
Beberapa hari berlalu begitu saja tanpa ada kejadian yang berarti. Sementara Aira masih berkutat dengan pemikirannya tentang Melvin. Genap enam hari berlalu sementara waktunya hanya berlalu tanpa Melvin. Lelaki itu selalu saja pulang lebih cepat dan jika bertemu itupun hanya sekedar sapa menyapa saja.
Sepulang sekolah Aira pulang tanpa Melvin. Hal itu membuat hati kecilnya sedih. Ketika berjalan Aira dia melihat Risa sedang duduk dibangku dekat air mancur. Rasa penasaran menghampirinya lagi. Aira pun mengintip lagi apa yang dilihat oleh Risa.
"Kamu gak usah ngintip, sini lihat bareng aja!"
Aira sangat terkejut. Aira duduk tepat disebelah Risa dan mereka mulai menonton anime bersama.
"Tumben gak sama anak laki-laki kelas 10 IPS itu?"
"Melvin? Dia sekarang diantar jemput jadi dia harus pulang lebih cepat" Ucap Aira dengan tersenyum palsu. Risa hanya mendengarkan cerita Aira.
"Dingin seperti biasa"
Risa tak menghiraukan sindiran dari Aira dan tetap melanjutkan menonton anime.
Pagi harinya disekolah Aira tampak lesu sekali.Aira duduk dibangku pojok paling depan. Tiba-tiba Risa datang dan duduk disebelah Aira.
"Nonton anime ini yuk!seru kayanya"ajaknya.Aira hanya diam dan menonton dengan Risa. kemudian di tengah-tengah saat mereka sedang menonton anime.
" Kenapa lesu gitu?"
Risa yang biasanya dingin dan sangat cuek dengan sekitarnya kini bertanya tentang keadaan temanya. Aira tidak menjawab dia hanya diam saja. Risa sebenarnya tahu mengapa Aira selalu diam, dia menebak itu pasti karena Risa kesepiaan karena Melvin tidak menemaninya lagi.
Bel istirahat berbunyi. Risa menghampiri bangku Aira.
"Mau ke kantin bersama tidak?"
Tampaknya gadis bermata ruby itu ingin menghibur Aira yang sedang murung. Aira hanya menganggukkan kepalanya lagi, kemudian mengikuti Risa berjalan keluar kelas.
"Kamu mau duduk dimana?"
Tanya gadis dengan mata ruby itu.
"Terserah dimana saja boleh"
Seperti biasa Risa pergi ketempat biasanya ia makan sendirian.yap! Bangku dekat air mancur. Tiba-tiba Zen lewat didepan mereka berdua. Zen hanya memberikan senyuman saja dan Risa membalas balik senyuman itu.
"Kalian pacaran?"
Tanya Aira tiba-tiba. Risa jadi salah tingkah karena perkataan Aira.
"G... G... Gaklah! Mana mungkin! "
Ucapnya gagap dengan rona merah mewarnai wajah Risa. Aira yang melihat tingkah laku Risa itu tertawa terbahak-bahak tak disangka orang yang sedingin es bisa salah tingkah.
"Tidak kusangka orang sedingin kamu bisa salah tingkah"
Ucap gadis itu sambil tertawa. Risa hanya tersenyum saja.
"Aku dingin tergantung dengan orang yang sedang denganku"
Risa malu-malu mengucapkan kata-kata itu. Aira memaklumi saja karena temannya sedari dulu selalu bersikap tidak adil padanya. Mereka berdua mengobrol beberapa saat sampai bel pelajaran berikutnya dimulai.
#
Tring!
Suara notifikasi dari aplikasi chat milik Risa berbunyi.
085xxx60xx1
Save! Aira
Risa hanya membacanya saja dan segera menyimpan nomor telepon Aira yang baru dia dapatkan. Hanya beberapa orang saja yang nomor HPnya disimpan oleh Risa.tak sembarangan nomor siswa disekolah itu yang disimpan di smartphone Risa. Hanya orang yang tidak menghina atau mencaci maki Risa saja yang dia save nomor teleponnya.
Seperti biasa Risa menulis pesan chat untuk Zen setelah pulang sekolah. Risa akan merasa sangat senang apabila Zen membalas pesan chatnya.setelah itu Risa akan belajar hingga larut malam.
Paginya Risa sampai sekolah agak terlambat dari biasanya. Disaat memasuki gerbang sekolah gadis bermata ruby itu melihat Zen yang juga sama agak terlambat. Zen berjalan duluan dan Risa mengejarnya.
"Zen!"
Zen terkejut karena tiba-tiba Risa datang. Mereka berbincang-bincang sambil berjalan menuju kelas mereka.
Sesampainya dikelas Risa dihampiri oleh Aira, entah mengapa kini mereka berdua menjadi sedikit akrab. Mereka mengobrol berdua di bangku Aira. Risa mengenali siap yang duduk dibelakang Aira. Ya! Itu Alfi teman sebangku nya dulu saat MOS. Tatapan Alfi seperti biasa sangat sayu. Saat sedang mengobrol dengan Aira. Risa mendapati Alfi sedang melihat ke arahnha tapi dia tidak menghiraukan apa yang dilakukan oleh Alfi dan melanjutkan pembicaraan nya dengan Aira.
Ketika istirahat Aira pergi ke kamar mandi dan Risa dikelas duduk di bangku Aira.
"Hei! Ingat aku?"
Alfi menatap Risa.
"Kamu teman sebangku saat MOS kan?"
Risa mengangguk. Mereka memulai pembicaraan. Disini Risa tahu bahwa Alfi suka mengedit dan bermain video game disaat senggang.
Dari pintu masuk Aira melihat Risa sedang berbincang-bincang dengan Alfi. Sepertinya mereka berdua tak sadar sedang dilihat oleh orang karena saking asyiknya berbincang-bincang. Didalam kelas hanya ada mereka bertiga saja. Aira kemudian mengajak Risa untuk pergi ke kantin.
Saat Risa dan Aira meninggalkan kelas. Tampak dari wajah Alfi tatap nya kini berubah menjadi tatapan seperti orang kesepian.
"Siapa dia?"
Pertanyaan Aira itu membuat Risa mengerutkan dahi, bingung. Melihat reaksi Risa, akhirnya Aira kembali melanjutkan. "Alfi,"
Risa tertegun. Perhatiannya teralihkan dari buku novel yang dibacanya. "A-apa?" Tanyanya gugup.
"Alfi. Siapa dia?" Aira mengulang pertanyaan yang sama.
"Ya Alfi lah," jawabnya lugu.
Kali ini Aira menarik napas berat sebelum kemudian memberi pertanyaan yang sama namun lebih mendetail.
"Maksudku, apa hubungan kalian berdua?"
Risa sedikit terkejut. Gadis itu terbatuk-batuk kecil karena tersedak potongan roti gandum yang dimakannya.
"H-hubungan? Kami hanya teman," balasnya canggung.
Aira menatap curiga. Namun pada menit selanjutnya, ia mengangkat bahu sambil menghela napas. "Baiklah."
Mereka kembali sibuk dengan aktivitasnya. Meski tak lebih dari sekedar menatap bosan orang-orang yang berlalu lalang di depan mereka. Akhirnya, setelah beberapa menit berlalu tanpa aktivitas yang berarti, Risa memilih untuk pergi ke kelas sementara Aira lebih dulu mengekor dibelakangnya.
Mereka melangkah melewati ruang galery, TU, dan ruangan lain. Namun, anehnya Risa berhenti untuk sesaat di depan kantin. Aira yang semula bingung, akhirnya tersenyum tipis tatkala ekor matanya menangkap sosok Alfi yang tengah duduk sembari memakan makanan ringannya. Aira menepuk bahu Risa. Risa sedikit terkejut lantaran Aira menepuk bahunya tanpa aba-aba.
"Aku pergi dulu. Kalian bisa berbicara tanpa aku," ucap Aira, mengedipkan sebelah mata untuk memberi kode Risa. Sebelum Risa bisa mencerna keadaan, Aira melangkah pergi ke arah yang berlawanan terlebih dahulu tanpa mengucapkan apapun lagi.
Mau tak mau, Risa berjalan menghampiri Alfi yang masih duduk di tempatnya tanpa berniat untuk beranjak pergi. Menyadari kehadiran Risa, spontan Alfi menggeser tempat duduknya dan mempersilahkan Risa duduk di tempat sebelumnya. Seketika Alfi memalingkan wajahnya ke samping, menghindari kontak mata dengan Risa.
"Um ... Hai," Sapa Risa ragu.
Dengan canggung, Alfi membalas sapaannya meski masih memalingkan wajah. "Hai,"
"Hasil video editanmu bagus lo," puji Risa sekedar mencairkan suasana. Kali ini Alfi menoleh. Lelaki itu menatap Risa cukup lama seolah mencari kebenaran dari kalimat yang dilontarkannya. Alfi mengulum senyum tatkala dirinya tak menemukan kebohongan dalam nada bicara Risa.
"Makasih. Kamu juga,"
Aira tidak meninggalkan mereka berdua begitu saja. Aira ternyata mengawasi mereka berdua di tempat duduk yang tak jauh dari tempat duduk Alfi dan Aira. Kadang Aira merasa cemburu kepada Alfi. Karena Alfi, Aira tidak bisa bersama dengan Risa. Tanpa sadar Risa telah pergi meninggalkan tempat itu. Aira mencari-cari mereka berdua.
"Kukira kamu sudah pergi"
Aira spontan menengok kebelakang dan mendapati dibelakangnya sudah ada Risa.
"Ahahaha... Aku sedang lapar jadi sekalian pesan makanan disini"
Aira mengarang Alasan. Tapi Risa tampaknya tak percaya.
"Jadi kamu makan sambil menatap lurus kedepan?"
"Kamu lapar tidak? Kalau lapar aku pesan kan makanan sekalian?"
Ucap Aira menawari Risa makan sambil berusaha mengganti topik.
"Tidak usah, kalau begitu ayo kita melihat kegiatan klub lain?"
Aira mengangguk kemudian berjalan keluar kantin bersama Risa. Mereka berdua berjalan menuju lantai atas untuk melihat klub drama. Aira menaiki tangga dengan berlari. Aira tidak tahu bahwa ada tangga yang masih basah dan licin, alhasil Aira terpeleset kemudian jatuh.
Ketika tersadar ternyata saat Aira jatuh tubuhnya tertahan oleh Melvin yang sedang naik ke atas.
"Kamu tidak apa-apa? "
Muka Aira kembali dilukis oleh rona merah.
"Kalo naik tangga jangan lari dong Ra!"
Ucap Risa yang sedang turun tangga menyusul Aira yang terjatuh tadi.
"Makasih ya"
Melvin pergi meninggalkan Aira lagi. Tampak wajahnya sangat sedih sekali. Mengetahui hal itu Risa segera menggandeng tangan Aira dan mengajaknya berlari.
"Kenapa tiba-tiba lari?!"
Risa tak menghiraukan pertanyaan Aira dan mempercepat larinya. Mereka berdua berhenti di taman sekolah. Napas mereka terengah-engah karena berlari.
"Kenapa ....hah...tadi....hah...kita lari...hah?"
Tanya Aira sambil terengah-engah.
"Kalau perasaanku sedang sedih aku biasanya berlari untuk menghilangkan rasa sedih itu"
Jawab Risa sambil tersenyum. Ini sangat jarang atau bahkan langka Risa bisa tersenyum ke orang lain selain saudara dan keluarganya.mereka duduk di bangku taman untuk beristirahat.
"Aku mau beli minum," ucap Aira.
Baru saja Aira hendak melenggang masuk ke dalam kantin, Risa cepat-cepat menahannya. Mau tak mau, akhirnya Aira berdiri menatap Risa yang masih mencoba menstabilkan napasnya sambil mengernyit. Lagi-lagi Risa membuatnya kebingungan.
"Biar aku saja," tukas Risa.
Sementara Risa masuk kedalam kantin untuk membeli 2 botol air mineral, Aira berdiri di depan kantin. Gadis itu masih bergeming ditempatnya. Sampai kemudian fokusnya teralihkan ketika bahu seseorang bersinggungan dengannya. Aira hampir jatuh ke belakang andaikan keseimbangan nya tak stabil. Untungnya, Aira memiliki keseimbangan yang baik.
Gadis itu mendongak hanya demi melihat Melvin berdiri beberapa senti lebih tinggi darinya. Sejenak, dia menahan napas tatkala menyadari jarak diantara mereka hanya terpaut sekepalan tangan.
"Maaf," Tutur Melvin setelah jeda beberapa saat.
Aira yang kini menarik napas dalam-dalam menunduk. "Hm ... Aku juga minta maaf."
"Um ... Apa kamu membenciku?"
Pertanyaan itu membuat Melvin tertegun. Tanpa sadar, lelaki itu telah mengepalkan tangan terlalu erat seolah menahan sesuatu yang sulit untuk dikatakannya. Namun, pada akhirnya hanya kata maaf yang terucap lirih dari bibirnya.
Aira menarik napas berat sebelum kemudian mengulang pertanyaan yang sama tapi lebih menyiratkan keraguan dan kekhawatiran yang agaknya berlebih. Jujur, Aira terlalu takut kehilangan Melvin.
"Apa kamu membenciku?"
"Ya. Aku membencimu," tukas Melvin.
Jawaban yang terlontar dengan tatapan datar itu membuat Aira lagi-lagi terluka. Sejauh ini hanya Melvin yang bisa melakukannya. Menamparnya dengan realita yang sangat enggan diterima olehnya. Bahkan, Aira tak akan menyangka jawaban itu terucap tanpa ada keraguan sedikitpun.
Pertahanan dirinya runtuh seketika. Lidahnya kelu karena ia memang tak ingin lagi menyuarakan isi hatinya sementara dengan tubuh bergetar, Aira mulai melangkah pergi meninggalkan Melvin yang kini terpaku di satu tempat. Aira tak ingin lagi peduli. Sudah cukup!
Sudah cukup kenyataan membuatnya semakin nampak terpuruk. Aira merutuki dirinya sendiri mengapa dirinya terlalu terikat dengan Melvin. Dia bahkan tidak pernah memperhitungkan hal ini sebelumnya. Tanpa sadar, langkah kaki yang diambilnya secara terburu-buru membawa Aira berada di depan gudang sekolah.
Risa mencari-cari Aira. Akhirnya Risa menemukannya di depan gudang sekolah. Saat akan menghampiri Aira Risa melihat ada seseorang yang sedang menuju kearah Aira yang terduduk di depan gudang sekolah sambil menangis.
Ternyata orang tersebut adalah Alfi. Dia berusaha menghibur Aira. Entah mengapa Risa malah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa aku ingin meninggalkan mereka berdua ya?"
Pertanyaan yang terus terngiang-ngiang di kepala Risa. Risa tahu seharusnya Risa tak meninggalkan Aira. Tapi perasaannya membuatnya terpaksa meninggalkan Aira.
"Hiks... Tak.. Kusangka Melvin membenciku!"
Ucap Aira sambil terisak.
"Kau tahu laki-laki terkadang melakukannya untuk melindungi seseorang yang penting baginya"
Ucapan Alfi itu mendadak membuat Aira berhenti menangis.
"Kenapa membantuku? Padahal aku membencimu"
Alfi berdiri dan akan beranjak pergi.
"Entahlah, aku juga ingin melakukannya demi seseorang"
Alfi pergi meninggalkan Aira. Aira berdiri dan berjalan meninggalkan Gudang sekolah itu.
"Melakukannya untuk seseorang?"
Kata-kata Alfi terus terngiang-ngiang di dalam pikiran Aira. Dia bertanya-tanya siapa seseorang yang dimaksud oleh Alfi?. Ketika berjalan Aira melihat Risa berlari kepadanya.
"Aira!!"
Teriakan keluar dari mulut Risa.
"Aku mencarimu lo! Kembali ke kelas yu!"
Risa menarik tangan Aira serta memberikan minuman nya. Aira merasakan ada yang aneh dengan Risa. Tapi Aira membuang jauh-jauh pikiran itu.
Aira tidak ingin berperasangka buruk kepada temanya itu.
Mereka berdua masuk kedalam kelas.
Esoknya Risa masuk ke sekolah seperti biasa. Saat itu Risa berangkat terlalu pagi jadi murid-murid yang lain belum ada yang datang.
"Aku kepagian ternyata!"
Pikirnya. Risa berjalan sampai di depan kantin dia melihat ada seseorang disana.setelah cukup dekat ternyata orang yang berdiri di depan kantin tersebut adalah Alfi.Risa mempercepat jalannya.
"Hei tunggu!"
Suara Alfi memanggilnya. Risa berhenti seketika tapi dia tak menoleh sedikit pun.
"Ke-kenapa?"
Jantungnya berdebar sangat cepet dan Suaranya mulai gagap. Tidak biasanya Risa seperti ini.
"Kenapa kemarin kamu meninggalkan Aira?kenapa saat dia menangis kamu tidak di sampingnya?"
Risa kaget!. Tidak disangka Alfi ternyata sangat menghawatirkan Aira. Hati kecilnya sakit entah mengapa.
"Ternyata harapanku terlalu tinggi"
Ucap Risa kemudian dia berlari kearah menuju kelas. Tak disangka Alfi mengejarnya.
"Tunggu! Kamu kenapa lari?!"
Teriakanya sangat kencang, untung waktu itu belum ada murid yang datang selain mereka berdua. Risa berlari amat cepat hingga Alfi kehilangan jejaknya. Alfi berjalan menuju kelas ternyata Risa tidak ada di dalam kelas.
"Dia tadi kemana?"
Risa sebenarnya sedang ada di gudang olahraga. Risa sedang mengurung diri disana selama beberapa menit sampai bel masuk berbunyi.