
Siang itu Raizel mengantar Agatha ke toko buku yang sudah lama ingin gadis itu datangi. Sebenarnya Raizel paling malas berada di tempat yang dipenuhi oleh buku-buku tebal dan kesunyian itu, tapi demi Agatha dia rela membuang jauh-jauh rasa malasnya untuk mendapat simpati dari seorang gadis yang beberapa bulan ini mengisi hatinya.
"Lo nyari buku apaan sih?" tanya Raizel dengan nada rendah, berusaha bersikap tegar dan sabar meskipun rasa dongkol sudah mulai menggerogoti hatinya. Bagaimana tidak, sudah hampir 1 jam Agatha cuma berjalan dari satu rak ke rak yang lain tanpa jelas mau mengambil buku yang mana.
"Kenapa?, lo capek?. Kalo capek pulang duluan aja lagian gue gak nyuruh lo buat anterin plus nungguin gue disini" Raizel sontak menggeleng keras saat melihat wajah Agatha yang mulai tidak bersahabat.
"Gak kok, gue gak capek sama sekali. Mau nungguin lo milih buku di semua toko buku sekota juga gue masih sanggup" sahut Raizel sembari menebar senyum malaikat miliknya. Agatha cuma mengendikkan bahunya acuh, gadis itu melanjutkan langkahnya menyusuri rak buku untuk menemukan buku yang dia inginkan.
Sekarang ini mereka sudah duduk berdua di sebuah bangku panjang yang terletak di depan toko buku. Agatha fokus membaca buku tentang antropologi dengan bekal segelas jus mangga di depannya. Selain menyukai sains, dia juga menyukai antropologi. Materi itu sangat menarik untuknya apalagi saat mempelajari asal-asul manusia dan budaya yang tersebar di dunia saat ini.
"Lo tau gak alesan gue suka sama lo?" Agatha sontak menoleh saat Raizel melontarkan pertanyaan kepadanya. Dia hanya diam, kemudian mengangkat sebelah alis sebagai respon.
"Karena lo beda, lo spesial, dan gue suka sama semua yang ada di diri lo. Lo percaya gak Tha, lo adalah cinta pertama gue" manik mata hitam pekat milik Raizel menatap lurus ke bola mata cokelat cerah milik Agatha. Menguncinya seakan menyiratkan sebuah keseriusan dari apa yang dia katakan.
"Tapi kenapa gue, padahal di luaran sana masih banyak cewek yang lebih segalanya daripada gue. Lebih cantik, lebih kaya, lebih asik. Sedangkan gue, lo tau kan hidup gue itu monoton. Tiap harinya cuma kursus, magang, baca buku, pulang" sahut Agatha setelahnya.
"Karena yang gue mau itu lo, bukan yang lain. Mungkin bener, di luaran sana masih banyak cewek yang lebih segalanya daripada lo. Tapi kalo hati gue maunya Agatha, mereka bisa apa?"
Agatha terdiam.
"Gue masih nungguin lo Ta"
*************
Koridor nampak sepi, tidak ada siswa yang berlalu lalang. Mungkin karena ini mendekati jam pulang sekolah sehingga mereka memilih berdiam diri di kelas untuk menghemat energi sampai nanti pulang.
Rachel berjalan seorang diri dengan tangan yang dipenuhi beberapa buku paket ekonomi yang tebalnya langsung bikin orang istighfar. Cewek itu nampak kesulitan membawa buku yang jumlahnya ada sekitar 15 dan masing-masing memiliki 500 halaman. Bisa dibayangkan seberat apa.
Entah karena terburu-buru atau kurang hati-hati, salah satu buku paket yang dia bawa tiba-tiba terjatuh. Cewek itu menghembuskan nafas panjang mencoba bersabar. Dia sedikit menundukkan badannya untuk mengambil buku itu. Tapi bukannya terambil, semua bukunya malah jatuh berserakan membuat Rachel benar-benar emosi.
"Ya ampunnnn, kamu jadi buku kok ngeselin banget sihhh" geram Rachel seraya memberesi buku-bukunya.
"Butuh bantuan?" cewek itu spontan mendongak kearah seorang laki-laki dengan tubuh menjulang tinggi yang sedang berdiri di depannya.
"Makasih, tapi aku bisa sendiri kok" tolaknya dengan ramah tak lupa senyuman manis yang selalu dia pasang untuk siapapun dan dimana pun.
Tanpa disangka, cowok itu malah berjongkok dan mengambil paksa tumpukan buku yang sudah Rachel susun rapi.
"Gak usah jual mahal deh, gue tau lo butuh bantuan" ucap Bara dengan wajah sok cool.
Rachel tersenyum canggung sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal.
"Makasih ya, Kak" ucap Rachel sopan.
Bara tersenyum tipis. Dia memindahkan buku-buku itu ke tangan kiri kemudian mengulurkan tangan kanannya kepada Rachel.
"Gue Bara"
"Rachel" mereka berjabat tangan agak lama, sampai sebuah tangan melepas jabatan itu dengan paksa hingga membuat keduanya terkejut.
"Ngapain lo deket-deket Rachel?!" sentak Kairen seraya menarik Rachel untuk berdiri di belakangnya. Seolah ingin melindungi gadis itu dari seorang predator ganas.
"Itu tadi Bara cuma mau bantuin aku bawa buku kok, gak ada hal lain"
Mata Kairen menatap Bara yang sedang tersenyum miring melihatnya. Pandangan mata cowok itu kemudian beralih pada tumpukan buku yang dibawa Bara..Dengan gerakan cepat Kairen merebutnya.
"Udah ada gue, dia gak butuh bantuan lo!!" sarkas Kai dengan sinis.
"Dan satu lagi, jangan pernah lo deketin dia!!" lanjutnya setengah berbisik.
Bara mengangkat sebelah alisnya.
"Why?, pacar lo?"
Mendengar pertanyaan itu sontak membuat Kai terdiam, dia tidak bisa menjawab. Melihat keterdiaman Kairen membuat Bara kembali menyunggingkan senyum miringnya.
"Kalo belum jadi pacar, berarti masih boleh dong buat gue?" ucap Bara memancing emosi.
"Btw dia cantik, gue suka"
Senyuman licik milik Bara terpatri semakin lebar saat melihat wajah marah yang Kai tunjukkan. Sebelum cowok itu berhasil meluapkan emosinya, Bara lebih dulu melenggang pergi, membuat Kairen hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Ke kelas yuk" sentuhan tangan Rachel di pundaknya membuat Kairen menoleh. Rasa kesalnya yang tadi sudah diujung mendadak hilang saat melihat senyum manis yang Rachel tunjukkan untuknya.
Kairen mengangguk setuju. Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor sekolah..Sesekali Kai melontarkan guyonan recrh yang membuat Rachel tertawa mendengarnya.
"Nanti pulang bareng gue ya?" ajak Kai disela-sela langkah mereka.
"Tapi Papa aku galak loh" Rachel memperingati, karena sudah banyak teman laki-lakinya yang kap9k setelah bertemu dengan Papanya yang terkenal overprotektif.
"Tenang aja. Calon pacar lo ini udah berpengalaman jinakin camer galak. Gue mah udah profesional" sahut Kairen membanggakan dirinya sendiri.
********
Sore hari Agatha baru selesai belanja bulanan di sebuah supermarket yang ada di sekitar Taman Kota. Dua kantong plastik berukuran besar yang berisi bermacam-macam kebutuhan pokok sudah memenuhi genggaman tangannya. Gadis itu berjalan tertatih menuju mobilnya yang ada di sebrang supermarket.
Agatha membuka pintu belakang dan memasukkan semua belanjaannya disana. Gadis itu bernafas lega, dia kemudian beralih duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin sehingga AC mobil menyala sepenuhnya. Gerakannya untuk menjalankan mobil terhenti saat mata cokelatnya tak sengaja melihat adegan yang begitu memanaskan hati. Disana, tepat di depan sebuah toko kue.
"Kan aku udah bilang gak usah bawa apa-apa, ngerepotin kamu kan jadinya" cebik Rachel dengan kesal saat Kairen tetap kekeuh membelikan kue blackforest untuk keluarganya.
Kaoren mengacak rambut Rachel dengan gemas, dia terkekeh kecil.
"Lo gak pernah ngerepotin gue, cantik. Udah deh santai aja, duit gue gak bakal habis cuma buat beli beginian"
Rachel menghela nafas panjang, percuma juga dia ngambek. Toh kuenya udah terlanjur dibeli.
Kai mengambil helm berwana putih lalu memasangkan helm itu di kepala Rachel dengan hati-hati. Mengaitkan pengaitnya dengan benar agar tidak lepas.
"Makasihh" ucap Rachel setelahnya, dia memang gak bisa memakai helm.
Tak lama kemudian motor ninja itu pergi meninggalkan area Toko kue dengan posisi Rachel yang memeluk pinggang Kairen erat. Semua itu tak luput dari pandangan mata Agatha. Dia mencengkram setir mobilnya dengan kesal.
"Katanya gue cinta pertama lo, tapi sekarang malah jalan sama cewek lain. Cihh, dasar buaya!!!"
*************
Kairen duduk sendirian di ruang tamu ruma Rachel. Rumah minimalis dengan cat putih polos itu nampak elegan meskipun tidak terlalu besar. Rachel sedang ganti baju, sedangkan Mamanya membuatkan minuman sesuai pesanan Kai, Vanilla Latte. Dasar tamu gak tau diri.
Seorang pria paruh baya datang mendekat, membuat Kairen spontan berdiri lalu membungkukkan badannya sejenak.
"Sore Om" sapanya.
Lucky hanya mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia duduk di sofa yang berhadapan dengan Kai, cowok itu pun juga ikut mendudukkan dirinya.
"Temenya Rachel?" tanya Lucky dengan wajah datarnya.
"Iya Om" sahut Kairen sambil menyengir canggung. Asli, dia merasa seperti diintrogasi camer beneran rasanya.
"Nama kamu siapa?"
Sekarang dia bingung, jawabnya Kairen apa Raizel?. Masak iya kenalan sama camer pake nama palsu. Tapi kalo dia jawab jujur nanti Rachel tau kalo dia selama ini sandiwara.
"Rai Om" oke, biarlah dosa ditanggung Kairen seorang diri..Author gak ikut-ikutan.
"Nama panjang?" tanya Lucky lagi.
"Raizel"
Lucky menghela nafas panjang, mencoba sabar.
"Yang lebih panjang"
"Raizelllllllllllll"
Ingin rasanya Lucky melempar wajah pemuda di depannya ini menggunakan vas bunga. Tapi saat menyadari kalo vas bunganya seharga 10 juta, hal itu dia urungkan..Sayang vas bunganya kalo pecah.
"Kamu blasteran?" tanya Lucky penasaran. Pasalnya, bentuk muka Kai seperti ada campur tangan darah luar negri. Bukan murni produk lokal.
"Saya mah asli warga pribumi Om. Yang blasteran itu kakek nenek saya" sahut Kai dengan lempeng.
"Kakek Nenek kamu?"
"Iya Om. Jadi bapaknya kakek saya itu orang Meksiko trus nikah sama ibunya kakek saya yang orang Sumedang. Terus Ibunya Nenek saya itu orang Belanda dan dia dijodohin sama bapaknya nenek saya yang orang Surabaya. Nah pas kuliah, Nenek saya sama Kakek saya itu ketemu di Universitas yang ada di Bandung. Trus mereka nikah deh, dapet anak yaitu si Umi. Kalo Abi mah bapaknya orang Singapur trus Ibunya orang Jakarta" jelas Kai panjang lebar yang membuat Lucky semakin pusing mendengarnya. Seribet itu kah silsilah keluarga Kai?.
"Itu sama aja kamu masih ada darah blasteran" tukas Lucky cepat.
"Saya mah asli Indo Om, yang blasteran itu kakek nenek saya. Aihh si Om mah bikin pusing"
Lucky memijit pelipisnya. Berdebat dengan Kai memang sangat menguras tenaga dan pikiran.
"Dahlah terserah kamu" sahutnya pasrah.
Tak lama Yuna datang dengan membawa dua cangkir vanila latte lalu meletakkannya di meja.
"Makasih tante cantik" ucap Kairen sok manis, Yuna hanya tersenyum menanggapi.
"Tante tamatin, muka kamu kok beda ya. Kamu blasteran?" tanya Yuna penasaran.
Mendengar itu Lucky segera menengalkan punggungnya..Kepalanya masih pusing, jangan ditambah pusing karena mendengar jawaban Kai yang ngalor ngidul.
"Gak usah ditanya. Dia gak bakal ngaku, jawabannya malah bikin saya mau gantung diri"