Our Love Story

Our Love Story
Penyelidikan



Siang itu, Kai membulatkan tekadnya pergi ke SMA Bakti untuk menuntaskan rasa penasaran yang beberapa hari ini sangat mengusiknya. Dia memilih pergi seorang diri, tidak melibatkan siapapun termasuk Raizel.


Butuh waktu sekitar 2 jam lamanya untuk bisa sampai di Kota A, Kota kecil yang memang sedikit jauh dari Kota J yang merupakan Kota metropolitan. Berbekalkan arahan dari google maps dan bertanya-tanya pada orang sekitar, mobil Kairen akhirnya tiba di depan sekolah dengan gerbang yang menjulang tinggi.


SMA Bakti, dilihat dari bangunannya sekolahan itu cukup berkelas. Tidak seburuk sekolah-sekolah di kota kecil lainnya. Kairen melangkahkan kakinya untuk masuk, tapi saat tiba di gerbang seorang satpam mencegahnya.


"Maaf mas, ada keperluan apa ya?" tanya Satpam itu dari dalam pagar tanpa berniat membukakan pintu.


"Saya mau jemput adik saya" dalih Kairen.


Mata satpam itu memicing curiga, dia menatap Kai dari bawah sampai atas. Seolah memastikan kalau Kairen bukan penculik.


"Tapi ini masih jam sekolah, mana mungkin kesini mau menjemput adik?" tanya Satpam itu sedikit sarkas.


"Tadi saya di telfon guru, katanya adik saya pingsan terus sekarang di UKS. Makanya saya dipanggil disuruh jemput". Kairen memang patut diberi penghargaan, lancar banget ngibulnya.


Satpam itu nampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya dia mengangguk dan membukakan gerbang.


"Silahkan"


Kai tidak menjawab, dia langsung aja nyelonong masuk tanpa sungkan. Cowok itu menyusuri koridor, mencari-cari letak ruangan tata usaha atau ruang kepala sekolah. Yang jelas tempat dia bisa bertanya tentang Boy.


Decakan kagum terdengar dari mulut siswi-siswi yang sedang berolah raga di lapangan yang tidak sengaja Kairen lewati. Tapi dia hanya acuh dan tersenyum simpul. Reaksi seperti itu sudah biasa baginya.


Tok...tok...


"Permisi...."


Kairen mengetuk pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruangan Kepala Sekolah'. Hingga ada suara sahutan dari dalam, dia segera membukanya.


Seorang pria paruh baya dengan seragam cokelat khas guru itu menatap kedatangan Kairen dengan wajah bingung, seolah tidak mengerti dan tidak mengenal siapa orang di depannya ini.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang itu mencoba ramah.


"Saya Kairen, temannya Boy" Kai memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.


"Boy?" ucap pria itu.


"Maaf kalo kedatangan saya membuat Pak Yudi bingung. Jadi gini, Boy sekarang sekolah di sekolahan yang sama dengan says, di SMA Garuda. Terus ada beberapa data dirinya yang salah, dan pihak sekolah pengen minta sedikit copy an data diri Boy untuk pembetulan. Kebetulan Boy nya lagi ada lomba, jadinya saya yang mewakili. Apa bisa Pak?" jelas Kairen panjang lebar dengan wajah penuh harap. Berharap Pak Yudi yang menjabat sebagai kepala sekolah itu mempercayai ucapannya.


"Tunggu, Boy sekolah di tempat kamu?. Mana mungkin, dia aja sudah lulus dari sini 2 tahun ysng lalu"


Ucapan Pak Yudi sekan menamparnya keras-keras. Mata Kairen membola sempurna, Saking kagetnya dia sampai tidak bisa menjawab ucapan-ucapan yang dilontarkan Pak Yudi.


"Dia sudah lulus bersama adiknya, bahkan dengar-dengar adiknya itu sempat lompat kelas karena pintar dan sekarang adiknya kuliah di kampus yang ada di Kota J"


Otak Kai yang memang dasarnya tumpul, makin bundel untuk disuruh berpikir. Otaknya bekerja keras memikirkan semuanya. Lulus?, 2 tahun yang lalu?, adik?. Bahkan dia tidak tau kalo Boy memiliki adik. Sekarang dia bingung, rahasia apalagi yang disembunyikan Boy dari mereka.


"Terus, orang tua Boy dimana ya Pak?"


"Saya kurang tau. Seinget saya dulu dia cuma ditemenin sama Tantenya"


Kai mengangguk-angguk mengerti. Cowok itu tersenyum tipis, meskipun ini bukan informasi lengkap tapi setidaknya informasi ini dapat memberikan sedikit petunjuk.


"Baik Pak, terima kasih informasinya. Saya pamit undur diri, permisi"


Kai keluar ruangan itu dengan wajah yang tidak bisa dideskripsikan. Langkah cowok itu bergerak perlahan, memyusuri lantai-lantai sekolah yang dipojaki ratusan manusia.


Pikirannya berkecamuk, memikirkan banyaknya spekulasi dan kemungkinan uang mungkin saja terjadi.


"Salah gak sih kalo gue curiga sama lo?"


"Loh mas, katanya jemput adek?" satpam itu muncul lagi, membuat Kairen menahan gondok dalam hati. Enggan menjawab tapi takut dibilang gak tau diri.


"Adek saya belum di launching sama emak bapak"


******_


**Hai semua, apa kabar?. Lama banget ya aku gak up. Hehe, maaf banget nih guys. Aku lagi sibuk kelompok, bikin drama dll. Jadinya gak sempet up, trus mood akhir-akhir ini juga kurang baik. Takutnya kalo dipaksain up ceritanya malah ngalor ngidul.


Makasih buat yg udah setia nunggu, ngasih like, coment, and vote. Tengkyu so much, love you pakek kuadrat guyssss ❤❤**