Our Love Story

Our Love Story
Curiga



Malam itu, ruangan yang tadinya sepi dan sunyi kini dipenuhi oleh beberapa orang laki-laki dengan jaket hitam yang berlambang 'Warrior' di bagian dada kanannya. Salah satu dari mereka maju, mendekat kearah seorang cowok yang sedang diikat di sebuah tiang besi dengan kondisi muka yang sudah tidak pantas dilihat.


Kai tersenyum bengis, tangannya memegang dagu orang itu dengan kasar, memaksanya untuk menatap kearah bola mata cokelat gelap yang dia miliki.


"Masih gak mau buka mulut hmm?" tanya Kai dengan nada rendah tapi mengandung ancaman di dalamnya.


"Gak akan pernah" sahut orang itu dengan nada meledek.


Rahang Kai mengetat kuat, dia bukan orang penyabar yang bisa menghadapi sampah banyak tingkah seperti orang di depannya ini. Mata cowok itu kemudian melirik ke belakang, tepat kearah salah satu anggotanya yang juga ada disana.


Melihat sang ketua memberi isyarat, cowok yang diketahui bernama Pras itu mendekat menghadap Kai.


"Urus dia. Hajar sampek dia buka mulut, tapi jangan biarin dia mati" ucap Kai yang langsung diangguki patuh oleh Pras.


Cowok itu hendak melenggang pergi meninggalkan Basecamp, tapi teriakan orang tadi berhasil menghentikan langkahnya.


"PERCUMA LO NGELAKUIN SEMUA INI, LO GAK BAKAL DAPET APA-APA DARI GUE!!. SAMPEK MATI PUN GUE GAK BAKAL BUKA MULUT!!"


Kai sontak berbalik badan, lalu menendang perut orang itu dengan penuh emosi hingga tiang besi yang menjadi penyangganya sedikit bergetar. Orang itu mengeluarkan darah dari mulutnya, tapi Kai tidak peduli. Sorot matanya menunjukkan amarah yang besar. Ditariknya rambut cowok itu hingga mendongak, menampilkan wajahnya yang babak belur dan sangat memprihatinkan.


"Jangan pernah main-main sama gue, atau lo bakal nyesel seumur hidup. Kita liat, sampek dimana lo tetep kekeuh buat tutup mulut!!"


************


Kai berjalan ria memyusuri koridor sekolah sembari tebar-tebar pesona ke adek kelas. Dia cuma tebar pesona, bukan tebar benih. Kan gak lucu kalau 1 sekolah ngaku hamil anak dia.


"Kak...!!" seorang siswi kelas 10 memanggilnya. Cewek imut dengan rambut hitam sebahu itu tersenyum lebar menatap Kai. Ditangannya terdapat sebuah papper bag berwarna cokelat entah apa isinya.


"Emm, ini buat kakak" cewek bername-tag Diana itu menyerahkan papper bag di tangannya, Kai dengan senang hati menerima.


"Itu dari Mami, katanya buat tanda terima kasih karena kemaren kakak udah nganterin aku pulang"


Kai tersenyum simpul, tangannya bergerak mengacak pelan rambut Diana. Membuat pemiliknya terdiam dengan degup jantung yang berkejaran.


"Bilangin ke Mami lo, dapet ucapan terima kasih dari calon mantu"ucap cowok itu menggoda.


"Thanks ya cantik" Kai mengedipkan sebelah matanya genit kemudian melenggang pergi tanpa beban setelah berhasil membuat anak orang melayang.


Diana memegang dadanya sambil menahan jeritan yang siap keluar. Gadis itu mencak-mencak seperti orang gila.


"HUAAA MAMIIII, AKU GAK KUADDDDD"


.


.


.


Kai duduk di kursi taman belakang sambil menikmati makanan dari Diana tadi. Makan tanpa beban, mengabaikan orang-orang yang ada disana. Kalo masalah perut, dia gak mau bagi-bagi. Perut adalah urusan masing-masing, gitu prinsipnya.


"Enak ya jadi orang ganteng, banyak rejekinya" ucap Kai seorang diri. Kini ditangannya sudah ada seporsi ayam geprek paket komplit. Sambelnya namanya Sambel Netizen, pedesnya sama persis kek mulut julid para pengikut lambe turah.


"RAI"


uhukk....uhukkkk


Kai terbatuk kencang. Asli, rasanya sesek banget kek mau sakaratul maut. Cowok itu memukul-mukul punggungnya dibantu oleh Bayu yang menyodorkan sebotol air mineral. Kai menerimanya lalu meminum air itu hingga tandas.


"Lo mau bunuh gue?!" sentak Kai dengan kesal.


"Ya maap, gue kan gak tau kalo lo lagi makan. Lagian makan gak bagi-bagi, kena karma kan lo!!" bukannya minta maaf dengan tulus, Bayu malah mencibir Kai dengan wajah julidnya.


"Ngapain lo kesini?!" masih dengan wajah jutek, Kai bertanya sembari mengusap hidungnya yang memerah.


"Dicariin Bu Anis, di ruang multimedia" sahut Bayu.


"Lah ngapain?. Perasaan gue gak bikin masalah hari ini"


"Mana gue tau. Buruan samperin sono, udah ditungguin dari tadi"


Meski dengan langkah ogah-ogahan, Kai tetap berjalan menghampiri Bu Anis yang katanya sedang menunggu di Ruang Multimedia. Ruang Multimedia ada di lantai tiga, sehingga mau tidak mau dia harus naik ke lantai paling atas itu.


"Permisi" Kai mengetuk pintu terlebih dahulu, sampai ada suara sahutan dari dalam baru dia membukanya.


"Oh iya Rai, sini masuk!!"


Kai berjalan mendekat, tepat berdiri di depan meja perempuan yang menjabat sebagai pengurus tata usaha tersebut.


"Gini, saya mau minta tolong sama jamu. Tolong bantu saya ngecekin data siswa sekelas kamu ya. Udah lengkap semua belum, mulai dari akta, kartu keluarga, sama nilai rapot terakhir. Udah diminta,sama kepsek soalnya. Ini saya juga masih ribet ngurus berkas anak kelas 10" jelas Bu Anis panjang lebar dengan wajah penuh harap.


"Yahh kok saya sih Bu?. Kan masih ada murid yang lain" keluh Kairen.


"Karena ibu tau meskipun kamu ke kelas kamu juga gak bakal belajar yang bener, jadi mending kamu bantuin saya disini biar berguna dikit jadi manusia"


Tersentil sudah jiwa-jiwa letoy Kai yang memang udah bawaan lahir. Ucapan Bu Anis memang selalu ngena di hati.


"Tenang nanti saya kasih 100 ribu buat beli cendol"


Mendengar kata 100 ribu membuat semangat Kai langsung membara. Cowok itu langsung duduk di depan Bu Anis tanpa disuruh.


"Yang mana Bu, yang haris saya check?" tanyanya dengan semangat.


Bu Anis meliriknya sinis, kemudian menyerahkan setumpuk kertas milik Kelas 11 IPS 1.


"Dasar mata duitan!!"


Kai menyengir lebar, tangannya mulai aktif memilah satu persatu kertas dengan teliti. Meskipun dia bandel, kalo masalah beginian mah dia udah ahli. Dulu waktu di Mexico, dia udah biasa memilah kertas tumpukan daftar hutangnya di beberapa toko.


Hingga tangan cowok itu memegang kertas data diri milik Boy. Dia tertawa kecil melihat foto rapot Boy yang sangat jauh berbeda dengan yang asli.


"Jelek banget lo disini, eh tapi dia kan emang jelek. Yang ganteng cuma gue"


Namun ada satu hal yang menarik perhatiannya, tanggal lahir Boy.


"05 Maret 2002?" gumam Kai.


"Berarti dia udah umur 20 tahun?. Gilaa tua banget!!" ucapnya terkejut..Bagaimana tidak, kalo wajarnya siswa kelas 11 itu umurnya antara 16-17, Boy malah sudah 20 tahun. Usia yang seharusnya dimiliki oleh anak kuliahan.


.


.


.


.


Sepulang sekolah, Kai berjalan ke parkiran dengan pikiran yang terus memikirkan fakta yang baru dia temukan beberapa jam yang lalu. Saking kerasnya berpikir, dia sampai tidak sadar kalau langkahnya sudah sampai di parkiran sekolah.


"Woy Bong, bengong aja lo!!. Kenapa?, mikirin utang?. Yaelah gak perlu dipikirin. Bokap lo duitnya kan banyak, lo pakek buat ngehidupin orang sekecamatan juga gak bakal habis!!" seloroh Noval tanpa dosa. Kai tidak merespon, dia masuk ke dalam mobilnya begitu saja. Membuat Noval dan Vero menatapnya penuh tanya. Tanpa pikir panjang, dua cowok itu ikut masuk ke dalam mobil Kai. Noval duduk di depan, sedangkan Vero di belakang. Disana memang hanya ada mereka bertiga, mengingat kalau ini sudah lewat dari jam pulang sekolah.


"Kenapa lo, diem-diem bae. Kagak biasanya lo begini" tanya Vero bingung.


"Kalian kenal Boy udah lama?" tanya balik Kai dengan wajah serius.


"Gak lama sih, kita kenal dia pas kenaikan ke kelas 11" sahut Noval seraya membuka permen susu rasa cokelat yang tadi di belinya di Kantin.


"Jadi dia gak asli sekolah sini?" tanya Kai lagi.


"Gak. Dulu dia masuk sini selang seminggu setelah Rai pindah kesini. Katanya sih dia pindahan dari SMA Bakti yang di Kota A" sahut Vero setelahnya.


"Kenapa sih, tumben lo nanyain dia?" Noval bertanya bingung, apalagi melihat wajah Kai yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Tadi kan gue lagi bantuin Bu Anis ngecekin datanya anak-anak, trus gak sengaja gue liat data dirinya Boy. Masak disana ditulis dia umur 20 tahun, kan gak masuk akal banget"


Ucapan itu mbuat semua yang ada disana terkejut. Bahkan Noval hampir menelan permen susu beserta sunduknya. Dia hampir meninggoy.


"TUA BANGET ANJIRRR" seru Vero dengan kencang yang sontak mendapat tabokan di kepala dari Kai. Cowok itu merengut kesal.


"Gue mau nyelidikin tuh anak, gue ngerasa ada yang gak beres sama dia"


********


Jeng jeng jenggggg, bakal kek gimana niehhh?.


Tinggalkan jejak ya sayang-sayang kuuu, like coment itu hukumnya wajib!!