
Kimy menatap uluran tangan Kai dan Satya bergantian. Jujur dia bimbang, di satu sisi dia tidak enak pada Satya tapi di sisi lain dia ingin bersama Kai.
"Sama gue ya?" tawar Satya sambil mengumbar senyum manisnya.
Kimy membalas dengan senyuman, dan itu berhasil membuat Satya melambungkan harapannya bahwa Kimy akan menerimanya malam ini. Tapi ternyata salah. Gadis itu menerima uluran tangan Kai, dan hanya memberikan dirinya sebuah senyuman tanpa ada ucapan menerima.
"Sorry ya Sat, gue mau sama Kai" sahut Kimy dengan wajah memelas. Satya tersenyum kecut yang tampak sekali sangat terpaksa.
"Oke, no problem. Have fun malam ini buat kalian" dia menepuk bahu Kai sebentar kemudian melenggang pergi, meninggalkan Kimy dengan sejuta rasa bersalah.
"Gue nyinggung dia gak sih?" tanyanya pada Kai. Cowok itu menggeleng sebagai jawaban, dia kemudian tersenyum simpul.
"Gak ada yang lo singgung. Semua orang berhak nentuin pilihannya kan?. Dan malem ini pilihan lo adalah gue" Kai tersenyum miring, tangannya menggandeng tangan Kimy ke area ballroom. Mengajak cewek itu berdansa bergabung bersama beberapa pasangan yang juga ada disana.
Di bawah lampu gantung yang berkilau dengan alunan piano merdu, Kai dan Kimy berdiri berhadapan. Menggerakkan tubuh mereka seiring dengan lantunan musik yang mengiringi. Di sinar temaram itu, Kai dapat melihat senyum Kimy terulas lebar meskipun separuh wajahnya tertutup topeng. Dan detik itu juga, Kai menetapkan senyum itu sebagai senyum favoritnya.
"Kalo gak kuat gak usah diliat kali" Satya yang sedang menikmati segelas minuman di tangannya pun menoleh cepat saat mendengar ada orang yang berceletuk di sampingnya.
"Kamu aneh ya. Udah tau bikin sakit hati tapi tetep aja dikejar. Sedangkan orang jelas-jelas tulus sama kamu malah gak kamu anggep" lanjut Rachel sambil terkekeh kecil.
Satya mendengus, tangannya meletakkan gelas yang semula dia pegang ke atas meja. Cowok itu memiringkan tubuhnya, guna menatap Rachel dengan tatapan dingin tapi menusuk.
"Lo gak tau apa-apa, jadi jangan sok tau sama perasaan gue!!. Terus soal menunggu, itu salah lo sendiri. Gue gak pernah minta lo buat nungguin gue, lo sendiri yang ngelakuin. Jadi jangan salahin gue kalo lo sakit nantinya, karena sampek saat ini, disini" Satya menunjuk dadanya sendiri, "Lo gak ada sama sekali"
Rachel membatu beberapa saat, bahkan saat Satya melenggang pergi pun dia cuma diam. Ada rasa sakit menusuk yang disampaikan melalui kata-kata itu.
"Cinta emang gak salah, tapi waktu dan pilihan kita yang terkadang salah arah"
*************
"Akhirnya lo ngakuin kalo gue cantik" celetuk Kimy sembari memasang wajah menggoda. Di sela-sela dansa mereka, bisa-bisanya dia menyempatkan diri untuk menggoda Kai tentang pujian yang cowok itu lontarkan tadi.
"Gue boong tadi mah. Sebenernya lo tuh jelek, tadi gue ngomong gitu supaya lo seneng aja terus nyanyinya bisa bagus" lancar banget mulit Kai kalo menghina. Gak heran kalo kumis Pak Slamet sampe keriting gara-gara menghadapi sikap menye-menyenya yang kadang membuat orang-orang pengen banget ngejadiin dia tumbal pesugihan.
"Muji aja pakek gengsi segala lo anak kodok!!" dengus Kimy dengan wajah dongkol hingga bibirnya maju beberapa senti.
"Kenapa tuh bibir dimaju-majuin, minta cium?" goda Kai sambil memasang wajah mesum. Kimy bergidik geli, mungkin memang benar kata teman-temannya..Otak Kai itu gak lebih besar dari butiran marimas.
"Najiss!!"
Kai terkekeh menanggapi. Sebelah tangannya yang semula berada di pinggang Kimy kini beralih memegang pipi gadis itu. Mencubitnya pelan hingga pemiliknya memekik ringan.
"Gemesin banget sih mirip babii" ucap Kai.
"Sialann!!" Kimy menginjak kaki kiri Kai menggunakan kakinya yang dibaluti heels berwarna abu-abu. Cowok itu memekik keras, bisa dipastikan sesakit apa kakinya saat ini. Diinjak menggunakan heels itu lebih sakit ketimbang ditinggal dia pas lagi sayang-sayangnya.
"Sakit Kokom!!" desis Kai. Tapi Kimy malah menjulurkan lidahnya tidak peduli.
"Bodo amat!!"
Selang beberapa menit, lampu gedung tiba-tiba padam. Menimbulkan kericuhan yang tercipta dari banyaknya siswa dan tamu yang hadir. Kimy gelisah, tangannya memegang lengan Kai dengan erat. Cowok itu menoleh kearah Kimy yang sedang menunduk takut. Dia tau sejak dulu Kimy memang takut kegelapan.
Dorrr
Suara peluru meluncur membuat kepanikan tercipta dalam gedung itu. Banyak orang berteriak histeris bahkan ada yang berlarian keluar untuk menyelamatkan diri. Guru-guru pun ikut berlari keluar. Tidak menghiraukan siswanya sama sekali, yang ada dipikiran mereka adalah menyelamatkan diri terlebih dulu yang utama.
Dari kejauhan Kai dapat melihat Satya, Rachel, dan yang lain sudah keluar. Bunyi ponsel mengalihkan perhatian cowok itu. Dia merogoh sakunya, ternyata telfon dari Rai.
"Kenapa, disini lagi gawat!!" tanyanya dengan suara gusar.
"Keluar dari gedung itu sekarang, disana ada bom!!"
"Jangan ngaco lo, lo tau dari mana?!" tanya Kai panik.
"Gue ada di depan gedung anyinng!!. Sekarang lo keluar. Lo sama Kimy kan?. Jagain dia, bawa dia keluar dan jangan sampek luka. Ngerti lo?!"
Kening Kai mengerut bingung mendengar penuturan Rai yang seperti sangat khawatir dengan Kimy. Belum lagi bagaimana bisa cowok itu ada disini sekarang.
Tapi tak urung Kai tetap melakukan perintah Rai. Dia mematikan panggilan, kemudian menoleh kearah Kimy disampingnya.
"Lo percaya sama gue kan?" tanyanya yang dibalas gadis itu dengan anggukan. Tanpa menunggu aba-aba, Kai langsung menggendong Kimy ala bridal style dan membawanya menuju pintu keluar.
"SEMUANYA CEPET KELUARR, DISINI ADA BOM!!" teriak cowok itu dengan begitu nyaring. Semua orang bertambah panik, mereka sibuk berlarian kesana dan kemari. Banyaknya orang yang ada disana membuatnya kesulitan berjalan dan tidak bisa membedakan mana yang musuh dan benar-benar tamu.
Dorr
Peluru melesat kearah mereka, beruntung Kai bisa menghindar. Tatapannya menajam menatap seseorang yang bersembunyi dibalik tembok. Sedangkan Kimy hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Kai. Dia terlalu takut untuk melihat sekitar.
Bertepatan dengan itu Satya kembali masuk ke dalam gedung. Dapat dipastikan cowok itu pasti mencari Kimy, terlihat jelas sorot kekhawatiran itu di matanya. Kai menurunkan Kimy saat Satya tiba di depan mereka.
"Kim lo gapapa?" tanya Satya khawatir, Kimy mengangguk kecil.
"Gue titip dia" celetuk Kai tiba-tiba yang membuat Kimy dan Satya bingung.
"Maksud lo?" tanya Satya.
"Gue ada urusan, bawa Kimy keluar. Gue percaya lo bisa jaga dia. Jangan sampe dia lecet, kalo dia sampe luka kepala lo yang gue penggal!!"
"Tapi lo gimana, disini bahaya tau!!" Satya berdecak, kenapa gadis itu selalu memikirkan Kai?!.
"Gak usah mikirin gue, gue bakal baik-baik aja. Pokoknya sekarang lo keluar, jaga diri lo buat gue"
Tolong siapapun, Kimy baper akut sekarang. Kenapa sikap Kai yang seperti ini membuatnya semakin berharap besar. Tapi Kimy cukup sadar diri dan tidak membiarkan harapannya terus melambung tinggi. Apalagi kalau mengingat bahwa dia sedang tidak baik-baik saja, dia tidak mau membuat Kai kesusahan nantinya.
Satya membawa Kimy keluar dari area gedung, meninggalkan Kai yang masih menatap mereka dari kejauhan. Dia terus melihat punggung Kimy hingga gadis itu sudah tidak terlihat dalam pandangannya. Dia harus memastikan Kimy dalam keadaan aman, meskipun dia tau kalau Satya pasti akan menjaga gadis itu dengan ekstra.
Semua orang sudah keluar, gedung kini sudah sangat sepi dan berserakan. Kai buru-buru mengejar seseorang yang berlari menjauh. Mereka berkejaran sampai keluar gedung melewati pintu belakang, Kai baru mengetahui pintu ini.
"WOY BERHENTI LO!!" seru Kai dengan lantang, tapi orang itu acuh. Di sela-sela langkahnya, Kai mengambil sebuah batu lalu melemparnya kearah orang tadi. Dan yah, lemparannya tepat mengenai kepala orang itu hingga membuatnya kesakitan dan berlari berseok-seok.
Di belakang gedung hanya ada pepohonan, dan beberapa bangunan tidak terpakai bekas konstruksi.
Cowok itu berdecak keras, dia kehilangan jejak.
"Cepet banget sih larinya!!" decak Kairen sembari mengamati sekitar. Cahaya temaram dari rembulan satu-satunya pencerahannya kali ini. Dia kesulitan.
Kai terus menyusuri jalan, hingga kakinya menginjak tetesan-tetesan darah di atas tanah, dia yakin itu darah orang tadi. Kai mengikuti arah tetesan darah itu membawanya melangkah. Hingga dia tiba di sebuah gubuk di tengah pepohonan, Kai melihat seseorang.
"Akhhh" seseorang di teras gubuk itu mengerang kecil karena kepalanya berdenyut dan mengeluarkan darah lumayang banyak akibat batu besar yang mengenai kepalanya. Dengan gerakan perlahan, dia membuka topeng di kepalanya dan menggunakan topeng itu untuk mengelap darah yang mengalir di pelipis hingga dagu.
Kai terkejut bukan main. Ternyata selama ini dugaannya benar, dia pelaku itu.
"Gue gak nyangka ternyata lo orangnya!!" gumam Kai dengan emosi sembari menatap penuh amarah kearah Boy. Tangan cowok itu terkepal erat, dia benar-benar murka.
Setelah itu, bibir tipisnya menyeringai lebar. Sisi hitamnya sedang bangkit sekarang. Cowok itu membenahi jasnya yang lusuh, dia terkekeh sinis.
"Tunggu kejutan dari gue, Boy!!"
LIKE, LIKE, LIKEEEEE, JAN LUPA COMENT JUGA YAAA. MAACI:)