
Raizel menatap senang kearah sekotak makanan yang dikirimkan Agatha untuknya. Sebuah salad buah yang dibuat oleh gadis itu sendiri khusus untuk dirinya. Sebuah note terselip di sisi kotak itu. Raizel memgambilnya, membaca note tersebut sambil sesekali tersenyum saat melihat perhatian yang Agatha berikan kepadanya tanpa sadar.
"Wihhh, apaan nih" Kairen yang baru turun dari tangga langsung menyambar kotak makanan yang diberikan Agatha tanpa permisi. Cowok itu membuka tutupnya, membuat Raizel berdecak dengan kesal.
"Itu punya gue bangsatt!!" Raizel merebut kotak itu, mengamankannya dari tangan iblis Kai yang suka buka-bukaan.
"Akhh elahh, pelit amat sih lo!!" desis Kai dengan kesal.
"Emang dari siapa sih?" tangan jahil Kai tidak berhenti disitu. Cowok itu beralih melihat note yang ditinggalkan Raizel di atas meja. Dia membacanya sebelum akhirnya tertawa geli setelah melihat note dari Agatha yang menurutnya alay.
"Yaelahhh, dari si Batu Bata ternyata" sorak Kai dengan nada meledek. Raizel mendengus kesal, salah memang dia membuka kotak itu di Ruang Keluarga. Karena disini pastinya ada saudara kembarnya yang tingkahnya mirip penghuni ragunan.
"Namanya Agatha Pea!!" sahut Rai dengan nada ngegas. Emak Bapaknya udah ngasih nama beken 'Agatha' tapi sama anak kodok malah diplesetin jadi batu bata.
"Ciee, kamprett sekarang lagi poling in lop sama Batu Bata. Si kamprett udah gede ternyata" Kai masih gencar-gencarnya meledek. Soal masalah begini, dia memang jagonya. Guru SD nya bahkan dulu langsung minta pensiun di umurnya yang baru 30 tahun karena menghadapi sikap Kai dan Rai yang warbyasahh.
"Diem lo anak kodok!!"
Kai terkekeh melihat wajah kesal adiknya. Cowok itu menepuk bahu Raizel beberapa kali tanpa merubah ekspresi tengil andalannya.
"Gini ya Prett, lo kan masih bocil, kagak boleh pacaran dulu!!. Mending si Agatha buat gue" ucap Kai enteng tanpa beban.
"Ora sudi!!. Si Agatha palingan juga kagak doyan sama buaya lusonan kek elo!!" hardik Raizel sembari memakan salad buah dari Agatha. Satu suapan masuk ke mulutnya, cowok itu menggumam saat merasakan rasa asam dan manis dari buah dan topping pelengkap.
"Yaudah, dibilangan nggak percaya. Yang jelas, jangan terlalu berlebihan kalo cinta sama orang. Sewajarnya aja, karena semua orang pasti bakal jadi bangsatt pada waktunya!!"
Setelah mengucapkan itu, Kairen beringsut pergi seraya meneteng tas di pundaknya. Seragamnya awut-awutan, dasi yang hanya disampirkan dan juga sepatu yang berwarna putih. Cowok itu benar-benar menantang guru penunggu ruang BK.
**************
Jam menunjukkan pukul 07.28, itu artinya dua menit lagi jam masuk sekolah dan seorang pemuda bernama Kairen baru memasuki ruang kelasnya.
Dia berjalan kearah mejanya yang terletak di ujung, bersebelahan dengan meja Kimy dan Rachel.
"Ehh manusia baskom udah masuk!!. Gue kira elo koid kemaren" celetuk Kairen yang langsung dihadiahi lemparan buku paket oleh Kimy yang untungnya bisa dia tangkap dengan sempurna. Kalau tidak, hidung mancungnya bisa patah karena buku itu memiliki sekitar 300 halaman.
"Sekate-kate banget bacot lo kalo ngomong!!. Udah kagak ngejenguk, gue masuk malah dikira koid!!" mulut Kimy mengomel dengan lihainya. Matanya menatap sinis kearah Kai yang sedang ngupil-ngupil asoy untuk mengawali hari di dunia tipu-tipu.
"Jadi lo nungguin gue ngejenguk nih ceritanya?" tanya Kai setelah berhasil mendapatkan satu harta karun. Dia menyentil si upil dari kukunya. Upil itu terbang, dan tak sengaja hinggap di dahi Faizal hingga membuat cowok itu mengibaskan upil di dahinya dengan jijik.
"Bong, upil lo terbang kemana-mana anjeng!!" umpatnya dengan kesal.
Kairen mengibaskan tangannya acuh. Cowok itu kembali ngupil, sibuk mencari harta karun kedua di dua sumurnya.
"Ya kagak lah!!. Ngapain juga gue ngarepin lo jenguk!!. Lagian lo juga nggak peduli kan sama gue" sahut Kimy tanpa mau menatap kearah Kai yang duduk di bangku sampingnya. Dia lebih memilih menatap punggung Gabriel, seakan punggung gadis itu lebih menarik dari apapun.
"Gue peduli sama lo" tukas Kairen seraya menatap serius kearah Kimy. Gadis itu menoleh, menatap kearah Kai sembari menaikkan sebelah alisnya. Tak hanya Kimy, Rachel, Gabriel dan Elsa pun kompak menoleh setelah mendengar apa yang barusan dia katakan.
"Sayangnya, gue nggak percaya" ucap Kimy. Dia kemudian berdiri, berjalan meninggalkan kelas hingga membuat semua orang menatap kearahnya penuh tanya.
"Si Kimy kenapa?, tumben sensi banget?" tanya Vero dengan bingung.
Kai mengendikkan bahunya acuh.
"Tau tuh, dia kan emang begitu. Bar-bar. Nggak kayak Rachel, kalem, anteng, kan sedep ngeliatnya" ucap Kai dengan mata yang menatap kepada Rachel yang sedang tersenyum kearahnya. Sangat manis, dan Kai suka itu.
**************
Jam istirahat Kimy lalui dengan ogah-ogahan. Rasa malas melingkupi hatinya apalagi kini dia tidak ada teman sefrekuensi yang bisa diajak nongki.
"Sendirian aja Neng?" godaan dari seseorang membuat Kimy membalikkan badannya. Gadis itu sedikit terjingkat saat ternyata Satya sudah berdiri di belakangnya. Melihat ekspresi kaget yang Kimy tunjukkan, Satya terkekeh kecil sebelum akhirnya mengusap pucuk kepala Kimy berulang kali.
"Lo kenapa?, masih siang muka udah ditekuk. Imutnya nanti ilang loh" ucap Satya menggoda.
Kimy terkekeh, tangan kanannya menampol ringan pipi cowok itu.
"Lo nggak cocok ngegombal. Garing tau nggak?!"
"Gue emang nggak bakat sih. Maklum lah, pacaran aja cuma sekali. Diselingkuhin pula" Satya mengakui, dia memang tidak sepintar Kai kalau soal mendekati petemoya. Berpacaran pun dia hanya pernah sekali, itu pun harus berujung pengkhianatan karena mantannya dulu menganggap kalo dia adalah cowok yang paling nggak peka.
"Dih, malah curhat!!" hardik Kimy sambip geleng-geleng kepala. Muka doang ganteng, deketin cewek enggak bisa. Lemah!!.
Mata bulat milik Kimy tidak sengaja menatap kearah Kai dan Rachel yang tengah lari-larian di lapangan. Kai mengambil dasi Rachel sehingga membuat gadis itu mengejarnya. Mereka tertawa bersama dengan riang. Kai mengacak rambut panjang Rachel saat gadis itu berhasil mendapatkan dasinya. Mereka kemudian berjalan beriringan menuju kantin dengan sesekali Kai merangkul bahu Rachel tanpa sungkan. Cowok itu terlihat sangat senang saat ada Rachel di sampingnya.
Kimy mengamati itu semua. Melihat Kai dekat dengan orang lain, kenapa terasa sakit?, kenapa hatinya tidak rela?. Posisinya tergantikan begitu saja oleh orang lain. Dia yang dulu menjadi orang yang paling dekat dengan Kai, sekarang terlihat hanya seperti angin lalu. Kai yang dulu selalu tertawa bersamanya, selalu ada untuknya, dan selalu menghiburnya kini semua dia berikan kepada orang lain. Orang yang baru datang kemarin, dan merubah semuanya.
"Kenapa gue harus ngerasa kayak gini sih?" decak Kimy dalam hati.
Satya melihat Kimy yang terus memperhatikan interaksi Kai dan Rachel. Pemuda itu menghela nafas panjang sebelum akhirnya merangkul bahu Kimy.
"Daripada ngeliatin orang yang nggak penting, gimana kalo lo ikut gue aja?"
Kimy mendongak menatap Satya dengan bingung.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Kita bolos"
Mata Kimy melebar. Biasanya cowok kan ngajak ngedate, lah ini ngajak bolos.
"Hah, lo gila ya?!"
Tanpa menunggu persetujuan dari Kimy, Satya langsung menggandeng tangan gadis itu ke pintu rahasia yang terletak di belakang gudang. Tidak banyak yang tau pintu itu, mungkin hanya Kairen dkk yang mengetahuinya.
Dan disinilah mereka sekarang, berboncengan di atas motor matic yang disewa Satya dari seorang ojek. Di bawah teriknya sinar matahari, Kimy dan Satya tetap tertawa bersama seolah tidak ada beban.
"Oh ya, di depan sana katanya ada bazar. Lo mau liat nggak?" tanya Satya dengan suara yang agak keras karena grasak-grusuk suara angin.
"Gue mauuu, kesana yukkk. Pasti seru deh" sahut Kimy antusias.
Satya tersenyum lebar. Di mengarahkan motornya ke sebuah tanah lapang yang terdapat sebuah bazar dan juga beberapa wahana bermain.
Tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tempat itu. Satya memarkirkan motornya. Setelah selesai membayar, dia menghampiri Kimy yang sudah menunggu di depan area bazar.
"Ayo!"
Kimy menoleh mendapati Satya yang sudah datang. Dia mengangguk diiringi senyuman. Mereka kemudian berjalan beriringan memasuki area bazar. Mencoba beberapa wahana dan juga jajanan receh yang ada disana.
Banyaknya pengunjung yang datang membuat mereka harus berdesak-desakan. Tanpa sadar, Satya menggandeng tangan Kimy saat mereka harus membelah kerumunan. Kimy menatap tangannya yang digandeng oleh Satya sebelum akhirnya dia tersenyum menatap punggung pemuda itu. Dia bahagia.
"Sat, mau sosis" Kimy menunjuk kearah sebuah penjual sosis bakar. Satya melihat penjualnya. Pembelinya ramai, pasti butuh waktu lama untuk antri. Tapi melihat wajah Kimy yang terlihat sangat ingin, dia pun menyanggupi dan rela berdesak-desakan untuk gadis itu.
"Yaudah, gue beliin dulu. Lo disini ya, jangan kemana-mana!!"
Kimy mengangguk mengerti seperti anak kecil. Satya pergi untuk antri, dan Kimy pun memilih untuk duduk di kursi sembari menunggu pemuda itu datang.
Satya menerobos kerumunan untuk menuruti permintaan seseorang yang menurutnya spesial. Matanya melihat kearah Kimy yang duduk anteng seperti balita. Pemuda itu tersenyum, hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.
"Bang, punya saya duluin ya. Nanti saya bayar 5 kali lipat"
"Oke mas, lima kali lipat ya?"
"Iyaa. Tapi saya tinggal dulu bentar, punya saya kalo udah jadi sisihin dulu. Nanti saya ambil"
Setelah berhasil bernegosiasi dengan Abang-abang penjual sosis, Satya melipir pergi ke suatu tempat untuk mengambil sesuatu khusus untuk sosok gadis bernama Kimyora.
*************
30 menit sudah Kimy menunggu, tapi Satya tak kunjung kembali. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, hingga matanya menangkap sosok yang dia kenali berjalan mendekat dengan keringat yang membasahi tubuhnya.
"Sorry ya Kim, gue kelamaan ya?" tanya Satya seraya mendudukkan dirinya di samping Kimy.
"Oh ya, nih sosis pesenan lo"
Kimy menerima sosis dari Satya dengan senang hati.
"Nggak kok. Harusnya gue yang minta maaf karena udah nyusahin lo" sahut Kimy sambil tersenyum.
"Lo nggak pernah nyusahin gue kali. Gue malah seneng banget kalo bisa bikin lo bahagia" Satya berucap dengan tulus. Dia kemudian mengeluarkan sebuah boneka panda dari balik tubuhnya.
"Buat lo" ucapnya seraya menyerahkan boneka itu pada Kimy. Gadis itu menerimanya dengan wajah bingung tapi bahagia.
"Ini lucu banget" puji Kimy
"Boneka yang lucu, buat seorang cewek yang spesial"
Kimy menatap Satya yang juga sedang menatapnya penuh rasa. Dia tau Satya tulus, dan dia bahagia bisa memiliki seorang pemuda sebaik Satya disisinya.
"Gue mau kasih nama boneka ini, Kia. Gimana, lo setuju nggak?" tanya Kimy yang langsung dibalas anggukan oleh Satya.
"Makasih ya, lo udah bikin gue bahagia hari ini"
Kai or Rai
Rachel
Satya
**Kimy visualnya aku ganti ya guys, bagi yang punya rekomendasi visual bisa list di kolom komentar yaa. Untuk new visualnya bakal aku tunjukin di part selanjutnya yaaa.
Jangan lupa tinggalkan jejak, happy reading**:)