
Hari-hari berlalu sejak kejadian malam itu. Kimy benar-benar memikirkan omongan Agatha dan juga saran dari Dokter Cakra. Gadis itu mencoba mengulang, mengingat kejadian-kejadian di masa lalu saat dia masih di kelilingi kebahagiaan. Disaat dia masih memiliki orang-orang baik untuk menjadi tempatnya bersandar di tengah kejamnya kedewasaan. Bayangan wajah orang-orang itu terus berputar di otak Kimy. Mamanya, Papanya, Teman-temannya, Satya, dan yang lebih utama, Kairen. Yaa, cowok itu adalah alasan utamanya untuk bertahan. Setidaknya kalau dia hidup lebih lama, dia bisa melihat Kai bahagia kelak. Dengan siapapun pilihannya nanti.
Sore itu, Kimy benar-benar menemui orang tuanya di sebuah Cafe. Dia akan bicara tentang semuanya sore ini. Bagaimana pun hasilnya nanti Agatha benar, orang tuanya harus tau.
Kimy menunggu di salah satu meja. Cukup lama dia menunggu sendirian, sampai akhirnya seorang perempuan dengan topi dan masker yang menutupi matanya datang. Dia adalah Cindy, Ibu Kimy yang kini sudah sukses menjadi penyanyi terkenal. Kepopulerannya membuat dia tidak bisa bergerak bebas, menjaga image sana-sini agar kepopulerannya tidak redup hanya karena skandal murahan. Banyaknya panggilan untuk perform membuat Cindy super sibuk, bahkan untuk menanyakan kabar Kimy seminggu sekali pun dia tidak sempat.
"Aduh maaf ya Sayang, Mama tadi masih ada acara. Kamu nunggu lama ya?" Cindy bertanya lembut sembari memegang tangan Kimy yang terletak di atas meja.
"Kimy juga baru dateng" sahut Kimy sembari memaksakan senyuman. Bohong, itu jelas. Padahal dia sudah datang sejak 2 jam yang lalu hanya untuk menunggu orang tuanya datang. Tapi tidak apa-apa, toh dia sudah sering diabaikan dan di nomer duakan oleh orang tuanya cuma untuk pekerjaan.
Setelah itu, pintu Cafe kembali terbuka karena masuknya seorang pria berwibawa dengan setelan jas rapi yang membalut tubuhnya. Bagas melangkah lebar, aura tegas dari pria itu menguar di setiap langkah kakinya berpijak.
Saat Bagas sudah duduk di meja yang Kimy pesan, aura kecanggungan tiba-tiba tercipta diantara mereka bertiga. Bagaimana tidak, sudah bertahun-tahun lamanya mereka tidak duduk satu meja seperti ini. Bahkan Kimy lupa kapan dia terakhir kali menghabiskan waktu bersama orang tuanya.
"Ternyata setelah berpisah, kamu sekarang jauh beda" celetuk Bagas tiba-tiba yang membuat Cindy spontan mendongakkan kepalanya.
"Maksud kamu?" tanya perempuan itu dengan bingung.
Bagas tersenyum miring. Dia meletakkan kaki kanannya di atas kaki kiri sembari menatap Cindy dengan tatapan angkuh. Tatapan yang sama seperti yang perempuan itu ketahui 3 tahun yang lalu.
"Penampilan kamu. Makin kesini aku lihat penampilan kamu semakin mirip perempuan sewaan" celanya dengan sarkas.
Cindy membuang muka sambil mengepalkan kedua tangannya. Hari ini dia memang pakaian yang lumayan minim, tapi tidak sepantasnya pria itu menyelanyanya di depan anaknya sendiri.
"Memangnya urusan dengan anda apa, Tuan Bagas yang terhormat?. Kita udah pisah, kita udah bukan suami istri lagi. Jadi mau bagaimana pun penampilan saya, itu hak saya. Bukan urusan anda" Cindy menjawab dengan berani. Menantang pria di depannya dengan bola mata tajam yang dia miliki.
"Memang tidak ada urusannya dengan saya, tapi penampilan kamu itu membuat mata saya sakit. Ternyata benar ya, selain istri yang pembangkang kamu juga orang yang tidak bisa mendengarkan pendapat orang lain" Bagas semakin gencar menjatuhkan Cindy, tidak peduli dengan adanya Kimy yang sedang menatap mereka sendu.
Cindy tertawa sumbang. Pembangkang katanya?. Tidak bisakah Bagas meraba kesalahannya juga tanpa harus mencerca kesalahan orang lain?.
"Saya memang pembangkang, kenapa?. Karena saya tidak tahan dengan sikap kamu!. Saya yakin perempuan mana pun itu pasti gak akan bisa bertahan hidup dengan laki-laki egois dan diktaktor seperti kamu!!"
"Tutup mulut kamu!!"
Brakk
"CUKUP!!!" Kimy menggebrak meja sembari berseru kencang hingga membuat suasana berubah hening dengan Bagas dan Cindy yang terdiam seketika. Gadis itu menangis keras sembari menutup kedua telinganya. Tidak bisakah orang tuanya mengerti apa yang dia rasakan?. Padahal niat hati dia mengajak mereka bertemu untuk membicarakan semuanya, tentang hidupnya, sakitnya, dan impiannya. Tapi apa yang dia dapat, orang tuanya tidak pernah mengerti.
"Cukup, udah!!" Kimy menjeda, "Papa sama Mama bisa gak sihhh, sekaliiii aja ngertiin perasaan aku!!. Disini ada aku loh Pah, Mah!!. Kalian sama-sama egois, kalian cuma mikirin diri kalian sendiri tanpa mau mikirin aku, gimana perasaan aku, keadaan aku. Pernah kah kalian peduli?, gak!!!. Kalian gak pernah peduli. Bahkan kalo aku mati pun kalian juga gak bakal peduli!!" nafas Kimy memburu hebat. Dadanya sesak, tapi emosinya masih membendung memberontak meminta untuk di keluarkan.
"Aku sakit Pah, Mah!!. Apa kalian tau susahnya aku ngelawan penyakit sialann ini sendirian?. Aku minta kalian dateng itu bukan buat berantem, bukan!!. Aku gak butuh uang Papa sama Mama, aku gak butuh titel kalo aku anak pengacara atau penyanyi, aku gak butuh itu!!. Kamu cuma butuh kasih sayang, udah itu aja. Kenapa sih, bahu Papa sama Mama sangat jauh buat jadii tempat aku bersandar?"
Cindy dan Bagas terpaku, mereka tidak bisa menyangkal. Melihat putrinya sendiri terluka karena sikap mereka membuat sesuatu di hati dua orang itu ikut tergores.
"Kim..." Bagas meraih tangan Kimy, tapi gadis itu menepisnya. Dia berdiri sambil meneteng tas yang tadi dia bawa.
"Makasih Papa sama Mama udah sudi dateng buat nemuin anak gak penting kayak aku. Sekarang aku tau, aku emang gak pernah ada artinya buat kalian"
Kimy melipir pergi, membawa sejuta luka dan sakit hati di dalam dirinya. Dia berjalan cepat tanpa mau menengok ke belakang tepat kearah orang tuanya memanggil namanya. Kimy menulikan pendengaran, gadis itu menangis sepanjang perjalanan. Kenapa dunia begitu kejam?. Kenapa semua orang seakan memupuskan harapan yang dia punya?.
Kimy berjalan gontai, tubuhnya terasa sangat berat dan dadanya terasa sesak. Kepalanya mulai berputar, bertepatan dengan itu dia mimisan lagi. Kimy hanya mengelapnya menggunakan tangan tapi darah itu tidak mau berhenti. Kepala Kimy semakin pusing sampai membuatnya tidak fokus saat menyebrang jalan. Dari arah selatan sebuah lampu menyilaukan matanya, gadis itu terkejut bukan maun saat melihat ada sebuah mobil melaju kencang kearahnya.
Bunyi ban yang bergesekan drngan aspal sangat memekakkan telinga. Mobil itu mengerem mendadak. Hampir, hampir saja Kimy tertabrak andai mobil itu tidak cepat mengerem. Gadis itu mematung di tempat, tatapannya kosong, jiwanya seakan melayang kemana-mana. Tubuh Kimy sontak ambruk di trotoar, mengundang orang yang ada di dalam mobil keluar untuk menemuinya.
"KIMY?!" Raizel dan Kairen yang kebetulan mengendarai mobil iitu langsung panik menghampiri Kimy.
"Kai, Kai, buruan lo angkat Kimy ke belakang!!" Raizel terlihat sangat panik, membuat Kai ikut panik dibuatnya. Tanpa menunggu aba-aba Kai langsung mengangkat tubuh Kiny ke kursi belakang bersama dirinya sedangkan Raizel menyetir di depan.
Kai ikut diterjang kepanikan saat Kimy tidak mau bangun, ditambah lagi hidung gadis itu mengeluarkan darah tanpa henti. Wajah Raizel bahkan sudah pucat pasi, dia mengendarai mobil secepat yang dia bisa. Melihat saudaranya sepanik itu membuat Kai bertanya, apa yang terjadi pada Kimy?. Tapi saat dua bertanya pada Raizel cowok itu tidak menjawab dan hanya menyuruhnya untuk menyumbat hidung Kimy menggunakan tissue.
Mobil mereka sampai di Rumah Sakit. Kairen, Raizel, dan beberapa perawat mendorong brankar Kimy menuju sebuah ruang rawat yang sepertinya memang milik gadis itu.
Kimy langsung ditangani oleh dokter dan beberapa perawat. Kairen dapat melihat betapa seriusnya tim medis menangani Kimy di dalam sana, terlihat dari banyaknya alat dan kegiatan mereka yang terpantau dari kaca yang transparan.
Raizel mondar mandir di depan kamar rawat Kimy, dia terlihat sangat panik bagaimana pun dia orang pertama yang tau kondisi gadis itu. Selang satu jam seorang Dokter Cakra keluar dari ruangan. Membuat Kairen dan Raizel spontan menghampirinya. Jangan tanyakan kenapa dokter itu tidak kaget melihat Kai. Karena pada dasarnya dia adalah salah satu sahabat Reyhan sehingga dia sudah tau ini semua.
"Kankernya semakin menyebar, ini sudah masuk komplikasi. Kita harus segera melakukan tindakan tapi Kimy menolak menjalani kemo"
Kanker?
Kemo?
Otak Kai berputar keras memikirkan maksud dari perkataan dokter itu. Kai kemudian menatap Raizel, bertanya pada cowok itu lewat sorot mata yang dia tujukan.
"Maksudnya ini semua apa?!" tanya Kai dengan tatapan mengintimidasi.
Raizel mendesah panjang, mungkin memang sudah saatnya Kai tau.
"Sebenernya Kimy gak mau lo tau, tapi sekarang lo tau karna ketidaksengajaan. Kimy sakit, leukemia stadium 4 dan udah akut. Terus kata Dokter Cakra tadi dia udah komplikasi"
Tolong siapapun, bilang pada Kai kalau ini tidak benar. Rasanya dia tidak mau percaya kalau sosok Kimy yang ceria menyembunyikan luka separah ini.
.
.
.
Malam harinya Kai masuk ke dalam ruang rawat Kimy. Gadis itu sedang menatap langit-langit kamar dibantu dengan selang oksigen yang terdapat di hidungnya.
Kai terduam di ambang pintu sambil menatap Kimy dalam, melihat itu Kimy memalingkan wajahnya.
"Jangan natap gue kayak gitu, gue gak suka dikasihanin" ucap Kimy tanpa mau menatap Kai.
"Jadi apa alesan lo gak mau jujur sama gue?"
Peluk onlen buat KimyðŸ˜
Like, and Komen kuyyyy