
Sekumpulan remaja itu kini tengah duduk saling berhadapan di meja kantin yang sedang ramai. Teriknya matahari di istirahat kedua ini membuat mereka kompak memesan es teh untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Panas banget gila!!" decak Gabriel sembari mengipas-ngipas rambutnya menggunakan buku tulis yang dia bawa dari kelas.
"Mau gue kipasin gak Yang?" goda Noval sembari tersenyum lebar, sesekali menaik-turunkan alisnya genit.
"Ape lu?!" Gabriel melotot garang.
"Yang, Yang, Yang, pala lo tuh peyang!!"
Noval mencebik. Padahal dia sudah berguru pada Kai tentang bagaimana caranya meluluhkan hati perempuan. Tapi tetep aja, dia tetep jomblo dari lahir.
"Kasian, mana masih muda" Kai menimpali seraya memasukan sepotong sosis ke dalam mulutnya.
Noval tidak menjawab, dia beralih menatap Vero yang dari tadi diam. Tidak seperti biasanya, padahal cowok itu yang selalu paling heboh di antara mereka.
"Lo kenapa Per?, kebelet boker?" tanya Noval ngasal.
Vero mendesah pelan.
"Gue lagi mikir" jawabnya.
"Tumben, biasanya lo nggak pernah punya pikiran. Gue kira lo ga ada otak" timpal Kimy dengan wajah mengejek.
"Yeee, diem lo baskom!!"
"Apa lo!!. Toa pasar malem!!"
"Tuh mulut kecil-kecil pedes banget ya!!. Sini, pengen gue uyel-uyel pakek traktor!!"
"Lo berdua berantem mulu deh!!. Gue pengen makan enak aja kagak bisa!!" Elsa berdecak, pasalnya dia duduk di antara Kimy dan Vero. Sungguh, suara mereka kalo berantem melebihi emak-emak arisan yang lagi ngeghibahin anak tetangga yang hamil duluan.
"Si Baskom sih!!. Padahal otak gue lagi mikir keras, masalah gue malah lebih berat daripada kasus anak ayam nyebrang gak liat-liat tapi orang lain yang dituduh nabrak" cerocos Vero panjang lebar. Jangan lupakan air surganya yang udah muncrat kemana-mana. Satya bahkan sampek mengelap mukanya berulang kali.
"Emang lo lagi mikirin apa sih Parman?!. Kayak otak lo verguna aja" ucap Satya yang berujung ledekan setelahnya. Vero mencebik, kenapa tidak ada yang percaya kalo dia punya pikiran.
"Gue lagi mikir, racun kalo kadaluarsa racunnya ilang atau malah jadi lebih beracun ya?"
Semua orang menatapnya dingin tanpa minat. Sudah mereka duga, pikiran Vero emang gak pernah beres.
"Pertanyaan lo itu sama kayak Pop mie kalo diseduh pake air dingin, apa bakal jadi pop ice?!" sahut Kai kesal.
"Lah, apa hubungannya?" tanya Vero bingung.
"Ya kagak ada"
"Goblokk!!"Boy bersorak, oke dia kesel sekarang. Di antara mereka memang minim orang waras, jadi gak heran kalo obrolannya ikutan gila.
Drtttt.... drtttt
Suara dering ponsel membuat mereka terdiam. Mereka semua kompak menatap kearah Boy yang sedang menyengir.
"Hape gue" ucapnya sambil menyengir lebar. Dia mengambil ponselnya, setelah tau siapa yang menelfon ekspresinya langsung berubah.
"Gue angkat telfon bentar" setelah berpamitan dia segera berdiri, berjalan sedikit menjauh dari semuanya. Kai menatapnya aneh
"Aneh banget tu anak, ngangkat telfon aja jauh banget kek mau nyalain bom" ucap Kai
"Biarin aja sih, mungkin dia gak mau kamu nguping" Rachel menyahuti. Dengan mulut yang sibuk mengunyah bakso, gadis itu berucap hingga pipinya menggembung besar.
"Kalo makan jangan sambil ngomong"
Setelah terasa berjalan cukup jauh, Boy mengangkat telfon dari anak buahnya. Decakan terdengar dari sebrang sana, bisa dipastikan kalo orang itu sedang kesal.
"Lama banget sih ngangkatnya!!" decak orang itu.
"Bacott!!. Tadi banyak orang, gue nyari tempat dulu. Gimana, berhasil gak?" tanya Boy.
"Beresss. Markas mereka udah berhasil kita bakar, tapi cuma kebakar depannya doang. Mereka keburu dateng"
"Siapa aja yang dateng kesana?" Boy berucap dengan senyum licik. Satu persatu rencanya sudah berjalan. Tinggal menunggu waktu, dan semua pasti berjalan sesuai dengan apa yang dia inginkan. Kehancuran Keluarga Kai.
"Hampir semua anggota Warrior ada, bahkan ketuanya"
Mata Boy memicing, keningnya mengerut bingung. Otaknya masih mencerna setiap kata yang barusan dia dengar. Ketua?, setaunya Ketua geng Warrior adalah Raizel, tidak ada yang lain.
Matanya kemudian beralih menatap Kai yang sedang bercanda ria dengan yang lain.
"Kirim fotonya!!"
Tak berselang lama, sebuah chat masuk dan menampilkan sosok cowok tampan dengan tubuh tinggi tegap sedang berdiri di depan sebuah Basecamp yang terbakar bersama teman-temannya. Mata Boy melotot kaget, dia menatap foto itu dan Kai secara bergantian. Benar-benar mirip.
"Gak mungkin" gumamnya tak percaya.
"Apa-apaan nih!!"
*************
Kai duduk bersila di atas kasurnya dengan tangan yang sibuk bermain game online. Dia gabut, beneran. Temen-temennya diajak keluar pada gak mau. Alasannya pengen berbakti sama rumah.
"KAI, TURUN!!. WAKTUNYA MAKAN MALEM!!!" teriakan dari kanjeng ratu membuat Kai meletakkan ponselnya.
"TAPI INI MASIH JAM 4 SORE MAH, MASAK MAKAN MALEM?!" sahut Kai dengan berteriak juga.
Kai berdecak, tapi tak urung dia tetap berjalan turun. Keluarganya memang aneh, jam 4 sore dibilang makan malem. Mungkin benar, di rumah ini yang waras cuma Mbak Ratna. Pembantu mereka.
Di meja makan sudah tersedia lauk berbagai jenis. Kai segera mengambil posisi di samling Rai yang sudah disana lebih dulu. Terlihat jelas wajah cowok itu ditekuk, bisa dipastikan di juga kesel karena dipaksa makan malem jam 4 sore.
"Tumben Mama masak banyak" celetuk Rai sembari mengambil ayam goreng di tengah meja.
"Masak banyak heran, gak masak ngomel. Emang bener ya, punya anak dua tapi gak ada yang beres" Kenzi mencebik. Merasa tidak suka. Padahal bukan dia yang masak, tapi mbak Ratna.
"Yee si Umi. Ditanyain baik-baik malah sewot" timpal Kai sambil memakan capcay kesukaannya.
"APA, UMI UMI!!" Kenzi tiba-tiba berseru, membuat Kai dan Rai langsung kicep. Mereka takut diorek bareng udang sama emaknya yang otaknya kadang geser ke dengkul.
Tatapan Kenzi kemudian beralih pada Reyhan yanng sedari tadi diam. Bukan dari tadi, bahkan sejak pagi pria itu menjadi pendiam. Tidak seperti biasanya.
"Kamu kenapa?. Tumben diem aja" ucap Kenzi pada Reyhan.
Reyhan meletakkan sendoknya dengan agak keras, membuat semua orang yang ada di meja makan terjingkat kaget. Mereka semua menatap kearahnya dengan bingung.
"Kai..." panggil Reyhan dengan wajah dingin. Wajah Kai ikut serius, bahkan kerongkongannya terasa sulit untuk menelan setelah melihat wajah serius bapaknya yang jarang diperlihatkan.
"Kenapa, Pa?" tanyanya.
"Lusa kamu harus tunangan sama anak rekan bisnis Papa!!"
Bak disambar petir di siang bolong, tubuh Kai mematung di tempat. Suasana di meja makan mendadak mencekam. Semuanya terdiam, hingga suara Kenzi membuyarkan semuanya.
"Kamu apa-apaan sih?!. Kenapa gak ngomong dulu sama aku?!
Main jodoh jodohin anak, enak aja!!" Kenzi mengoceh panjang, terlihat jelas wajahnya marah dan tidak suka kalo anak cebongnya dijodohin kayak situ nurbaya.
"Tapi kenapa harus Kai Pa?!. Kenapa harus tunangan?!" seru Kai dengan kesal. Dia marah, jelas. Masih ada 39 pacar yang menanti gombalan recehnya, masak iya dia harus tunangan.
"Perjodohan ini udah diatur dari lama. Semua udah disiapin, pokoknya lusa kamu harus tunangan!!" dia menjeda
"TAPI BOONG, YAHAA PAPALE PAPALE"
Semua orang kompak menatap sengit kearah Reyhan yang sedang jingkrak-jingkrak gak jelas karena berhasil ngeprank orang serumah.
"Papa apa sih, dasar Bapak prik!!" desis Raizel kesal .
"Kamu apa sih?!. Mau buat aku jantungan?!" Kenzi melotot tajam.
"Mah, sa-kit"
Tatapan mereka semua beralih pada Kai sedang kesakitan sambil memegang dadanya.
"Kai kamu kenapa?!" tanya Kenzi panik.
"Jan-tung Kai, kumat" cowok itu meringis sakit, tangannya semakin kuat meremas dada kirinya.
"Ya Allah, Papa sih kebanyakan gaya!!!" Raizel ikut panik, dan menyalahkan bapaknya lah yang dia lakukan saat ini.
"Kai, maafin Papa. Papa gak sengaja. Lagian sejak kapan kamu sakit jantung?" Reyhan merasa bersalah. Matanya sedikit berair. Dia menyesal, andai dia tidak ngeprank, penyakit jantung Kai tidak akan kambuh.
"Sejak kapan lo punya sakit jantung Kai?!. Kok lo gak ngomong?" tanya Raizel juga.
"Sejak tadi" otak mereka ngelag sesaat. Bahkan Raizel sampai mengedipkan matanya berulang kali.
"Kamu beneran sakit jantung Kai?" tanya Kenzi dengan hati-hati.
"Enggak, Kai sehat wal'afiat" Kai menegakkan tubuhnya lalu lanjut makan seperti tidak terjadi apa-apa.
"KAI LO BENER-BENER YA, UNTUNG GUE GAK DEPRESOT DI PRANK DUA KALI!!"
"DASAR ANAK KODOK!!"
***********
Kai or Rai
Kimy
Elsa
Gabriel
Vero
Noval