
Melvin POV
Sering aku merasa iri. Sebut saja aku terlalu pemilih, namun keadaan yang tidak memungkinkan saat ini membuatku tak bisa mengeluhkan apapun. Status anak angkat melekat padaku kemanapun aku pergi. Sebagian besar anak seumuranku mungkin terlahir di keluarga yang anggaplah baik, kebutuhan tercukupi, kasih sayang didapatkan.
Berbeda denganku. Semua hal itu merupakan impian atau sekedar angan-angan bagiku. Dibawah asuhan orang tua angkatku saat ini, jika boleh jujur, aku ingin keluar dari rumah. Banyak tuntutan untukku sebagai penyandang status 'anak angkat'.
Mereka menuntut ku harus tampil 'sempurna' didepan banyak orang. Bahkan memaksaku mengikuti privat les piano, membuatku merasakan setiap pukulan dari mereka meski hanya ada satu hal yang kurang dariku. Setiap melewati jam pulang dari yang ditentukan, mereka menampar dan kembali menyebut-nyebut statusku sebagai anak angkat lagi. Aku sudah muak, tentu saja.
Tapi, lagi-lagi aku hanya bisa diam dan menahan diriku untuk tidak membalas umpatan dan ocehan yang dilontarkannya.
Jalan hidup, sikap, dan keahlian diberbagai hal.
Tiga hal itu membuatku muak. Mereka menuntut tiga hal itu dariku, tentu saja tanpa memberiku pilihan sekali pun. Padahal, sejak mereka mengubah statusku menjadi anak angkat, aku membayangkan kasih sayang yang belum pernah kudapatkan kecuali dari panti asuhan. Hidup di panti asuhan sendirian tanpa orang tua terkadang membuat ku hampa. Tapi, secercah harapan datang ketika mereka datang.
Naif.
Aku tak akan menyangkal jika kalian menyebutku naif atau bodoh. Seringkali aku juga merasa pikiran naif seperti itu malah membuat jiwa pesimisku tumbuh perlahan. Ironis. Orang tua angkat yang mengubah status yatim piatuku malah membuatku tersiksa dari pengasuh di panti yang selalu mencurahkan kasih sayangnya. Nyatanya, realita tak semanis ekspetasiku.
Mereka mengubah banyak hal dariku. Memang, banyak hal positif yang kudapat. Tapi jika dibandingkan, hal positif yang kudapatkan tak sebanding dengan hal negatif yang membentuk karakter ku di masa depan.
#
"Hey! Jangan memanjat. Taati tata tertib yang berlaku disini!"
Seruan itu membuatku menoleh. Terpaku. Aku menatap seorang gadis berambut hitam sebahu didepanku. Rambutnya hitamnya berkibar-kibar kecil ketika angin menerpa. Manik sapphire miliknya terlihat jernih dengan pantulan cahaya mentari.
Sejak saat itu, pertemuan kami merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bagiku.
Aira.
Entah, aku tidak tahu mengapa gadis itu membuatku menaruh hati padanya. Dia memiliki sesuatu yang menarik dari kebanyakan gadis pada umumnya. Gadis itu memberiku harapan didalam hatiku muncul. Pertemuan singkat kami membawa sesuatu yang indah. Perlahan, Aira memberiku arti untuk hidup dan motivasi untuk menjalani hari-hari selanjutnya.
Pada hari berikutnya aku mendekatinya. Disebelah tangga, mengajaknya ke kantin bersama, dan membicarakan banyak hal. Hal itu membuatku bisa tersenyum tanpa adanya paksaan dan tuntutan.
#
Sepertinya aku melupakan sesuatu. Ya! Aku melupakan bahwa aku tidak diperbolehkan pulang terlambat. Aira mengajakku Pergi ke suatu tempat setelah pulang Sekolah. Inginku menolaknya tapi aku tidak tega. Aku tahu ini akan membuatku dimarahi orang tua angkatku.tapi aku akan mengambil resiko itu demi gadis itu.
Kulihat senyumanya saat dia mengajakku ke suatu tempat. Senyuman nya begitu sangat tulus. Aku tidak ingin merusak senyumannya itu. Setelah beberapa menit ku lihat jam yang ada di smartphone ku.
"Sial! Aku terlalu lama!"
Batinku.
"Maaf, Aira aku harus pergi dulu sampai jumpa!"
Aku segera berlari meninggalkannya. Tampak sepertinya dia sedih.
Benar saja! Dirumah ayah angkatku menyeret ku kesebuah ruangan sempit dan gelap. Disana hanya ada jendela, kursi, dan lampu. Untungnya HP ku tidak ikut diambil jadi aku tidak terlalu kesepian. Sunyi sekali diruangan itu. Aku hanya duduk dan berpikir tentang gadis itu. Sungguh dia adalah gadis yang sangat baik.
Esok paginya ayah angkatku membuka pintu ruangan dan menyuruhku mandi kemudian berangkat sekolah.
"Kamu jangan mendekati gadis itu lagi! Dia pengaruh buruk buatmu! Kamu harus lebih giat belajar!"
Aku hanya memurutinya. Aku takut jika ayah angkatku mencoba menggangu Aira!.
Ketika jam istirahat. aku bertemu denganya lagi. Kali ini aku hanya menyapanya saja dan pergi. Aku tahu dia akan kesepian tanpa aku, tapi aku tidak bisa membiarkan senyuman di wajahnya sirna karena ayah angkatku!.
Beberapa hari kemudian aku menghindarinya. Ini demi kebaikannya juga. Aku berjalan dan hendak naik ke lantai atas untuk meminjam barang dari klub drama. Tiba-tiba saat akan naik kulihat Aira terjatuh dari tangga. Aku langsung lari untuk menagkapnya sebelum dia jatuh.
"Kamu tidak apa-apa?"
Aku sangat khawatir padanya. Kemudian seorang gadis bermata ruby turun ke bawah menghampiri Aira. Sepertinya dia baik-baik saja tanpa aku.
Ketika dia berterima kasih padaku aku pergi. Kulihat wajahnya sangat sedih, sepertinya dia mengharapkan aku bisa bersamanya. Aku juga ingin, tapi tidak bisa ku lakukan.
"Aku tidak bisa! Aku harus membuatnya nenjauhiku! Agar dia lebih aman"
Pikirku jadi aku mencari Aira terlebih dahulu. Akhirnya aku menemukannya dia sedang duduk di sebuah bangku dekat air mancur. Aku menghampirinya. Ketika melihatku datang Aira tampak sangat bahagia. Aku hampir saja mebgurungkan niatku, tapi aku sadar. Aku tidak bisa membuatnya merasakan hal yang kurasakan.
"Aira aku membencimu!"
Aku segera pergi. Kulihat dia berjalan pergi. Aku mengikutinya sampai di gudang sekolah. Ku intip dia di belakang tembok dekat dengan gudang sekolah. Dia menangis!
Aku yang tidak ingin membuat senyumanya hilang karena ayahku. Tapi malah aku sendiri yang menghilangkan senyumannya dari wajahnya!.
Seorang lelaki datang menghampiri Aira. Kau tahu! Aku sebenarnya sangat cemburu!, tapi apalah daya aku sudah menyakiti hatinya.
Pada hari berikutnya aku juga melakukan hal yang sama. Sebisa mungkin aku berusaha menghindarinya atau sesekali melirik tanpa sepengetahuan Aira. Hari-hari ku terasa sangat hampa dan kosong. Akhirnya, mau tak mau aku hanya bisa pasrah sampai kemudian tersenyum masam ketika menyadari seorang lelaki yang bersamanya saat di belakang gudang sekolah.
Buk!
Aku meninju dinding kamar. Mengabaikan darah yang mengalir dari luka itu, aku terduduk di lantai keramik berwarna nila yang lembab dan dingin. Sekarang, aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri.
Pertanyaan konyol itu tiba-tiba mengusikku. Tapi aku tidak berdaya untuk melakukan apapun lagi lantaran orang tua angkatku tidak menerima alasan dariku meski itu fakta sekalipun.
Menyedihkan, memang.
Tapi, apa yang bisa kulakukan untuk Aira?
#
Aku berjalan perlahan. Melangkah melewati paving sambil sesekali menyapa seseorang yang kukenal ketika berpapasan. Tak ada yang istimewa sebenarnya dari hari ini. Tapi, berusaha tetap tersenyum meski tak ada alasan untuk tersenyum. Karena bagiku ... Satu-satunya alasan yang membuatku tersenyum hanyalah Aira.
Ya. Hanya gadis itu yang mampu. Bahkan, secara tidak sadar, kami berdua terlalu terikat satu sama lain.
Aku berhenti di salah satu sudut untuk menatap Aira yang tengah tersenyum pada gadis di depannya-gadis ber-iris ruby yang kerap bersama Aira. Aku mengamati setiap lekuk senyum yang akhir-akhir ini semakin jarang ditampilkannya. Aku ikut tersenyum simpul. Namun, hal itu hanya berlangsung sesaat sebelum kemudian Aira menyadari hal tersebut.
Kami bertemu tatap. Ada desiran aneh yang menyergap ku. Ribuan rasa rindu, senang, dan sedih. Aira beranjak dari tempat duduknya lantas berlari ke arahku. Spontan, aku melangkah cepat ke arah yang berlawanan. Namun, tangan Aira lebih dulu menarikku. Sambil terengah, gadis itu berusaha menatapku.
Aku menatap sekeliling. Keadaan di tempat ini sangat sepi. Hanya ada kami berdua disini. Pencahayaan remang-remang dan tak ada satupun siswa siswi yang melintas karena memang tempat ini bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang santai atau bergurau.
"T-tunggu sebentar," pintanya terbata.
"Jangan begini, kumohon." Tuturku kemudian.
Aira mengerutkan dahinya. Tapi, ia lebih memilih opsi diam dan memendam pertanyaannya sambil menungguku melanjutkan.
"Jangan begini. Jika kamu terus bersikeras, aku tidak bisa lagi pura-pura untuk baik-baik saja. Kau mungkin tidak tahu. Tapi, kuharap kau tidak pernah mendekatiku lagi," ada jeda beberapa saat sebelum kemudian aku kembali melanjutkan. "Kumohon. Ini demi kebaikanmu,"
Aku melirik tangan kami yang bersentuhan. Tangannya dingin dan lebih pucat dari biasanya. Tepat ketika aku hendak pergi, Aira lagi-lagi menarik tanganku.
"Kau bilang ini demi kebaikanku. Kamu lebih mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada dirimu sendiri. Kau pikir hal itu bisa membuatku bahagia? Tidak!"
Aira meremas tanganku lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kalau begitu, jangan menghindariku lagi! Jika kamu mengkhawatirkan ku, seharusnya kamu terus berada disisiku. Aku ... Aku tahu. Aku memang egois. Jadi, kumohon. Jika ada masalah, kita hadapi bersama."
Wajahku menghangat. Aku menggegam tangan dinginnya lebih erat lalu melepasnya. Aku beralih menariknya jatuh ke dalam rengkuhanku. Ketika merasakan tangan Aira menyentuh punggungku untuk membalas, aku memeluknya lebih erat. Melepas rindu sekaligus menikmati waktu kami. Aku menarik napas dalam dan seketika menghirup aroma bunga lavender darinya.
Sangat menenangkan dan lembut. Semua masalah yang membebaniku seolah-olah hilang. Kini, hanya ada ketenangan dalam diriku setelah sekian lamanya aku tak pernah merasakannya lagi ketika menyandang status anak angkat.
Aira memeluk balik dengan erat. Aku ingin waktu bisa berhenti sebentar. Aku kembali tersadar lagi. Aku melepaskan pelukanku tetapi Aira masih memelukku.
"Kenapa berhenti memelukku?"
Aku lagi-lagi terdiam aku berusaha melepaskan pelukannya.tapi Aira tetap tidak melepaskan pelukannya.
"Aira bisa kamu lepaskan"
Aira menggeleng.
"CUKUP! AIRA!"
aku berteriak padanya. Dia kaget dan melepaskan pelukannya. Aku pergi meninggalkannya. Wajahnya seperti hampir menangis. Aku masih mencoba tersenyum. Ini pertama kalinya aku membentak seseorang. Tapi mengapa itu harus Aira?!.
Membentak seseorang merupakan sesuatu yang pantang bagiku. Namun, sekarang, apa yang telah kulakukan?
Orang ingin kulindungi, kucintai, dan satu-satunya yang menyayangiku. Aku telah melukainya. Aku yang membuatnya terikat padaku sejak bertemu, tapi justru akulah yang tak tahu malu. Aku tersenyum masam.
Aira adalah gadis yang baik, ceria, dan penyayang. Sayangnya, dia terlalu polos karena telah menjatuhkan hatinya padaku. Padahal, seharusnya Aira bisa memiliki lelaki lain yang lebih baik dariku. Tapi, hatiku selalu bertanya-tanya.
Kurang beruntung apalagi diriku?
Kini, aku tak lagi memiliki alasan untuk bertemu dengannya. Sebisa mungkin aku harus menghindari nya. Meski tidak bertemu dengan Aira membuatku harus memendam rindu seorang diri. Tidak apa. Di berhak bahagia, tentu saja tanpa diriku.
#
Aku menatap nanar sekeliling. Ruangan gelap. Diluar, guntur menggelegar, dan saling bersahutan. Sekilas, seberkas cahaya muncul ketika lagi-lagi halilintar terdengar kedua kalinya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena pada detik selanjutnya, cahaya itu telah pergi bersamaan dengan suara halilintar yang tak lagi bergemuruh. Untuk sejenak, aku terdiam ditempatku sambil meraba-raba samping tempat tidur.
Ketika merasakan benda padat berbentuk lampu tidur diatas nakas, aku menyalakannya. Seketika, ruang yang semula gelap itu kini menjadi terang. Aku mengerjap beberapa saat untuk menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi secara mendadak. Melirik ke arah jam dinding, aku terkejut lantaran jam dinding di kamarku telah menunjukkan pukul 3 pagi. Hal pertama yang kulakukan selanjutnya yaitu membuka ponsel. Beralih membuka aplikasi WhatsApp. Chat teratas yang kusematkan adalah chat dari Aira.
Ada banyak chat spam darinya. Tapi aku berusaha untuk tidak membacanya, meski aku ingin. Namun, ada hal lain yang membuatku lebih terkejut. Ada tulisan berwarna hijau yang berbunyi ' _mengetik..._ ' Aku mengangkat sebelah alis, memastikan bahwa tulisan itu benar-benar ada. Beberapa saat kemudian Aira mengirim chat baru padaku.
Notifikasi itu membuatku gamang. Terlebih lagi, online pada jam 3 pagi bukanlah hal yang biasa, menurutku. Akhirnya, aku membuka isi chat Aira. Seketika, pesan chat itu ditarik lagi olehnya. Padahal, sebelum memutuskan untuk membukanya, aku melihat dua kata diawal pesan chatnya. Dan sekarang aku benar-benar menyesal kenapa aku harus bimbang dengan itu. Pada akhirnya aku merutuki kebodohan ku sendiri. Kini, aku hanya bisa penasaran dan menerka apa kalimat yang diawali dengan dua kata; _aku sangat._
Ternyata Aira memang tidak mau berbicara denganku lagi. Baguslah! Itu demi kebaikanya.tapi... Mengapa aku merasa sedih? Aku seharusnya senang kini dia bisa membenciku! Bukankah aku yang menginginkannya!. Aku berusaha menguatkan diriku demi Aira.
Aku ingin marah pada diriku sendiri!. Sekarang aku tidak bisa melihat senyumanya dan tidak bisa bicara denganya lagi.
Hari ini ,hari libur.aku pergi ke tempat les yang berada di tengah kota dan sangat jauh dari rumah. Jika kalian pikir aku diantar menggunakan mobil. Kalian salah! Aku disuruh berjalan bekilo-kilo jauhnya ketempat les. Mereka tidak mungkin mau mengantarku! Aku hanya alat yang digunakan mereka untuk menaikan harga diri mereka.ketika dijalan aku bertemu dengan Aira. Pandangan kami bertemu kemudian aku menunduk dan melewatinya. Aira membisikkan sesuatu saat aku akan melewatinya.
"Apa kamu menginginkan ini?"
Aku tersadar dan berbalik. Tetapi Aira sudah pergi jauh. Aku ini mengharapkan apa sih?,dari orang yang kusakiti?.mungkin aku memang terlalu banyak berharap. Tidak mungkin Aira akan memaafkan ku begitu saja!. Sekarang aku sudah kehilangan satu-satunya orang yang kusayangi dan peduli terhadapku.