kearahku.
"Aku tahu kau sengaja," balasnya sengit.
Aku berbisik tepat di telinganya hingga pemuda itu sedikit menegang di tempatnya sementara matanya terbelalak. Lima detik kemudian pemuda itu melirik kearah Risa yang tengah memperlihatkan ekspresi cemas meski gadis itu tidak menyuarakannya tapi aku tahu.
Zen berdiri dari tempat duduknya. "Maaf mengganggu kalian. Aku akan pergi lebih dulu. Ada urusan yang harus kukerjakan." Ujarnya tiba-tiba.
Hal itu membuat Risa spontan berdiri memegang lengan Zen.
"Ada apa?" Tanyanya khawatir.
Zen menggeleng. Ia menatap Risa sejenak sebelum kemudian melirikku yang berada di belakang Risa. "Tidak apa-apa. Aku hanya ... ada sedikit urusan." Balas Zen sembari tersenyum simpul.
Pemuda itu menyingkirkan tangan Risa dari lengannya. Namun, tampaknya, Risa masih enggan melepasnya. Gadis itu semakin mencengkram lengan Zen lebih erat.
"Boleh aku ikut?" Tanya Risa yang membuat Zen kembali menatapku dengan ekspresi raut wajah tak terbaca.
"Maaf. Kali ini aku tidak bisa mengajakmu," tolak Zen sambil menggeleng.
Kali ini aku terdiam. Risa ternyata sangat ingin bersama Zen. Aku sedikit sakit hati, tapi bagaimana pun aku tidak ingin bertengkar dengan Risa seperti waktu itu.
Zen kemudian pergi meninggalkan rumahku. Kulihat ekspresi ceria Risa berubah menjadi ekspresi sedih. Segitu pentingkah dia?. Kau menarik tanganya.
"Bagaimana kalau kita menonton anime? "
Tampak gadis itu mengangguk. Ekspresi nya berubah menjadi ceria lagi. Perubahan perasaannya sangat cepat. Sungguh menarik!. Kemudian kami masuk ke kamarku dan menyalakan televisi, lalu duduk di sofa kemudian menonton. Kulihat mata Risa sangat berbinar-binar saat menonton sepertinya dia sangat menyukai serial animasi Jepang ini.
Waktu sudah menjelang sore. Tak terasa kami sudah menonton anime selama berjam-jam lamannya. Ku matikan televisi ku. Disampingku Risa sedang tertidur. Aku tidak tega membangunkannya jadi aku mengambil bantal dan meletakkannya di sebelah Risa. Tiba-tiba Risa membuka matanya.
"Apa aku membangunkanmu? "
Gadis itu hanya menggeleng.
"Jam berapa sekarang?"
Tanya nya. Kemudian beranjak dari sofa.
"Sekarang sudah jam 4 sore, aku antarkan pulang ya? "
Risa hanya mengangguk. Kemudian aku mengantarkan nya dengan berjalan kaki, sebenarnya aku ingin mengantarkan nya dengan sopir ku tapi Risa menolaknya. Risa berkata bahwa rumahnya berada di dekat daerah rumahku.
"Maaf ya, aku tidak sopan saat dirumahmu"
Aku terdiam.
"Tidak papa kok! "
Risa tersenyum kembali. Gadis ini memang lugu sekali!. Kemudian kami sampai di depan rumah Risa. Kulihat orang tuanya sedang menunggunya.
"Aku langsung pulang ya"
Ketika aku akan berbalik dan pergi Risa menarik tanganku.
"Itu.. Kamu... Tidak.. "
Aku menggeleng dan dia melepaskan tanganku kemudian aku pergi. Aku iri kepada Risa, dia memiliki oranng tua yang selalu menunggunya. Sedangkan aku...
Sepertinya Risa tadi ingin mengajakku agar mampir tapi kurasa dia sangat pemalu. Haha.. Gadis ini benar-benar lucu, menarik sekali. Tapi sepertinya Zen adalah orang yang sangat penting baginya.. Cih!. Ada yang mengganjal pikiranku dari tadi tentang Zen. Dia ini pria yang sangat misterius aku jadi penasaran.
Aku pun tiba dirumah. Lalu menuju kekamar dan merebahkan diriku di kasur.
Tringg!
Hpku bergetar.aku pun memeriksa hpku. Ternyata ada pesan dari Risa.
Risa
Terima kasih sudah mengantarku pulang ya.
Alfi
Tentu saja! Tidak masalah.
Aku segera mematikan hpku dan mulai memejamkan mata kemudian tertidur.