Our Love Story

Our Love Story
Berubah



Semua mata tertuju padanya, menatap dengan penuh kekaguman. Hari ini, gadis itu tampil begitu cantik. Seragamnya tertata rapi, rambut cokelatnya tergerai indah dengan make up tipis menghiasi wajah manisnya.


"Pagi Kimy....!!" segerombolan siswa kelas 12 menyapa Kimy saat dia lewat di depan mereka. Gadis itu hanya menanggapi dengan senyuman tipis kemudian berlalu masuk ke dalam kelasnya.


"Pagi guys!!!" seperti biasa, dia selalu menyapa teman sekelasnya dengan semangat. Tapi semua orang hanya diam dengan wajah bingung, bahkan ada yang mengucek mata karena takut salah lihat.


"OMO.... ITU SI BASKOM?!. KOK CAKEP!!" seru Vero dengan heboh. Dia menunjuk Kimy dengan mata melotot, persis seperti profokator demo di kantor kelurahan.


"Apaan sih lo, gak jelas!!. Ini gue lah, siapa lagi" sahut Kimy sambil memutar bola matanya malas. Enggan menanggapi tatapan bingung semua orang, gadis itu memilih berjalan lurus menuju tempat duduknya. Rachel belum datang, dia lalu melirik tempat duduk Kai. Cowok itu juga belum datang, terlihat dari kursinya yang masih kosong.


"Lo kesambet mimi peri dimana, tumben dandan?" tanya Gabriel sambil menghadapkan tubuhnya ke belakang, begitu juga dengan Elsa.


"Emang gak boleh?. Gue juga pengen tampil cantik kali" sahut Kimy.


"Pengen tampil cantik apa pengen PDKT....? Sama siapa nihh, Satya apa Rai?" goda Elsa sambil menaik-turunkan alisnya.


"Apaan sih, ngapain coba bawa-bawa mereka. Gak penting!!" kilah Kimy gelagapan. Mata Gabriel memicing, melihat gelagat mencurigakan dari sikap teman masa kecilnya. Apa lagi saat melihat Kimy salah tingkah, kecurigaannya semakin meningkat.


"PAGIII EVERYBABIII" Kairen berteriak dari arah pintu, mengabaikan teman sekelasnya yang hampir kena serangan jantung. Cowok itu berjalan tanpa dosa sembari menggandeng Rachel di sisi kirinya.


"ANJING BANGET NIH ANAK!!. PENGEN GUE ULENIN JADI BAKSO!!" desis Vero jengkel. Dia kaget, padahal dia yang biasanya ngaget-ngagetin.


"Kalian berdua memang spesies yang patut untuk di musnahkan!!" ucap Noval.


"Spek idamannya Malaikat Izrail" tambah Satya.


"Astaghfirullah, bertobatlah kalian wahai manusia. Sesungguhnya menghardik orang ganteng adalah perbuatan yang tidak terpuji" Kai mengcosplay jadi ulama di pagi hari. Berbekalkan wajah sok melas dengan tampang sok bijak, cowok itu memulai khotbahnya di pagi hari.


"ALAHH BACHOTT" sorak teman sekelasnya yang membuat Kai terkekeh. Bikin orang kesel memang bakatnya dari lahir. Bapaknya aja sampek tobat saat dia umur 5 tahun.


Kai kemudian berjalan menuju kursinya, Rachel dengan setia membuntuti.


"Belajar yang bener ya cantik, calon ibu dari anak-anak gue harus pinter" ucap Kai sembari mengacak gemas rambut Rachel yang terurai.


"Gak usah gombal deh, ini masih pagi" rengek Rachel seraya merapikan rambutnya.


"Biar semangat" sahut Kai yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Rachel. Dia duduk di sebelah Noval, sedangkan Rachel duduk di samping Kimy. Gadis itu mengamati interaksi mereka. Dia tidak suka, jelas. Tapi ketidaksukaannya itu hanya bisa dia pendam, dia tau posisinya seperti apa.


"Wihh Neng Kikim, tumben cakep" ucap Kai sambil tertawa kecil.


"Anjirrr, gak menghargai usaha gue banget lo!!" desis Kimy, sedangkan yang disindir hanya tertawa. Tanpa diduga, Kai bangkit dari duduknya lalu berdiri di samping Kimy. Tangan kanannya bertumpu pada meja, sedangkan tangan kirinya berpegang pada sandaran kursi Kimy hingga gadis itu berada tepat di depan dadanya.


"Gak perlu dandan, lo cantik apa adanya" ucap Kai sambil tersenyum. Senyuman yang begitu manis hingga Kimy terpaku beberapa saat. Gadis itu tertegun, salahkah dia mengagumi sesosok orang yang dulu hanya dia anggap sebatas sahabat?. Apakah salah kalau hatinya egois menginginkan senyuman dari seorang Kai hanya untuknya?.


"Gue tau gue ganteng, tapi gak usah segitunya kali ngeliatinnya iler lo netes" ledek Kai sambil tertawa kecil. Kimy mengalihkan pandangan, salting. Dia udah kayak maling yang ketangkep basar nyolong daleman tetangga.


"Dih kepedean!!" cibirnya.


"Tapi beneran deh, lo gak usah dandan juga cantik" Kai mengulangi ucapannya.


"Jadi kalo gue dandan gak cantik, gitu?" sahut Kimy agak kesal. Padahal dia udah PD dengan penampilannya, tapi kenapa manusia kodok yang satu ini malah membuat pikirannya kacau.


"Lo cantik, tapi gue suka lo yang apa adanya. Gak perlu ngerubah apapun, lo cantik di mata orang yang tepat"


"Tapi, gue suka rambut lo" bisiknya kemudian.


**********


"Gampang lah, Ma. Aku masih mau healing sambil ngehabisin duitnya Papa. Kan si Bang Kai udah ngegantiin, lagian tiap bulan dia aku gaji 20 juta. Fair dong"


Saat itu Kenzi cuma bisa mengangguk. Toh dia juga bingung mau ngehabisin duitnya buat apa saking banyaknya. Bahkan pas malem tahun baru, mereka bikin petasan dari duit.


Dering telfon masuk membuat aktifitas santai cowok dengan rambut hitam pekat itu terganggu. Tertera nama Willy disana, buru-buru dia mengangkat.


"Napa?"


"Boss, basecamp dibakar!!"


Mendengar itu Raizel spontan berdiri. Panik gak???? Panikk gakkk??. Panik lah masak enggak!!


"Bngsattt, dimana lo sekarang?!" tanyanya dengan nada marah.


"Gue sama yang lain ada di depan basecamp"


"Gue kesana!!"


Dia mematikan panggilan sepihak. Cowok itu mengusap wajahnya kasar. Matanya melirik kearah jam, hendak menghubungi Kairen tapi dia tau ini pasti jam pelajaran sehingga dia mengurungkan niatnya.


Rumahnya kali ini sepi. Reyhan dan Kenzi keluar karena mengurus bisnis mereka, sedangkan para pembantu sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing.


"Mah, Rai izin kabur" gumamnya seorang diri sambil terkekeh kecil.


*********


Raixel menghentikan mobilnya di depan segerombolan pemuda yang sedang berkumpul di depan bangunan yang terbakar. Berkat menyogok satpam rumah dengan embel-embel uang 2 juta, dia berhasil keluar dari rumah dengan membawa mobil sport merah kesayangannya yang sudah berbulan-bulan nganggur di garasi.


"Kenapa bisa kebakar?" tanyanya to the point.


"Gue juga gak tau Bos. Tadi pas gue sama anak-anak dateng basecamp udah kek gini. Padahal subuh pas kita tinggal masih baik-baik aja" jelas Willy


"Kalian gak tau siapa pelakunya?" tanyanya lagi dengan wajah penuh selidik.


"Gak ada jejak apapun, tapi Beno lagi nyelidikin semuanya"


Raizel hanya diam. Matanya fokus menatap bangunan yang terbakar di bagian depan dan samping. Rahangnya


"Tadi kita nemuin ini Bos" seorang anggota bernama Tio menyerahkan selembar kertas, Raizel menerimanya. Cowok itu mengamati kertas lusuh di tangannya dengan wajah bingung.


"Surat apaan nih, surat cinta?" tanyanya dengan wajah mengejek.


"Surat ancaman"


Sedetik kemudian mimik wajah Raizel berubah. Wajahnya berubah serius dengan sorot mata tak bisa dideskripsikan.


Jangan anggap ini sebagai akhir


Kejutan masih menunggu


Siapin aja mental lo untuk menghadapi kehancuran


"****!!!"


Like, coment nya dong sayanggg:>