
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00, waktu sudah menjelang sore tapi gadis bernama Kimyora itu masih belum menunjukkan tanda-tanda akan beranjak dari kamarnya.
"Lo besok masuk nggak?" tanya Gabriel setelah selesai membuatkan pop mie untuk Kimy yang sedang tidak enak badan. Sudah tiga hari gadis itu tidak masuk sekolah, sudah tiga hari pula Gabriel dan Elsa selalu datang menjenguk setiap pulang sekolah. Entah untuk membawakan makanan ataupun hanya sekedar bercerita, dua gadis itu bisa membuat Kimy merasa bahwa dia tidak sendirian di dunia ini.
"Kayaknya sih masuk, badan gue udah mendingan juga" sahut Kimy.
"Gila sih, kelas sepi banget kalo nggak ada Elo. Si Rachel mah nggak asik, orangnya kekaleman" timpal Elsa blak-blakan. Gadis itu memang memiliki mulut yang suka ceplas-ceplos. Terkadang Kimy dan juga Gabriel takut melihat sikap Elsa yang terlalu blakblakan. Mereka khawatir ada kata-kata Elsa yang menyinggung orang lain dan bisa menjadi masalah sendiri untuk gadis itu kedepannya.
"Kan ada si Cebong sana antek-anteknya. Tuh anak kan kan selalu jadi biang kerok, nggak bisa sehari aja tanpa bikin rusuh" Kimy hafal, tidak akan ada kata sepi kalau Kairen dkk masih bernafas. Geng sableng itu pasti bisa membuat suasana menjadi ramai dengan tingkah mereka yang tidak manusiawi.
"Oh iya, ngomong-ngomong soal si Cebong, kabar dia sekarang gimana?. Tumben banget dia lama nggak kesini. Terakhir pas nganterin gue" tanya Kimy dengan raut wajah bingung. Empat gari sudah Kai tidak datang, padahal biasanya hampir setiap hari cowok itu selalu datang walau cuma buat numpang makan.
"Dia udah sibuk sama kegiatan barunya" Elsa ikut menimpali. Gadis itu meletakkan ponselnya di atas kasur, kemudian bangkit dari duduk untuk menuju toilet.
"Kegiatan baru?" kening Kimy mengernyit bingung menatap Gabriel.
"Kegiatan apa?"
Gabriel menghela nafas panjang. Malas sebenarnya dia harus membicarakan seseorang yang menurutnya tidak penting. Tapi karena Kimy bertanya, dengan setengah hati dia akan menceritakan.
"Biasalah, mepet-mepet sama si Rachel" ucap Gabriel dengan nada malas.
"Ohh, sama Rachel" lirih Kimy
Gabriel menatap ke wajah Kimy dengan seksama. Dia dapat melihat dengan jelas perubahan raut wajah gadis itu setelah dia mengucapkan nama Rachel.
"Lo kenapa?" tanya Gabriel
Kimy menggeleng pelan sebagai jawaban diiringi senyuman.
"Gue gapapa"
"Pesen gue, jangan pernah lo jatuh cinta sama Kai"
Ucapan itu, membuat kepala Kimy terangkat. Gadis itu menatap lurus kearah sorot mata Gabriel yang juga sedang menatapnya serius.
"Lo ngomong apaan sih, siapa juga yang bakal jatuh cinta sama cowok modelannya kayak dia?!. Gini ya Briel, gue sama Kai itu cuma sahabat nggak lebih. Dan akan terus begitu sampek kapanpun" sahut Kimy sambil terkekeh pelan.
"Gue tau. Gue udah kenal lo sama Kai sejak kita kecil. Dan lo tau sendiri kan, Kai itu nggak cukup sama satu cewek. Dia nggak bisa komitmen sama siapapun Kim" Gabriel menggenggam tangan sahabatnya.
" Gue cuma nggak mau lo sakit hati nantinya. Apalagi sekarang udah ada Rachel, yang kayaknya lebih bisa narik perhatiannya Kai. Mencintai Kai, itu sama aja lo nyakitin diri lo sendiri. Sebagai seorang sahabat, gue nggak mau lo sakit hati, apalagi kalo itu semua karena Kai"
Kimy menatap wajah Gabriel yang sedang menatapnya dengan sungguh-sungguh sebelum akhirnya gadis itu mengangguk.
"Gue tau. Dan lo tenang aja, gue nggak bakal jatuh cinta sama dia. Gue juga tau diri" ucapnya sambil tersenyum hambar.
Tak lama Elsa datang setelah selesai buang air. Dia meraih jaketnya dan juga tas yang dia taruh di lantai.
"Balik sekarang Yuk, nyokap gue udah nyariin nih" ajaknya pada Gabriel.
Gadis itu mengangguk setuju. Sebelum pergi, dia menatap Kimy sekali lagi diiringi senyuman.
"Gue harap lo pikirin omongan gue baik-baik. Cepet sembuh ya, gue balik dulu"
Elsa dan Gabriel pergi meninggalkan kamar kost Kimy. Pintu kamar yang kembali tertutup membuat raut wajah gadis yang tadinya gembira menjadi murung. Dia selalu begitu, bersikap seolah tidak apa-apa padahal kenyataannya tidak. Baginya, buarlah semua orang hanya tau sisi bahagiaanya. Untuk penderitaan, biarlah itu menjadi rasa yang dia pendam sendiri. Karena kenyataannya, orang lain hanya ingin tau, bukan peduli. Mereka mendekat hanya untuk mendapat apresiasi, bukan karena murni rasa empati.
Ucapan Gabriel terus terputar di otak Kimy dengan teratur. Gadis itu mendesah berat sebelum akhirnya kembali merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap atap kamar yang berwarna putih. Dia mengangkat tangannya. Membentuk pola di udara hingga tanpa sadar membentuk huruf 'K'
Kimy menggeleng keras, menolak mentah-mentah bisikan hatinya yang menurutnya konyol. Mana mungkin, mana mungkin dia merasakan hal itu.
"Cinta?, sama dia?. Hahaaa, nggak mungkin!!"