
Kimy memasuki sebuah cafe yang cukup ramai sendirian. Berpenampilan kasual dengan rambut yang dikuncir kuda seperti biasa, tidak dilebih-lebihkan sama sekali. 'Gloria Cafe' begitulah namanya. Dari depan memang terkesan sama seperti Cafe pada umumnya, tapi saat masuk, varu diketahui kalau semua pekerjanya adalah laki-laki.
"Ini seriusan cowok semua?!" Kimy menyusuri area Cafe semakin dalam untuk mencari satu saja pekerja perempuan, tapi nihil. Semuanya laki-laki. Mulai dari pelayan, cleaning servis, kasir, dll. Sampai akhirnya dia menghampiri kasir untuk bertanya.
"Mas, Satya nya ada?. Kemarin dia nyuruh saya kesini buat interview" tanya Kimy to the point.
Cowok dengan perawakan tinggi putih itu mengangguk sambil tersenyum manis. Kimy yakin, kalo nih orang jadi pedagang keliling, bisa dipastiin pembelinya pada kegatelan. Beli gorengan 5 ribu, tapi gorengnya minta dilama-lamain.
"Ada kok mbak. Langsung masuk ke ruangannya aja. Ruangan Mas Satya ada di pojok sana" cowok itu menunjuk sebuah lorong yang terdapat tulisan diatasnya 'SELAIN KARYAWAN DILARANG MASUK' Lah, Kimy kan bukan karyawan?!.
"Oh, Oke. Makasih ya"
Kimy berjalan menuju lorong. Gadis itu menengok ke kanan dan ke kiri. Mengamati arsitektur Cafe yang menurutnya unik. Desain modern dan kekinian, sangat cocok untuk nongkrong anak-anak muda.
Hingga langkah kaki jenjangnya terhenti di depan sebuah ruangan tertutup. Dia mengetuk beberapa kali sampai ada suara sahutan dari dalam.
"Masuk!!!"
Setelah mendapat sahutan dari dalam, Kimy membuka pintu berwarna putih itu. Terlihat Satya sudah menunggunya sambil duduk di Sofa.
"Sorry ya lama, tadi di jalan macet" Kimy meletakkan tasnya di meja kemudian duduk di samping Satya.
Pemuda itu tersenyum simpul sambil mengangguk.
"Nggak masalah, gue udah biasa kok nunggu"
"Jangan mulai deh!!" Kimy memukul pelan bahu Satya sambil tertawa kecil. Pemuda itu hanya menyengir tanpa dosa.
"Oh ya, gimana sama tawaran kerja kemaren?. Gue minat nih" tanya Kimy dengan antusias. Antara butuh duit dan takut disuruh pulang, dia bener-bener butuh pekerjaan.
"Lo ikut gue sekarang!!"
Mereka berjalan beriringan menuju ballroom. Terdapat sebuah panggung lengkap dengan alat-alat musik seperti gitar, drum, piano, mikrofon dll. Disana juga ada empat orang, tiga laki-laki dan satu perempuan. Kimy yakin, mereka adalah anggota band itu.
"Hay guys" Satya menyapa mereka semua dengan ramah. Empat orang itu turun dari panggung dan menyalami Satya bergantian.
"Ehh Mas Bos, gimana mas, udah dapet belum kandidatnya?. Band kita udah seminggu vakum nih, masak kita berempat nganggur sih?" Si pemain drum mewakili berbicara. Pemuda perawakan tinggi putih dengan alis tebal dan rambut ikal itu melirik kearah tiga temannya yang menunduk lesu.
"Kenalin, ini Kimy. Dia temen sekolah gue, dan dia bakal jadi vokalis baru di band cafe kita" Satya memperkenalkan Kimy kepada mereka. Gadis itu tersenyum manis sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Gue Kimy"
Sang pemain drum menyambut lebih dulu. Dapat dilihat jelas, dia sebelas dua belas sama cebong.
"Gue Raka" ucap Raka dengan ramah diiringi senyuman genit. Dia menggenggam tangan Kimy agak lama, hingga deheman Satya membuyarkan semuanya.
"Gausah modus deh Lo!!" desis Satya dengan nada jengkel.
Raka melepaskan jabatan tangannya sambil menyengir.
"Akh si Bos, nggak peka banget sama karyawan" gerutunya kesal.
"Gue Arka"
Dua gitaris ganteng ikut memperkenalkan diri. Membuat Kimy sedikit bingung melihat mereka bertiga.
"Kalian sodaraan?" tanyanya. Gimana nggak bingung coba. Yang satu Arka, Raka, Aska. Ka semuaa.
"Enggak kok, cuma emak kita aja yang bikin namanya janjian" sahut Arka. Perlu diketahui, tiga cowok itu tetanggaan. Kebetulan emaknya buntingnya barengan. Jadilah mereka punya inisiatif bikin nama yang kembaran.
"Hay Kim, gue Dilla. Pianis disini" satu-satunya perempuan di band itu mengulurkan tangannya, yang tentu dibalas oleh Kimy dengan senang hati.
"Kimy, senang bisa kenal sama kalian" ucap Kimy sambil tersenyum ramah.
"Oke, proses kenal kenalannya udah. Sekarang kita tinggal atur jadwal perfom kalian aja" Satya ikut menimpali, dan langsung diangguki setuju oleh mereka.
"Besok aja gimana?" usul Dilla.
"Boleh tuh, udah lama gue nggak metik gitar" tambah Aska.
"Oke, fiks ya besok. Gue tunggu first stage pertama kita!!"
*****************
Kairen yang lagi duduk-duduk ganteng di Cafe dekat taman, mendadak mendapat telfon dari nomer tidak dikenal. Dia menatap bingung kearah layar ponselnya, merasa tidak mengenal nomer itu. Jarinya menekan ikon hijau pada ponsel itu hingga panghilan tersambung.
"Hallo, siapa?" suara baritonnya menyapa seseorang diseberang telfon. Namun tidak ada sahutan apapun dari sana.
Kairen mengernyit bingung. Dia menatap kearah layar ponselnya sekali lagi untuk memastikan kalau sambungan telefon tidak terputus.
"Hallo?!" ucapnya sekali lagi.
Tidak ada sahutan. Sunyi. Tapi tiba-tiba, suara dua benda saling bergesekan terdengar. Kairen tercengang, itu adalah suara dua pisau yang dengan sengaja digesekkan.
"LO SIAPA BRENGSEKK!!" dia sudah tidak bisa mengontrol sikapnya lagi. Tanpa sadar Kairen berseru kencang sehingga membuat pandangan semua orang terarah kepadanya.
Panggilan tiba-tiba terputus, kemudian sebuah pesan singkat masuk.
💬+628......
~Lo akan hancur!!!
Kairen menggenggam ponselnya kuat-kuat. Wajah pemuda itu memerah, rahangnya mengeras hingga urat lehernya tercetak.
"Bakal gue cari Lo sampai keujung dunia sekalipun!!"
Pemuda itu bangkit dari duduknya. Mengambil dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribu kemudian meletakkan uang itu di meja. Dengan terburu-buru, dia berjalan keluar cafe dan segera mengambil mobilnya di parkiran. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak tau kemana dia akan pergi.
Sedangkan di sebuah mobil yang berada sekitar 40 meter dari Cafe tempat Kairen duduk tadi, seseorang tersenyum licik dibalik jubah hitamnya. Tangan orang itu mengepal kuat-kuat diiringi seringaian iblis di bibirnya.
"Semuanya akan dimulai!!"
...I'm back guysss, maaf ya baru up, aku ada PTS soalnya....
...Jangan lupa like, coment yaa, happy reading:)...