
Malam telah berjalan
setengah. Xi Yue tampak berada di depan pintu masuk Kediaman Shi dengan ragu.
Dia memutar-mutar wajahnya untuk menyesuaikan ekpresi wajahnya. Hingga setelah
beberapa saat, dia memutuskan untuk memasang wajah ceria, senyuman memikat dan
mempesona.
“Tuan Muda, ada perlu
apa malam-malam begini” kata pelayan laki-laki di Kediaman Shi yang kebetulan
memiliki jadwal jaga malam.
“Ah, aku…” Xi Yue tidak
melanjutkan. Karena memang waktu itu sudah sangat larut untuk seorang tamu
berkunjung. Memang tidak sepantasnya. Lalu, apakah malam ini dia akan merelakan
waktunya tanpa A-Xu dan menunggu pagi untuk kembali melakukan kunjungan? Xi Yue
tampak menimbang-nimbang.
“Tuan? Apakah Tuan ini
tamu Nona? Jika iya, silahkan masuk. Makan malam mungkin sudah selesai. Jadi
Tuan bisa langsung saja masuk ke kamar.” Kata pelayan itu sesegera mungkin.
“Makan malam?” ulang Xi
Yue.
“Benar. Nona mengadakan
makan malam besar untuk kalian malam ini. Tapi nampaknya Tuan memiliki urusan
yang harus diselesaikan.” Kata pelayan itu “mari…” lanjutnya sembari menunjukan
jalan masuk.
Xi Yue mengangguk
paham. Dia tidak lagi mengucapkan kata-kata. Dia juga merasa lelah untuk hari
ini.
Pelayan itu memandu
jalan dengan berjalan di depan. Ketika sampai di depan sebuah kamar, pelayan
itu berhenti kemudian berkata “Silahkan,”
“Terima kasih…” kata Xi
Yue.
“Saya permisi dulu”
Xi Yue mengangguk.
Setelah itu pelayan itu pergi dari hadapannya. Xi Yue pun membuka pintu kamar
itu kemudian menutupnya. Dalam samar, dia melihat seseorang tertidur di ranjang
kamar itu. Xi Yue berjalan perlahan menuju ranjang itu. Disana dia melihat A-Xu
tertidur dengan wajah memerah. Terlentang tanpa aturan.
Xi Yue menghela nafas
penuh kesabaran kemudian merapikan posisi tidur A-Xu dengan layak. “Bagaimana
kabarmu hari ini?” senyum getir tampak tersurat di wajahnya.
“Xi Yue, kamu pulang”
kata A-Xu dengan keadaan setengah sadar. Dia kemudian bangkit dari tidurnya.
Duduk bersandar di ranjang. “kemana seharian ini?” lanjutnya.
“Bukankah sudah ku
bilang tadi pagi” kata Xi Yue.
“Benar. Aku lupa” A-Xu
melihatkan giginya yang seputih tulang. Xi Yue menanggapinya datar seolah
terbiasa. “kenapa kamu melihatku dengan wajah seperti itu?” A-Xu memasang wajah
manja, memanyunkan bibirnya.
“Lalu kamu mau
bagaimana?” Xi Yue menawarkan dengan sabar. Tampak kelembutan di matanya.
Untuk beberapa saat,
A-Xu seolah tersihir dengan kelembutan yang di tampak Xi Yue padanya. Tatapan
itu menyentuh hatinya. “Kenapa kamu tiba-tiba terlihat sangat tampan?” kata
A-Xu yang berada dalam keadaan setengah sadar.
“Benarkah?” kata Xi Yue
sedikit merasa malu dengan pujian yang diterima dari Istrinya.
Tiba-tiba saja A-Xu
memberikan serangan kejutan kepada Xi Yue yang membuatnya tidak bisa berkata. Ciuman
lembut mendarat di bibirnya setelahnya dua tangan mungil menggelayut di
lehernya, menariknya mendekat.
Xi Yue terbebelak.
Butuh beberapa detik baginya memahami situasi yang terjadi hingga akhirnya dia
menerimanya dan membalasnya dengan layak.
Sayangnya keadaan malam
itu tidak berlangsung lama karena A-Xu terlebih dahulu tertidur sebelum sempat
masuk ke tahap selanjutnya.
Xi Yue menghela nafas
dalam sembari memandangi Istrinya yang telah tertidur di dalam pelukannya “Kamu
selalu seperti ini”.
Malam panjang berakhir
pada waktunya. Matahari terbit, hari pun berganti. Suara burung berkicau
terdengar di taman Kediaman Shi.
Cahaya matahari masuk
melalui celah, menyilaukan mata A-Xu yang mulai terbangun. Matanya menyipit
sembari berkata “Silau” tangannya meraba. Dia merasakan sesuatu yang hangat.
terbuka, kesadarannya telah sepenuhnya kembali, dia mendapati kalau dirinya
tengah tertidur di dalam pelukan Xi Yue. Bukan hanya itu, dia juga melihat
kalau pakaian Xi Yue terbuka hingga terlihat dadanya yang begitu mengagumkan.
A-Xu menahan dirinya
untuk tidak mengeluarkan suara dan perlahan beralih ke sudut ranjang untuk
menenangkan hati dan fikirannya. Namun di tengah prosesnya, tangannya di tahan
oleh Xi Yue, membuatnya gagal menuju sudut ranjang.
“Apa yang kamu
lakukan?” kata A-Xu gugup.
“Menurutmu apa?” kata
Xi Yue rendah.
“Ki-kita?” A-Xu tergagap.
“Memangnya kenapa
dengan kita?” kata Xi Yue yang masih berada dalam posisinya, tidur miring
sembari menatap A-Xu yang tergagap karena gugup.
“Kenapa?” A-Xu
mengulang perkataan Xi Yue dengan nada sedikit ditekankan.
“Istriku, jangan
melukai hati ku di pagi yang masih buta ini. Kamu sudah berkali-kali menodaiku
dan kini kamu berkata seolah kamu belum pernah?” Xi Yue mendrama. Di dalam
perkataannya yang penuh drama, dalam sekilas tampak senyum geli tersirat
disana.
“Berkali-kali?” A-Xu
mengulangi. Dia sedikit tidak percaya. Namun jika difikirkan lagi, hubungan
mereka memang sudah cukup lama sebagai suami-istri. Bukan hal yang tabu jika
mereka melakukannya.
Melihat A-Xu yang
tampak memikirkan perkataannya, Xi Yue menarik paksa A-Xu ke pelukannya,
membantingnya ke ranjang hingga membalik posisi dimana A-Xu berada di bawah dan
kemudian menyerangnya dengan ciuman di pagi hari. “Tidak apa-apa. Karena aku
mengingat semuanya”
Kata-kata lembut dan
menenangkan itu menenangkan kegelisahan di hati A-Xu. Meskipun A-Xu tidak
mengatakan apapun, namun senyuman yakin terlukis di wajahnya.
Senyuman itu seperti
sebuah tanda persetujuan. Xi Yuepun kembali memberikan ciumannya. Kali ini
dengan lebih panas.
Ditengah suasana yang
intim itu, seorang pelayan di Kediaman Shi datang ke kamar A-Xu dengan membawa
sebuah nampan. Disana terlipat rapi sebuah pakaian.
Pelayan itu mengetuk
pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. “Apakah masih tidur?” fikir
pelayan itu hingga akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke dalam begitu saja.
Hingga ketika pelayan itu berada di dalam, dia terkejut dengan sebuah
pemandangan yang seharusnya tidak di lihatnya sehingga dia tanpa sengaja
menjatuhkan nampan itu. Menciptakan bunyi bising yang menyadarkan A-Xu dan Xi
Yue.
“Maafkan saya,” kata
pelayan itu dengan segera melarikan diri dari kamar itu. Tidak lupa, dia
menutup pintu kamar itu. Berdiri di luar pintu kemudian mengatur nafasnya dan
menenangkan dirinya.
Sementara itu, A-Xu
merapikan dirinya dengan segera. Memandang malu ke arah Xi Yue yang berada di
depannya.
“Maafkan saya. Saya
hanya ingin mengantarkan pakaian untuk Nona dari Nona Shi dan menyampaikan
kalau Nona menunggu untuk sarapan” kata pelayan yang datang dari luar kamar.
“Baik. Terima kasih.
Aku akan segera keluar.” Kata A-Xu.
Setelah menyampaikan
pesan, pelayan itu melarikan diri dengan segera. Wajahnya memerah.
Sementara yang melihat
merasa malu, yang dilihat justru tidak merasakan apapun.
“Kenapa melihatku
seperti itu?” kata A-Xu yang mendapati seseorang tengah memandanginya tanpa
celah.
“Menurutmu kamu bisa
melarikan diri karena ini?” kata Xi Yue.
“Apa maksudmu?” A-Xu
membuang mukanya berpura-pura seolah dia tidak mengerti apa maksud perkataan Xi
Yue saat itu. Dengan gugup dia segera turun dari ranjang sembari merapikan
dirinya “Nona Shi sudah menunggu” katanya untuk mengalihkan pembicaraan pagi
itu.