
Alfi POV
Satu hari sebelum memasuki jenjang menengah atas, orang tuaku tidak berniat untuk menghubungiku. Ketika aku memutuskan untuk menghubungi mereka, hanya ada nada sambung yang kemudian diikuti oleh suara operator yang memberitahu bahwa nomor orang tuaku sibuk.
Tak ingin menganggu mereka yang sedang dinas ke luar Kota, akhirnya aku memilih untuk merebahkan diri diatas kasur.
Setelah dipikir-pikir, sejak aku berusia sepuluh tahun, mereka selalu berkutat dengan lembaran-lembaran kertas berisi dokumen penting dan setumpuk bahan presentasi serta laptop. Aku tak pernah mendapat perhatian lebih dari mereka. Kebutuhan tercukupi, namun aku masih merasa hampa.
Jika diperbolehkan untuk memilih, aku lebih memilih kehangatan keluarga daripada rumah mewah, dengan segala isinya. Orang tuaku sengaja memfasilitasiku dengan segala kebutuhan. Termasuk asisten rumah tangga. Bi Sina, asisten rumah tangga yang dipekerjakan kurang lebih 6 tahun itu lebih banyak patuh padaku dan tentu saja orang tuaku.
Akibat terlalu lama hidup tanpa kehangatan keluarga, aku menjadi pribadi yang memiliki sikap pendiam dan lebih menutup diri. Aku sengaja membatasi lingkup pergaulanku dan kalaupun bergaul, aku akan memilih teman yang kurasa cocok atau pas.
Ketika usiaku menginjak 13 tahun, aku lebih tertarik dengan permainan game dan anime. Awalnya, Ibuku menolak ketika aku menyampaikan keinginanku untuk membeli konsol game. Tapi, dua hari setelahnya, beliau justru memberikanku konsol game tanpa harus kuyakinkan lagi.
Sejak saat itu, kehidupanku kurang lebih berubah. Aku sering memainkan game di rumah dan menonton anime tatkala memiliki waktu senggang. Selanjutnya, aktivitasku menjadi monoton. Tak ada yang istimewa bagiku karena aku lebih menyukai rumah, game, dan anime.
Namun, kehidupanku yang semula seolah kelabu, akhirnya lebih berwarna sejak pertemuanku dengan gadis bernetra ruby.
Gadis itu adalah orang yang pertama kali mau mengajakku bicara.Risa itu nama gadis itu.
"Alfi"
Gadis bernetra ruby itu memanggil namaku. Sebelumnya teman SMPku dulu tidak ada yang memanggilku dengan namaku mereka selalu memanggilku dengan sebutan 'orang aneh'. Karena dulu sangat pendiam sekali.
"Maksudku,Alifian Komeng itu lo pelawak"
Kemudian Risa pergi. Kelihatanya dia malu. Ketika dia pergi aku tertawa kecil.
"Gadis yang lucu"
Aku sempat berapa kali melihatnya. Dia sangat dingin kepada semua orang. Hmmm..
Dia dingin tapi jika salah tingkah atau malu sikapnya lucu sekali.kalau dilihat dari sifatnya gadis ini tidak akan memperlihatkan sifat aslinya kepada siapapun. Dia selalu sendirian entah mengapa aku merasa dia mirip denganku.
Tapi hari itu aku pertama kali melihat senyuman diwajahnya. Selama masa MOS aku belum pernah melihatnya tersenyum. Aku pun mencari tahu apa yang membuatnya begitu senang.
Zen.
Nama itu seperti tidak asing. Bukankah itu nama orang yang duduk tepat didepan Risa?. Kenapa Risa tidak bicara langsung padanya saja?. Sepertinya Risa tidak tahu itu. Dia terlihat senang sekali jika Zen mengiriminya pesan chat.
Hmmm.... Sepertinya Risa baru pertama kali sebahagia ini, kudengar teman SD dan SMP nya dulu selalu membully nya.sama sepertiku. Ketika lembaran pemilihan ekstrakurikuler diberikan. Aku sebenarnya ingin menanyakan ekstra apa yang akan dipilih oleh Risa. Tapi kenapa tidak bisa!.
Gadis itu menanyai Zen ekstrakurikuler apa yang akan dipilih oleh Zen. Aku berharap Risa bertanya padaku.tapi aku mendengarnya masuk ekstra karate. Hmm... Gadis ini sangat menarik. Aku menjadi tambah penasaran dengannya.
Melihat nama kami tertulis berada di Kelas 10 IPA II, tanpa sadar aku tersenyum senang. Berulang kali aku kembali melihat nama Risa yang tertera di lembaran itu memang benar-benar ada. Ketika telah merasa puas karena melihat nama kami benar-benar ada, aku melangkah pergi dan membiarkan para siswa siswi lain berdesakan.
Aku melangkah masuk ke dalam ruangan asing itu. Aroma sejuk dan wangi pengharum ruangan menyapa hidungku. Aku mengamati sekeliling. Di dinding bagian paling depan ada papan tulis putih berukuran panjang yang berhadapan langsung dengan bangku siswa. Tanpa banyak memilih, aku mendudukkan diri diatas kursi kayu yang bersebelahan dengan dinding bagian kanan. Di bangku paling depan, hanya ada seorang gadis berambut hitam yang duduk disana.
Dari postur tubuhnya, seketika aku teringat Risa. Gadis itu memiliki postur tubuh yang sama dengan Risa, rambut hitamnya yang diikat tunggal, serta wajah pucatnya. Benar saja, ketika gadis itu menoleh, aku semakin yakin jika dia adalah Risa.
Aku mengulum senyum. Aku bisa melihatnya setiap hari atau sesekali meliriknya tanpa sepengetahuan Risa.
Ketika jam istirahat telah tiba, aku hanya berdiam diri di dalam kelas. Duduk di kursiku sambil membenamkan kepalaku ke dalam lipatan kedua tangan. Sebagian besar siswa memilih untuk pergi keluar kelas setelah beberapa menit lamanya kami duduk didalam kelas menerima pelajaran.
Namun, tampaknya Risa dan seorang gadis berambut hitam lain yang duduk tak jauh dari tempatnya tak berniat untuk pergi dari kelas. Si gadis berambut hitam bernama Aira. Samar-samar aku masih mengingat namanya meski ketika walikelas 10 IPA II menyarankan kami untuk memperkenalkan diri masing-masing, gadis itu bersuara dengan intonasi lirih.
Aira sibuk menyantap bekal makan siangnya sementara Risa masih berdiam di tempatnya tanpa melakukan sesuatu yang berarti.
#
Keesokan harinya aku berangkat sekolah setelah memberi chat singkat pada Ibu dan Ayah. Ibu membalasnya dengan mengirimkan chat berisi nasehat tentang hati-hati di jalan dan belajar giat sementara Ayah hanya mengirimkan stiker jempol dengan tulisan besar 'oke'. Setelah mengayuh sepedaku cukup lama, aku berhenti di depan gerbang sekolah dan mulai menuntunnya hingga terparkir di tempat seharusnya.
Ketika masuk kedalam kelas, aku menjumpai Aira dan Risa tengah berbincang di depan bangku tempat dudukku. Seperti biasa, aku seolah membuang muka kesamping lalu berjalan cepat ke tempat dudukku. Sesekali aku melirik ke depan, dimana Risa tengah tersenyum pada Aira. Gadis itu menatapku sejenak kemudian kembali melanjutkan percakapan nya dengan Aira. Ia masih bersikap acuh tak acuh hingga akhirnya Risa bersuara.
"Hey! Ingat aku?" Tanya Risa sambil menatapku.
Risa membalas pertanyaanku dengan anggukan singkat sebelum kemudian melontarkan pertanyaan, "kamu teman sebangku saat MOS kan?"
Kali ini Risa mengangguk.kami mulai berbicara. Anehnya aku mencerikatakan semua tentang diriku. Aku belum pernah menceritakan diriku kepada siapapun. Kemudian Aira datang dan mengajak Risa keluar kelas.
Aku memutuskan untuk pergi ke kantin juga karena ingin membeli beberapa makanan. Usai membeli makanan ringan aku duduk di tempat yang kosong. Beberapa menit kemudian kulihat Risa sedang berjalan bersama dengan Aira. Dia menoleh ke arahku sebentar
Kemudian dia membicarakan sesuatu dengan Gadis bernetra Sapphire itu.
Risa menghampiriku. Aku mempersilahkan nya duduk tepat disebelahku.kami mulai berbicara lagi. Selang beberapa menit aku menghentikan pembicaraan kami.
"Seperti nya sudah ada yang menunggumu"
Ucapku sambil menunjuk ke arah seseorang yang duduk tak jauh dari kami.
"Kapan-kapan kita bicara lagi"
Ucapnya tersenyum kemudian dia menghampiri Aira.mereka berdua pergi. Entah mengapa aku malah mengikuti mereka berdua. Sampai di sebuah bangku dekat air mancur. Aku melihat lelaki mendatangi Aira dan mengatakan sesuatu sampai Aira menangis. Aira pergi kearah gudang sekolah. Aku pun mengikutinya. Benar saja! Dia menangis.
Aku memilih menghampirinya dan menghiburnya. Mengapa Risa tidak ada? Bukankah Aira temannya.
"Kenapa membantuku? Padahal aku membencimu!"
Tanya nya.
"Entahlah, aku melakukanya demi seseorang"
Ya! Aku melakukanya demi Risa. Aku tidak ingin melihatnya sedih. Sekilas aku melihat Risa, dia pergi berlari meninggalkan kami berdua.
#
Paginya aku sengaja datang sangat pagi. Aku menunggu Risa aku tahu dia biasanya datang dimana belum ada seorang murid yang masuk. Benar saja saat aku menunggunya di depan kantin Risa datang. Risa melewati ku begitu saja.
#
Risa membuatku sedikit kurang fokus untuk menerima pelajaran yang disampaikan oleh pria tambun berusia awal 50-an itu. Pria yang kerap di panggil Pak Supardi itu menjelaskan mengenai rumus fisika yang tentu saja sudah kuketahui karena semalam aku telah selesai mempelajari materi itu.
Pikiranku melayang saat kejadian pagi tadi. Risa seolah menghindariku pada jam istirahat pertama maupun kedua. Ketika kami bertemu tatapan, gadis itu sedikit terkejut namun segera memalingkan wajahnya.
Melihatnya memberikan respons yang diluar dugaanku, akhirnya aku juga melakukan hal yang sama. Spontan, aku memalingkan wajah ke arah dinding dan kembali berpura-pura fokus pada Pak Supardi yang kini tengah menggoreskan kapur ke permukaan papan tulis. Padahal, nyatanya, pikiranku masih terpusat pada Risa dan segala rencana yang telah kususun supaya kami tak lagi saling memalingkan wajah.
Aku mengacak-acak rambutku frustasi. Siapa yang patut disalahkan disini?!
Aku? Risa? Atau malah Aira?
Sepulang sekolah aku berniat menanyakan hal ini kepada Risa. Namun, gadis itu melangkah lebih cepat dari biasanya. Lagi-lagi aku mendengus. Aku kehilangan jejaknya lagi. Padahal aku berniat menyudahi ini. Kami ingin hubungan diantara kami baik-baik saja. Terlebih lagi, membuat Risa menghindariku bukanlah sesuatu yang kuinginkan.
Akhirnya, aku memilih untuk mengirimkan pesan chat padanya yang berisi permintaan maaf dan memintanya untuk tidak menghindariku lagi.
Chat itu seketika langsung terkirim dengan tanda centang dua abu-abu. Beberapa menit kemudian, centang abu-abu itu berubah menjadi biru. Tapi, tak ada tulisan mengetik ... berwarna hijau.
Risa hanya membaca tanpa menyanggupi permintaan ku ataupun membalas apapun.apakah Risa sebegitu bencinya padaku? Sampai membalas chatku saja tidak mau?.
Aku memutuskan untuk Jalan-jalan keluar rumah. Aku berjalan tak tentu arah.ku putuskan aku akan makan malam diluar saja. Aku pergi ke restaurant yang biasanya ku datangi bersama orang tuaku.
"Selamat datang di restoran kami tuan, mari kutunjukkan meja anda"
"Ternyata tempat ini tidak berubah"
Batinku.aku mencoba mngalihkan pikiranku tentang Risa. Kemudian ada tamu lain yang duduk tepat disebelahku, mereka sekeluarga.ada seorang gadis di keluarga itu. Yang tak asing bagiku.diam-diam ku perhatikan gadis itu dengan seksama.
"Mata Ruby itu... "
Aku menyadari bahwa gadis itu ternyata adalah Risa!. Sungguh kebetulan sekali aku bisa bertemu dengannya di sini. Ada seorang lelaki yang duduk disebelahnya. Apakah itu pacaranya?!. Tunggu dulu! Sepertinya itu tidak mungkin. Tapi mereka bedua tampak sangat akrab sekali.
Risa meninggalkan meja. Aku mengikutinya sampai dia berhenti ditaman Restaurant itu. Gadis bernetra ruby itu duduk dibangku yang ada di taman itu.
"Mungkin aku harus berhenti menghindari dengan Alfi"
Aku mendengar ucapannya itu. Dia berpikir sama seperti ku aku juga tidak ingin mebghindarinya lagi. Sangat tak nyaman menghindari orang yang penting bagimu. Aku menghampirinya dan duduk disebelahnya.
"Aku juga berpikir seperti itu"
Gadis itu tersentak kaget dan hampir jatuh.
"A.. A... Alfi kok kamu bisa disini?! "
Ucapnya gagap.
"Pfft"
Aku menahan tawaku. Gadis ini sungguh menarik!.Ternyata meskipun dingin dia bisa gagap juga,pfft..sungguh menarik!.
"Jadi.... Soal waktu itu... "
"Kita berdamai saja"
Aku menjawab kata-kata Risa sebelum dia menyelesaikannya. Gadis itu langsung tersenyum ke arahku. Senyumannya sangat manis sekali.
"Manis"
Tanpa sadar aku mengucapkan hal yang ada dipikiranku.
"Ha?"
Aku segera mengganti pembicaraan.
"Manis dessert yang ada disini"
Kulihat Risa juga sedang menahan tawanya. Kami pun tertawa bersama. Tiba-tiba seorang laki-laki yang duduk bersama Risa dimeja tadi datang.
"Kamu dari mana saja?!"
Ucap lelaki itu sedikit meninggikan nada bicaranya. Risa sepertinya sedikit ketakutan. Tapi gadis itu segera
tersenyum kembali.
"Kamu ini siapa?! Hah! "
Entah mengapa aku malah membentak nya.tampak lelaki itu meninggikan pandangan nya
"Aku kakaknya kenapa memang?!"
Wah! Aku sepertinya salah paham. Kukira dia orang yang akan menganggu Risa. Sial! Aku sangat memalukan.
"Tenanglah kakak,ayo kita kembali ke meja kita"
Risa segera menggandeng kakaknya dan pergi meninggalkanku. Entah mengapa sikapku jadi sedikit berubah. Aku yang biasanya pendiam kini berani membentak orang yang ternyata adalah kakak dari orang yang baru saja berdamai denganku. Aku sungguh tidak waras!.
#
Hari libur menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagiku. Dua jam lamanya, aku menghabiskan waktu untuk bermain dengan konsol game dan PC milikku. Sementara diluar sana, banyak pasangan yang tengah memakai baju casual untuk berkencan.
Jika boleh jujur, sebenarnya aku ingin. Tapi, jika tak ada yang bisa diajak pergi berdua, apa boleh buat?
Aku menenguk soda hingga tandas. Setelahnya, aku melangkah berjalan melewati ruang tengah untuk menuju ke dapur. Aku menemukan dua bungkus mie instan dan sebuah sticknote berwarna krem yang isinya menyuruhku untuk memasak mie instan jika lapar. Dibawah bagian pojok, ada tanda pagar dan tulisan 'Mama'.
Aku membiarkan sticknote itu tergeletak begitu saja diatas meja dapur sementara aku sibuk mendidihkan air untuk merebus mie. Beberapa saat menunggu sambil meletakkan bumbu mie ke dalam mangkuk, air telah mendidih. Aku meniriskannya sejenak sebelum kemudian mencampurnya menjadi satu dengan bumbu.
Memakan mie instan dalam waktu yang singkat dalam kondisi lapar.
Karena tak puas, aku memutuskan untuk membeli makanan lain di supermarket terdekat kemudian memakannya di bangku taman. Banyak orang yang berlalu lalang. Namun, aku berusaha mengabaikannya dan berusaha mencoba fokus pada makanan ku sementara sepasang kekasih di depanku tengah berpelukan.
Spontan, aku tersedak dan segera menyesap air mineral di dalam botol hingga tersisa setengah bagian botol.
Aku sedang minum ketika sebuah bayangan menutupi sebagian wajahku. Hal itu refleks membuatku mendongak dan menemukan Aira berdiri tepat di depanku menghalangi sinar matahari yang mengenai hampir seluruh tubuhku.
"Apa yang kau lakukan?" Tanyaku heran.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu! Apa yang kau lakukan pada Risa?" Balasnya sambil melipat tangan didepan dada.
"Hah? Apa maksudmu?"
Alih-alih menjawab, Aira justru menarik tanganku dan memaksa untuk berjalan terseok-seok mengikutinya. Aku hendak memprotes ketika Aira tiba-tiba melepaskan tanganku dan menyuruhku untuk berjongkok di depan tanaman.
"Hey! Ada ap-"
"Sstt! Diamlah!" Tukasnya sambil berjongkok disebelahku sambil menunjuk ke depan.
Di sana, Risa duduk di sebuah bangku panjang sambil menunduk. Sebagian rambutnya menutupi pipinya sementara wajahnya terlihat lebih pucat. Gadis itu mengamati handphone ditangannya dengan seksama.
Sendirian.
"Dia menunggumu mengirim chat. Kau ... Membuatnya menunggu terlalu lama."
#
Aku sangat paham apa yang dimaksud oleh Aira.
"Tunggu! Kenapa kamu tahu aku ada disini?"
Gadis Netra sapphire itu tersentak kaget. Dia tampak bingung. Aku sudah menduga kalau reaksinya akan seperti itu.
"Hanya kebetulan ketemu kamu saja kok!"
Hmmm... Jadi kebetulan?. Aku pikir tidak!. Jika ini kebetulan pasti Aira tidak akan menyeret ku kesini.
"Sudahlah! Cepat temui Risa!"
Aira mendorongku. Cewek ini...! Sudah menyeret-nyeretku kesini sekarang mendorongku begitu saja!. Aku pun menghampiri Risa. Dia tampak tak menyedari kehadiranku.
"Sedang menunggu siapa?"
Risa sontak menoleh ke arahku. Tatapannya seperti sedang Menanti-nanti sesuatu kemudian sesuatu itu tiba-tiba ada didepannya.