Our Love Story

Our Love Story
Kabar



Matahari mulai turun, hendak mengistirahatkan dirinya lalu digantikan oleh sinar rembulan yang siap menyinari malam hari.


Di kamar yang tidak terlalu luas dengan fasilitas sederhana, seorang gadis tengah tertidur sambil meringkuk di balik selimut. Wajahnya pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi dahinya.


drrttt.... drttt


Kimy melenguh tertahan saat bunyi ponsel mengganggu tidurnya yang baru beberapa menit. Tangan gadis itu meraba-raba ke samping meja untuk meraih benda persegi itu. Dan dapat. Ternyata ada pesan masuk. Dia membuka aplikasi chat yang ternyata adalah pesan dari mamanya.


Mom


~Mama ada di kafe Storia, kamu kesini ya. Mama tunggu


Kimy menghela nafas panjang. Dia tidak mungkin menolak permintaan mamanya. Gadis itu melirik jam yang tergantung di dinding, sudah pukul 19.00. Itu artinya sudah 3 jam dia tidur terhitung sejak pulang sekolah jam 4 sore tadi.


Kimy merubah posisinya menjadi duduk. Sejak tadi pagi, kepalanya pusing dan tubuhnya lemas tidak menentu. Nafsu makannya juga turun, padahal dia tidak merasa demam atau meriang. Gadis itu memijit pelipisnya sendiri, bertepatan dengan itu sebuah caiean mengalir dari hidungnya dan menetes mengenai selimut yang dia kenakan.


"Lagi?" gumam Kimy dengan bingung. Gadis itu mendongakkan kepalanya, tangannya sudah sibuk menggapai tissue untuk mengelap dan menyumbat darah yang keluar dari hidung.


Cukup lama Kimy dalam posisi seperti ini. Dia sendiri juga bingung. Akhir-akhir ini dia sering mimisan, tapi dia hanya menganggap hal itu lumrah. Mungkin karena dia sering kepanasan dan kecapekan, begitu pikirnya.


Setelah dirasa darahnya sudah berhenti, Kimy berdiri lalu membuang semua tissue-tissue itu ke tempat sampah. Dia mengambil handuk yang tergantung di tembok, dan bersiap untuk menemui mamanya.


************


Malam itu angin berhembus kencang, menerpa kulit Kimy yang hanya dibalut jaket hitam. Di tengah malam yang gelap, Kimy melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalanan seorang diri. Kepala gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri, mencari angkutan umum seperti angkot ataupun taksi yang bisa untuk mengantarnya ke Cafe Storia.


"Kok gak ada taksi ya" gumam Kimy bingung.


Dia ingin cepat-cepat sampai ke cafe. Tubuhnya sudah tidak kuat untuk berjalan. Fisiknya terasa sangat lemah, kepalanya bahkan kembali terasa nyeri. Kimy berpegangan pada pohon di pinggir jalan, bibirnya meringis tertahan. Semua dunia terasa berputar, pandangannya memudar lalu semua berangsur menjadi gelap.


***********


"Jawabannya gimana?"


Ini sudah kelima kalinya Raizel bertanya demikian pada Agatha. Tapi gadis itu hanya diam, tidak memberikan jawaban apapun selain senyuman kecil.


"Gimana gue bisa yakin sama lo disaat lo sendiri gak bisa tepatin ucapan yang lo omongin ke gue" sahut Agatha yang membuat kening Raizel mengerut bingung.


"Maksud lo?" tanyanya.


"Lo bilang gue cinta pertama lo kan?. Tapi apa yang gue liat itu gak seperti apa lo omongin Rai"


Kini Raizel semakin bingung. Apalagi ucapan Agatha yang menurutnya berbelit-belit, semakin membuatnya tidak mengerti dengan situasi saat ini.


"Lo ngomong apa sih Ta?!" tanya Raizel seraya mengusap rambutnya frustasi.


"Waktu itu gue sempet liat lo lagi jalan sama cewek. Mesraaa banget. Dia pacar lo kan?!. Ngaku!!" Agatha menatap tajam kearah Raizel dengan bibir yang mengerucut lucu. Niatnya supaya kelihatan serem, tapi menyrut Raizel itu malah kelihatan imut.


"Gue?. Jalan sama cewek?" tanya Raizel sembari menunjuk dirinya sendiri.


"Udah deh, lo gak usah pura-pura. Gue liat jelas-jelas lo perhatian banget sama dia sampek makein helm segala. Mana pernah lo begitu ke gue?!. Mesra aja gak bisa diitung jari. Gitu kok bilangnya gue cinta pertama, iloh taiii" Agatha terus menyerocos panjang lebar sembari bersendekap dada dan mengalihkan pandangannya kearah lain.


Sekarang Raizel tau, pasti yang dimaksud Agatha itu Kairen yang dianggap sebagai dirinya. Emang ya, punya kembaran yang hobby nyusahin plus bikin ribet itu susah. Sekarang dia bingung harus menjelaskan dari mana, karena gak mungkin dia bicara jujur pada Agatha.


"Jadi lo cemburu?" goda Raizel sembari menaik turunkan alisnya menggoda.


Agatha mendadak gelagapan. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, yang penting bukan menatap Raizel.


"Y-ya en-enggak lah. Gak usah GR deh lo" kilahnya dengan cepat. Jangan sampai Raizel besar kepala.


"Cemburu aja pake acara gengsi" Raizel mencibir pelan namun Agatha masih bisa mendengarnya.


"Ihhh, gue gak cemburu. Gue itu cuma..-


"Cuma apa?" Raizel tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajah Agatha. Membuat gadis itu terkejut bukan main, untuk bicara pun rasanya susah. Pikirannya masih sibuk menenangkan degup jantungnya yang tidak menentu.


"Hmm?" seakan tidak puas mengerjai, Rai semakin mendekatkan wajahnya. Tak lupa senyuman jahil warisan dari Kenzi yang tak luntur dari wajah rupawan cowok itu.


"G-ga-gapapa" spontan Agatha mendorong dada Raizel untuk menjauh. Gadis itu mengalihkan pandangannya. Menghirup oksigen sebanyak mungkin setelah dadanya terasa sangat sesak beberapa menit yang lalu hanya karena tatapan seorang Raizel Elashki.


"Ayo pulang" Gadis itu buru-buru masuk ke dalam mobil, meninggalkan Raizel yang tengah terkekeh melihat tingkah konyolnya.


Di dalam mobil pun suasana canggung muncul di antara mereka. Raizel berulang kali melirik kearah Agatha yang sibuk melihat kearah luar jendela. Tampak sekali kalau gadis itu sedang menghindar.


"Gue bakal buktiin ke lo kalo gue serius Ta. Gue gak pernah main-main sama perasaan gue ke lo" ucap Raizel tiba-tiba. Tapi Agatha hanya diam.


Di tengah perjalanan mereka, tiba-tiba banyak kerumunan orang yang mencoba menghentikan beberapa mobil tapi tidak ada yang berhenti. Saat mereka mencoba menghentikan mobil Raizel, cowok itu menghentikan laju mobilnya lalu membuka kaca mobil tersebut.


"Ada apa ya Pak?" tanya Raizel dari dalam mobil.


"Maaf mas, itu ada orang pingsan di pinggir jalan. Bisa minta tolong anter ke Rumah Sakit?" tanya orang itu dan pastinya Raizel setuju. Dia dan Agatha turun dari mobil untuk melihat siapa orang yang dimaksud.


"Kimy?!" pekik Raizel terkejut sekaligus panik saat melihat tubuh Kimy terbaring dan ditunggui oleh beberapa warga sekitar.


"Lo kenal?" tanya Agatha


"Dia temen gue" sahut Raizel panik. Agatha dapat menangkap unsur kekhawatiran yang mendalam dari suara dan raut muka cowok itu. Apalagi saat melihat Raizel menggendong Kimy dan membawanya masuk ke mobil. Gadis itu masih terpaku di tempat.


"Ta, ayo!!" Agatha tersentak saat Raizel berseru kencang dari arah mobil. Gadis itu buru-buru menghampiri dan masuk ke mobil itu untuk mengantar Kimy ke Rumah Sakit.


*************


Gadis dengan bulu mata lentik dan mata indah itu mengerjap beberapa kali. Pandangannya masih buram menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retina matanya.


Saat matanya sudah terbuka sempurna, dia hanya melihat ruangan serba putih dengan alat-alat medis dan bau khas obat Rumah Sakit. Mencium itu rasanya Kimy serasa ingin muntah.


Ceklek.....


Suara pintu dibuka menarik atensi Kimy untuk menatap kearah pintu. Ada seorang pria dengan baju jas putih khas dokter masuk diikuti oleh seorang gadis berkemeja putih di belakangnya. Mereka menatap ramah kepada Kimy.


"Gimana keadaan kamu?" tanya Pria dengan nametag Dr. Cakra di dadanya.


"Udah mendingan" sahut Kimy seraya menyunggingkan senyum tipis.


"Saya sakit apa ya dok?" tanya Kimy dengan suara serak.


Dr. Cakra menoleh kearah Agatha di sampingnya. Agatha yang mengerti pun langsung memberikan map biru yang semula dia bawa. Dokter itu menerimanya, lalu membuka tiap-tiap lembar kertas di map itu.


"Selama ini kamu gak merasa gejala aneh di tubuh kamu?" sebelum menjawab pertanyaan ini, dokter itu lebih dulu melontarkan pertanyaan dengan wajah prihatin yang membuat perasaan Kimy semakin tidak menentu.


"Selama ini saya emang sering pusing sama lemes sih, Dok. Tapi itu saya anggep biasa aja soalnya saya pikir itu gara-gara saya punya darah rendah" terang Kimy.


Dokter itu menghela nafas panjang. Dia menatap kertas di tangannya dan Kimy secara bergantian.


"Kamu di diagnosis terkena leukemia stadium 4"


Ucapan itu bagaikan petir yang menghantam hidup Kimy. Mata gadis itu melotot sempurna, ekspresi terkejut itu jelas nampak di wajah pucat Kimyora.


"Ga-gak mungkin dok. Itu pasti ketuker deh tes nya" Kimy mencoba mengelak dari takdir. Suaranya bergetar hebat. Tidak, dia tidak mau mati sekarang. Dia masih ingin menjalani hidupnya. Bersama dengan semua orang, bersama kebahagiaan, dan bersama Kai.


"Gimana mungkin kamu gak menyadari gejalanya sampai sakit kamu bisa sampai di tahap akut seperti ini?" tanya Dokter Cakra dengan wajah simpati. Tapi Kimy tidak menjawab. Gadis itu diam membeku, seakan nyawanya tidak ada disana.


Melihat Kimy tidak merespon, dokter itu kembali menghela nafas. Dia melirik kearah Agatha, kemudian pergi meninggalkan ruangan itu.


"Gue gak mau mati" lirih Kimy seraya mencengkram kuat sprei Rumah Sakit.


Agatha hanya diam sembari menatap prihatin kearahnya. Tak berselang lama pintu kembali terbuka. Raizel masuk ke dalam dan langsung duduk di samping Kimy.


"Kim" panggil cowok itu dengan nada rendah, tapi Kimy hanya diam.


"Lo gak perlu takut. Ada gue, Kai, sama orang-orang yang sayang sama lo. Lo gak sendirian" cowok itu mengusap bahu Kimy yang terdiam kaku. Gadis itu menoleh, menatapnya dengan tatapan sayu.


"Gue boleh minta tolong sesuatu gak?" tanya Kimy.


"Apa?. Lo mau minta tolong apa?. Gue pasti bantu" sahut Raizel dengan cepat.


"Tolong jangan kasih tau siapapun tentang ini, terutama Kai. Please Rai, kali ini aja. Gue pengen hidup bahagia"


**************


**Kalimat buat bab ini?


kangen othor gak?


heheee


jan lupa like&coment**:)