Our Love Story

Our Love Story
Mata-mata



Bommm


Gedung tempat diadakannya party SMA Garuda meledak hebat akibat bom yang ditempelkan di dalamnya. Tidak ada yang tersisa selain puing-puing bangunan yang sudah tak terbentuk. Semua orang memekik histeris melihat kejadian itu, tak sedikit pula ada beberapa media yang meliput kejadian dan dapat dipastikan bahwa berita itu akan menjadi trending topik di media digital besok.


Kimy bergerak gelisah sembari menolehkan kepalanya ke kiri dan kanan, mencari sesosok orang yang terus mengusik pikirannya sejak tadi. Tidak peduli ada Satya di sampingnya yang sedang menatapnya sendu, ternyata dia memang tidak dianggap.


"Ini udah malem, lo gue anter pulang sekarang aja ya?" tawar Satya kemudian.


"Gak, gue mau nungguin Kai dulu. Lo kalo mau pulang duluan aja" sahut Kimy. Satya tersenyum tipis. Tangannya melepas jas yang semula dia kenakan dan memakaikannya ke badan Kimy, dia tau gadis itu kedinginan.


"Gue nunggu lo" ucap Satya. Kimy hanya menatapnya dalam, sampai akhirnya suara Kai mengentrupsi mereka berdua untuk segera pulang. Kimy terkejut.


"Kai, lo gapapa?" Kimy datang menghampiri Kai, memegang bahu cowok itu lalu memutarnya beberapa kali untuk melihat dia lecet atau tidak.


"Gue gapapaa" sahut Kai berusaha menenangkan. Kimy merengut kesal tangannya bergerak mencubit pinggang Kairen agak keras untuk meluapkan rasa kesalnya.


"Lo tuh kenapa sihhh, hobby banget bikin gue jantungan?!. Itu tadi bahaya tau gak, kalo lo ketembak gimana!!" cecar Kimy emosi, tapi Kai malah terkekeh tanpa dosa.


"Ciee, jadi lo khawatir gue kenapa-napa nih?!" godanya sambil menaik turunkan alisnya iseng.


"Gakk, lo mati gue gak peduli. Masuk lagi gih sono, biar ditembak *******!!" gadis itu mendesis kesal. Dia berbalik badan dan saat itu juga matanya menatap sosok Satya yang dari tadi menatap interaksi mereka dengan tatapan dingin. Dia merasa bersalah.


Kimy kemudian berinisiatif menghampiri Satya, berdiri dihadapan cowok itu sembari memegang bahunya.


"Anterin gue pulang ya?" pinta Kimy dengan ragu. Dan detik itu juga Satya langsung mengubah ekspresinya menjadi hangat. Dia tersenyum tipis, kemudian mengangguk setuju.


"Ayo" Satya hendak menarik tangan Kimy, mengajak gadis itu untuk pulang tapi Kai menahannya.


"Biar gue aja yang nganter pulang" cowok itu tiba-tiba menyela, membuat Satya menatap sinis kearahnya. Tapi Kai tidak peduli, toh dia memang tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.


"Gue gak mauuu!!" tolak Kimy jengkel, tambah jengkel lagi saat Kai langsung menarik tangannya tanpa permisi. Bahkan saat dia menolak pun Kai seolah tidak mendengarkan.


Malam itu hanya ada kesunyian yang tercipta di dalam mobil yang dihuni dua orang manusia berbeda gender itu. Kai sibuk menyetir, matanya fokus menatao depan tapi pikirannya berkeliaran kemana-mana. Mengingat kejadian Boy tadi, membuat emosinya kembali naik. Bahkan tanpa sadar tangan cowok itu mencengkram erat setir di pegangannya, membuat kerutan bingung tercipta di dahi Kimy saat melihat tindakan yang dilakukan cowok itu.


"Kai" panggil Kimy, tapi Kai hanya diam. Membuat gadis itu ikut diam dan tidak jadi bertanya.


30 menit berlalu dan akhirnya mobil Kai berhenti di depan halaman Rumah Kost Kimy. Kai ikut turun dari mobilnya untuk mengantar Kimy sampai depan pintu, dia cuma ingin memastikan gadis itu aman sampai masuk rumah.


"Thanks buat malem ini" gadis itu tersenyum lebar, sangat manis sampai tanpa sadar Kai ikut menarik sudut bibirnya keatas.


"Sana masuk, udah malem. Gak usah begadang, pasti lo suka begadang sampe muka lo pucet gitu"


Kimy tersenyum semakin lebar, dia senang mendapat perhatian seperti ini dari Kai. Dia ingin menikmati waktunya lebih lama bersama cowok itu, tapi dia sendiri juga tidak yakin dengan semesta yang terkadang memiliki takdir yang suka mempermainkan. Dia tidak mau berharap terlalu jauh, apalagi kalau sampai terjatuh untuk kesekian kalinya.


"Iya bawel!!" sahutnya dengan nada yang sedikit diketuskan.


"Udah lo pulang sana, ngapain masih disini!!"


"Dih, ngusirr gue lo?!" Kai tidak habis pikir dengan Kimy, kok bisa ada cewek yang gak terpesona sama sikapnya ini. Apa dia kurang romantis?.


"Iyalah, minggat sono lo gak usah balik lagi!!" usir Kimy dengan gaya angkuh. Kai mendesis jengkel, cowok itu benar-benar memutar badannya ke mobil hendak pergi.


"GUE BALIK. JANGAN KANGEN GUE YEE, TAPI KALO LO KANGEN BENERAN TELPON AJA GAPAPA WKWK"


"Gue sayang lo Kai, lebih dari yang lo tau. Suatu saat gue pasti bakal kangen sama lo kalo kita udah gak bisa ketemu lagi"


Gadis itu tertawa miris, lebih miris lagi saat hidungnya kembali mengeluarkan darah. Kimy terkekeh tapi matanya menangis. Dia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Nenghadapi kerasnya kehidupan sendirian itu gak mudah, jujur dia lelah dengan semua ini.


Gadis itu mengelap hidungnya denfan telapak tangan, tapi darah terus mengalir membuat Kimy mendongakkan kepalanya berharal darah itu bisa berhenti. Dalam hati dia bersyukur karena dia tidak mimisan saat masih bersama Kai tadi, kalau tidak pasti urusannya akan panjang.


***********


Sepasang kaki panjang itu melangkah masuk ke dalam sebuah ruang bawah tanah di dalam markasnya. Pencahayaan yang temaram dan juga tidak adanya fentilasi membuat area itu terasa sangat menyeramkan.


Diikut beberapa rekan satu gengnya, Kai menuju ke sebuah sel tahanan di sudut ruangan yang dikhususkan untuk menahan musuh mereka yang berusaha mengusik. Tempat itu sama sekali tidak mempunyai pintu keluar selain pintu depan yang pastinya sangat mustahil untuk dilewati.


Kai memberi kode kepada dua rekannya untuk menyeret seseorsng di dalsm sel itu dan menariknya paksa menuju ruang eksekusi.


Dua rekan Kai, si kembar Dony dan Dhany menyeringai senang mrndengar kata ruang eksekusi. Pasti akan ada pertunjukan seru nantinya.


Kai menyeringai sinis menatap orang di depannya yang sedang diikat di sebuah tiang dengan muka yang sudah babak belur.


"Gimana, enak gak hidup di dalem sans?" tanya Kai sambil tertawa mengejek.


"Mau apa lo?!. Mukulin gue lagi?. Pukul aja sampe lo puas, tapi sampe kapanlun gue gak akan buka mulut tentang siapa yang nyuruh gue!!"


Kai bersiul panjang, merasa kagum dan terkesan dengan rasa solidaritas dari orang di depannya ini. Dia bangkit dari duduknya, kemudian berdiri di samping orang itu sembari tersenyum miring.


"Lo gak perlu repot-repot buka mulut soal bos lo" cowok itu menjeda, " Karns gue udah tau" lanjutnya yang membuat orang itu tercengang.


"Tapi....., gue mau lo ngelakuin sesuatu buat gue" kata-kata Kai yang tidak to the poin membuat orang itu berdecak kesal.


"To the poin aja anjing!!” umpatnya.


Kai terkekeh, "Gak susah kok, lo cuma tinggal gabung sama geng gue trus lo jadi mata-mata di markas bos lo itu. Gampang kan?!"


"GUE GAK MAU!!" tolak orang itu segera. Ksi menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari dalam saku kemudian mencari sebuah video.


"Kalo gue nyuruh anak buah gue buat nyulik adek lo gimana ya?" ucap Kai dengan nads seolah berpikir, membuat orang itu menatap panik kearahnya. Tambah panik lagi saat Kai menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan seorang gadis SMP sedang berjalan sendirian di tepi jalan dengan dua orang yang setia mengekor di belakangnya.


" BANGSATTT, JANGAN PERNAH LO SENTUH ADEK GUE!!" marah orang itu dengan tangan yang bergerak kuat mencoba untuk melepas diri tapi percuma.


"Keputusan ada di tangan lo, setuju atau nggak"


Orang itu mengerang kesal, Kai benar-benar mempermainkannya.


"Oke, tapi jangan pernah lo deketin adek gue!!"


Kai tersenyum miring dengan wajah bringas, dia suka permainan ini..


"Semua tergantung sama lo. Kalo lo ngelakuin semuanya dengan baik, adek lo aman. Tapi kalo lo berani macem-macem, jangan salahin gue kalo adek lo yang jadi korbannnya!!"


Like, coment nya yukkkkkk!!!*