Our Love Story

Our Love Story
Chapter 10 - "Malam panjang yang singkat"



Malam telah berjalan


setengah. Xi Yue tampak berada di depan pintu masuk Kediaman Shi dengan ragu.


Dia memutar-mutar wajahnya untuk menyesuaikan ekpresi wajahnya. Hingga setelah


beberapa saat, dia memutuskan untuk memasang wajah ceria, senyuman memikat dan


mempesona.


“Tuan Muda, ada perlu


apa malam-malam begini” kata pelayan laki-laki di Kediaman Shi yang kebetulan


memiliki jadwal jaga malam.


“Ah, aku…” Xi Yue tidak


melanjutkan. Karena memang waktu itu sudah sangat larut untuk seorang tamu


berkunjung. Memang tidak sepantasnya. Lalu, apakah malam ini dia akan merelakan


waktunya tanpa A-Xu dan menunggu pagi untuk kembali melakukan kunjungan? Xi Yue


tampak menimbang-nimbang.


“Tuan? Apakah Tuan ini


tamu Nona? Jika iya, silahkan masuk. Makan malam mungkin sudah selesai. Jadi


Tuan bisa langsung saja masuk ke kamar.” Kata pelayan itu sesegera mungkin.


“Makan malam?” ulang Xi


Yue.


“Benar. Nona mengadakan


makan malam besar untuk kalian malam ini. Tapi nampaknya Tuan memiliki urusan


yang harus diselesaikan.” Kata pelayan itu “mari…” lanjutnya sembari menunjukan


jalan masuk.


Xi Yue mengangguk


paham. Dia tidak lagi mengucapkan kata-kata. Dia juga merasa lelah untuk hari


ini.


Pelayan itu memandu


jalan dengan berjalan di depan. Ketika sampai di depan sebuah kamar, pelayan


itu berhenti kemudian berkata “Silahkan,”


“Terima kasih…” kata Xi


Yue.


“Saya permisi dulu”


Xi Yue mengangguk.


Setelah itu pelayan itu pergi dari hadapannya. Xi Yue pun membuka pintu kamar


itu kemudian menutupnya. Dalam samar, dia melihat seseorang tertidur di ranjang


kamar itu. Xi Yue berjalan perlahan menuju ranjang itu. Disana dia melihat A-Xu


tertidur dengan wajah memerah. Terlentang tanpa aturan.


Xi Yue menghela nafas


penuh kesabaran kemudian merapikan posisi tidur A-Xu dengan layak. “Bagaimana


kabarmu hari ini?” senyum getir tampak tersurat di wajahnya.


“Xi Yue, kamu pulang”


kata A-Xu dengan keadaan setengah sadar. Dia kemudian bangkit dari tidurnya.


Duduk bersandar di ranjang. “kemana seharian ini?” lanjutnya.


“Bukankah sudah ku


bilang tadi pagi” kata Xi Yue.


“Benar. Aku lupa” A-Xu


melihatkan giginya yang seputih tulang. Xi Yue menanggapinya datar seolah


terbiasa. “kenapa kamu melihatku dengan wajah seperti itu?” A-Xu memasang wajah


manja, memanyunkan bibirnya.


“Lalu kamu mau


bagaimana?” Xi Yue menawarkan dengan sabar. Tampak kelembutan di matanya.


Untuk beberapa saat,


A-Xu seolah tersihir dengan kelembutan yang di tampak Xi Yue padanya. Tatapan


itu menyentuh hatinya. “Kenapa kamu tiba-tiba terlihat sangat tampan?” kata


A-Xu yang berada dalam keadaan setengah sadar.


“Benarkah?” kata Xi Yue


sedikit merasa malu dengan pujian yang diterima dari Istrinya.


Tiba-tiba saja A-Xu


memberikan serangan kejutan kepada Xi Yue yang membuatnya tidak bisa berkata. Ciuman


lembut mendarat di bibirnya setelahnya dua tangan mungil menggelayut di


lehernya, menariknya mendekat.


Xi Yue terbebelak.


Butuh beberapa detik baginya memahami situasi yang terjadi hingga akhirnya dia


menerimanya dan membalasnya dengan layak.


Sayangnya keadaan malam


itu tidak berlangsung lama karena A-Xu terlebih dahulu tertidur sebelum sempat


masuk ke tahap selanjutnya.


Xi Yue menghela nafas


dalam sembari memandangi Istrinya yang telah tertidur di dalam pelukannya “Kamu


selalu seperti ini”.


Malam panjang berakhir


pada waktunya. Matahari terbit, hari pun berganti. Suara burung berkicau


terdengar di taman Kediaman Shi.


Cahaya matahari masuk


melalui celah, menyilaukan mata A-Xu yang mulai terbangun. Matanya menyipit


sembari berkata “Silau” tangannya meraba. Dia merasakan sesuatu yang hangat.


terbuka, kesadarannya telah sepenuhnya kembali, dia mendapati kalau dirinya


tengah tertidur di dalam pelukan Xi Yue. Bukan hanya itu, dia juga melihat


kalau pakaian Xi Yue terbuka hingga terlihat dadanya yang begitu mengagumkan.


A-Xu menahan dirinya


untuk tidak mengeluarkan suara dan perlahan beralih ke sudut ranjang untuk


menenangkan hati dan fikirannya. Namun di tengah prosesnya, tangannya di tahan


oleh Xi Yue, membuatnya gagal menuju sudut ranjang.


“Apa yang kamu


lakukan?” kata A-Xu gugup.


“Menurutmu apa?” kata


Xi Yue rendah.


“Ki-kita?” A-Xu tergagap.


“Memangnya kenapa


dengan kita?” kata Xi Yue yang masih berada dalam posisinya, tidur miring


sembari menatap A-Xu yang tergagap karena gugup.


“Kenapa?” A-Xu


mengulang perkataan Xi Yue dengan nada sedikit ditekankan.


“Istriku, jangan


melukai hati ku di pagi yang masih buta ini. Kamu sudah berkali-kali menodaiku


dan kini kamu berkata seolah kamu belum pernah?” Xi Yue mendrama. Di dalam


perkataannya yang penuh drama, dalam sekilas tampak senyum geli tersirat


disana.


“Berkali-kali?” A-Xu


mengulangi. Dia sedikit tidak percaya. Namun jika difikirkan lagi, hubungan


mereka memang sudah cukup lama sebagai suami-istri. Bukan hal yang tabu jika


mereka melakukannya.


Melihat A-Xu yang


tampak memikirkan perkataannya, Xi Yue menarik paksa A-Xu ke pelukannya,


membantingnya ke ranjang hingga membalik posisi dimana A-Xu berada di bawah dan


kemudian menyerangnya dengan ciuman di pagi hari. “Tidak apa-apa. Karena aku


mengingat semuanya”


Kata-kata lembut dan


menenangkan itu menenangkan kegelisahan di hati A-Xu. Meskipun A-Xu tidak


mengatakan apapun, namun senyuman yakin terlukis di wajahnya.


Senyuman itu seperti


sebuah tanda persetujuan. Xi Yuepun kembali memberikan ciumannya. Kali ini


dengan lebih panas.


Ditengah suasana yang


intim itu, seorang pelayan di Kediaman Shi datang ke kamar A-Xu dengan membawa


sebuah nampan. Disana terlipat rapi sebuah pakaian.


Pelayan itu mengetuk


pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. “Apakah masih tidur?” fikir


pelayan itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam begitu saja.


Hingga ketika pelayan itu berada di dalam, dia terkejut dengan sebuah


pemandangan yang seharusnya tidak di lihatnya sehingga dia tanpa sengaja


menjatuhkan nampan itu. Menciptakan bunyi bising yang menyadarkan A-Xu dan Xi


Yue.


“Maafkan saya,” kata


pelayan itu dengan segera melarikan diri dari kamar itu. Tidak lupa, dia


menutup pintu kamar itu. Berdiri di luar pintu kemudian mengatur nafasnya dan


menenangkan dirinya.


Sementara itu, A-Xu


merapikan dirinya dengan segera. Memandang malu ke arah Xi Yue yang berada di


depannya.


“Maafkan saya. Saya


hanya ingin mengantarkan pakaian untuk Nona dari Nona Shi dan menyampaikan


kalau Nona menunggu untuk sarapan” kata pelayan yang datang dari luar kamar.


“Baik. Terima kasih.


Aku akan segera keluar.” Kata A-Xu.


Setelah menyampaikan


pesan, pelayan itu melarikan diri dengan segera. Wajahnya memerah.


Sementara yang melihat


merasa malu, yang dilihat justru tidak merasakan apapun.


“Kenapa melihatku


seperti itu?” kata A-Xu yang mendapati seseorang tengah memandanginya tanpa


celah.


“Menurutmu kamu bisa


melarikan diri karena ini?” kata Xi Yue.


“Apa maksudmu?” A-Xu


membuang mukanya berpura-pura seolah dia tidak mengerti apa maksud perkataan Xi


Yue saat itu. Dengan gugup dia segera turun dari ranjang sembari merapikan


dirinya “Nona Shi sudah menunggu” katanya untuk mengalihkan pembicaraan pagi


itu.