Our Love Story

Our Love Story
Suruhan



Mobil sport warna hitam itu berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang ada di pusat kota. Cowok dengan perawakan tinggi putih keluar dari sana lalu mengitari mobil berniat membukakan pintu untuk seorang gadis yang semalaman ini menemaninya, berbagi cerita dan berbagi tawa meskipun cuma sementara.


"Makasih" ucap Agatha sembari memasang senyum manisnya. Setelah memastikan Agatha keluar dari mobil dengan sempurna, Raizel menutup pintu mobil dengan perlahan.


"Seneng gak?" tanya Raizel sambil menatap Agatha dalam-dalam. Senyumnya mengulas lebar saat melihat gadis itu bahagia, dia suka senyuman itu.


"Bangettt, malem ini adalah malem paling membahagiakan di hidup gue. Thanks ya" Agatha menyahut dengan semangat. Wajahnya berseri-seri. Tanpa dijelaskan pun orang lain pasti tau kalau gadis itu sedang bahagia.


"Udah malem, masuk gih!!. Istirahat ya" Raizel meraih pucuk kepala Agatha, mengacak rambut gadis itu dengan gemas hingga membuat pemiliknya tertegun.


Yang diacak-acak rambut, yang berantakan hati:v


"Gue masuk duluan, hati-hati di jalan" Agatha tersenyum sangat manis sebelum akhirnya melenggang pergi. Raizel tak mengalihkan pandangannya sedikitpun dari sana hingga punggung gadis itu menghilang seiring dengan langkahnya yang kian menjauh. Dan saat itu juga, Raizel menetapkan senyum itu sebagai senyum favoritnya.


Tanpa disadari siapapun, sepasang mata sedang menatap tajam kearah interaksi mereka sejak tadi. Orang dengan perawakan tinggi dan hoodie hitam yang melekat di tubuhnya memasang wajah penuh emosi.


"Rai?" desisnya menahan amarah. Tangan cowok itu terkepal erat, rahangnya mengeras seiring dengan air mukanya yang memerah.


"Bisa-bisanya dia modusin Agatha juga. Gue gak akan biarin sampah kayak lo deketin adek gue!!" Boy menyeringai dibalik tudung hoodie-nya. Kalau orang itu sudah berani menyetuh miliknya, maka dia juga akan menyentuh milik orang itu juga.


Mobil Raizel mulai melaju meninggalkan area gedung apartemen, Boy segera bersembunyi dibalik pohon saat mobil Rai melintas di depannya.


Setelah memastikan mobil sport itu sudah tidak terlihat, barulah Boy keluar dari persembunyian. Cowok itu membuka tudung hoodienya, kemudian berjalan memasuki area apartemen. Sapaan dari para pekerja terdengar, mereka semua mengenal Boy dengan baik. Mengingat kalau laki-laki dan adik perempuannya itu sudah tinggal di salah satu unit apartemen disini sejak 7 tahun lamanya.


Boy memasuki lift, menekan sebuah tombol hingga benda persegi itu naik ke lantai atas. Selang beberapa menit, suara terdengar bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


Boy melangkahkan kakinya keaeah sebuah unit apartemen miliknya. Dia menekan beberapa digit angka, hingga pintu apartemen itu terbuka. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah adik perempuannya sedang duduk di sofa sembari terus tersenyum menatap layar ponsel yang menampilkan beberapa potret dirinya bersama Raizel di danau tadi.


"Habis dari mana lo?" tanya Boy secara tiba-tiba, Agatha sontak menyembunyikan ponselnya di dalam tas.


"Abis keluar" sahut gadis itu singkat.


"Sama cowok lo?" suara Boy mendadak sinis, membuat Agatha mengerutkan keningnya bingung.


"Sama temen. Kenapa sih lo, tumben kepo kek wartawan. Biasanya gue keluar sama siapa aja lo gak peduli" Agatha menoleh acuh, kemudian memilih menyalakan TV sebagai pengalihan.


Boy tak menjawab. Dia memilih melenggang pergi masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Agatha dengan sejuta pertanyaan.


***********


Siang itu Kantin di SMA Garuda sangat ramai. Mengingat ini hari senin, tenaga yang mereka keluarkan menjadi lebih besar karena harus menjalani upacara di pagi hari.


Rombongan Kairen dkk memasuki area kantin sembari memasang tampang malaikat, membuat para siswi kurang belaian memekik histeris menatap mereka.


Seperti biasa, Kairen selalu menjadi pusatnya. Dari sekian banyaknya kandidat, hanya dia yang paling diperhatikan. Parasnya itu seperti magnet yang seakan menarik semua orang untuk terus memperhatikannya. Apalagi sorot mata tajam dan alis tebal yang merupakan warisan dari Reyhan, membuat semua kaum hawa selalu terlena saat menatap mata cokelat gelap yang memiliki seribu pesona itu.


Kairen membelokkan langkahnya ke meja Kimy dkk. Dia duduk disana tanpa permisi diikuti oleh Vero dan yang lain yang ikut menempati kursi-kursi kosong disana.


"Hai calon pacarr" sapa Kai pada Rachel dengan girang, cewek itu hanya membalasnya dengan senyuman manis semanis gula aren.


"Lagi makan apa?" tanya Kai basa-basi.


"Mata lo gak liat dia lagi makan batagor?!. Keliatan banget modusnya" Kimy menyambar cepat sembari memasang wajah jutek. Melihat tingkah Kai membuat selera makannya hilang tiba-tiba.


"Dihh nyamber aja lo kek gledek" sahut Kai mencibir.


"Cemburu dia tuhh" ledek Noval diikuti sorakan dari yang lainnya.


"JIAKHH SI BASKOM CEMBOKUR GAESS. PANAS NIH PANASSS" Vero ikut menimpali dengan suara yang tidak bisa dikatakan kecil. Ingin rasanya Kimy menjejal mulit cowok itu pake kaos kaki yang belum dia cuci sebulan..


"Diem lu anak dugong!!" sentak Kimy sambil melotot.


"Udah dehh, jangan digodain. Merah tuh muka anak orang" ucap Gabriel sembari terkekeh. Kimy merengut kesal, bisa-bisanya sahabatnya itu ikut-ikutan.


"Dahlah, males gue disini. Mau ke toilet aja" cewek itu bangkit dari duduknya dengan kesal hendak pergi dari kantin.


"Yaudah sih, pergi aja sono. Gak ada yang mau nahan juga" sahut Noval


"Sialann!!"


**********


"Dasar buaya!!"


"Bisa-bisanya ya, ada cowok yang gak punya hati kayak dia. Ihhh, pengen gue lempar ke kolam piranha tuh anak!!" gerutu Kimy menggebu-gebu.


Dia mempercepat langkahnya ke toilet, bahkan dia setengah berlari. Saat langkahnya sudah sampai, buru-buru gadis itu masuk ke dalam salah satu bilik lalu menguncinya dari dalam.


Kimy tidak bodoh, dia menyadari ada seseorang yang mengikutinya sejak tadi. Sekarang dia bingung apa yang harus dia lakukan. Apalagi kebetulan kondisi toilet sangat sepi.


.


.


Di sisi lain, Kai sedang bercanda ria bersama teman-temannya..Menertawakan Vero yang terus-terusan ditolak oleh Elsa. Sampai tiba-tiba ponsel Kai berdering, cowok itu melihat ponselnya. Keningnya mengernyit bingung.


"Gue angkat telfon bentar" pamit Kai pada yang lain.


Dia berjalan agak menjauh lalu mengangkat telfon dari gadis yang tadi menghindarinya.


"Hallo, dengan orang ganteng disini" sapa Kai dengan nada menggoda.


"Kai tolongin gue. Ada orang ngikutin gue di toilet" raut wajah cowok itu langsung berubah. Rahangnya mengeras, dengan sorot mata yang berubah tajam.


"Jangan buka pintu. Tunggu gue disana!!" setelah itu dia mematikan sambungan telfon. Kemudian beralih menelfon orang lain.


"Tutup semua jalur keluar-masuk di SMA Garuda. Periksa orang-orang yang mau keluar atau masuk Jangan izinin siapapun buat keluar tanpa seizin gue!!"


*********


Jantung Kimy berdebar saat pintu didobrak paksa oleh orang di luar sana. Benar-benar tidak ada orang disini. Dia terpojok.


"Diem atau gue tembak!!" Kimy mati kutu saat orang itu menodongkan pistol kearahnya. Sekarang dia seperti biah simalakama, melawan celaka tidak melawan juga celaka. Dia masih ingin hidup.


Orang itu berjalan mendekar hendak meraih tangan Kimy, tapi orang itu lebih dulu ambruk ke lantai akibat tendangan Kai di punggungnya.


"Banci lo, beraninya sama cewek!!" Kai mengeram marah. Wajah cowok itu merah padam, dia memukuli orang itu tanpa ampun seperti monster.


Orang itu bangkit, membalas menendang betis Kai dengan kencang hingga membuatnya nyaris terjatuh andai tidak menabrak tembok. Orang itu menodongkan pistolnya kearah Kimy, sontak saja Kai melebarkan matanya. Dengan sigap dia segera berdiri di hadapan gadis itu untuk melindungi dan


Dorrr


Peluru itu melesat dan mengenai lengan Kai. Cowok itu mengumpat kesal.


"Shitt, cuma peluru karet!!"


Dua orang masuk ke dalam toilet, salah satu dari mereka menodongkan pistol yang sudah diberi peredam suara. Mereka adalah salah satu anggota Geng Warrior yang kebetulan juga bersekolah di SMA Garuda dan tentunya menjadi tangan kaki Kai disini.


Dorrr


Orang itu mengerang saat kakinya ditembak oleh Vito, salah satu anggota Warrior. Dia tersungkur di lantai sembari memegang kaki kanannya yang terkena peluru asli, bukan peluru karet wkwk.


Kai tersenyum bengis. Dia mendekat kearah orang itu dan menjambak rambutnya dengan kasar.


"Itu akibatnya lo berani main-main sama gue" ucapnya setengah berbisik.


"Bawa dia!!" titahnya pada Vito dan Choky.


Cowok itu dibawa pergi, meninggalkan Kai dan Kimy yang masih berada di dalam toilet. Kai mendekati Kimy lalu memutar tubuh gadis itu dengan posesif.


"Lo gapapa kan?" tanya Kai dengan cemas. Kimy tak menjawab, tapi dia langsung memeluk Kai erat hingga tubuh cowok itu sedikit terhuyung ke belakang.


"Makasih"


"Gue gak mau lo kenapa-napa Kim"