
'Kamu adalah mentari malam. Yang senantiasa menemani saya, menemani kata. Sehingga saya dan kata tetap bisa bersinar di remang redup cahaya'
~Kimyora
Pagi itu Kimy membuka matanya setelah tidur semalam penuh. Rasa pegal di punggung langsung menyerang gadis itu karena terlalu lama berbaring. Dia menatap ke sekeliling ruang rawatnya, tidak ada orang. Gadis itu kemudian meligat kearah jam dinding dan ternyata sudah jam 11 siang. Pantas saja, mungkin sebagian orang sedang sibuk mencari makan siang.
Kimy mencoba untuk duduk, punggungnya sangat pegal sekarang. Dengan gerakan tertatih gadis itu mencoba untuk bangkit. Hingga sebuah lengan kokoh menyangga punggungnya, membantunya untuk duduk hingga membuat Kimy menoleh dan menemukan Kai datang untuknya.
"Kalo ada butuh apa-apa itu panggil gue, jangan anggep lo bisa ngelakuin semuanya sendiri. Batu banget sih jadi cewek" Kairen berucap seraya menatap sebal kearah gadis di depannya.
Kiny terdiam, mata indah gadis itu menatap intens kearah Kai tanpa berkedip. Di sudut hatinya yang terdalam dia bahagia, Kai kembali untuknya.
"Lo balik?. Lo gak marah sama gue?" tanya Kimy antusias. Kai hanya diam melihatnya, seakan enggan untuk menjawab.
"Lo pasti laper kan?. Nih gue tadi dititipin sama suster yang di depan suruh ngasihin ke lo" cowok itu lebih memilih memberikan nampan berisi makanan sehat dari pihak rumah sakit kepada Kimh, daripada menjawab pertanyaan yang gadis itu tanyakan.
Kimy yang mengerti pun ikut diam. Dia menerima nampan itu lalu melihat isinya.
"Liat makanannya aja perut gue udah kenyang duluan" ucap Kimy.
Kai meringis. Dia sendiri juga tidak akan mau kalau diberi makanan seperti itu. Dia tidak membayangkan bagaimana hidup Kimy kalau harus memakan makanan seperti itu setiap hari.
"Kalo gue suapin pasti rasanya jadi enak" seloroh Kai sembari memamerkan cengiran andalannya. Tangan cowok itu merebut nampan di pangkuan Kimy. "Kalo makan liat muka gue aja, muka gue kan sedep. Pasti makanannya ikutan enak"
Gadis itu mendelik sinis menatapnya. Dia memaklumi sikap Kai yang memang udah narsis akut sejak lahir. Bahkan dia dulu pernah ngaku adiknya justin bieber karena bisa hafal lagu despacito.
"Narsis banget lo, dasar upil kuda!!" hardik Kimy. Tapi tak urung dia tetap menelan suapan demi suapan yang diberikan Kai meskipun makanan itu terasa ingin kembali dia muntahkan karna rasanya hambar. Kai menyuapinya dengan sabar, sesekali memberi jeda saat Kimy sudah hampir menyerah untuk memaksa makan makanan itu.
Batin Kimy semakin berteriak saat dia harus dihadapkan dengan berbagai jenis kantong berisi obat-obatan yang harus dia minum. Rasanya dia ingin menangis sekarang. Kai membukakan kantong itu satu-persatu, memberikan beberapa pil sesuai dosis yang dianjurkan.
"Lo harus sembuh. Gue janji deh kalo lo sembuh entar gue beliin makanan apapun yang lo mau. Lo mau apa, burger?, pizza?, sushi?, apa mochi?. Gampang entar gue beliin sama penjualnya sekalian" Kimy terkekeh. Dia beruntung masih punya orang dekat seperti Kai yang selalu menghiburnya dengan omongan nyeleneh yang selalu cowok itu ucapkan.
Setelah menemani Kimy minum obat, Kai menarik selimut sampai sebatas dada untuk menyelimuti gadis itu. Kimy berbaring di ranjangnya tanpa tidur. Kai pun tetap menemani di sampingnya. Dia duduk di kursi samping ranjang Kimy, tetap diam sembari bertopang dagu menatap gadis di sampingnya.
"Lo gak sekolah?" Kai menggeleng.
"Kenapa?" tanya Kimy lagi.
"Males aja, enakan disini sama lo" sahut Kai tanpa memikirkan perasaan Kimy yang sedang menahan gejolak dalam hatinya.
"Gak usah GR. Kan kalo gue disini sama lo gue gak usah ikut pelajaran, apalagi ini waktunya Pak Rasul. Idih males banget"
Tuh kan, baru juga mau baper. Kimy harus mendem jauh-jauh rasa bapernya dan berganti rasa dongkol pengen ngubur Kai hidup-hidup.
"Sialann lo" umpat Kimy yang membuat Kai terkekeh hingga matanya menyipit.
"Gak usah ngambek" Kai mengacak rambut Kimy dengan gemas. "Oh ya, di depan ada bokap nyokap lo"
Gadis itu spontan kaget. Kedua alisnya naik dengan mata yang melotot kaget kearah Kai meminta penjelasan.
"Lo ngasih tau mereka?!" pekik Kimy.
"Yaiyalah geblekk, gimanapun mereka orang tua lo. Mereka harus tau lah" jawab Kai. Kimy hanya bisa pasrah, toh orang tuanya sudah terlanjur tau percuma juga dia menutupi.
Tiba-tiba ponsel Kai berbunyi. Cowok itu merogoh sakunya untuk mengambil benda persegi yang selalu dia bawa kemana-mana. Diurutan paling atas, ada chat dari Rachel masuk di ponselnya. Kai segera membukanya.
Rachel Cans:v
Kamu dimana?
Sibuk gak?
^^^~Engga sibuk, knp?^^^
Selang 1 menit kemudian Rachel membalas.
~Bisa tolong jemput aku ga?. Papa ga bisa jemput, aku ga berani naik ojek online. Disini udh sepi bgt😭
^^^~Gue jmput sekarang, tungguin gue jgn kemana² entar diculik orang^^^
^^^~Ya mungkin lah. lo kan cantik, orng² pada naksir. Bisa aja lo diculik buat dijadiin pacar^^^
~Ga mau ihh. Tapi klo jd pacar kamu bisa dibicarain wkwk
^^^~Jadi kapan?^^^
~Apanya?
^^^~Kita jadiannya?^^^
~Aduhh bentar² mau baper dlu😭
Kai berulang kali terkekeh membaca pesan beruntun yang dikirimkan Rachel untuknya. Dan hal itu mengundang kebingungan di wajah Kimy.
"Chat siapa?. Kayaknya seru banget" tanya Kimy yang membuat Kai mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Cowok itu kemudian menyinpan ponselnya dalam saku jaket.
"Dari anak-anak Warrior" Kai terpaksa harus berbohong. Dia tidak mungkin bilang jujur, dia masih menghargai perasaan orang lain.
"Gue tinggal dulu ya, tadi Satya bilang ada yang mau dibahas di Basecamp. Tapi gue janji kalo urusan gue udah selesai gue langsung balik lagi kesini" pamit Kai. Kimy hanya mengangguk lesu. Jujur dia tidak mau ditinggal tapi dia sadar, hidup Kai tidak hanya berpusat pada dirinya. Cowok itu juga punya hal lain yang harus diurus. Kimy tidak mau egois.
"Jangan lama-lama" sahutnya dengan nada manja. Dia melakukan itu hanya saat bersama Kai, hanya kepada Kai.
Cowok itu tersenyum simpul. Tangannya bergerak mengelus kepala Kimy yang sedang berbaring.
"Iya bawel, gak lama kok. Kalo kangen gue telpon aja, gue layanin sampe mulut gue lemes" dia terkekeh, "Semangat Kim, lo harus sembuh buat gue"
**********
"Jadi gimana?. Gue masih nungguin lo Ta, tapi lo gak pernah ngasih kejelasan"
Sore itu, Raizel mengajak Agatha bertemu di taman. Meminta kejelasan dari hubungan mereka yang masih menggantung di awan-awan. Lucu memang, mereka sangat dekat tapi hubungan mereka belum juga mencapai titik dimana mereka bisa mengerti peran satu sama lain.
Agatha menatap Rai dalam dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. Air mukanya tidak terbaca, Agatha memang selalu tenang dalam menghadapi situasi apapun.
"Gue gak bisa"
Tiga kata, tapi mampu membuat setengah jiwa Rai runtuh. Cowok itu menatap Agatha tidak percaya. Sesosok gadis yang beberapa bulan ini menemaninya, menghiasi hari-harinya, memberinya sebuah rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya kini menolaknya dengan serta merta. Padahal beberapa hari lalu Agatha masih sangat manis kepadanya, memberikan perhatian kecil layaknya sepasang kekasih. Tapi beberapa hari ini gadis itu menjauh, seolah enggan untuk dekat.
"Kenapa?" tanya Rai.
"Pokoknya gue gak bisa Rai, gue gak mau" Agatha menjawab tegas, "Please hargai keputusan gue. Dan gue mohon lo jangan pernah temuin gue lagi" lanjutnya tanpa mau menatap Raizel. Dia menatap kearah lain, enggan melihat cowok yang sedang manatap tajam kearahnya.
"Bilang sekali lagi sambil liat mata gue!!. Ngomong Ta!!"
Agatha tersentak saat Rai memutar paksa tubuhnya. Kini mereka duduk berhadapan. Agatha dapat melihat sorot kekecewaan yang tersirat di mata Rai. Tapi dia tidak punya pilihan.
Agatha menguatkan hatinya untuk membalas tatapan cowok itu. Dia berbicara tegas, "Maaf, gue gak ada rasa sama lo. Gue gak bisa sama lo Rai. Dan gue mohon jangan pernah lo temuin gue lagi, anggeo kita gak pernah kenal, anggep gue orang asing yang gak pernah ada di hidup lo dan kisah kemarin itu gak pernah ada. Dan gue juga bakalan ngelakuin itu"
Rahang Raizel mengeras dengan air muka tang berubah marah. Dia melepas tangannya dari bahu Agatha kemudian berdiri.
"Oke kalo itu mau lo, gue bakal lakuin itu semua. Setelah ini gue gak bakal nemuin lo lagi, gue juga gak akan ikut campur lagi tentang hidup lo. Sesuai sama apa yang lo mau" ucapnya sembari menatap lurus ke depan.
"Bagus kalo gitu" Agatha menunduk dalam. Dia tau Rai marah, kecewa, dan sakit hati. Dia sendiri juga merasakan itu. Tapi keadaan memaksanya untuk melakukan ini semua.
Rai pergi tanpa mengucapkan sepatah kata, tanpa adanya ucapan perpisahan untuk mengakhiri pertemuan mereka. Agatha hanya bisa memandang sayu kepergian Raizel. Dia tidak boleh sedih, bagaimana pun dia yang menyuruh cowok itu pergi dari hidupnya. Sekarang Agatha harus menjalani setiap peristiwa di hidupnya sendirian. Mungkin setelah ini akan ada banyak yang berubah. Hidupnya, mereka, dan juga hatinya.
"Maaf Rai"
**Assalamualaikum semuaaaa, maaf banget ya othor cantik baru up. Beberapa hari lagi sibuk nih hehee.
Kabar kalian baik kan? Sehat-sehat terus ya. Oh iya, berhubung ini hari raya, aku atas nama pribadi mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakannnn.
Minal aidzin wal faizin, mohin maaf kalo sekiranya ada perkataan aku yang menyinggung kalian:)
Terima jasih karena udah sabar nunggu dan selalu ngasih support, jangan lupa like dan komennya yaaa. See you😍**