
Gadis itu berlari, mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya aneh. Rambut hitamnya berkibar-kibar kecil seiring gerakannya. Obsidian sapphire itu menatap sayu kearah gerbang sekolah. Napasnya memburu. Satu-dua ia meraup udara sebanyak-banyaknya lantaran dadanya kian terasa sesak akibat langkah terburu-buru yang diambilnya.
Ia menghela napas berat. Di tahun pertamanya memasuki jenjang pendidikan SMA, dia membuat kesalahan dengan datang terlambat disaat seluruh siswa tahun pertama sedang upacara. Padahal, semalam, Ibunya telah memperingatkannya untuk bangun lebih pagi untuk melakukan persiapan sebagai perwakilan siswa peraih nilai terbaik semester awal.
Tatapannya terantuk pada seorang pemuda berambut hitam yang tengah berusaha memanjat gerbang sekolah.
"Hey! Jangan memanjat. Taati tata tertib yang berlaku disini!" Serunya.
Alih-alih menuruti, pemuda itu hanya mendengus pelan tanpa berniat membalas tatapan gadis yang menjadi lawan bicaranya.
"Hey!"
Aira, gadis itu lagi-lagi menghela napas membuat pemuda itu akhirnya mengalah. Lantas, ia pun turun. Menghentikan aksi memanjat gerbang sekolah yang sedari tadi dilakukannya demi menyelinap masuk ke dalam barisan.
"Lalu? Bukankah kau juga melanggar peraturan sekolah dengan datang terlambat?" Tanyanya sambil melangkah menghampiri gadis itu.
Kali ini, Aira terdiam.
Ia memandang barisan siswa tahun ajaran baru yang sedang melaksanakan upacara di tengah lapangan.
"Melvin," suara berat milik lelaki itu membuatnya tersentak. Aira kembali terpaku pada seorang pemuda didepannya.
"A-apa?" Ia tergagap.
Lagi, pemuda itu mengabaikannya dan memilih untuk kembali melakukan aksinya memanjat gerbang sekolah. Setelah kedua kakinya benar-benar menjejak diatas tanah, ia melangkah membelakangi Aira untuk menyelinap masuk kedalam barisan. Namun, Aira cepat-cepat menahannya sebelum ia sempat melangkah.
"Na—"
Lelaki itu lebih dulu menginterupsi kalimatnya. "Katakan pada guru piket jika ada 2 siswa yang terlambat. Melvin, dan ... " Melvin melirik name tag nya. "Aira Clarabelle," lanjutnya.
Lantas, ia pun bergegas pergi.
"Oh, Aira. Bukannya kamu datang untuk memberikan pidato sebagai perwakilan siswa peraih nilai terbaik tahun pertama?"
Aira menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berkemeja putih dengan rok hitam selutut menatapnya sambil tersenyum simpul. Rambut pirangnya disanggul sederhana namun terkesan rapi. Sementara wajah piasnya di percantik dengan tampilan make-up tipis hingga membuatnya tampak lebih muda. Leher jenjangnya dihiasi oleh kalung indah dengan pernak-pernik, yang paling mencolok dari kalung itu adalah permata emerald.
"Maaf," ucapnya sambil menunduk sopan sekadar sapaan hormat sekaligus permintaan maaf nya.
"Karena kamu menjadi siswa terbaik di awal masuk sekolah, aku akan memaafkan mu sebagai Kepala Sekolah. Hm ... Tapi tidak untuk lain kali," wanita itu kembali mengulas senyum sebelum kemudian memberi kode salah seorang satpam untuk membuka gerbang dengan dagunya. "Kalau begitu, masuklah."
Aira melangkah kearah salah satu barisan terdekat. Bersebelahan dengan gadis berambut hitam yang diikat tunggal. Gadis itu memiliki iris sewarna batu ruby, dalam dan memukau. Matanya menatap datar ke depan. Hendak menyapa, namun Aira urung mengingat saat ini bukan saat yang tepat. Akhirnya ia memutuskan untuk berdiam diri hingga kemudian salah satu guru memanggil namanya untuk memberikan pidato diatas podium.
"Aira Clarabelle, sebagai perwakilan siswa peraih nilai terbaik dalam test masuk, dipersilahkan untuk memberikan pidato singkat diatas podium."
Aira menarik napas panjang sebelum kemudian melangkah ke atas podium, dan balas menatap ratusan pasang mata yang menatapnya penasaran. Ia kembali menarik napas lalu tersenyum manis. Lantas, ia pun memulai pidato singkatnya dan berakhir mendapat apresiasi dengan gemuruh tepuk tangan dari seluruh siswa dan beberapa guru.
#
Tring!
Dan jujur, sejak dulu, ia tak pernah benar-benar memiliki teman yang 'baik' atau 'ramah'. Semua anak sepantarannya selalu menghindari atau mencaci makinya.
Hal itu membuatnya muak!
Mereka selalu bertanya atau meminta bantuan padanya saat mata pelajaran bahasa Inggris dimulai, dengan sedikit paksaan tentunya. Ketika dia meminta bantuan, semua anak sekelasnya justru pura-pura tuli dan memilih untuk membiarkannya.
Sampah!
086xx5x127x
Hai!
Dalam benak, dia bertanya-tanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang memaksa untuk memberikan respons dari pesan chat tak dikenal itu. Namun, setengah hatinya menolak lantaran tak ingin merasakan hal yang berulang kali terjadi padanya terulang lagi hingga membuatnya muak. Cukup sudah ia merasakan pahitnya kehidupan dengan teman-teman yang bahkan tak pantas disebut teman.
Risa
Siapa?
086xx5x127x
Zen. Save ya! Namamu?
Risa
Risa. Dapat nomorku darimana?
086xx5x127x
Grup kelas sementara. Kita berada di kelas yang sama.
Risa tak membalasnya lagi. Namun, ia tetap memasukkan nomor ponselnya kedalam daftar kontak. Meski masih ragu, tapi setidaknya dia tidak datang untuk memberikan Risa umpatan atau makian seperti teman-teman SMP nya yang lain.
Percakapan mereka berlanjut. Berawal dari sekedar basa-basi singkat. Zen melanjutkan pertanyaan demi pertanyaannya kepadanya. Risa menjawab pertanyaannya singkat dan karena menurutnya Zen anak yang asik dan humoris, sesekali gadis itu memberikannya pertanyaan. Meski itu pertanyaan sepele sekalipun.
Gadis itu menatap chat terakhir yang dikirimkannya. Perasaan senang membuncah di dalam dadanya. Hatinya melunak. Zen telah membuatnya diam-diam mengulas senyum tipis. Tanpa sadar, gadis itu menatap layar ponselnya penuh harap—berharap Zen tak pernah bosan menanggapinya.
Jujur, ia merasa, Zen memiliki ruang tersendiri di dalam hatinya. Berhasil membuatnya tersenyum simpul ketika setiap kalimat atau sekedar kata biasa muncul dari nya.
Ironis. Risa merasa nyaman dengan seseorang yang bahkan baru beberapa menit mengenalnya.
6 menit lamanya dia menunggu. Menunggu Zen kembali mengiriminya pesan chat. Risa mendengus. Gadis itu menerawang jauh, mengira-ngira apa kiranya sesuatu yang akan menunggunya. Apakah hal itu sesuatu yang baik? Atau malah buruk?
Perasaannya campur aduk. Iris Ruby miliknya menatap dalam, menyiratkan kekhawatiran dan hal itu agaknya membuatnya sedikit murung. Risa memejamkan mata. Berusaha mengusir semua kemungkinan buruk yang mengusik ketenangan hatinya. Namun, hati kecilnya berharap, seseorang bernama Zen itu kembali menyapanya. Tidak dalam aplikasi chat. Namun, di sekolah.
Ia membuka matanya perlahan, menampakkan manik indah sewarna merah yang dalam dan lembut disaat bersamaan. Tatapannya terantuk pada rintik-rintik hujan yang berjatuhan disana. Sekilas, rasa sejuk dan nyaman kembali menyapanya ketika wangi hutan yang berbaur dengan air melewati indera penciuman nya.