
Hari-hari terlewati setelah kejadian itu. Tidak ada yang berubah, semua tetap berjalan seperti biasa seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu juga dengan Kairen. Cowok itu mencoba bersikap santai saat berhadapan dengan Boy, seolah dia tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun kepada orang yang katanya merupakan sahabat dari saudara kembarnya itu.
"Nih" Boy datang sembari meletakkan sekaleng soda dingin di depan Kai. Cowok itu melihatnya kemudian menyunggingkan senyum tipis.
"Thanks" ucap Kai singkat.
Mereka berempat duduk di meja yang terletak di pojok kantin. Meja yang sudah disewa oleh Satya dan hanya mereka yang boleh duduk disana.
"Lo berdua pesen makanan sono, beli di Mang Ujang kek biasanya!!" perintah Noval yang membuat Vero dan Boy berdecak.
"Yaelah, baru juga duduk" cebik Boy kesal.
"Tau nih, mager akh guee" Vero meminum es tehnya dengan acuh, enggan untuk menanggapi.
"Gue bayarin" mendengar hal-hal yang berbau gratisan, jiwa semangat Vero dan Boy langsung membara. Tanpa disuruh dua kali, dua cowok itu langsung ngacir untuk antri di stand Mang Ujang. Tak lupa mereka meminta duit dulu pada Kai untuk membayar.
"Si Satya kemana?" tanya Kai dengan mata yang tak lepas dari layar ponsel.
"Toilet keknya. Dia tadi di kelas ngeluh nahan boker" sahut Noval.
"Kai"
"Hmm"
"Lo sama Kimy gimana?"
Pertanyaan itu sontak membuat Kai mendongak. Alis cowok itu terangkat sebelah, matanya menyiratkan kebingungan yang dia tujukan kepada orang di depannya.
"Emang gue sama Kimy kenapa?" bukannya menjawab, dia malah bertanya balik. Untung Noval agak sabar. Kalo Vero yang digituin, bisa-bisa dia udah kena siraman rohani dari mulut Vero yang bau terasi.
"Ya elo sana dia gimanaaa?!" tanya Noval lagi dengan nada gemas. Cowok itu mengetatkan gigi-giginya, menahan kesal melihat kelemotan otak Kai yang kadang bikin orang istighfar.
"Ya gak gimana-gimana" sahut Kai dengan tampang watadosnya.
Noval menghembuskan nafasnya kasar. Ini Kai yang kurang peka, kodenya Kimy yang kurang frontal, apa dia yang kepekaan?!.
"Kimy itu cantik ya?" Kai menaikkan sebelah alisnya bingung. Tidak biasanya Noval menanyakan hal seperti itu, tapi tak urung dia tetap menjawab.
"Cantik tapi galak. Dia asik juga sih, tapi ya itu galaknya pengen gue buang ke sungai amazon" Kai menggerutu panjang. Sifat galak Kimy memang yang paling bikin dia kesel. Apalagi kalo cewek itu lagi dalam mode judes. Mukanya lebih serem dari muka emaknya pas dia ketahuan pecahin cobek.
"Lo gak ada perasaan suka gitu sama dia?" Noval terus memancing, berusaha nembuat Kai meraba perasaannya sendiri tanpa perlu dia suruh dengan cara yang frontal. Cowok itu nampak berpikir, sebelum akhirnya dia mengendikkan bahunya bingung.
"Gue gak tau" jawab Kai seadanya.
"Kayaknya gue suka deh sama dia" soda yang masih meluncur pelan di kerongkongannya dia semburkan kembali. Kai terbatuk beberapa kali. Cowok itu kemudian mengambil tissue, mengelap leher dan bajunya yang terkena soda.
"Lo gila ya?!" sentak Kairen dengan emosi.
"Why?. Kimy jomblo, gue boleh dong deketin dia?!" tukas Noval
"Tapi lo deketnya sama Gabriel bangsatt!!. Lo gak kasian sama dia?!. Sekarang lo malah mau deketin Kimy. Anjing lo!!" Kai menarik kerah baju Noval dengan mata yang menyorot tajam ke bola mata hitam cowok itu.
"Lo marah karena peduli sama Gabriel apa karna lo gak terima kalo gue deketin Kimy?!" Sarkas Noval yang membuat cowok bermarga Alexander itu terdiam.
Melihat keterdiaman Kairen membuat Noval terkekeh sinis. Cowok itu melepas paksa cekalan Kai di kerah bajunya kemudian merapikan bajunya yang sedikit lusuh.
"Lo terlalu naif sama perasaan lo sendiri" dia bangkit dari duduknya, "Tanya ke hati lo sekarang, sebelum lo nyesel seumur hidup"
Setelah mengucapkan itu, Noval beringsut pergi, meninggalkan Kairen dengan segudang kebingungan. Cowok itu mengusap rambut dan wajahnya dengan kasar, sampai tak lama Vero dan Boy datang sembari membawa empat mangkok mie ayam.
"Lah, si Opal kemana?" tanya Vero yang tak mendapat respon apapun.
Bukannya menjawab, Kai malah bangkit dari duduknya kemudian berangsur pergi tanpa pamit sedikitpun. Vero dan Boy menatap cengo kearahnya. Mereka bingung.
**************
Kai berjalan memutari sekolah tanpa arah seorang diri. Sapaan dari para cabe-cabean pun cuma dia abaikan. Hal itu membuat mereka semua bingung. Tidak biasanya seorang Raizel yang mereka kenal sangat friendly kini mendadak menjadi orang yang acuh tak acuh.
"*Lo marah karna peduli sama Gabriel apa karna lo gak terima kalo gue deketin Kimy?!"
"Lo terlalu naif sama perasaan lo sendiri"
"Tanya ke hati lo sekarang, sebelum lo nyesel seumur hidup*"
Kai mengumpat dalam hati saat kata-kata itu terus terngiang dipikirannya. Dia sendiri juga bingung. Semuanya masih abu-abu. Selama ini dia hanya berdalih bahwa hanya menganggap Kimy sebatas sahabat. Tapi setelah mendengar ucapan Noval barusan, hatinya bimbang.
"Gue cuma nganggep dia sahabat kan?" tanyanya pada hatinya sendiri.
Benar kata Noval, dia memang terlalu naif untuk mengerti perasaannya sendiri. Banyaknya drama percintaan yang dia alami, dia menjadi tidak tau, mana cinta yang hanya semu, mana yang benar cinta atas takdir yang tertentu.
Saat Kai tengah bergelut dengan hati dan pikiran, mata cowok itu menangkap sesuatu di salah satu sudut sekolah. Di sebuah kursi taman yang terletak di bawah pohon beringin, tampak Kimy, Rachel, Satya, Gabriel dan Elsa sedang duduk bersama sembari tertawa.
"Muka lo pucet, lo sakit?" tanya Satya dengan wajah khawatir.
"Enggak. Mungkin karna gue belum sarapan makanya gini" alibi Kimy sembari menyunggingkan senyum tipis.
Pandangan Kai terus tertuju pada satu titik, sampai tak sadar kalau langkahnya berjalan mendekat kepada titik itu.
Rachel tersenyum lebar saat melihat Kai datang menghampiri mereka. Saat cowok itu semakin mendekat, dia berdiri lalu berjalan menghampirinya.
"Kok kesini, kan aku udah bilang tungguin aja ke kantin. Nanti aku samperin" ucap Rachel
"Bukan lo, gue kesini mau nemuin Kimy" sahutan itu membuat gadis yang semula menunduk menyembunyikan wajahnya kini mendongak menatap Kai dengan wajah terkejut. Lebih terkejut lagi saat cowok itu tiba-tiba menarik tangannya untuk pergi.
"Mau kemana?" tanya Kimy karena sedari tadi Kai hanya diam.
Saat mereka sudah tiba di area belakang sekolah, Kai melepas cekalan tangannya. Dia berbalik badan, melihat kearah Kimy dengan intens hingga membuat gadis itu gugup.
"Kai pliss, hati gue gak kuattttt" jerit Kimy dalam hati.
Sekarang Kai bingung harus memulai pembicaraan darimana. Baru kali ini dia kehabisan topik.
Cowok itu berulang kali menelan ludah, hingga jakun yang menggantung di leher putihnya bergerak naik turun. Bibir pink alaminya sesekali dia basahi menggunakan lidah, terlihat sangat menguji iman untuk kaum islam KTP seperti Kimy.
"Nanti sore, lo sibuk gak?. Jalan yuk" ajak Kai tanpa basa-basi. Entahlah, hanya itu yang terlintas dipikirannya.
"Jalan?, tumben lo ngajak gue" tanya Kimy heran.
"Mau gak?. Banyak nanya deh lo kek rentenir"
Bibir Kimy mencebik kesal. Gak bisa ya, dia lembut dikit jadi cowok. Gak bisa romantis banget jadi cowok. Tapi Kimy tidak bisa mengelak kalau dia juga senang, kapan lagi mereka bisa seperti ini.
"Boleh, jam berapa?" sahutnya sekaligus bertanya.
"Nanti jam 3 sore gue jemput, dandan yang cakep. Gue gak mau ngajak kalo tampilan lo masih kayak gelandangan"
"Sialann!!!"
**Cerita ini gak bakal sepanjang 'Beautiful Bad Girl' ya. Tapi aku usahain bakal terus bertahan sampek tamat. Tinggalin like, and komen sebanyak-banyaknya buat semangatin othor cantikk yawww.
thengkyu, scene Kaikim akan ada di part selanjutnya...
see you guyss**:)