Our Love Story

Our Love Story
Shipper Mana Nih?!



Kimy mendrible bolanya kearah ring. Berlari dengan teratur diiringi pantulan bola ke lantai. Tangannya terangkat, bersiap melakukan tembakan dan hasilnya masuk sempurna ke dalam sasaran.


"Nice" Kai tiba-tiba muncul sambil memberikan tepukan tangan. Ciwok itu tersenyum kagum, diikuti Vero dan Noval yang ngebuntut di belakangnya.


"Jago gitu, ngapa kagak ikut tim basket sih?!" tanya Noval bingung.


Kimy mengoper bolanya kepada Kai. Cowok itu menangkapnya, membawa lari bola itu sembari didrible beberapa kali. Kimy berusaha merebut. Menghalanginya menuju ring agar tidak mencetak skor.


"Males akh, enakan juga rebahan" sahut cewek itu tanpa menghentikan lariannya.


"KEBIASAAN BERGAUL SAMA KING KONG YA GITU JADINYA!!" timpal Vero dengan nada nggak santai. Dimana pun dan kapanpun, ngegas is number one.


"Iye, elu kingkongnya!!"


Kimy tetap menyahuti sampai tidak sadar Kai berhasil mencetak poin. Cowok itu tersenyum bangga sembari menyurai rambut cokelatnya menggunakan telapak tangan. Dia berdiri dihadapan Kimy, kemudian mengacak puncak kepala gadis itu berulang kali.


"Lain kali, kalo mau nantangin gue, latihan dulu seribu kali. Biarr bisa menang" ucap Kairen sembari menyunggingkan senyum meledek. Menggoda manusia baskom yang satu ini memang menjadi kesenangan tersendiri baginya.


"Sombong amat!!" Kimy mendesis, cewek itu merengut kesal sambil mengikat rambutnya asal.


Kai mengamati pergerakan cewek itu. Dengan gerakan kilat, dia menarik kuncir rambut Kimy sehingga rambutnya kembali menjuntai.


"Nah, gini kan cantik" Kairen menggoda diiringi senyum jenakanya. Dia memasukkan kuncir rambut cewek itu di saku celana, tempat paling aman karena nggak ada yang berani nyentuh.


"CEBONG, BALIKIN KUNCIR RAMBUT GUE!!" pekik Kimy dengan kencang hingga membuat beberapa siswa yang ada disekitar lapangan menoleh kearah mereka. Dia menatap Kai dengan kesal. Entah sudah berapa kuncir rambutnya yang diambil cowok itu tanpa permisi. Dan dengan goblokknya si pelaku cuma nyengir anjing kayak ikan kecemplung kali.


"Ambil aja sendiri" Kai menyodorkan saku celananya sambil tersenyum menggoda.


"Tapi kalo dedek emesh gue bangun lo harus tanggung jawab!"


Kimy menungkikkan alisnya. Pengen nabok tapi takut digorok sama emaknya Kai yang hobby garuk punggung pake golok. Akhirnya Kimy cuma bisa ngelus dadanya yang rata, belajar jadi orang sabar biar kayak pemain indosiar.


"TERSERAH LAH, LO MAH SELALU KAYAK GITU. SEBEL GUE SAMA LO!!"


Kimy melipir pergi dengan hati nahan dongkol. Kai menatap kepergiannya sambio terkekeh kecil, merasa puas karena bisa mengerjai cewek baskom itu.


"Gitu dong ngambek, kayak bocah aja"


*********************


Jam istirahat memanng surganya para siswa yang prinsipnya sekolah bawa uang jajan, pulangnya bawa surat BK. Kantin SMA Garuda memang selalu ramai. Bahkan saat jam pelajaran pun masih banyak yang datang cuma sekedar untung bolos jam mata pelajaran.


Siang itu Kimy memasuki Kantin seirang diri dengan wajah kesal. Dia berulang kali menyikap rambutnya yang jatuh ke depan wajah. Bukan tanpa alasan dia enggan mengurai rambut. Semua itu ada alasannya, alasan yang hanya dia dan tuhan yang tau.


"Mang, bakso sama es teh satu ya. Saya tunggu di meja"


"Siap Neng, ditunggu ya"


Kimy tersenyum menyahuti ucapan pria paruh baya penjaga stand bakso di kantin. Dia kemudian berjalan kearah meja kosong di pojok ruangan. Meja khusus yang dikhususkan untuk dirinya dan Kairen dkk.


Kimy menunggu sembari bermain ponsel, mencari inovasi lagu untuk perform nya lusa. Satu persatu lagu dari musisi tanah air dia putar untuk menetukan kecocokan. Sampai dia merasa ada pergeseran di kursi sampingnya, gadis itu menoleh.


"Satya?"


Satya duduk sambil tersenyum tanpa dosa. Matanya menatap Kimy penuh kekaguman, sahabat masa kecil yang bodohnya menjadi orang yang dia sukai saat ini.


"Sendirian aja, gue duduk disini enggak masalah kan?"


"Ya enggak lah, tempat ini kan bukan punya bapak gue" Kimy mencoba acuh. Dia bukan orang bodoh, dia tau maksud perhatian Satya selama ini. Dan dia tidak mau memberi harapan. Lebih baik dia menghindar, seolah bersikap tidak tau dan tidak mau tau. Masalah sakit hati itu urusan belakangan. Yang penting sekarang dia menjauh agar tidak terlalu masuk ke dalam permainan perasaan.


Kimy kembali fokus kepada ponselnya, seakan tidak menganggap kehadiran Satya disana. Sambil menyangga dagunya, Cowok itu diam sembari memperhatikan garis wajah Kimy yang tercetak dengan apik.


"Dikerjain Kai lagi?" tanya Satya berbasa-basi. Dia hafal, setiap Kimy menggerai rambut pasti Kairen pelakunya.


Satya bangkit dari duduknya, membuat Kimy mengernyit bingung. Dia pikir cowok itu marah karena dia abaikan. Tapi ternyata salah. Satya berdiri di belakangnya sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku.


"Gue tadi iseng bawa kuncir rambut punya adek gue. Berhubung enggak gue pakek, gue pakein ke elo ya?"


Kimy tertegun saat Satya meraih rambutnya. Ingin menghentikan tapi mulutnya terasa kaku untuk bicara.


"E-enggak usah, gu-gue bisa sendiri"


"Udah deh, lo diem aja. Hasil karya gue nggak pernah mengecewakan kok" dahut Satya tanpa menghentikkan aktifitasnya. Dia menarik rambut Kimy sedikit keatas, kemudian mengikat rambut gadis itu dengan rapi.


"Nah, cakep kan karya gue. Apalagi lo cantik, gue yang nguncir rambutnya jadi makin cantik"


Jantung Kimy jadi dag-dig-dug-derr tak menentu. Pengen enggak baper tapi sikap Satya bikin melting kayak es batu kena pemanasan global.


"Thanks"


Gadis itu mencoba mengalihkan pandangan saat Satya kembali duduk di sampingnya, menatapnya tanpa berkedip yang membuat dia salah tingkah.


"Neng, ini baksonya" Mang Udin penyelamat segalanya. Saat Kimy mulai mati kutu, pria penjual bakso itu datang sambil membawa makanan sesuai pesanan.


"Makasih Mang"


Kimy meraih mangkok baksonya. Memotong satu bakso besar menjadi potongan-potongan kecil. Dia memakan baksonya, enggan menanggapi Satya yang masih menatapnya tanpa henti.


"Lo suka bakso?" tanya Satya secara tiba-tiba.


"Iya, kenapa?"


"Dulu gue pikir kalo gue itu juga suka bakso, tapi ternyata gue sukanya sama elo"


Uhukkk


Kimy terbatuk beberapa kali setelah mendengar ucapan Satya yang bilang suka tanpa permisi. Gadis itu meminum es-nya. Dia diam menatap ke depan, kemudian tiba-tiba berdiri.


"Gue mau ke kelas"


Kimy memilih pergi, meninggaljan Satya dengan sejuta tanya. Dia lebih memilih menghindar. Dia sendiri tidak tau perasaannya. Siapa yang dia suka, siapa yang dia mau, dia juga bingung.


"Apapun balesan lo nanti, gue bakal tetep berusaha buat bikij lo selalu bahagia Kim. Dengan cara gue"


*******************


Suara dentingan jarum jam menemani gadis cantik yang menyendiri ditemani kesepian. Gadis dengan rambut sepinggang dan mata coklat indah itu membuka sebuah buku yang sudah usang dimakan waktu. Lembar demi lembar terbuka, menampilkan coretan tinta hitam yang tercetak di tiap lembarnya.



Dear Diary



Akhir-akhir ini semua berjalan jauh dari spekulasi gue. Ini bukan jalan yang gue mau, tapi semuanya mengalir begitu aja seakan mempermainkan perasaan. Sagabat jadi cinta, apa itu mungkin?.



Hy, apa kabar semua?. Masih setia nunggu BTLS?.


Aku minta maaf karena jarang up, jujur saat ini aku lagi banyak banget masalah di real life sampek aku bingung bagi pikiran. Masalah pribadi bener-bener buat aku pusing dan stress mikirin ini itu. Jadi aku mohon pengertiannya yaa. Aku juga minta doa kalian supaya masalah aku cepet selesai jadi bisa up kayak dulu lagi:)


Makasih banget bagi yang udah nunggu, jangan lupa tinggalkan jejakkk, happy reading:)