
Jarum jam berputar sesuai porosnya, detik demi detik berlalu tanpa dirasa. Peristiwa demi peristiwa terjadi, susah, sedih, senang, seakan mempermainkan perasaan manusia. Hari ini tertawa, besok menangis. Detik ini bahagia, detik selanjutnya terluka. Semua berlalu mengikuti arus kehidupan, tanpa bisa dikendalikan oleh tangan dan mata.
Sore itu, Kimy duduk di kasur kosannya sembari memangku gitar. Memetik senar-senar alat musik itu dengan teratur hingga menciptakan irama yang merdu. Di tengah langit sore yang kemerahan, gadis itu bernyanyi lirih. Mengutarakan isi hatinya lewat bait-bait syair yang bernada.
"Cinta itu buta dan tuli
Tak melihat tak mendengar
Namun datangnya dari hati, tidak bisa dipungkiri
Itu benar, memang benar.
Cinta itu ruang dan waktu
Tak sekejap harus mau
Cinta butuh ruang yang sepi
Tuk mengutarakan hati
Kamu, aku, bincang-bincang.
Mau bilang cinta tapi takut salah
Bilang tidak ya, bilang tidak yaa
Mau bilang sayang tapi bukan pacar.....
Tembak tidak ya, tembak tidak ya"
Suara nyanyian Kimy terganti saat dering ponselnya berbunyi. Gadis itu mengambil ponselnya, dia terdiam sejenak saat melihat siapa yang menelfon. Seseorang yang sudah satu bulan ini tidak dia hubungi. Seseorang yang menjadi orang paling berarti di dalam hidupnya, Mama.
Kimy menggeser ikon hijau, lalu menempelkan benda pipih itu di telinga kanan.
"Hallo?"
***********
Kaki jenjang itu melangkah memasuki sebuah studio music yang masih ramai meskipun ini sudah malam hari. Berbalutkan celana hitam panjang dan kemeja kotak-kotak tak lupa rambut yang dikuncir biasa, gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, mencari sesosok orang yang sudah lama tidak dia temui.
"Kim...!!" sebuah panggilan membuat gadis bernama Kimyora itu menoleh. Terlihat seorang wanita parus baya berbalutkan dress hitam sebatas lutut melambaikan tangan kearahnya.
Kimy terdiam sejenak. Mengumpulkan niat dan kepercayaan diri. Meski sedikit ragu, dia tetap berjalan mendekat kearah perempuan yang sedang tersenyum lebar. Melihat Kimy mendekat, Cindy juga mendekat. Memeluk tubuh putrinya yang sekarang sudah tumbuh besar. Kimy tidak membalas, juga tidak menolak. Dia hanya diam, membiarkan sosok perempuan yang biasa dia panggil Mama itu mengelus kepalanya berulang kali.
"Gimana kabar kamu?, sehat?. Kenapa gak ngomong kalo kamu di Indonesia, kamu kan bisa tinggal sama Mama" ucap Cindy dengan lembut.
"Mama kan sibuk, aku gak mau ganggu" sahut Kimy singkat.
Hati Cindy terenyuh. Dia tau, ini salahnya. Dia yang memilih berpisah dari Papa Kimy yang posesif dan arogan hanya untuk mengejar karirnya sebagai penyanyi sampai-sampai dia melupakan Kimy, putri kecilnya yang manis. Perceraian dua tahun yang lalu sudah berdampak pada semua hal. Kehidupannya, terutama Kimy. Dia yang dulu seorang gadis yang manis dan feminim, kini berubah menjadi gadis tomboy dan urakan.
"Kamu udah makan?" tanya Cindy yang dijawab gelengan kecil oleh Kimy.
"Kita makan yuk, di resto depan. Ada spageti, kesukaan kamu kan?” ajaknya. Kimy mengangguk sambio tersenyum canggung, tidak menyangkan kalau ibunya masih mengingat makanan yang dia sukai setelah beberapa bulan tidak pernah berkomuniikasi.
************
Obu dan anak itu menikmati makanan mereka dalam keheningan. Pertemuan diselimuti kecanggungan itu tetap terasa spesial bagi Cindy. Mengetahui putrinya datang ke Indonesia menjadi kabar gembira tersendiri untuknya.
"Sekolah kamu gimana?" tanya Cindy memecah kecanggungan. Kimy mendongak sejenak sebelum akhirnya menjawab.
"Baik, satu sekolah sama Kai" sahutnya.
"Kai?"
"Iya, Kairen. Anaknya Om Rey sama Tante Ken itu loh Ma, masak lupa"
"Ohh iya-iya, yang kembar itu kan?. Dia kayak gimana sekarang?, ganteng?" tanya Cindy antusias. Setidaknya Kimy sudah mau bercerita dengannya seperti dulu lagi. Menceritakan kisah yang dialami detiap hari lalu bertukar pendapat seperti seorang teman.
"Ganteng sihh" Kimy menjeda.
Melihat Kimy yang mesem-mesem sendiri, membuat Cindy menatap putrinya curiga.
"Kamu suka ya sama Kai?" tudingnya dengan cepat.
Kimy spontan tersedak. Dia meraih gelas jus alpukat yang tadi dia pesan, lalu meminumnya untuk membasahi kerongkongannya yang terasa perih.
"Mama apa sih, ya gak lah!!" kilah Kimy.
Cindy tersenyum kecil.
"Dulu waktu Mama seumuran kamu, juga sering kok begitu. Bilangnya gak suka, padahal di hati udah penuh sama nama dia"
Mendengar ucapan Mamanya, pipi Kimy merona malu. Apa wajahnya tidak meyakinkan sampai-sampai Mamanya tau dia berbohong?.
"Enggak Ma, Kimy gak suka sama dia. Lagian siapa sih yang mau sama playboy kayak dia"
"Setiap orang itu pasti pernah bikinn kesalahan, Kim. Termasuk Kai yang kamu sebut playboy itu. Tapi yang perlu kamu tau, playboy kalo udah suka sama satu orang, dia pasti akan jadi orang yang paling berjuang. Dia akan berubah kalo dia bener-bener serius"
Kimy terdiam. Mencoba menerka-nerka maksud dari ucapan Mamanya. Ya, playboy pasti berubah kalau menemukan sosok orang yang benar-benar dia cintai. Kini Kimy bertanya pada dirinya sendiri, apakah Kai juga mencintainya?.
"Iya sih, dan orang itu pastinya bukan aku. Aku tuh bukan tipenya dia Ma. Aku bukan cewek feminim, kalem, anggun, aku gak-
"Kamu cantik sayang" Cindy memotong dengan cepat.
"Kamu lupa sama jati diri kamu?. Kamu lupa sama diri kamu yang dulu?. Kamu cantik, kamu feminim, kamu elegan, kamu itu sempurna. Kalo pun ada yang buruk, itu pandangan orang yang gak suka sama kamu. Kamu cantik dengan versi kamu, dan kamu pasti baik di depan orang yang suka" Kimy terdiam.
"Kesempatan gak datang dua kali, melangkah sekarang atau kehilangan selama-lamanya"
*************
Setelah pertemuan dengan Cindy, Kimy lebih banyak merenung. Ucapan wanita itu terus terngiang di otaknya. Dia baru pertama kali jatuh cinta, dan kini dia tau rasanya serumit ini.
"*Kesempatan gak datang dua kali"
"Bergerak sekarang atau kehilangan selama-lamanya*"
Kimy sudah seperti orang gila sekarang. Gadis itu menjambak rambutnya sendiri sambil teriak gak jelas.
"AAAAA PUSINGGGG"
"KIMYYYY, JANGAN TERIAK-TERIAK"
Bibir Kimy langsung tertutup rapat saat si Ibu Kos memberi peringatan. Gadis itu menyengir anjing meskipun tidak ada yang melihat.
"MAAP BUK, KELEPASAN"
Dia kemudian berjalan ke lemari, mengambil koper yang belum dia buka sejak tiba di Indonesia. Tangannya membuka koper itu, terdapat beragam dress, baju-baju yang cewek bangettt, sama make up dari berbagai merek ternama yang dulu selalu dia pakai.
Kimy memegang barang-barang itu lalu melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Yaa, gue cantik" ucapnya penuh percaya diri.
"Kalo gak sekarang, kapan lagi?. Toh, cinta bisa hadir karena terbiasa"
Kimyora Claresy Wijaya
**Banyak yg tanya, 'thor kok up nya jarang banget?'
Pertama-tama aku ngucapin makasih dan maaf. Makasih buat semua dukungan kalian dan maaf kalo aku pernah mengecewakan. Aku harus manage waktu guys, sekolah, tugas, dan novel semuanya penting. Apalagi sekarang udah mulai PTM full, aku di rumah cuma sore sampek malem, itupun kekejar tugas. Aku up cuma pas senggang.
Aku tau kalian kecewa, kesel, gak sabar nunggu. Tapi aku juga manusia biasa yang banyak kurangnya🙏
Sekali lagi aku ngucapin maaffff banget. Makasih juga buat yg masih setia nunggu, ngasih like, coment, vote, dan rate. Semoga tuhan membalas kebaikan kalian, aminnnn.
Happy reading and see you semuaa**:)